I think I’m in love with him…

Pagi itu wajah Santi nampak tak secerah biasanya, barangkali wajahnya turut mengikuti cuaca pagi itu yang memang mendung. Dia memandang lurus ke depan, memasang wajah datar tanpa ekspresi, meskipun suasana hatinya tidak sedatar wajahnya. Ada sesuatu dalam hatinya yang bergejolak, dan hal itulah yang membuat wajahnya tampak mendung. Bukan karena ulangan fisika yang akan dihadapinya hari ini, semalam dia telah belajar dan berlatih mengerjakan soal demi soal, persiapannya lebih dari cukup untuk menghadapi ulangan itu, tapi karena soal lain, suatu soal yang tak dapat dikerjakannya, bahkan Santi tak tahu bagaimana harus menjawab soal itu. Soal itu adalah ‘apakah aku menyukai Rama?’

Santi tak dapat menemukan jawaban soal itu, meskipun dia telah membolak-balik lembar demi lembar buku pelajarannya. Tak ada yang dapat memberinya contekan untuk menjawab soal itu, karena tak ada yang tahu jawabannya, dan jika ada satu-satunya orang yang tahu, maka Santilah orang itu. Tapi kini Santi belum berhasil mengetahui jawabannya, meskipun dia telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai bertanya kepada Mbah Google. Tetap saja jawabannya nihil. Dan nihil bukanlah jawaban yang benar untuk menjawab soal itu.

“Kenapa San, dari tadi Mbak perhatikan kamu murung terus?” tanya Mbak Laras, kakak perempuan Santi yang tengah menyetir mobil. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Mbak Laras selalu mengantar Santi ke sekolah sebelum dia menuju ke kampusnya, meskipun tujuan mereka tidak searah, tapi toh jam masuk kuliah lebih siang daripada jam masuk sekolah. Dan gadis cantik berkacamata itu tak keberatan mengantar adiknya setiap hari.

“Ah enggak Mbak, nggak ada apa-apa kok,” tukas Santi cepat sambil menoleh ke arah kakaknya.

“Sudah, ngomong saja. Mbak tahu pasti ada apa-apa, Mbak ini sudah enam belas tahun jadi kakakmu, sudah tahu kamu itu seperti apa. Atau biar Mbak tebak deh… pasti masalah cowok!” Tebakan Mbak Laras sepertinya benar, terbukti dari mata Santi yang membulat saat memandang kakaknya itu, sayang yang dipandang tengah sibuk berkonsentrasi terhadap jalanan di depannya sehingga dia tak sempat melihat wajah adiknya itu. “Mbak benar kan?” tanya gadis berkacamata itu lagi, masih sibuk dengan jalan di depannya, kali ini dia tengah berusaha mendahului mobil di depannya dan dalam beberapa menit kemudian dia sukses meninggalkan mobil itu. Meskipun perempuan, tapi kehalian mengemudi Mbak Laras dapat disetarakan dengan laki-laki.

“Dari mana Mbak tahu?” tanya Santi dengan polosnya. Apakah kakaknya itu dapat membaca pikirannya?

“Santi, Santi, ya tentu saja Mbak tahu, Mbak kan pernah jadi ABG juga…” jawab gadis itu sambil terkekeh.

“Santi bingung Mbak. Santi nggak tahu gimana ngomongnya… Ada cowok yang akhir-akhir ini mendekati Santi. Hampir setiap hari dia selalu SMS, nanyain ada PR apa, besok ulangan apa, ya gitu-gitu deh Mbak. Terus kalau di kelas dia sering curi-curi pandang ke Santi.” Akhirnya Santi tak tahan untuk mengeluarkan isi hatinya.

“Hmmm, Mbak pikir wajar sih kalau nanyain PR, besok ulangan apa. Terus kok kamu tahu kalau dia sering curi-curi pandang ke kamu, jangan-jangan kamu juga sering curi-curi pandang ke dia ya…” tebak Mbak Laras lagi, sepertinya dia benar-benar senang menggoda adiknya itu. Jika saja dia tak sedang tak mengendarai mobil, pasti dia senang sekali melihat wajah Santi yang merona kemerah-merahan.

“Ah, Mbak bisa saja…” tukas Santi cepat.

“Terus kamunya gimana? Kamu juga suka sama cowok itu?”

“Aku nggak tahu Mbak. Aku nggak yakin. Aku bingung…”

“San, Mbak pernah cerita kan waktu Mbak pacaran sama Mas Dion waktu kelas satu SMA, terus waktu Mbak pacaran sama Mas Indra waktu kelas tiga SMA, lalu sama Mas Bagas waktu semester satu kemarin…” Mbak Laras nampak mengabsen nama-nama mantan pacarnya. Santi mengakui kecantikan kakaknya itu membuat banyak pemuda yang jatuh hati, dan kakaknya pun nampaknya memiliki catatan percintaan yang panjang. Sebenarnya Santi tahu beberapa nama lain yang tak berstatus pacar kakaknya namun memiliki kedekatan khusus dengan gadis itu. Tapi saat ini kakaknya sedang jomblo, sudah lima bulan dia putus dengan Mas Hendra, pacar terakhirnya yang dipacari selama setengah tahun. Yang membuat Santi heran, Mbak Laras belum mendapatkan pengganti Mas Hendra. Biasanya tak butuh waktu lama bagi kakaknya itu untuk mendapatkan pacar baru. “Sebenarnya Mbak sedikit menyesal berhubungan dengan mereka. Jika waktu dapat diputar kembali, Mbak nggak akan memilih untuk pacaran dulu. Itulah sebabnya setelah Mbak putus dari Mas Indra Mbak memilih menjomblo.”

“Kok gitu Mbak?” tanya Santi heran, padahal sebenarnya dia kagum pada kakaknya yang populer di mata cowok-cowok.

“Waktu itu Mbak pacaran hanya untuk senang-senang saja, ya biar ada yang nemenin jalan, ada yang ngajak nonton, ada yang nraktir makan. Dari Mas Indra lah Mbak belajar tentang pacaran yang serius dan Mbak sadar bahwa Mbak belum siap untuk menjalani hubungan yang serius. Itulah kenapa Mbak putus dengan Mas Indra dan memilih tetap jomblo sampai sekarang,” jelas Mbak Laras tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, kini dia sedang berusaha mengenyahkan seorang pengendara motor yang menyetir seenaknya sendiri. Dilihat dari celana abu-abu yang dikenakannya sepertinya dia masih pelajar SMA.

“Barangkali ini terdengar klise, tapi Mbak mau bilang kalau boleh Mbak kasih saran sebaiknya kamu temenan saja dulu sama anak itu. Kalian masih muda, terlalu muda bahkan untuk terlibat dalam cinta-cintaan. Masih labil dan belum dapat mengendalikan diri, seperti anak di depan, bawanya motor ugal-ugalan, belum bisa tenang dan dewasa dalam menyikapi keadaan. Sama-sama ngotot, nggak ada yang mau ngalah. Nanti kalau kamu pacaran, yang terjadi seperti itu, bawaannya ribut terus, ujung-ujungnya menganggu konsentrasi belajar.” Entah Mbak Laras sedang menasehati Santi atau sedang mengatai pengendara motor di depannya yang memang sedang berusaha untuk mendahului mobil di depannya, tapi sepertinya mobil itu tak mau memberikan celah.

Mendengar kata-kata kakaknya Santi turut melengokkan kepalanya, memperhatikan motor di depan mereka, sepertinya Santi kenal motor itu, dan dia juga kenal pemiliknya. Tapi saat ini Santi tak mau berkomentar apa pun tentang motor itu. Dia sedang menimang-nimang perkataan kakaknya. Diakuinya kata-kata kakaknya benar juga. Pernah dia melihat kakaknya menangis semalam karena bertengkar dengan Mas Dion, saat itu menjelang ujian kenaikan  kelas. Hampir saja Mbak Laras nggak naik kelas karena nilainya jeblok, padahal kakaknya itu berotak encer. Santi tak mau mengalami kejadian yang sama dengan kakaknya. Ditambah lagi melihat tingkah pengendara sepeda motor di depannya itu. Memang diakuinya dia masih belum cukup dewasa itu mengenal apa itu cinta.

“Lagipula kami juga bisa mengisi waktumu dengan hal-hal yang lebih berguna, seperti belajar keterampilan-keterampilan lain yang dapat membekali dirimu di masa mendatang. Salah satu penyesalan Mbak adalah Mbak terlalu sibuk ngurusin pacar-pacar Mbak sehingga Mbak nggak punya waktu untuk melakukan hal-hal lain. Mbak iri dengan Siska, temen Mbak yang kuliah dengan biaya sendiri. Sejak masih SMA dia belajar membuat kue dan sekarang sedikit banyak dia bisa menggunakan keterampilannya itu untuk membiayai kuliahnya, sedangkan Mbak hanya minta uang dari Bunda. Bukannya Mbak melarang kamu untuk pacaran, tapi Mbak hanya ngasih saran aja dan berbagi pengalaman. Mbak nggak mau kamu salah pilih dan akhirnya nyesel, seperti Mbak yang sedikit nyesel hahaha…” Mbak Laras tertawa untuk membuat suasana yang nampak tegang sedikit ceria.

“Lalu Mbak, kapan aku boleh, maksudku bisa pacaran? Lalu gimana kalau cowok ini adalah jodohku?”

“Mbak percaya akan tiba waktunya kamu mengalami hal itu, saat kamu sudah siap. Dan saat itu kamu takkan ragu lagi untuk menjawab ‘ya’. Jika memang kamu berjodoh dengan cowok ini, di kemudian hari kalian pasti akan jadian kok. Santai saja. Waktumu masih panjang. Nikmati saja dulu masa-masa SMA mu. ” Kali ini Mbak Laras berkata sambil memandang Santi. Mereka telah tiba di sekolah Santi. Sebenarnya Santi masih mau bercakap-cakap dengan kakak satu-satunya itu, tapi waktu jualah yang membatasi kesempatan mereka. “Sudah sampai.”

Saatnya Santi turun. “Mbak, terima kasih ya…” kata Santi sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan!” kata Santi saat hendak menutup pintu mobil.

“Sama-sama. Eh, kalau ketemu sama anak yang tadi bawa motor, bilangin yang sabar di jalan, jangan ngebut. Tadi Mbak lihat dia msuk ke sekolahmu, sepertinya dia anak sini,” pesan Mbak Laras. Santi hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya. Wajahnya tak lagi mendung, karena langit di atas sana mulai cerah, sang fajar telah menampakkan dirinya dari balik awan. Kini dia sudah tahu jawaban soal yang menganggunya itu, dan dia telah siap menjawabnya.

I think I’m in love with him, but not now…

The story of a bread…

Kalian tentu pernah makan roti, rasanya enak bukan, jika roti itu benar-benar dibuat dengan tepung terigu berkualitas dan dengan cara yang benar. Aku adalah sebuah roti, dan aku akan menceritakan bagaimana aku bermetamorfosis dari tepung terigu. Inilah kisahku. Semua itu berawal saat aku masih menjadi tepung terigu…

Siang itu aku sedang menikmati saat-saat bercengkarama dengan kawan-kawanku dalam plastik kemasan yang nyaman. Aku tidak tahu bahwa hidupku akan berubah drastis beberapa jam kemudian. Aku masih ingat saat sebuah tangan merobek kemasan tempat aku tinggal, kemudian mengeluarkan, mencampakkanku ke dalam sebuah baskom yang besar. Aku dipisahkan oleh kawan-kawanku. Aku sendirian.

Tak lama kemudian tangan itu melemparkan beberapa butir telur kepadaku dan menyiramku dengan susu, meskipun susu itu rasanya manis tapi membuat tubuhku lengket.  Kemudian tangan itu mengaduk-adukku, membuatku pusing dan mual, semakin lama dukannya semakin bertenaga dan semakin cepat pula aku berputar. Aku berusaha menggeliat karena aku tidak menyukainya. Tubuhku mulai berubah, dari butiran tepung terigu menjadi sebuah adonan yang lengkat. Aku tidak menyukai perubahan ini.

Beberapa menit lamanya aku diaduk-aduk. Kepalaku pusing bukan main. Syukurlah akhirnya tangan itu berhenti. Aku bernapas lega. Tapi kelegaanku tak bertahan lama, tiba-tiba tangan kuat itu meremasku dengan keras, menekanku ke baskom yang keras. Tak hanya itu saja, bahkan kini kedua tangan itu mengangkatku, menarikku ke dua arah yang berlawanan seperti merobek kertas hingga tubuhku terpisah dua, sungguh sakit rasanya. Kemudian tangan itu kembali meremasku, memukul-mukulkan aku ke dasar baskom. Siksaan itu datang berkali-kali. Aku mulai berteriak, aku ingin menangis, tapi adonan tak bisa bersuara dan tak bisa mengeluarkan air mata bukan? Tubuhku sakit sekali, aku mulai mati rasa. Aku hanya bisa menerima siksaan yang datang bertubi-tubi itu dalam diam. Aku tak punya pilihan. Aku tak bisa melawan. Aku hanyalah sebuah adona. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima perlakuan tak manusiawi itu. Aku yakin pasti kalian tidak dapat memahami rasa sakit yang kurasakan. Rasa sakit karena menerima siksaan fisik, dan rasa sakit karena tak sanggup melawan, tak punya pilihan selain menerima nasib.

Setelah hampir satu jam kedua tangan itu meremas-remasku, menekan-nekanku, bahkan memukuliku, akhirnya mereka melepaskanku. Kali ini aku benar-benar dapat bernafas lega. Kedua tangan itu menutupku dengan kain basah. Kurasa penderitaanku berakhir sudah. Aku mulai merasakan ketenangan dan kenyaman. Tubuhku mulai terasa nyaman. Otot-otoku mulai mengendur. Ditambah lagi udara yang lembab dan sejuk membuat mataku ingin terpejam. Semoga saja keadaan ini berlangsung untuk waktu yang tak terhingga.

Barangkali aku terlalu larut dalam suasana hingga aku tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku, aku merasa tubuhku semakin membesar, padahal aku belum makan apa-apa. Semakin lama tubuhku membesar sedikit demi sedikit. Aku mulai panik. Apakah aku benar-benar tidak mendapatkan wakut untuk tenang barang sejenak? Tiba-tiba aku teringat apa yang pernah kudengar dari orang-orang i luar sana, bahwa adonan yang benar harus mengembang. Apakah ini yang mereka maksud? Jika jawabannya ya maka aku mulai mengembang. Aku tak tahu dan tak bisa menjelaskannya. Kini aku tahu apa itu mengembang dan aku rasa aku benar-benar mulai mengembang. Biarlah, toh aku menikmatinya. Aku hanya berdiam diri dan membiarkan tubuhku bertambah besar.

Mataku hampir terpejam saat tiba-tiba tangan itu mengenyahkan kain basah yang menutpi baskom tempat aku berada. Kali ini apa lagi? Perasaanku mulai tidak enak. Benar saja, tangan itu mulai mencabik-cabik tubuhku, memisahkan tubuhku menjadi adonan-adonan yang lebih kecil. Rasanya seperti dimutilasi. Bayangkan saat tubuhmu dipotong-potong. Mengerikan bukan? Inilah yang aku alami. Aku menjerit-jerit rasanya sakit. “Hentikan! Ampuni akau! Apa salahku hingga aku layak mendapatkan perlakuan seperti ini?” Meskipun aku sudah berteriak memohon ampun tapi tangan itu tak mempedulikanku. Cabikan demi cabikan terus menerus kurasakan hingga akhirnya tubuhku yang besar benar-benar terbagi dalam puluhan adonan kecil.

Kukira aku telah melewati bagian yang paling mengerikan, tapi aku salah. Justru kini aku akan mengalami bagian yang paling mengerikan itu. Tangan itu mengambilku dan meletakkanku dalam oven yang panas. Aku dipanggang! Rasanya sakit sekali. Panasnya bukan main. Aku mulai sesak nafas, aku kehabisan oksigen, aku bisa mati, tapi adonan bukanlah makhluk hidup, jadi jika aku mati tak ada yang akan peduli padaku, atau datang menghadiri acara pemakamanku. Aku menderita dalam oven. “Tolong aku! Keluarkan aku dari sini! Aku terbakar!” Aku berteriak-teriak seperti orang gila, tapi tak ada yang bisa mendengar teriakanku, bukankah sudah kubilang sebelumnya adonan tak bisa bersuara. Aku hanya bisa menangis, menjerit dalam diam.

Aku tak tahu berapa lama aku berada dalam oven itu. Panasnya oven membuatku tak sadarkan diri. Yang aku ingat adalah rasa sakit yang tak tertahankan, kemudian aku menyadari bahwa tubuhku mulai berubah, lagi. Aku mulai bisa merasakan bahwa tekstur tubuhku berubah.Kali ini aku berubah dari adonan yang lunak menjadi lebih keras, tapi juga lembut. Aku juga bisa mencium bau harum yang terasa menggelitik hidungku. Aku tak tahu dari mana asal bau itu, apakah itu berasal dari tubuhku. Bukankah seharusnya bau hangus yang tercium, bukan bau harum yang membangkitkan nafsu makan.

Beberapa detik kemudian pintu oven terbuka, dan tangan dalam sarung tangan tebal itu mengeluarkanku. Oh, aku melihat pantulan diriku dalam cermin. Apakah itu aku? Aku sungguh cantik, warnaku kecoklatan. Tubuhku mengeras di bagian luar tetapi bagian dalamnya lembut. Dan bauku harumnya bukan main. Aku telah bermetamorfosis menjadi sebuah roti.

“Roti yang cantik, rasanya pun lezat…” puji orang-orang yang memakanku. Aku sungguh senang karena mendapatkan pujian itu.

Kini kalian tahu bukan bagaimana perjalananku dan apa yang kualami hingga aku menjadi roti. Tidak ada yang instan. Aku tidak seketika berubah dari tepung terigu menjadi roti yang enak dimakan. Semua itu melalui sebuah proses, proses yang menyakitkan, barangkali terlalu menyakitkan hingga kau ingin menghentikannya. Rasanya kau tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Bahkan seringkali kau bertanya ‘mengapa aku mengalami hal ini’. Jawabannya karena Tuhan mengasihimu sehingga Dia bersedia memprosesmu, sedikit demi sedikit mengubahmu menjadi lebih baik dan semakin indah. Barangkali proses yang kau jalani tidak menyenangkan, tidak seperti yang kau harapakan, bahkan kadang terlalu menyakitkan. Tapi percayalah bahwa semua itu untuk kebaikanmu.

No temptation has seized you except what is common to man. And God is faithful; he will not let you be tempted beyond waht you can bear. But when you are tempted, he willa lso provide a way out so that you can stand up under it. – 1 Corinthians 10:11 NIV 

Father and his baby…

Jakarta, 13 Mei 13
Hari Kamis kemarin saat aku berangkat ke kota, dalam bus aku melihat seorang bapak yang usianya sudah cukup tua sedang memangku seorang balita perempuan. Sungguh menarik menyaksikan pemandangan itu, saat balita itu mencoba tertidur dalam pangkuan bapak tua itu, aku tak tahu apakah bapak itu ayahnya atau kakeknya, namun yang pasti balita itu tertidur lelap, awalnya dia hanya memejamkan mata, membuka matanya lagi, lalu kembali memejamkan matanya. Bapak tua itu mengusap-usap wajah si balita, berusaha menenangkannya barangkali. Beberapa menitu kemudian akhirnya balita itu tertidur pulas, tak memedulikan orang-orang di sekitarnya, mungkin dunianya hanya ada dia dan bapak itu. Beberapa lama mereka duduk di bus itu hingga kemudian bapak itu berdiri dan turun dari bus dengan tetap menggendong balita yang telah tertidur pulas itu.
Kejadian sederhana yang membuatku berpikir bagaimana merasakan aman dan damai dalam lindungan Tuhan. Dalam buaian Bapa apakah aku dapat tertidur lelap, benar-benar mempercayakan diriku kepadaNya, bahkan saat Dia membawaku menuju ke tempat yang tak kuketahui. Mampukah aku memejamkan mata, membiarkan Dia membawaku, menuntunku seturut rencanaNya. Seringkali dalam setiap jengkal kehidupan ini aku ingin memegang kendali atas hidupku, namun aku sadar ada terlalu banyak hal yang tak sanggup kukendalikan. Dan semuanya itu membuatku frustasi. Aku berusaha mengendalikan segala sesuatu namun aku tak sanggup, aku gagal. Hingga pada suatu titik, pada akhirnya aku menyerah dan membiarkan Dia mengatur segalanya. Namun ada saatnya aku tidak bisa percaya sepenuhnya, aku tidak bisa memejamkan mata dan tertidur karena aku ingin selalu terjaga, memastikan bahwa aku berada pada jalur yang kukehendaki. Dan saat aku merasa Dia membawaku ke jalur yang salah, aku mulai protes. That’s my life.
Tidak mudah untuk mempercayakan diri kepada Tuhan, membiarkan Dia tetap menjadi Tuhan karena seringkali yang terjadi adalah kita yang ingin menjadi tuhan. Kita ingin memastikan Tuhan menjalankan tugasNya dengan membawa kita berada pda jalur yang benar, benar di sini adalah benar dalam artian sesuai dengan mau kita, dan apa yang kita mau tidak selalu sama dengan yang Dia mau. Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan :
“Anda dijadikan untuk Allah, bukan sebaliknya, dan hidup berarti membiarkan Allah memakai Anda bagi tujuan-Nya, bukan Anda yang menggunakan Allah bagi tujuan Anda sendiri – Rick Warren”

Dosa dan penyimpangan…

Salah satu definisi dosa adalah menyimpang, menyimpang dari jalan yang benar, tidak berada on the track. Suatu perenungan singkat yang membuka mata dan pikiranku. Seringkali aku sering membiarkan penyimpangan-penyimpangan kecil terjadi, hanya beberapa senti saja. Tanpa menyadari akibat jangka panjang penyimpangan itu. Memang benar awalnya hanya menyimpang beberapa senti, tapi jika terus menerus dilanjutkan maka beberapa senti itu akan berubah menjadi beberapa meter, bahkan beberapa kilo dari tempat yang seharusnya. Barangkali itulah yang terjadi dengan dosa. Awalnya hanya perbuatan-perbuatan kecil yang dikompromikan, tapi kompromi-kompromi kecil itu terus berlanjut dan semakin lama-semakin membesar sehingga yang terjadi kemudian adalah membuat kita benar-benar melenceng dari jalur yang benar.

Benar juga ayat yang menyatakan setialah dalam perkara-perkara kecil, karena perkara-perkara kecil akan berujung pada perkara-perkara besar. Kompromi sekecil apapun akan berdampak besar pada akhirnya nanti. It’s time for saying no to sin…

I vs me…

Sungguh suatu gambaran yang baik di mana kata ‘I’ yang digunakan untuk menunjuk diri sendiri sebagai subjek dalam bahasa Inggris selalu ditulis menggunakan huruf besar, tak peduli di mana pun letaknya dalam susunan kalimat. Hal itu dapat dipandang untuk menunjukkan manusia yang selalu berpusat pada dirinya, mengutamakan dirinya, menjadikan dirinya sebagai yang utama. Suatu paradigma yang wajar dan umum di dalam dunia yang cemar ini. Sedangkan kata ‘me’ yang menunjukkan manusia sebagi objek barangkali dipandang sebagai suatu kebodohan, kelemahan, ketidakmampuan di mata dunia. Padahal hal yang benar adalah ‘me’ bukan ‘I’ karena kebenarannya manusia bukanlah subjek tapi objek, Tuhanlah yang menjadi subjeknya.

Sebenarnya musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Nafsu, keserakahan, keinginan pribadi lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang jahat, brutal, bahkan tak berprikemanusiaan. Seringkali manusia menyalahkan setan atas apa yang dilakukannya, padahal jika mau jujur sebenarnya manusia sendirilah yang dengan penuh kesadaran mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, dengan atau tanpa bujukan setan. Natur manusia yang berdosa membuat diri manusia tak lagi sempurna, melainkan dipenuhi oleh kebusukan. Hal yang palit sulit adalah mengalahkan diri sendiri, menyangkal diri. Bagaimana cara mengalahkan diri sendiri, hal itu mustahil karena jika diandaikan pertandingan, dua orang yang memiliki skill sama jika bertarung tak ada yang menang. Hanya dengan bantuan orang lain maka kita dapat menang, dalam hal ini dengan bantuan Tuhan.

Dengan menyadari posisi dan status manusia di hadapan Tuhan, juga di dalam dunia ini maka seharusnya dapat membantu kita untuk menempatkan diri, bertindak dan berprilaku. Sebagai objek maka manusia adalah sasaran yang dikenai predikat, bukan pelaku predikat itu. Dalam hal ini Tuhanlah yang bekerja, melakukan pekerjaan, dan manusia adalah sasaran karya Tuhan. Maka sudah sepantasnyalah kita menempatkan diri sesuai posisi dan kapasitas sebagai objek.

Yang selalu terjadi adalah sebaliknya, manusia ingin menempatkan diri sebagai subjek, menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu, dan menyingkirkan Tuhan. Manusia menjadikan Tuhan sebagai objek pemenuhan kebutuhannya. Manusia memperhamba Tuhan, dengan menurunkan posisi Tuhan hanya sebagai pemberi berkat, pengabul permintaan, lalu apa bedanya Tuhan dengan pesuruh yang selalu kita suruh ini dan itu. Sebuah koreksi bagi kita semua. Di manakah kita memposisikan diri saat ini. Apakah sebagai ‘I” atau ‘me’? 

I think I’m in love with her…

Sore itu Rama nampak gelisah. Dia sedang berusaha belajar, memindahkan rumus-rumus fisika dari buku catatan ke dalam otaknya. Tapi setiap kali dia mencoba untuk menghafal rumus-rumus itu, sebuah rumus lain menari-nari di otaknya. Bukan rumus s=vo.t yang menunjukkan jarak tempuh sama dengan kecepatan dikalikan waktu tempuh, maupun vt2=vo2+2as yang menunjukkan kecepatan akhir sama dengan akar kecepatan awal dikuadratkan lalu ditambahkan dua kali percepatan dan jarak tempuh yang mengendap di otaknya melainkan Rama+Santi=love, sebuah rumus yang tak ada dalam buku catatan maupun buku pelajaran fisika manapun.

Rama mengacak-ngacak rambutnya, mencoba mengenyahkan rumus yang diciptakannya sendiri itu. diletakannya buku catatannya di atas kasur, tepat di samping pantatnya. Dia bergeser sejenak, memperbaiki cara duduknya, mencoba mencari posisi duduk yang lebih nyaman di atas kasur. Dia harus belajar untuk menghadapi ulangan fisika besok, tapi sudah hampir satu jam dia membolak-balik lembar demi lembar buku catatannya tak ada satu rumus pun yang tertanam di otaknya, justru rumus asing itu yang terus menerus mengetuk-ngetuk otaknya, mencoba untuk masuk.

“Kenapa Ram? Ada yang nggak kamu mengerti? Barangkali Papa bisa bantu?” Suara Papanya membuat perhatian Rama teralih dari rumus aneh yang berdiri di depan pintu otaknya. Untuk sementara dia membiarkan rumus itu berdiam diri, menunggu dengan setia di depan pintu otaknya. Kini dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar, sepertinya tadi dia telah menutup pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban putera sulungnya, lelaki paruh baya itu melangkah memasuki kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Tak dipedulikannya sticker bertuliskan “Masuk=Mati” yang menempel di pintu kamar itu. Satu lagi rumus yang tak ada dalam mata pelajaran mana pun.

“Emmm, nggak kok Pa, Rama lagi belajar aja. Tapi dari tadi nggak ada yang bisa masuk,” ujar Rama cemberut. Papa Rama tersenyum melihat tingkah puteranya itu. Meskipun sudah kelas X SMA, tapi kadang sikapnya msih seperti anak kecil. Ah, tak peduli berapa pun usia Rama sekarang, di mata laki-laki itu, Rama tetaplah putera kecilnya. “Kalau belajar nggak masuk-masuk berarti ada yang harus dikeluarkan dulu. Barangkali otakmu sudah penuh.” Lelaki itu mengusap rambut puteranya lembut.

“Emmm, gitu ya Pa?” Rama memandang wajah Papanya. Meskipun sudah berusia empat puluh tahun, wajah Papanya masih sama seperti wajah lelaki di dalam foto yang menggendongnya saat masih bayi. Tidak, wajah itu tak lagi sama, semakin Rama memperhatikannya, dia menemukan beberapa kerutan samar di dahi laki-laki itu. Kerutan yang menunjukkan kerja keras dan kebijaksanaannya sebagai seorang ayah.

“Lalu, apakah kamu akan membiarkan Papa menunggu?” Rama menunduk sebentar, seperti berpikir keras, apakah dia harus menceritakan rumus aneh yang kini menunggu di depan pintu otaknya. Barangkali Papanya memiliki penyelesaian bagaimana cara menggunakan rumus itu, karena tak ada soal manapun dalam pelajaran fisika yang dapat dijawab menggunakan rumus itu. “Ram, ada kalanya dua orang laki-laki melakukan pembicaraan antara dua orang laki-laki.” Papa Rama sepertinya tahu ada masalah yang menganggu puteranya, sepertinya puteranya itu masih enggan untuk menceritakan masalah apa itu, “Atau antara ayah dan anak…”

“Emmm, oke lah kalau begitu. Tapi janji ya Pa, antara dua orang laki-laki, atau antara ayah dan anak, sama sajalah…” Ucapan Rama membuat Papanya terkekeh pelan.

“Pa, sepertinya aku naksir cewek…” Pelan sekali kata-kata itu meluncur dari mulutnya, hampir saja Papanya tak bisa mendengar suara puteranya itu.

“Lalu…”

“Lalu aku nggak yakin sama perasaanku, tapi setiap kali aku melihatnya, aku merasa berdebar…”

“Terus…”

“Terus aku merasa nyaman dekat dia, aku ingin terus ada di dekatnya. Aku bingung, nggak tahu harus gimana…”

“Ooo…”

Mendengar Papanya yang hanya berkomentar ‘lalu’, ‘terus’ dan menutup nya dengan ‘o’ panjang Rama semakin cemberut. Dia menekuk wajahnya kesal. Papa Rama kembali tersenyum melihat tingkah puteranya.

“Rama, Papa sudah menduga akan tiba saatnya kamu menghadapi hal itu. Papa senang dapat menjalankan tugas sebagai seorang ayah, mendampingi puteranya saat menghadapi masa-masa, meminjam istilah anak muda jaman sekarang, galau,” Papa Rama menghela nafas sejenak sambil duduk di sebelah puteranya. Rama menggeser pantatnya, memberika ruang bagi Papanya, toh kasur itu masih luas untuk diduduki dua orang.

“Dulu Papa juga pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Jika boleh Papa memberi saran, sebaiknya untuk saat ini kamu fokus dengan sekolahmu dulu. Jalanmu masih panjang. Usiamu masih terlalu belia untuk mengenal apa itu cinta. Percayalah kepada Papa, di kemudian hari akan tiba waktunya cinta itu datang, ketika kamu sudah lebih dewasa dan lebih mengenal dunia. Untuk saat ini, bertemanlah dengan siapa saja, baik dengan laki-laki maupun perempuan.” Papa Rama memandang dalam-dalam mata puteranya yang nampak mendengarkan kata-katanya dengan seksama.

“Dengan menutuskan menjalin hubungan dengan seorang gadis, akan membuatmu membatasi pergaulan dengan gadis-gadis lainnya. Padahal masa SMA adalah masa remaja yang menyenangkan, di mana kamu bisa berteman dengan siapa saja, menikmati masa remajamu, bukannya merasa galau. Jika kamu mengisi masa SMA mu dengan kegalauan, kamu akan kehilangan masa-masa yang menyenangkan itu. Dan masa-masa itu tak akan dapat diulang kembali,” Papa Rama mengalihkan pandangannya ke foto-foto Rama bersama teman-temannya yang berderet rapi di atas meja belajar.

“Lalu bagaimana dengan cewek yang aku taksir?”

“Jika memang kalian berjodoh, di kemudian hari kalian akan bertemu kembali, jika kalian sudah benar-benar siap untuk menjalin sebuah hubungan.” Papa Rama menjawab bijak. Rama mengangguk-anggukan kepalanya, berusaha mencerna nasehat Papanya. “Boleh aku tanya sama Papa?” kali ini Rama mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah Papa juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaanmu? Silakan saja kamu tanya apa saja, Papa akan menjawabnya meskipun tanpa ijin darimu.”

“Apa sebelum bertemu Mama, Papa pernah mencintai perempuan lain?”

“Tentu saja. Mamamu bukanlah perempuan pertama dalam hidup Papa.” Mendengar jawaban Papanya Rama semakin tertarik. “Sebelum Mamamu ada seorang perempuan yang sangat Papa sayangi, dia adalah Mamaku, nenekmu.” Papa Rama tersenyum saat mengatakan itu, apalagi saat dia memandang puteranya yang nampak tak puas mendengar kata-katanya.

“Saat itu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Jaman dulu orangtua suka menjodohkan anak-anak mereka. Papa adalah salah satu korbannya. Papa dijodohkan dengan Mamamu. Tapi Papa tak menyesal menerima perjodohan itu, karena Mamamu adalah wanita yang hebat. Semakin Papa mengenalnya semakin Papa menyadari bahwa Papa mencintainya.” Rama mendengarkan kata-kata Papanya dengan takjub. “Cinta seperti itulah yang mampu bertahan. Bukan cinta monyet yang menimbulkan kegalauan sesaat.” Papa Rama mengakhiri kata-katanya.

“Lalu Rama harus gimana?” Rama masih belum bisa mengerti maksud perkataan Papanya.

“Jalani saja dulu hari-harimu. Jangan membuat keputusan hanya karena terbawa perasaan. Berteman dulu dengannya. Barangkali seiring dengan berjalannya waktu kamu akan bertemu gadis lain yang lebih menarik perhatianmu.”

“Oke Pa, Rama akan menuruti kata-kata Papa.” Rama tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Sekaran boleh Papa tanya?”

“Apakah Rama juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaan Papa? Silakan saja Papa tanya apa saja, Rama akan menjawabnya meskipun tanpa ijin dari Papa.” Rama meniru ucapak Papanya, membuat laki-laki itu menatap puteranya gemas.

“Siapa nama gadis itu?”

“Itu rahasia. Yang jelas bukan Mama…” Rama menjawab sambil mencibir, nampak rona merah pada wajahnya.

“Tadi katanya kamu mau jawab semua pertanyaan Papa.” Papa Rama menggoda puteranya itu.

“Kan sudah aku jawab. Jawabannya rahasia. Sekarang Papa keluar dulu, Rama mau belajar.” Rama mendorong Papanya agar berdiri dan meninggalkan kamarnya. Laki-laki itu menuruti kemauan puteranya. Dia berjalan keluar kamar. “Jangan lupa tutup pintunya.” Rama berkata sambil meringis.

“Baik Tuan Muda.” Papa Rama menjawab lalu menutup pintu pelan, tak ingin menggangu puteranya yang melanjutkan acara belajarnya. Sekilas matanya menangkap stiker yang bertuliskan “Masuk=Mati”.

Di dalam kamar, Rama sudah memegang kembali buku catatannya. Rumus aneh yang tadi menunggu di depan pintu otaknya pergi entah ke mana, barangkali dia tidak sabar karena menunggu terlalu lama. Sudahlah, yang penting kini rumus demi rumus fisika berjalan memasuki otak Rama satu per satu.

I think I’m in love with her… maybe yes maybe no… gumam Rama.

Rainy day…

Aku berdiri di emperan ruko yang sudah tutup, tubuhku mengigil kedinginan. Malam ini hujan turun deras sekali. Sejak tadi aku berlari ke sana kemari mencoba mencari tempat berteduh, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat ini. Aku berharap kali ini aku tidak diusir, seperti tempat-tempat yang barusan kudatangi. Aku selalu mendapatkan bentakan dan usiran. Aku hanya ingin berteduh, apakah orang-orang itu tak tahu. Aku bukan maling, aku tidak berniat mencuri dari toko mereka. Barangkali mereka menganggap kehadiranku menganggu, menganggu calon pembeli yang akan datang. Memang aku hanya anak jalanan, yang berpakaian kumal. Tapi aku juga manusia sama seperti mereka.

 Aku duduk menekuk kakiku, kupeluk lututku berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Dari balik pintu besi ruko ini kudengar suara-suara tawa ceria. Aku iri. Aku ingin merasakan kehangatan, kehangatan keluarga. Kutendang pintu besi ruko itu keras-keras beberapa kali, melampiaskan kekesalanku. Tapi rupanya tindakanku ini menganggu pemiliknya. Pintu itu terbuka. Kuharap aku akan mendapat sedikit belas kasihan. Namun apa yang kudapati, yang kudapati hanyalah tatapan mata tajam seorang ibu paruh baya. Kemudian dia menutup pintu itu dengan kasar.

Apa salahku? Apakah aku salah mengharapkan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan. Sejak tadi pagi aku belum makan, perutku keroncongan, bahkan kini tubuhku menggigil karena kehujanan. Kembali kutendang pintu ruko itu. Aku ingin berteriak, beriakan aku sedikit makanan. Aku lapar, aku kedinginan, tidakkah kalian peduli kepadaku.

Kembali pintu itu terbuka, aku bergegas mendekat, berharap akan mendapatkan setidaknya sedikit makanan, biarpun mereka melemparnya aku akan tetap memakannya seperti seekor anjing yang kelaparan. Aku memang kelaparan, dan kedinginan. Tapi apa yang kudapati, kali ini ibu itu tak sendirian, di sampingnya muncul sesosok laki-laki paruh baya, kuduga dia adalah suami ibu itu, dan di tangan laki-laki itu ada sebuah balok kayu. Apakah orang ini berniat memukulku? Aku sudah pernah merasakan pukulan dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kulihat ibu itu tampak berusaha menahan suaminya yang menggenggam kayu itu erat. Sepertinya aku sudah bisa me nduga apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari meninggalkan tempat itu.

Kini aku tahu aku takkan pernah mendapatkan belas kasihan. Tak ada yang namanya belas kasihan di dunia ini. Tak ada manusia yang masih memiliki hati. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kehadiranku tak diinginkan, bahkan aku hampir saja dipukul. Cara mereka mengusirku sama seperti mengusir anjing, atau kucing, bukan seorang anak manusia. Aku tak tahu harus ke mana lagi. Aku tak punya tempat untuk dituju. Aku hanya berlari menerobos hujan dengan tubuh mengigil kedingina dan perut kelaparan, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengawasiku dari balik pintu besi yang dingin…