10 years challenge

Aku tidak tahu siapa yang memulai hal itu, tapi memang hal itu saat ini sedang tren. Beberapa hari ini feed maupun story instagramku dipenuhi oleh teman-teman yang memposting foto mereka 10 tahun yang lalu dan membandingkannya dengan saat ini. Beberapa teman menunjukkan perubahan fisik yang signifikan, sedangkan yang lainnya tidak terlalu. Ada juga yang memposting status mereka di media sosial 10 tahun yang lalu dan mentertawakan bagaimana kehidupan mereka dahulu.

Hal ini menjadi menarik bagiku tatkala aku membuka kembali postinganku 10 tahun yang lalu di facebook ku. Melihat status-status alay khas mahasiswa (saat itu) yang baru saja mengenal dunia medsos membuatku tersenyum dan tertawa. Bagaimana saat itu aku menuliskan kegalauanku mengenai tugas kuliah, melampiaskan stress akibat kuliah, bercanda dengan teman yang tinggal di kota yang berbeda membuatku berpikir ternyata dulu aku seperti itu.

Membandingkan momen-momen saat itu dan masa kini membuat aku berpikir begitu banyak hal yang telah terjadi dan begitu banyak hal telah berubah, meskipun ada juga yang tidak berubah. Aku yang 10 tahun lalu tak pernah berpikir bahwa 10 tahun kemudian aku akan duduk di depan laptop sambil menuliskan pemikiranku tentang diriku 10 tahun yang lalu. Menilik ke belakang, aku tak tahu bagaimana tetapi ketika aku berhasil menjalani hari-hariku selama 10 tahun bahkan lebih dari itu, tentunya semua itu bukan karena kemampuanku sendiri tetapi karena penyertaan Tuhan yang senantiasa setia.

Semua hal yang telah aku capai saat ini, jika bukan Tuhan yang membantuku maka aku tak mungkin berhasil mencapainya. Aku masih ingat saat 10 tahun lalu aku mulai memutuskan di kemudian hari aku akan kembali ke kampus dan menjadi pengajar. Sebuah jalan yang tidak mudah meskipun saat ini aku benar-benar mewujudkan hal itu. Tentu selama waktu 10 tahun ini pernah aku melupakan niatku itu, meskipun pada suatu momen aku kembali memutuskan untuk kembali mencapainya. Ada juga momen-momen di mana aku ingin menyerah karena rasanya terlalu berat dan tak mungkin aku mencapainya. Tapi pada akhirnya aku berhasil ada di sini.

Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tetapi ketika membuka kembali catatan perjalanan hidupku 10 tahun yang lalu aku berpikir bahwa semua yang telah dan berhasil aku jalani ini hanya karena anugrah Nya. Dan aku percaya bahwa di tahun-tahun mendatang aku akan mampu menjalani semuanya dengan baik, meskipun aku tahu tentu tidak mudah dan ada banyak hal yang harus kulalui untuk membuatku semakin matang dan dewasa. But it’s ok, I just need keep my faith in Him.

Advertisements

Ijasah untuk (si)apa

Itu adalah judul buku yang kutemukan saat aku berjalan-jalan di sebuah toko buku. FYI aku menulis ini bukan untuk mempromosikan buku itu sih. Hanya saja aku tertarik dengan judulnya. So cool I think.

Pernahkan kita menanyakan pertanyaan tersebut? Untuk apa atau untuk siapa sih ijasah itu sebenarnya? Kalau ijasahku sih hanya dipakai untuk fotokopi sekali lalu disimpan di lemari. Fotokopiannya itu yang dipakai untuk melamar kerja. Ironis nggak sih kuliah 4 tahun susah susah untuk selembar kertas yang berakhir di lemari? Jujur itulah yang terpikir olehku saat aku berniat menjawab pertanyaan itu.

Memoriku berputar flashback  saat di mana aku menjalani hidup yang berat, melewati hari-hari kuliahku yang penuh dengan semak berduri dan kerikil tajam dengan penuh keringat dan tetesan air mata. Aku masih ingat tatkala aku melewati malam-malamku dengan tugas ini dan itu, hanya tidur 2-3 jam demi mengejar dateline. Untuk apa semuanya itu? Hanya demi gelar yang ditambahkan di belakang nama yang menurutku nggak terlalu ngefek karena pada kenyataannya aku nggak menuliskan gelar itu setiap kali aku menuliskan namaku. Atau kembali lagi, demi selembar ijasah yang ujung-ujungnya setia mendekam di dalam lemari?

I don’t think so. Hari-hari yang kujalani saat itu membentuk aku menjadi pribadi yang tangguh. Jujur ada kalanya aku ingin menyerah. Sebagai anak muda yang masih belia, secara masih belasan tahun, tentu aku merasa itu adalah hal yang berat. Tetapi pada akhirnya aku dapat bertahan melalui semua itu. Ketika aku melihat kembali hari-hari kuliahku, sungguh luar biasa aku dapat melewati semuanya itu, termasuk ketika aku menghadapi momen-momen di mana rasanya aku ingin give up. Aku sadar semua ini tidak bisa kulalui tanpa Tuhan yang memberikan kekuatan dan kemampuan kepadaku. Dia yang memampukan aku melewati semuanya itu.

Kembali pada pertanyaan di atas, untuk apa ijasah itu? Dia ada untuk membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat, baik dan semakin bergantung kepada Tuhan. Dan untuk siapa ijasah itu? Bagiku ijasah itu untuk Tuhan karena paa kenyataannya aku tidak mampu menyelesaikan kuliahku sendiri tanpa bantuan, dorongan dan support Tuhan. Dia lah yang memampukanku untuk menjalani hari-hari kuliahku sehingga aku bisa lulus dan bisa berdiri di sini saat ini, eh salah bukan berdiri melainkan duduk di depan laptop =)

Well, itulah apa yang kupikirkan saat membaca judul buku itu? Bagaimana dengan kalian?

Wanita itu #5

Wanita itu… Dia kini berdiri di hadapanku. Tiba-tiba saja tubuhku terasa membatu. Beberapa saat lamanya kami berdiam diri, hanya mampu saling menatap.

“Siapa Nduk?” tanya Eyang yang tiba-tiba muncul di belakangku.

“Kamu…” Eyang tak melanjutkan perkataannya saat melihat wanita itu.

“Sasa masuk dulu Yang…” kataku kepada Eyang lalu segera berlari menuju ke kamarku dan menutup pintu.

Wanita itu, yang selama ini hanya kulihat wajahnya dari foto, mengapa sekarang dia muncul di hadapanku, setelah lima belas tahun lamanya dia menghilang? Ke mana saja dia pergi selama ini?

Di mana dia saat aku membutuhkannya? Di mana dia saat aku menginginkannya membacakan dongeng sebelum tidur di malam hari? Di mana dia saat aku terbangun dan menangis karena bermimpi buruk? Di mana dia saat aku demam dan menyebut-nyebut namanya? Di mana dia saat aku berulangtahun dan berharap bertemu dengannya saat aku meniup lilin ulang tahunku?

Setiap kali aku menanyakan keberadaannya kepada Eyang, beliau hanya berkata wanita itu bekerja di tempat yang jauh. Lambat laun aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpanya. Aku memasak dan menyiapkan sendiri sarapanku sebelum berangkat ke sekolah. Aku mengerjakan sendiri PR ku. Aku mencuci sendiri pakaianku. Aku bahkan menulikan telingaku saat anak-anak nakal di sekolahku memanggilku anak yanti piatu. Memang aku memiliki Eyang, tapi aku tidak mau membebani beliau. Di usianya yang senja, beliau masih harus bekerja membuka warung.

Sedangkan wanita itu? Entah sejak kapan, aku mulai tak mempedulikannya lagi. Bagiku dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah sebuah nama yang meskipun aku ingin tapi aku tak mampu membuang nama itu dari hidupku. Dan aku benar-benar tidak berharap melihat wajahnya lagi.

“Nduk, kamu di dalam?” tanya Eyang sambil mengetuk pintu kamarku. Eyang pasti ingin aku keluar dan bertemu dengan wanita itu. Maafkan aku Eyang, tapi aku tidak mau. Aku berdiam diri dan tidak menjawab. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Eyang menyerah dan meninggalkan pintu kamarku.

Aku tak tahu berapa lama aku berdiam diri di dalam kamar, hingga akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu dan beranjak keluar. Tak kutemui tanda-tanda keberadaan wanita itu. Semoga dia benar-benar sudah pergi.

“Nduk, duduk sini…” panggil Eyang saat melihatku. Aku pun menghampiri Eyang yang duduk sendiri di meja makan. “Wanita itu sudah pergi Eyang?” tanyaku.

“Kamu belum makan to? Ayo makan dulu…” kata Eyang tanpa menjawab pertanyaanku. Dengan tanpa nafsu makan aku mengambil nasi dan ikan goreng yang disiapkan Eyang. Tak tega aku melihat Eyang sedih karena makanan yang disiapkan beliau tidak kusentuh sama sekali.

“Nduk, Eyang tahu kamu ndak suka sama wanita itu. Tapi kamu ndak boleh begitu. Maafkan Eyang, Nduk. Selama ini Eyang ndak jujur sama kamu. Wanita itu… kamu selalu bertanya ke mana dia pergi…” kata Eyang dengan sangat berhati-hati, Eyang bahkan meniruku, menyebut dia wanita itu. “Dan Eyang selalu bilang dia bekerja di tempat yang jauh. Saat itu kamu masih kecil. Kamu ndak akan ngerti dan Eyang juga ndak mampu cerita. Lagipula, wanita itu yang minta supaya Eyang jangan cerita sama kamu.” Aku mendengarkan perkataan Eyang tanpa ekspresi.

“Ketika kamu masih kecil, wanita itu, dia bekerja sebagai TKW ke luar negeri. Eyang sudah melarangnya, tapi dia ndak mau nurut. Waktu itu dia beralasan menjadi TKW bisa menghasilkan banyak uang dengan cepat. Kita hidup hanya bertiga, kalau bukan dia yang mencari uang, siapa lagi? Lagipula, hanya dua tiga tahun saja, setelah dapat cukup uang untuk modal usaha, dia mau pulang dan buka warung.” Eyang mulai bercerita sambil memutar memorinya.

“Tapi nasibnya sungguh malang. Setelah dapat uang dan Eyang berhasil buka warung, waktu mau pulang, dia malah dituduh membunuh majikannya…” air mata mulai membasahi mata Eyang. “Eyang ndak tahu bagaimana ceritanya, untung saja dia ndak sampe dihukum mati. Pemerintah berusaha membebaskannya, tapi ndak berhasil. Dia harus tetap dihukum penjara.”

Mendengar cerita Eyang aku semakin tak ingin melanjutkan makan siangku. Ada perasaan tidak nyaman di hatiku. Aku teringat kisah-kisah TKI dan TKW yang meregang nyawa di negeri orang. Mereka yang dihukum mati karena kesalahan yang aku sendiri tak tahu apakah benar demikian atau tidak. Dan membayangkan wanita itu mengalami nasib yang sama, aku tak tahu aa yang harus kulakukan.

“Eyang seharusnya cerita sejak dulu. Maafkan Eyang ya Nduk. Melihat sikapmu tadi, Eyang sedih sekali. Kamu jangan benci sama dia ya Nduk…” ujar Eyang sambil berlinang air mata.

“Wanita itu… di mana dia Eyang?” tanyaku terbata-bata.

“Dia baru saja pergi. Katanya dia ndak mau kamu marah dan sedih. Dia lebih baik pergi saja…” kata Eyang lemah.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera berlari keluar rumah. Di kejauhan masih kulihat sosok wanita itu yang mulai menghilang. Aku segera berlari dan berteriak sekencang-kencangnya, memanggil wanita itu, ”Ibuuu!!!”

Namanya mbah Pon

Namanya mbah Pon.
Penjual gudeg di pojokan pasar Beringharjo Jogja.

Mempunyai 5 anak.
Yang 2 kuliah di UGM, 2 lagi di ITB dan 1 di UI. Mereka sekolah sampai jenjang kuliah tanpa beasiswa.

Siang itu mbah Pon duduk di depan para peserta seminar yang antusias ingin belajar kesuksesan dari mbah Pon.

Banyak pertanyaan dilemparkan, tapi tidak ada jawaban dari mbah Pon yang bisa memuaskan peserta.
Misalkan, ketika ada pertanyaan, kiat mendidik anak, jawabannya hanya, “Nggih biasa mawon, yen nakal nggih dikandani (Ya biasa saja, kalo nakal ya dinasehati).”

Pertanyaan soal pembayaran kuliah anak-anaknya dijawab mbah Pon, “Pas kedah bayar sekolah nggih dibayar (Pas waktunya bayar sekolah, ya dibayar).”

Peserta seminar sudah tidak tahu lagi harus bertanya apa, karena tidak ada jawaban yang spesial dari mbah Pon.

Hingga seorang peserta bertanya, “Mbah Pon, napa njenengan mboten nate wonten masalah? (Mbah Pon, apa mbah tidak pernah punya masalah?).”

Dengan wajah bingung mbah Pon balik bertanya, “Masalah niku napa tho? Masalah niku sing kados pundi? (Masalah itu apa to? Masalah itu yang seperti apa?)”

Peserta itu mencontohkan “Niku lho mbah, misalke pas badhe mbayar sekolah pas mboten wonten arthone (Itu loh mbah, misalkan pas sudah waktunya bayar sekolah, nggak ada uangnya).”

Dengan tersenyum mbah Pon menjawab, “Oh niku toh, nggih gampil mawon, dereng wonten arthone nggih kula nyuwun Gusti Allah, lha ndilalah mbenjang e gudeg e wonten ingkang sing mborong (Oh itu toh, ya gampang saja, kalo pas tidak ada uang, saya minta ke Gusti Allah, lha ternyata besoknya ada yang mau mborong gudeg saya).”

Jawaban mbah Pon menampar para peserta seminar yang notabene adalah orang-orang pintar terpelajar. Orang-orang yang paham tentang ilmu energi dan bagaimana hukum energi bekerja, Energi selalu menarik energi yang bersifat sama

Mbah Pon tidak tahu apa itu masalah, sehingga tidak pernah menganggap hidupnya ada masalah.

Bagaimana mungkin masalah datang dalam kehidupannya, bila hanya Allah yang hanya dijadikan sandaran??

#PandaiBersyukur
#HanyaAllahTempatMeminta
#OjoKeselDadiWongApik
#OjoSambatan

I get it from a friend…

7 days – 7 hari

Roy menghela nafas panjang ketika memasuki tempat pengungsian korban gempa Lombok. Dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh lapangan yang kini telah penuh dengan tenda-tenda darurat. Meskipun sudah menyiapkan diri sejak turun dari pesawat, pemuda berkacamata itu tetap tak mampu menahan perasaan sesak yang menghimpit dadanya. Selama hampir setengah hari perjalanan dari bandara menuju lokasi pengungsian, dia disambut oleh pemandangan rumah-rumah yang hancur dan kini tenda-tenda yang berhimpitan menyambutnya tatkala tiba di lokasi pengungsian. Perasaan lelah dan enggan yang dirasakannya kini berganti menjadi iba bercampur kasihan. Ya, pemuda itu memang merasa terpaksa datang ke Lombok, karena atasannya mengutusnya menjadi sukarelawan dalam program CSR yang diadakan perusahaan selama 7 hari di Lombok.

“Mas, kita ketemu Pak Lurah dulu ya..” suara Bram, rekan sesama relawan dari cabang perusahaan lain menarik Roy dari alam bawah. Hari pertama dilalui Roy dengan memperkenalkan diri kepada para pengungsi. Roy dan rekan-rekannya yang difasilitasi oleh sebuah LSM diperkenalkan kepada para tokoh masyarakat sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan mereka.

Hari beranjak senja ketika mereka selesai berbincang-bincang dengan para tokoh masyarakat. “Mas Roy mengapa tertarik ikut ke sini?” tanya Bram saat mereka sedang beristirahat di sebuah bangunan semi permanen yang akan menjadi rumah mereka selama 7 hari ke depan.

“Jujur ya Mas, saya nggak ingin ke sini. Cuma karena ditugasin atasan saja…” jawab Roy apa adanya sambil memainkan HP nya, mencoba mencari sinyal yang tak kunjung tiba.

“Ooo…” jawab Bram. Kemudian mereka terdiam beberapa saat.

“Kalo Mas Bram sendiri?” tanya Roy yang akirnya meletakkan HP nya dan memilih untuk menghabiskan malam dengan berbincang-bincang dengan Bram karena putus asa tidak mendapat sinyal. Untung saja listrik telah dapat digunakan sehingga mereka tidak benar-benar merasa berada di abad pertengahan.

Keesokan harinya, Roy dan rekan-rekannya diperkenalkan kepada para korban. Mereka bertugas membantu relawan dari LSM lain mendampingi anak-anak, karena menurut para psikolog, mereka adalah korban yang paling menderita dan rentan terhadap trauma. Hari itu Roy berkenalan dengan beberapa anak, mereka bermain dan belajar bersama. “Kita harus memberikan anak-anak aktivitas supaya perhatian mereka teralihkan dari keadaan saat ini,” ujar seorang psikolog saat memberikan pengarahan kepada para relawan.

Selama beberapa hari itulah yang menjadi rutinitas Roy, bermain bersama anak-anak, kadang mereka juga memberi pelajaran selama beberapa jam agar anak-anak tidak tertinggal secara akademik. Dari sekian banyak anak yang didampinginya, perhatian Roy terpaku pada salah seorang anak perempuan. Mutiara namanya. Teman-temannya biasa memanggilnya Tia. Kira-kira dia berusia 10 tahun. Anak itu selalu nampak ceria meskipun keadaan yang dihadapinya tidak menyenangkan. Setelah bertanya kepada beberapa orang, Roy mendapati bahwa kedua orangtua anak itu telah meninggal saat gempa terjadi. Kini Tia bersama adiknya diasuh oleh pamannya.

“Saya nggak tahu bagaimana nasib kami ke depan…” ujar paman Tia ketika Roy berbincang-bincang dengannya. “Saya kehilangan istri dan anak saya belum ditemukan. Saya sudah pasrah kalau anak saya juga meninggal. Sekarang saya harus mengurus dua keponakan saya. Kakak saya dan suaminya ditemukan meninggal. Tia dan adiknya nggak ada yang ngurus. Sekarang kami hanya dapat berharap bantuan dari pemerintah dan orang-orang…”

Berbincang dengan lelaki paruh baya itu menimbulkan perasaan tidak nyaman di hati Roy. Dia sedih memikirkan bagaimana nasib para korban gempa tersebut. Kehilangan rumah, harta, bahkan keluarga. Tidak tahu apa yang harus dilakukan esok hari. Semuanya itu membuat Roy terjaga semalaman.

Keesokan harinya, Roy memberanikan diri bertanya kepada Tia saat mereka sedang beristirahat sambil makan siang. “Tia, kakak mau nanya, kalau kakak perhatikan Tia selalu ceria ya?” tanya Roy dengan hati-hati.

“Iya Kak, Papa sama Mama selalu mengajarkan Tia untuk tersenyum…” jawab anak itu dengan polosnya.

“Tia nggak sedih ditingal Papa dan Mama?” tanya Roy setelah beberapa saat memikirkan kata-kata yang akan digunakannya.

“Sedih sih Kak, Tia nggak bisa ketemu Papa sama Mama…” jawab anak itu sambil tersenyum meskipun matanya nampak berkaca-kaca mengingat kedua orang tuanya.

“Maaf ya Tia…” ujar Roy berniat mengakhiri pembicaraan.

“Tapi Papa sama Mama di surga pasti sedih kalau lihat Tia sedih. Makanya Tia nggak boleh sedih. Tia juga harus menjaga adik. Papa sama Mama selalu bilang Tia harus jadi kakak yang baik buat adik. Kalau Tia sedih adik juga sedih…” jawab Tia sambil memandang adiknya yang sedang bermain dengan anak-anak lain.

Malam itu Roy memikirkan ucapan Tia. Roy tidak dapat membayangkan apa yang dihadapi anak itu. Anak sekecil itu harus tegar menghadapi keadaan seberat ini, tanpa orang tua sebagai tempat dia berlindung. Perasaan sedih benar-benar menghantui pikiran pemuda itu.

“Kakak besok mau pulang ya?” tanya Tia setelah orang-orang dari LSM mengatakan bahwa hari ini hari terakhir Roy dan rekan-rekannya mendampingi mereka. “Terima kasih ya Kak sudah menemani kami bermain dan belajar.” Roy hanya mampu mengangguk sambil tersenyum.

“Tia baik-baik ya di sini, belajar yang rajin supaya besok bisa jadi orang sukses, bisa membuat Papa dan Mama bangga…” jawab Roy.

“Pasti Kak…” ujar Tia sambil mengacungkan jempolny, diikuti oleh anak-anak yang lain. Mereka mengerumuni Roy dan rekan-rekannya, saling berpelukan dan berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang, Roy memikirkan pengalamannya selama 7 hari di Lombok. Ada perasaan enggan dan sedih saat harus berpamitan dengan anak-anak itu, padahal awalnya Roy merasa terpaksa berangkat ke Lombok. Banyak hal yang dia pelajari selama mendampingi korban gempa tersebut. Dia belajar berempati dan merasakan apa yang mereka rasakan. Dia ikut berduka saat mereka berduka. Dan yang paling penting, Roy belajar untuk terus berjuang tak peduli seberapa pun beratnya hidup yang harus dijalani. Dia belajar menghadapi hidup dengan senyuman. Dalam hati, Roy berdoa bagi anak-anak itu semoga mereka mendapatkan masa depan yang cerah, secerah cahaya mentari hari itu.

Inspired from my student’s story…

Untitled-1.jpg

 

on the way 10

One day when I was in the car with some of my colleagues off for some works, one of them who was just back from Japan told us that in her college there was a man who committed suicide. She told that if the man did it in his apartment, his parents would be charged for the suicide fee.  Therefore he chose to do it at the college.

Than we discussed about some possibilities that made him do it. When comparing about how hard the life we faced, we concluded that we could survive because we had religion. We believed in God who always provided the best for us. That’s why even in the hardest time we didn’t lose hope.

I myself did experience some difficult times. There was a time when I want to give up and disappear. But at that time, my faith encouraged me. Keeping believing in God gave me strength to continue my life day by day. Even I didn’t know what would I face the day after it, I just trusted my God that He would not let something bad happened to me.

When thought about that time, I can put a smile on my face. Walking with God doesn’t mean everything is always easy but He will help us passing everything.

Philippians 4:13 – I can do all things through Christ who strengthens me.