Rainy day…

Aku berdiri di emperan ruko yang sudah tutup, tubuhku mengigil kedinginan. Malam ini hujan turun deras sekali. Sejak tadi aku berlari ke sana kemari mencoba mencari tempat berteduh, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat ini. Aku berharap kali ini aku tidak diusir, seperti tempat-tempat yang barusan kudatangi. Aku selalu mendapatkan bentakan dan usiran. Aku hanya ingin berteduh, apakah orang-orang itu tak tahu. Aku bukan maling, aku tidak berniat mencuri dari toko mereka. Barangkali mereka menganggap kehadiranku menganggu, menganggu calon pembeli yang akan datang. Memang aku hanya anak jalanan, yang berpakaian kumal. Tapi aku juga manusia sama seperti mereka.

 Aku duduk menekuk kakiku, kupeluk lututku berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Dari balik pintu besi ruko ini kudengar suara-suara tawa ceria. Aku iri. Aku ingin merasakan kehangatan, kehangatan keluarga. Kutendang pintu besi ruko itu keras-keras beberapa kali, melampiaskan kekesalanku. Tapi rupanya tindakanku ini menganggu pemiliknya. Pintu itu terbuka. Kuharap aku akan mendapat sedikit belas kasihan. Namun apa yang kudapati, yang kudapati hanyalah tatapan mata tajam seorang ibu paruh baya. Kemudian dia menutup pintu itu dengan kasar.

Apa salahku? Apakah aku salah mengharapkan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan. Sejak tadi pagi aku belum makan, perutku keroncongan, bahkan kini tubuhku menggigil karena kehujanan. Kembali kutendang pintu ruko itu. Aku ingin berteriak, beriakan aku sedikit makanan. Aku lapar, aku kedinginan, tidakkah kalian peduli kepadaku.

Kembali pintu itu terbuka, aku bergegas mendekat, berharap akan mendapatkan setidaknya sedikit makanan, biarpun mereka melemparnya aku akan tetap memakannya seperti seekor anjing yang kelaparan. Aku memang kelaparan, dan kedinginan. Tapi apa yang kudapati, kali ini ibu itu tak sendirian, di sampingnya muncul sesosok laki-laki paruh baya, kuduga dia adalah suami ibu itu, dan di tangan laki-laki itu ada sebuah balok kayu. Apakah orang ini berniat memukulku? Aku sudah pernah merasakan pukulan dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kulihat ibu itu tampak berusaha menahan suaminya yang menggenggam kayu itu erat. Sepertinya aku sudah bisa me nduga apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari meninggalkan tempat itu.

Kini aku tahu aku takkan pernah mendapatkan belas kasihan. Tak ada yang namanya belas kasihan di dunia ini. Tak ada manusia yang masih memiliki hati. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kehadiranku tak diinginkan, bahkan aku hampir saja dipukul. Cara mereka mengusirku sama seperti mengusir anjing, atau kucing, bukan seorang anak manusia. Aku tak tahu harus ke mana lagi. Aku tak punya tempat untuk dituju. Aku hanya berlari menerobos hujan dengan tubuh mengigil kedingina dan perut kelaparan, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengawasiku dari balik pintu besi yang dingin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s