Kamu tetap adikku…

Aku pulang dengan wajah kusut. Kubiarkan Bobby, adikku, berjalan mendahuluiku masuk dan mengucapkan salam. Aku malas membuka mulutku yang kutekuk ke bawah. Aku melenggang masuk ke kamarku melewati Mama yang hanya diam memperhatikanku. Tak kupedulikan teriakan Mama yang menyuruhku keluar untuk makan siang. Aku hanya berbaring telentang di atas kasur, seragam putih biruku saja belum kulepas. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku marah. Aku marah, kepada anak-anak di depan sekolah yang mengataiku dan adikku, aku marah kepada Bobby karena dia yang menyebabkan anak-anak itu mengataiku, aku marah kepada diriku sendiri yang tak bisa merima Bobby, aku marah kepada Mama dan Papa, aku marah kepada semua orang.

Kudengar ketukan lembut di pintu kamarku. Beberapa menit kemudian Mama muncul membuka pintu yang memang tidak kukunci. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kekhawatiran, kecemasan dan kesedihannya. Sebagai seorang ibu tentu saja Mama menyayangi anak-anaknya, aku dan Bobby.

“Bella, kamu kenapa?” Mama duduk di kasurku memulai pembicaraan, tangannya mengelus lembut kepalaku. “Sayang, kamu sakit?” tanyanya masih dengan suara lembut.

Aku hanya mengeleng lemah. “Nggak ada apa-apa Ma…” Aku tidak mau memberitahu Mama apa yang terjadi hari ini. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Aku ingin menghapus suara anak-anak brengsek itu dari kepalaku, tapi suara mereka telah terekam dalam otakku.

Bagaimana aku bisa tak kudengarkan suara-suara mereka, hinaan-hinaan mereka, aku tidak tuli, telingaku masih bisa mendengar dengan jelas teriakan mereka saat mereka meneriaki kami. “Pincang, pincang!!!” Sebuah kata-kata yang tentunya ditujukan kepada Bobby, adikku. Ah, seandainya saja dulu Bobby tidak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya menjadi pincang. Seandainya saja dia tidak mencuri-curi mengendarai sepeda motor di jalan raya padahal dia masih belum lancar, seandainya saja waktu itu Mama menyimpan kunci motor di tempat tersembunyi tentunya kaki Bobby masih normal dan aku tidak perlu malu berjalan bersamanya. Sebenarnya Bobby cukup tampan dan gagah, tentu saja aku kakaknya juga berwajah cantik, sayang kakinya yang pincang merusak semuanya. Sekarang kalian tahu kan mengapa aku sangat marah kepada Bobby, dan aku juga marah kepada diriku sendiri, karena seharusnya sebagai kakak aku tidak boleh berpikiran demikian, aku harus bisa menerima Bobby apa adanya, termasuk kakinya yang tidak sempurna.

“Bella sayang, makan yuk. Bobby sudah selesai makan, sekarang giliran kamu.” Mama membujukku untuk keluar kamar. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Tentu saja kondisi Bobby sudah cukup membuat Mama sedih, apalagi kalau ditambah lagi dengan penolakanku terhadapnya, pasti Mama akan sangat sedih sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama. Sebagai seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, lalu melahirkan dengan penuh perjuangan, bangga karena anaknya lahir dengan selamat, merawat dan menjaganya sehingga tumbuh sehat, namun sekarang anaknya cacat. Hati ibu mana yang tidak terluka, barangkali Mama juga menyesali kejaidan yang menimpa Bobby, tapi tak pernah sekalipun kulihat Mama marah kepada Bobby, bahkan ketika Bobby mengalami kecelakaan itu Mama tidak memarahinya, malahan Mama menangis mengkhawatirkan keadaan Bobby. Ketika Mama tahu kaki Bobby cacat, Mama juga tidak menyalahkan Bobby, Mama malah memberi Bobby semangat untuk menghadapi hari-harinya. Oh Mama, seandainya saja aku bisa seperti dirimu, namun maafkan kau karena aku tidak bisa, setidaknya aku belum bisa.

“Ma, besok Bobby pulang sendiri saja. Kak Bella nggak usah jemput Bobby….” kata Bobby saat kami sedang nonton TV bersama.

“Lho kenapa Bob?” tanya Mama sambil mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku berani bertaruh pasti Mama berpikir aku melakukan sesuatu yang membuat Bobby mengatakan kalimat itu. Tapi benar kok aku tidak melakukan apa-apa, sepanjang perjalanan pulang tadi mulutku terkunci rapat karena aku menahan panasnya amarah dalam hatiku. Jujur dalam hati aku senang karena Bobby yang mengatakannya. Memang sih jarak SMAku dan SMPnya tidak terlalu jauh, hanya saja aku harus sedikit berjalan memutar untuk menuju ke SMPnya, mantan SMPku.

“Nggak ada apa-apa Ma, biar aku nggak perlu ngunggu Kak Bella dan Kak Bella bisa langsung pulang. Jadi kami bisa lebih cepat sampai di rumah.” Bobby memang anak yang cerdas dan alasan yang dikemukakannya sangat masuk akal, dalam hati aku membeli nilai seratus untuk alasannya. “Lagipula aku bisa pulang bareng Iwan, kan rumahnya di depan sana, dan Kak Bella bisa pulang bareng Sinta, anaknya Tante Santi itu.”

“Hmmm, baiklah kalau itu maumu. Yakin kalian nggak sedang berantem?” Mama masih memandangiku sekan-akan berusaha menyelidiki ada apa antara aku dan Bobby.

“Nggak kok Ma.” Jawabku cepat sambil mengacak-acak rambut Bobby. Aku paling suka mengacak-acak rambut adikku itu karena setelah itu pasti Bobby berteriak dan berusaha memukul tanganku. “Kalau sekarang kami benar-benar berantem…” kataku sambil melarikan diri sebelum Bobby bisa membalasku. Sekilas kulirik Mama yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anaknya yang sudah remaja tapi masih seperti anak kecil saja.

Sudah beberapa hari ini aku tidak lagi menjalankan tugasku menjemput Bobby sepulang sekolah. Sebenarnya Mamalah yang memberikanku tugas itu, sejak kecil kami memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, apalagi setelah Bobby mengalami kecelakaan, Mama jadi sedikit lebih khawatir sehingga memaksaku untuk menjaganya baik-baik, memangnya aku babby siternya. Kadang aku menyempatkan diri berjalan memutar mampir ke sekolahnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Beberapa kali kulihat dia berjalan bersama Iwan, menunggu angkot bersama. Kadang aku sedikit mencemaskannya karena dia sering bercanda dengan Iwan, bagaimana kalau saat menyeberang jalan mereka bercanda lalu kurang memperhatikan keadaan, bukankah sekarang ini banyak pengendara kendaraan beroda empat maupun dua yang tidak tahu bagaimana caranya berlalu lintas.

Tak terasa sebulan sudah aku dan Bobby tidak lagi pulang bersama. Hari ini hujan turun dengan derasnya. Sudah lama kutunggu tapi hujan tak kunjung reda. Sinta ada pelajaran tambahan jadi aku memutuskan pulang sendiri. Tiba-tiba pikiranku tertuju kepada Bobby, aku jadi ingin melewati sekolahnya, meskipun hujan masih deras. Tanpa menunggu lebih lama lagi kubuka payungku dan aku melangkah maju menerjang jutaan titik-titik air yang turun membasahi bumi.

Hmmm, tidak ada orang di sini, pasti Bobby sudah pulang bersama Iwan. Aku melangkah menuju ke bawah pohon sambil menunggu angkot yang lewat. Tunggu, kulihat di sebelah sana seseorang berjalan menembus hujan, sendirian, tanpa payung, dan caranya berjalan tidak sempurna. Aku segera mengenalinya sebagai adikku. Mengapa dia berjalan sendiri, di mana Iwan, di mana payungnya? Aku bergegas berlari menghampirinya.

“Bob, kamu kok sendirian, hujan-hujan lagi. Mana Iwan, mana payung kamu?” tanyaku begitu aku tiba di dekatnya dan menempatkan payungku untuk melindungi kami berdua dari serangan hujan yang tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Bobby nampak terkejut mendapatiku yang berada di sampingnya. “Iwan tadi dijemput kakaknya naik motor, aku lupa bawa payung.” Jawabnya polos sambil menggigil kedinginan.

“Yuk kita pulang!” ajakku sambil menggandeng tangannya berjalan menuju ke bawah pohon untuk menunggu angkot yang lewat. “Mulai besok kamu pulangnya bareng Kakak lagi!” kataku tegas, tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang lalu lalang, aku juga pura-pura tak melihat mereka yang berbisik-bisik sambil menatap kami.

“Bener Kak, Kakak mau jalan bareng aku? Apa Kakak nggak malu?” tanyanya polos.

“Bobby, mereka itu hanya orang lain, tapi kamu adalah adikku, bagaimanapun juga kamu tetap adikku.” Bisa kulihat mata Bobby berbinar saat dia mendengar kata-kataku dan kurasakan tangannya semakin erat menggegam tanganku.

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca sewaktu aku masih kecil, kutulis ulang dengan sedikit modifikasi, tentu saja aku tak ingat detail ceritanya dan siapa pengarangnya, yang jelas bukan aku. Hanya saja pesan cerita yang disampaikan masih tersimpan jelas di kepalaku. Karena itulah cerita ini kutulis kembali. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s