Up and down…

Life turns around. Itulah yang terlintas di kepalaku hari ini, saat aku mulai berpikir bahwa besok aku harus meninggalkan rumah kontrakan dari kantor dan kembali ke ngekos, karena harga sewa rumah yang naik sehingga diputuskan bahwa rumah ini akan dikembalikan saja ke pemiliknya. Well I think cukup fair sih, lagipula toh rumah ini bukan milikku, aku hanya diberi kesempatan untuk menggunakannya barang sebentar. It’s ok.

Sesuatu yang menganggu pikiranku adalah bahwa hidup ini seperti roda yang terus berputar, ada saatnya orang berada di bawah, lalu di atas, lalu di bawah lagi, kembali di atas dan seterusnya, tidak akan pernah berhenti, meskipun aku pernah berdoa dan berharap rodanya hidupku macet dan rusak saat aku sedang berada di atas sehingga aku tidak perlu mengalami saat-saat berada di bawah =).

Kadang aku ingin hidup ini seperti kisah-kisah dalam dongeng pengantar tidur yang sering kubaca ketika aku masih kecil. Aku heran mengapa semua dongeng itu diakhiri dengan kalimat they live happily ever after – mereka hidup bahagia selamanya. The end… Aku ingin menggugat pengarangnya, sayang mereka sudah lama meninggal, hmmm aku jadi berpikir apakah dalam saat-saat terkahir hidup mereka mereka mengalami live happily ever after ya, karena menurutku dongeng-dongeng itu belum tamat. Menurutku masih ada kisah selanjutnya di mana realitanya hidup mereka akan mengalami banyak masalah di kemudian hari, setidaknya itulah yang senantiasa dialami oleh manusia selama dia hidup.

Kadang aku berpikir hidup ini tidak adil, mengapa realita begitu kejam, mengapa orang harus menghadapi saat-saat berada di bawah, kok nggak terus aja berada di atas, and life happily ever after, seperti kisah-kisah di dalam dongeng. Aku sering bertanya mengapa dan mengapa. I think itu manusiawi dan aku masih tetap manusia bukan? So wajar saja bertanya kepada Sang Pencipta. Tapi aku masih percaya pada keadilan Tuhan, meskipun aku sendiri tidak dapat mengerti keadilanNya dan jalan pikiranNya tak dapat kumengerti.

Sometimes on the top but sometimes on the bottom. That’s a life. Justru dengan adanya saat-saat orang merasakan pengalaman berada di bawah, dia jadi bisa menghargai dan memaknai saat keberadaannya di puncak dan tidak takabur. Seringkali orang lupa ketika berada di puncak saking asyiknya sehingga lupa pada keadaan di bawahnya, sehingga akhirnya mau tidak mau Tuhan memaksanya untuk turun ke bawah. Saat berada di bawah juga itulah yang memberikan makna pada perjuangan untuk menuju ke puncak. Sok bijak banget sih gua padahal gua sendiri belum bisa memaknai perjuangan menuju puncak, kayak theme song nya AFI, Menuju Puncak, jadi kangen tahun 2000an…

Satu hal lagi yang tiba-tiba muncul di kepalaku saat mengingat AFI dan tahun 2000an, roda hidup yang berputar juga mengajarkan manusia untuk menghargai waktu dan kesempatan, ada saatnya manusia mendapatkan kesempatan saat dia sedang berada di atas, kesempatan terbuka lebar, namun seringkali hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga penyesalan datang setelah turun dari puncak dan kembali berada di lembah. Sekarang aku pakai istilah puncak dan lembah sebagai substitusi atas dan bawah, soalnya aku rasa lebih memberikan kesan tempat gitu, dan tentunya saat membayangkan berada di puncak ruang imajiku melayang tinggi ke puncak, meskipun aku sendiri belum pernah ke Puncak, semoga suatu saat aku bisa ke sana, demikian juga dengan kata lembah yang aku gunakan, daripada hanya sekadar atas dan bawah.

Oh ya, aku ingat satu lagi. Seringkali ulah dan perbuatan orang itu sendirilah yang membuatnya harus terjun bebas ke lembah, karena terlalu lama berada di puncak sehingga tidak dapat membedakan mana jalan yang aman untuk dilalui dan mana jalan yang berujung di jurang, barangkali matanya sudah silau karena terus menatap ke atas. So, pilihan manusia juga memiliki peranan dalam menentukan jalan hidup yang dialaminya, bukan berarti Tuhan yang bertanggung jawab penuh atas hidup manusia sehingga Dia yang patut disalahkan atas terjun bebasnya manusia dari puncak, meskipun Tuhan mengijinkan hal itu terjadi, tentunya atas dasar untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sembilan dari sepuluh orang pasti menyalahkan Tuhan, aku yakin itu, karena aku termasuk salah satu dari sembilan orang tersebut =). Sekaligus menjadi koreksi bagi diriku sendiri agar aku lebih bertanggung jawab atas hidupku dan pilihan yang aku buat, agar aku tidak terus mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain sebagai pembenaran atas diriku sendiri.

Banyak sih pelajaran hidup yang bisa didapatkan khususnya saat orang sedang mengalami masa-masa berada di lembah, apalagi lembah yang kelam, soalnya kalau di puncak terus pasti orang jadi lupa daratan dan tidak ingin turun lagi. Momen ketika berada di lembah itulah yang memberikan kesempatan untuk merefleksikan lagi apa yang telah terjadi, bagaimana menempatkan diri saat berada di puncak, bagaimana menghargai saat-saat itu, dan yang terpenting apa yang harus dilakukan agar dapat bangkit lagi.

Aku tahu selama masih hidup orang akan terus mengalami roda kehidupan yang senantiasa berputar. Jika rodanya berhenti tentunya itu berarti orang tersebut sudah meninggal. Masalah dan masalah akan datang silih berganti, dan aku harap momen-momen ketika berada di puncak tidak membuat kita lupa daratan namun menghargainya, mensyukurinya dan memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin, karena selama ada siang tentunya akan datang malam juga, bukankah hidup ini penuh kumuplan paradoks yang indah, dan saat berada di lembah akan menjadi momen bagi kita untuk berefleksi dan berusaha untuk bangkit kembali.

Lebih daripada semuanya itu, tidak perlu berkecil hati dan putus asa saat sedang berada di lembah kelam, karena pagi akan datang, hanya saja kita perlu menyiapkan diri untuk menyambut sang fajar saat dia merekah nantinya, jangan sampai keasyikan tidur sehingga lupa bahwa fajar sudah terbit dan justru terbangun saat dia sudah kembali ke paraduaannya. Karena hidup itu lebih penting daripada pakaian, makanan, rumah, mobil, BB, dll. Bukankah yang penting itu adalah hidup manusia, bukan fasilitas penunjang kehidupan, toh tanpa semuanya itu orang juga masih bisa tetap hidup, meskipun kurang nyaman. Jaman dulu sebelum ada semuanya itu orang juga bisa hidup dengan baik dan tidak mengeluh. Bukankah kalau dipikir-pikir sebenarnya semua akar permasalahan adalah karena manusia tidak puas dengan hidupnya dan selalu menuntut lebih. So, bersyukurlah atas hidupmu hari ini, karena masih ada miliaran orang di muka bumi ini yang hidupnya tidak seberuntung dirimu…

Panjang juga ya tulisanku kali ini, bersyukur juga tanganku masih lincah menari-nari di atas keyboard. Heran deh sebuah kalimat yang tadi sore kupikir bisa jadi seribu kata lebih. Proud for my self =) jitak kepala sendiri… 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s