Fake

Jika saja kau mengenal siapa aku apakah kau tidak akan jijik kepadaku?

Jika kau bisa membaca isi pikiranku apakah kau tidak akan muak dan ingin muntah memandangku?

Jika kau mendengar perkataan-perkataanku yang kukatakan di dalam hati apakah kau tidak akan menampar mulutku beserta hatiku?

Jika kau bisa melihat topeng kepalsuan yang kugunakan apakah kau tidak akan merobeknya dan membuatku menampakkan wajah asliku?

Namun aku bersyukur karena kau tidak bisa mengetahui semuanya itu. Aku bersyukur karena kau merasa bahagia hidup dalam kepura-puraanku. Aku bersyukur aku masih bisa terus berpura-pura demi membuatmu bahagia.

Tak lupa aku juga senantiasa beryukur atas banyaknya manusia yang lebih memilih hidup dalam kepura-puraan demi mengejar kebahagiaan yang semu, kebahagiaan yang dibangun di atas dasar kepura-puraan yang rapuh dan dapat hancur kapan saja; karena pada dasarnya manusia lebih suka dibohongi dengan kepalsuan yang enak didengar, sedap dilihat, dan nikmat dirasakan, daripada berhadapan dengan kebenaran yang menampar wajah, memekakkan telinga, dan menusuk hati.

Itulah sejatinya kehidupan manusia yang penuh kepalsuan dan kepura-puraan, di atas dunia yang merupakan sebuah panggung sandiwara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s