my thoughts about writing on blog

Some days ago, some people asked me how could I write frequently on my blog, while they didn’t have enough time to write something on it.

Answering it, the first answer is it is a matter of priority. I know that it is an old answer, but I believe if someone decides to make something as his top priority, he will do everything to accomplish it. So having no time isn’t a reasonable excuse. Instead, he has something else that more important to be done. Actually, I am not diligent enough to have a fix schedule to post something on my blog. And yes, it’s a matter of priority.

The other answer is I just wrote something in my mind. As you see in my blog, I have various topic that written on it. Well, my goal when I created my blog was I wanted to share my thoughts with other people as well as throw them out of my mind. Honestly, I used my blog as a trash bin where I could put my thoughts on it. Of course I selected some thoughts that I thought they were positive and could be blessed the other.

Whether other people read my blog or not, it was not my consideration. I didn’t care whether they thought that it was rubbish, but I cared when someone put a comment and needed a feedback. As my commitment was providing a positive impact, I tried to respond them with a positive comment and encouragement.

And one more thing, I’m trying to improve my writing skill in English. I know that my skill is as horrible as my English but it is said that practice make us better.

I think that’s all. My principle is just writing and I hope it can bring a positive impact.

 

Advertisements

Berkomentar dan menghakimi lebih mudah daripada berpikir dan mencoba memahami…

Saya rasa statement tersebut sungguh tepat apalagi jika berkaca pada kejadian yang baru-baru ini saya alami. Jadi, begini ceritanya. Hari itu kami sedang melakukan penilaian akhir terhadap karya mahasiswa. Seperti biasa, mereka diberikan waktu untuk mempresenasikan karya mereka lalu kami akan mengajukan pertanyaan. Tidak ada yang menarik dari proses penilaian tersebut. semuanya berjalan lancar dan seperti yang sudah direncanakan.

Hal yang menarik adalah sikap para dosen penguji yang sibuk memainkan HP nya masing-masing. dapat anda bayangkan, seperti apa suasana yang terjadi. Hal tersebut menjadi viral tatkala foto-foto para dosen tersebut dipublikasikan dalam grup kami, tentunya tidak dengan maksud negatif, hanya sebagai bahan bercandaan saja. Namun, tentu saja reaksi dan komentar sebagian besar bernada negatif, meskipun tidak ditanggapi dengan serius.

Hingga suatu kali orang yang wajahnya terpampang di dalam foto tersebut mengungkapkan kekesalan nya atas komentar-komentar tersebut. Dia pun menjelaskan alasan mengapa harus memegang terus HP nya selama proses penilaian. Ada alasan yang sifatnya personal terkait dengan masalah keluarga sehingga dia harus terus memantau perkembangan masalah tersebut.

Berkaca dari kejadian tersebut, semua orang dapat terjebak dalam kejadian yang sama. Ketika melihat hal yang dianggap tidak sesuai atau tidak pantas menurut pemikiran kita, dengan mudah kita menghakimi tanpa mencari tahu alasan di balik peristiwa tersebut. Tentunya semua orang memiliki alasan atas tindakannya tersebut.

Marilah kita belajar mengunci mulut barang sejenak dan mengaktifkan pemikiran dan perasaan kita untuk mencoba mengerti dan memahami apa yang orang lain rasakan.

mejadi gelas kosong

Suatu hari, seorang murid bertanya kepada gurunya bagaimana cara untuk menjadi bijaksana. Mendengar pertanyaan muridnya, sang guru tak segera menjawab, melainkan mengajak si murid menuju teras belakang di mana telah tersedia beberapa gelas dan sebuah teko yang berisi teh hangat.

Setelah mereka duduk, sang guru lantas mengambil teko dan menuangkan teh yang ada di dalamnya ke dalam sebuah gelas yang ada di depan muridnya hingga gelas itu penuh. Meskipun telah penuh, tetapi sang guru tak berhenti dan terus menuangkan teh hingga meluap keluar dari gelas dan membasahi seluruh meja.

Melihat hal itu, si murid pun segera menghentikan tindakan gurunya dan bertanya mengapa sang guru melakukan hal itu.

“Bukankah tadi kau bertanya bagaimana cara untuk menjadi bijaksana? Aku telah menjawabnya…” jawab sang guru. Dengan penuh rasa heran, murid itu memandang gurunya.

“Jadilah seperti sebuah gelas kosong. Gelas yang kosong mampu menerima teh yang kau tuang. Tetapi ketika gelas itu penuh, teh yang kau tuang tidak lagi sanggup diterima gelas itu dan meluap keluar. Demikian halnya dengan menjadi bijaksana. Kosongkan dirimu sehingga kau senantiasa sanggup menerima hal-hal baru yang dapat kau pelajari. Ketika kau merasa dirimu sudah pandai dan maha tahu, maka kau tidak akan lagi mau menerima hal-hal baru untuk dipelajari. Jika demikian halnya, kau tidak akan pernah menjadi bijaksana…”

Kebijaksanaan tidak dimulai dengan merasa diri hebat, lebih pandai, lebih baik dan lebih bijaksana dari orang lain, melainkan dimulai dari sikap merendahkan diri, mau belajar dan menerima kritik untuk belajar dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik lagi.

Semoga melalui kisah ini kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Selamat mencoba..

Hope

Was not it supposed to be a light in the darkness that gave us courage to keep on?

Was not it supposed to be a sweet honey that brightened our spirit in the hard pressure?

Was not it supposed to be a cup of water that revived our soul in the dry and hot summer?

Was not it supposed to be the only thing that we had when there were no other things?

 

But why a lot of people gave up and chose to turn off the light?

But why a lot of people gave up and chose to abandon the sweet honey?

But why a lot of people gave up and chose to waste the water?

But why a lot of people gave up and chose to throw away the only thing they had?

 

Was it too hard to keep in our heart that they gave up and committed suicide?

Was it too luxurious so that only the rich and powerful people had right to have it?

Was it too impossible to us for dreaming and hoping for something we longed for?

 

Or it was us who too weak to keep a hope?

Do you dare to hope?

on the way 9

Saat hendak mencari makan siang, saya mendapati kedai langganan tutup. Wajar sih karena ini bulan puasa, meskipun agak merepotkan bagi saya ketikahendak mencari makan siang. Ketika akhirnya menemukan kedai yang buka, saya berpikir sejenak.

Pemilik kedua kedai tersebut sama-sama orang muslim. Lantas, apakah kedai yang tutup di siang hari lebih baik daripada kedai yang tetap buka? Well, bukan hak saya untuk menjudge, I think. Saya hanya berpikir bahwa pemilik kedai yang pertama dengan segala pengetahuan agama nya memilih untuk menutup kedai nya di siang hari, mungkin untuk menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa.

Sedangkan pemilik kedai yang kedua, saya rasa dia berpikir bahwa orang yang tidak berpuasa membutuhkan makan, oleh karena itu dia menyediakan makanan di saat orang kesulitan mencari makan karena banyak kedai yang tutup, seperti saya cotohnya hahahaha… Apakah yang dilakukannya salah? Saya rasa tidak juga, karena dia menghormati orang yang tidak berpuasa dan membantu mereka untuk mendapatkan makanan. Bukankah memberi makan orang yang membutuhkan adalah hal yang baik?

Atas dasar pemikiran tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa  kedua nya sama-sama baik. Soal rejeki, saya percaya Tuhan sudah mengatur rejeki masing-masing sehingga mereka yang tutup di bulan puasa pasti rejekinya tidak berkekurangan, demikian juga dengan mereka yang tetap buka di bulan puasa. Saya percaya semua yang dilakukan dengan niat baik akan membawa hasil yang baik juga.

Bagi saudara-saudara muslim, saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa…

Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas

Saya yakin semua orang pernah mendengar peribahasa itu. Apa arti peribahasa itu? Kurang lebih artinya adalah kesalahan diri sendiri tidak terlihat, tetapi kesalahan orang lain terlihat jelas.

Namun ketika saya berpikir lebih dalam lagi, paribahasa itu bisa saja diartikan secara berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari bukankah kita sering melakukan hal yang sama. Misalnya kita membuat perencanaan, memikirkan apa yang harus kita lakukan dalam 5 tahun mendatang untuk mencapai hal yang kita cita-citakan, tetapi lupa atau tidak memikirkan pekerjaan yang sedang kita kerjakan hari ini untuk dikumpulkan esok hari.

Tidak salah memang memiliki perencanaan yang matang. Saya juga orang yang selalu mempersiapkan dan memikirkan secara detail apa yang harus saya persiapkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanannya. Namun, jika hal itu membuat kita mengabaikan hal-hal sederhana dan penting yang ada di sekitar kita hingga kemudian merugikan kita sendiri, bukankah hal itu tidak baik? Seringkali manusia lupa akan hal-hal kecil karena mereka biasa melakukannya dan lebih memilih untuk fokus pada hal-hal yang dianggap penting. Padahal hal-hal yang dianggap remeh pun sebenarnya tidak kalah pentingnya.

Contohnya adalah seseorang yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Sebenarnya pernikahannya itu masih berlangsung tahun depan, tetapi dari sekarang orang itu sudah sibuk memikirkan hal ini dan itu. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tetapi hal yang salah adalah ketika dia lupa melupakan haru ulang tahun kekasihnya yang jatuh pada minggu depan.

Contoh lain adalah saat terjadi bencana atau serangan terorisme di negara tetangga, semua orang sibuk memposting empati dan dukungan terhadap mereka yang menjadi korban. Bantuan secara materi pun dikirimkan ke sana. Akan tetapi, apakah orang-orang itu tahu dan memahami kesedihan yang dialami tetangganya yang sedang kehilangan sanak saudaranya? Ataukah mereka  peduli kepada kesulitan anak yatim yang tinggal beberapa blok dari rumah mereka karena anak itu terancam putus sekolah?

Jika hal yang demikian terjadi pada kita, maka sesungguhnya kita sama seperti peribahasa itu secara harafiah. Tidak mampu melihat apa yang ada di dekat kita. Sungguh menyedihkan, saya rasa. Oleh karena itu, marilah kita lebih memperhatikan kehidupan di sekitar kita, mulai dari hal-hal yang kecil, yang sederhana dan yang dapat kita lakukan, daripada memikirkan hal yang muluk-muluk dan tak terjangkau.