Segelas susu…

Aku berjalan memasuki ruang tengah rumahku dengan langkah gontai, tubuhku terasa kurang sehat, entah ada apa denganku, mendadak kepalaku pusing dan tubuhku terasa lemas. Kurasa aku sakit, apakah karena kemarin aku nekat menerobos hujan dengan sepeda motorku? Entahlah yang pasti saat ini aku merasa sangat tidak nyaman. Kulemparkan tas kerjaku entah ke mana bertepatan dengan kuhempaskan tubuhku ke atas sofa. Aku ingin berbaring sejenak, menutup mata barang semenit dua menit.

“Mama sudah pulang!” Kudengar suara riang puteri kecilku yang berusia empat tahun menyambut kedatanganku seperti biasanya, tapi kali ini dia tak mendapat peluk cium dariku, aku sedang sakit dan kuharap dia menyadarinya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan lemah sambil memberikan senyum manis sebagai pengganti peluk cium untuknya.

“Mama sakit?” Tanyanya begitu melihatku tetap tergolek tak berdaya di sofa. Aku hanya mengangguk lemah, lidahku terasa kelu, tak sanggup aku berkata-kata. Perlahan dia mendekatiku, lalu naik ke sofa tepat di sebelahku, lalu berdiri di atas sofa untuk bisa mencapai dahiku. Kurasakan tangan mungilnya menyentuh dahiku sedang sebelah tangannya yang lain diletakkan di atas dahinya, rupanya dia sedang mengukur suhu tubuhku, meniru caraku mengukur suhu tubuhnya ketika dia sedang demam.

“Wah, Mama panas sekali!” Serunya sambil melepaskan tangannya dari dahiku. Dia nampak tertegun sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat tingkahnya aku hanya tertawa dalam hati. Aku ingin meraihnya dengan tangan kiriku tapi dia bergerak lebih cepat, dan sebelum aku sempat menggerakkan tanganku dia sudah meloncat turun dari sofa, aku menahan nafas sejenak, hampir saja dia terjatuh, tapi dia mampu menjaga keseimbangannya dan berlari meninggalkanku entah ke mana. Kubiarkan saja dia pergi, barangkali dia kembali bermain. Lagipula aku terlalu lemah untuk bangkit dan meninggalkan sofa yang nyaman ini.

Aku hampir menutup mataku saat kudengar suara cadelnya memanggilku, “Mama bangun, ayo minum ini dulu!” Kulihat dia membawa segelas susu dalam gelas plastik, disodorkannya susu itu kepadaku. Ternyata dia meniruku yang selalu membuatkan segelas susu hangat saat dia sakit. Aku menatap sesaat susu yang diberikannya, masih ada bubuk susu yang menggumpal, tidak sepenuhnya larut. Rupanya dia membuatkanku susu dengan air dingin, karena dia tahu dia tidak boleh menyentuh air panas. Aku memang melarangnya bermain-main dengan air panas, itu bisa melukainya.

Tanpa berpikir panjang segera kuambil gelas palstik itu dari tangannya lalu kehabiskan susu itu dalam sekali teguk. Jangan tanya seperti apa rasanya, kurasa semua orang tahu bagaimana rasanya susu dingin yang tidak larut seluruhnya.

“Mama, bagaimana rasanya? Enak ya, enak ya? Fany buat sendiri khusus untuk Mama. Mama cepat sembuh ya…” Suara riang puteri kecilku terdengar di telingaku. Dan ketika aku meletakkan gelas itu di atas meja kulihat mata bulatnya menatapku menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.

***

Sebuah sharing dari Ibu Mercy Matakupan saat beliau berkotbah di gerejaku. Sejujurnya aku lupa kotbahnya berbicara tentang apa, namun sharing beliau membuatku berpikir. Ibu Mercy menutup sharingnya dengan melontarkan sebuah pertanyaan, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan puterinya itu, apakah menjawab dengan jujur meskipun hal itu akan melukai hati puterinya ataukah berbohong untuk menghargai tindakan yang dilakukan puterinya. Dan aku sendiri tak tahu harus memilih jawaban yang mana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s