fighting-the-works-of-the-flesh-hatred_898_630_80

Hater… Today it was common to find that someone has a hater or haters. Some celebrities even have thousands of haters. The haters even have their own group and they always give a bad comment about the celebrity. I don’t have any idea why someone became a hater. Well, I myself had an experience becoming a hater. I used to hate my friend. The source of my hatred was I was disappointed in her. When we had group homework, she didn’t do her part yet always complained about our work. Well, I thought it was reasonable enough to make me didn’t want to be friend with her. But it was in the past.

When thinking about it, I asked myself, what was I looking for as being a hater? What did I get? Nothing. I got nothing for becoming a hater. Instead, I lost my happiness because I always thought how to get rid of her. I meant I didn’t want her be near me. The most annoying thing was she didn’t aware of my hatred toward her. She keep did her usual activity as if everything was ok. I once told her that I hated her acts, but innocently, she didn’t keep it on mind. At the end, I suffered because of my hatred but she didn’t feel anything. You see, there was no point of hating someone.

The other negative impact of hatred is it spreads. Once we hating someone, we would speak his bad only to the people around us. The longer we talked his badness, the people around us became hating him even at first they didn’t. At the end, we became the agent of hatred that destroy the relationships between the people surround us and him. We sacrificed them for nourishing our hatred. In my case, I got my friends hated her. At first, they just thought that she was annoying but later they hated her too.

From my experience, I learnt that hatred was not only consuming the object of my hatred, but also consuming me and my friends. My hatred destroyed all of us. I know it was easy to speak don’t hate but it’s really hard to implement it. However all of us have a choice, a choice to grow hatred or to let it go. Please make a wise choice..

Advertisements

when you say you love..

You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it..

You say you love sun, but you seek shelter when it is shining..

You say you love wind, but when it comes you close your windows..

So that’s why I’m scared when you say you love me..

It’s a famous quote of Bob Marley. I’m sure you have read it. Lately, I thought about the quote. What did he mean? What did he want to say? I agreed that everything he thought was right. No matter how we loved the nature, we used an umbrella when it was raining, we hid from the sun, and we covered ourselves from the blow of the wind.

I realized it when I had to move in order to chase my dream. I used to imagine what would I do when I got my dream accomplished, but at the day when it really became accomplished, I was scared. What if it would not go well as what I had thought before? What if in the end I realized that I actually didn’t enjoy it and it went as a dream that I had dreamed for a long time?

You don’t really know what do really want. I think it is the message of the quote. Be careful with your desire because a lot of people don’t actually know well what is their main desire.

Let me close this writing with another set of questions.

Do you really love rain, or do you think you will love it?

Do you really love the sun, or do you think you will love it?

Do you really love wind, or do you think you will love it?

Do you really love me, or do you think you will love me?

Hai sahabat…

Hai sahabat, apa kabar?

Senang bisa melihatmu lagi setelah sekian lama kita tak bersua

Terakhir kali kita berjumpa di sosial media tahun lalu dan kau berjanji untuk hang out bersama teman-teman

Kau tahu, kau tak menepati janjimu, aku sangat marah kepadamu, kau tahu?

Kini kita memang berkumpul bersama teman-teman, untuk mengantar mu ke rumah masa depanmu

 

Hai sahabat, aku tak benar-benar marah padamu, kau tahu itu kan?

Bagaimana aku bisa marah ketika menatap wajahmu yang penuh kedamaian

Aku hanya berharap kau akan mengejekku, mengolok-olok ku seperti waktu kita SMA dulu

Aku merindukan bully an mu, pertarungan lidah kita yang tak pernah berakhir – itu karena kau tak mau mengakui kalau kau tak sanggup menandingi ku

 

Hai sahabat, aku hanya merasa sedih

Kau belum mengenalkanku pada belahan jiwamu, dan aku pun juga belum mengenalkan belahan jiwaku kepadamu sih

Di acara pernikahanku nanti, aku tak akan melihat kehadiranmu, hei aku juga tak akan pernah melihatmu menikah T.T

Kau juga belum mentraktirku atas kenaikan pangkatmu, padahal kau bilang setelah dipindahtugaskan ke kota kelahiran kita, kau akan mengadakan perayaan kecil-kecilan

Banyak hal yang kau katakan tapi kini semuanya itu menjadi tak penting lagi bagiku

 

Hai sahabat, apakah aku terlalu banyak bicara?

Mungkin kau akan menyuruhku diam karena kau bosan mendengar celotehku, hei kau bisa mendengarkanku bukan?

Aku hanya ingin mengatakan..

 

Selamat jalan, sahabat

Semoga kau bahagia di sana

Sabarlah menungguku di sana, ok?

Dan jangan mengharapkanku segera menyusulmu ^.^v

 

Teruntuk sahabatku yang telah mendahului kami… selamat beristirahat kawan…

 

 

 

 

 

When God answer the pray 14

March 7th

God, where are You?

God, answer me, please. Where are You now?

Ok, You don’t want to answer me, fine!

 

June 15th

God, are You really God?

I asked You for times but You kept silent. Answer me God!

If You exist, I challenge You to answer me!

I challenge You to show me who You are!

 

July 21st

You are not God, are You? You didn’t do anything. Or You are not able to?

I know You are not God…

Ok, You are nor God, so I have no business with You any longer…

 

October 24th

Hello My son. It has been for a while since the last time you spoke to Me…

Who are You?

I’m God…

Don’t be silly. You are not. I even don’t know if God exist… He never answered me…

Why I should answer you? Who are you that I must answer you or obey your command?

You are not God, but I am. I have no obligation to grant all your wishes. Instead, I can do anything as I am God. I have right to ignore you too, don’t I?

You are right, but…

And I have right to ignore all your challenges. I lose nothing even though you ignore Me…

You are right again…

As the creator, I have the right to do anything I want to my creations. It is same as you create something. For example, when you write something, you deserved to delete it whenever you were not pleased to the writing. So do I, I deserved to ignore my creations, or erase them whenever I was not pleased.

… I know it is… it is not about me, but it is about You. I’m sorry for disturbing You…

Do you understand now? Actually, I love the way you disturbed Me. I love you that why I always answered your questions, your complaints, your anger, but sometimes I have to make you grow. I have to discipline you too, so you can be mature.     

I realized it now God. Instead of You need me, it is me who need You… thanks for being my God, thanks for being patient to me…

Feel free to come to Me, My son. You know I love you so much. Yet, it doesn’t mean I tolerate any rebellion against Me.

I’ll keep it in my mind, God…

Wanita itu #4

Wanita itu pasti orang ga bener. Itulah yang terlintas dalam pikiranku saat pertama kali melihat wanita itu di kereta. Penampilannya benar-benar urakan. Bajunya sangat pendek dan terbuka. Celana jeans yang digunakannya pun sobek-sobek di bagian kaki. Sepintas penampilannya seperti wanita liar. Aku pun tak memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu. Bukankah sudah kubilang penilaianku kepada wanita itu sangat buruk.

Kereta terus melaju dan aku asyik dengan lamunanku dan pemikiran yang kadang terlintas di kepalaku. Sama sekali aku tidak menghiraukan wanita itu, meskipun dia duduk tak jauh di seberangku. Perjalanan ku hampir usai ketika kereta berhenti di stasiun bandara, satu stasiun sebelum stasiun yang kutuju. Para penumpang mulai berdiri dan bergegas untuk turun. Sebagian penumpang yang tadinya tidak mendapat tempat duduk pun segera berebut menduduki kursi-kursi kosong yang ditinggalkan pemilik sebelumnya.

Aku melihat wanita itu berdiri dan kupikir dia akan turun di stasiun itu. Ternyata aku salah. Wanita itu menghampiri ibu paruh baya yang duduk di sebelahku dan meminta sebuah kantung plastik untuk diberikan kepada cucu ibu itu yang duduk bersama sang suami. Memang ibu itu dan keluarganya duduk terpisah. Anak kecil, cucu ibu itu nampak pucat, sepertinya dia mabuk. Wanita itu pun nampak beberapa kali menghampiri anak kecil itu. Dia meminta tissue kepada penumpang lain dan menyuruh ibu paruh baya yang duduk di sebelahku itu memberikan minyak angin kepada cucunya.

Awalnya kupikir wanita itu adalah ibu dari si anak yang mabuk, tapi aku merasa bingung. Jika dia ibunya, mengapa selama perjalanan dia nampak seperti tidak mengenal keluarga itu. Lagipula sejak aku naik ke kereta ini, wanita itu telah duduk sendiri di sana, sedangkan ibu ini dan keluarganya naik beberapa saat setelah aku duduk di tempatku. Berdasarkan analisaku, mereka tidak bepergian bersama. Aku pun mulai memperhatikan wanita itu. Kini dia berdiri karena tempat yang didudukinya tadi telah berganti pemilik. Ketika dia berdiri untuk mengurus anak kecil yang mabuk itu, seseorang menduduki kursinya. Beberapa menit berlalu sejak wanita itu mulai meminta kantung plastik kepada ibu di sebelahku. Sampai saat itu, aku masih belum bisa memutuskan apakah wanita itu ibu dari si anak kecil. Wanita itu kini telah berdiri dengan tenang dan kembali menunjukkan sikap tidak mengenal keluarga anak kecil itu.

Akhirnya aku pun mengambil keputusan bahwa wanita itu bukanlah ibu dari si anak, karena ketika kereta berhenti, mereka mengambil jalan yang berbeda. Dalam perjalananku dari stasiun menuju ke kosan, aku belajar sesuatu dari wanita itu. Wanita itu mengajarkanku untuk tidak memandang buku dari covernya. Siapa yang mengira wanita yang penampilannya seperti perempuan nggak baik-baik, ternyata memiliki hati yang peduli dan peka terhadap orang lain, sedangkan orang lain yang mungkin penampilannya lebih pantas daripada wanita itu tidak peduli kepada orang di sekitarnya. (Anggap aja orang lain itu aku. Aku nggak ingin menuduh orang lain deh ahahaha….)

Suatu hari di Museum Affandi

Hari ini aku berkunjung ke Museum Affandi (akhirnya setelah beberapa tahun tinggal di Jogja aku menginjakkan kakiku di tempat itu). Sebenarnya sejak kecil aku sudah mengagumi beliau. Aku tahu beliau adalah seniman, pelukis yang terkenal. Dulu, setiap pergi ke Jogja, dalam hati aku berharap bisa melihat lukisan beliau. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, akhirnya aku benar-benar berada di sana dan melihat lukisan demi lukisan yang pernah dilukis oleh beliau. Waktu kecil aku memang suka melukis sih, jadi wajar saja kalau dulu aku ingin jadi pelukis di kemudian hari kelak.

Selain karya-karya Affandi yang sangat terkenal, hari ini aku belajar sisi lain dari seorang Affandi. Mengunjungi museum nya, dan melihat karya-karya yang dipamerkan itu, sedikit banyak membuatku mengenal proses kehidupan yang pernah dilalui oleh beliau. Lukisan-lukisan di awal masa karir beliau berupa lukisan keluarganya dan dirinya sendiri. Menurut penuturan guide yang mengatarku, saat itu Affandi tidak mampu mencari (membayar) model sehingga beliau melukis dirinya dan keluarganya, istrinya, ibunya dan anaknya. Lukisan demi lukisan beliau yang menggambarkan momen demi momen kehidupan yang beliau alami, membawaku menyelami kehidupan beliau jauh ke belakang.

Bagi seorang seniman, karya seni adalah sebagian dari jiwa yang dituangkan dalam bentuk lain. Sama halnya ketika aku menuliskan pemikiranku dalam tulisan ini. Dalam lukisannya, Affandi juga membagikan secuil kisah hidupnya. Ok, to the point aja, setelah mengamati lukisan demi lukisan, aku mendapatkan kesan bahwa di awal karir nya sebagai pelukis, Affandi mengalami banyak kesulitan dan tantangan. Penolakan pun tak jarang beliau alami saat hendak mengajukan diri mengikuti pameran lukisan. Namun, saat itu beliau tidak menyerah. Jika saat itu beliau menyerah dan berhenti menjadi pelukis, mungkin sekarang ini nama beliau sudah hilang ditelan waktu.

Selain lukisan beliau yang menggambarkan beratnya perjuangan dan perjalanan yang beliau alami saat itu, aku juga belajar tentang kedewasaan dalam berkarya. Affandi memiliki gaya lukisan yang sangat berbeda di awal karirnya dibandingkan saat menjelang akhir hidupnya. Semakin ke belakang, lukisan beliau semakin abstrak (menurutku sih karena aku nggak ngerti lukisan). Meskipun begitu, aku tahu benar bahwa nilai lukisan beliau tentu semakin mahal. Kurasa, tak mudah bagi seseorang untuk mengubah gaya hidupnya, apalagi jika dia sudah merasa nyaman dengan apa yang selama ini ada padanya. Tetapi, seorang Affandi berani mengambil resiko mengubah gaya lukisan beliau.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran beliau ketika beliau mengubah gaya lukisannya. Bisa jadi saat itu memang tren seni sedang berubah. Tetapi dalam setiap perubahan, pasti ada resiko yang harus diambil. Yang sempat kupikirkan adalah bagaimana jika orang lain tidak menyukai lukisan beliau yang semakin abstrak? Aku tak tahu apakah pemikiran itu pernah terlintas dalam benak seorang Affandi, tetapi kenyataan membuktikan bahwa nama Affandi semakin tenar dan dia semakin terkenal. Perjuangan beliau, kegigihan beliau dalam melukis dan membuktikan dirinya bisa menjadi pelukis kenamaan di Indonesia telah terbayar.

Aku menulis ini pure dari apa yang aku lihat, dengar dan pikirkan saat mengunjungi Museum Affandi. Jika mungkin ada yang berbeda dengan data-data biografi beliau (aku belum pernah membaca biografi beliau sih), harap dimaklumi. Pada akhirnya, rencanaku untuk melihat-lihat lukisan beliau berakhir dengan kegagalan, karena aku lebih mengagumi jalan kehidupan beliau daripada lukisan-lukisan beliau.

DSCN2685