I think I’m in love with her…

Sore itu Rama nampak gelisah. Dia sedang berusaha belajar, memindahkan rumus-rumus fisika dari buku catatan ke dalam otaknya. Tapi setiap kali dia mencoba untuk menghafal rumus-rumus itu, sebuah rumus lain menari-nari di otaknya. Bukan rumus s=vo.t yang menunjukkan jarak tempuh sama dengan kecepatan dikalikan waktu tempuh, maupun vt2=vo2+2as yang menunjukkan kecepatan akhir sama dengan akar kecepatan awal dikuadratkan lalu ditambahkan dua kali percepatan dan jarak tempuh yang mengendap di otaknya melainkan Rama+Santi=love, sebuah rumus yang tak ada dalam buku catatan maupun buku pelajaran fisika manapun.

Rama mengacak-ngacak rambutnya, mencoba mengenyahkan rumus yang diciptakannya sendiri itu. diletakannya buku catatannya di atas kasur, tepat di samping pantatnya. Dia bergeser sejenak, memperbaiki cara duduknya, mencoba mencari posisi duduk yang lebih nyaman di atas kasur. Dia harus belajar untuk menghadapi ulangan fisika besok, tapi sudah hampir satu jam dia membolak-balik lembar demi lembar buku catatannya tak ada satu rumus pun yang tertanam di otaknya, justru rumus asing itu yang terus menerus mengetuk-ngetuk otaknya, mencoba untuk masuk.

“Kenapa Ram? Ada yang nggak kamu mengerti? Barangkali Papa bisa bantu?” Suara Papanya membuat perhatian Rama teralih dari rumus aneh yang berdiri di depan pintu otaknya. Untuk sementara dia membiarkan rumus itu berdiam diri, menunggu dengan setia di depan pintu otaknya. Kini dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar, sepertinya tadi dia telah menutup pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban putera sulungnya, lelaki paruh baya itu melangkah memasuki kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Tak dipedulikannya sticker bertuliskan “Masuk=Mati” yang menempel di pintu kamar itu. Satu lagi rumus yang tak ada dalam mata pelajaran mana pun.

“Emmm, nggak kok Pa, Rama lagi belajar aja. Tapi dari tadi nggak ada yang bisa masuk,” ujar Rama cemberut. Papa Rama tersenyum melihat tingkah puteranya itu. Meskipun sudah kelas X SMA, tapi kadang sikapnya msih seperti anak kecil. Ah, tak peduli berapa pun usia Rama sekarang, di mata laki-laki itu, Rama tetaplah putera kecilnya. “Kalau belajar nggak masuk-masuk berarti ada yang harus dikeluarkan dulu. Barangkali otakmu sudah penuh.” Lelaki itu mengusap rambut puteranya lembut.

“Emmm, gitu ya Pa?” Rama memandang wajah Papanya. Meskipun sudah berusia empat puluh tahun, wajah Papanya masih sama seperti wajah lelaki di dalam foto yang menggendongnya saat masih bayi. Tidak, wajah itu tak lagi sama, semakin Rama memperhatikannya, dia menemukan beberapa kerutan samar di dahi laki-laki itu. Kerutan yang menunjukkan kerja keras dan kebijaksanaannya sebagai seorang ayah.

“Lalu, apakah kamu akan membiarkan Papa menunggu?” Rama menunduk sebentar, seperti berpikir keras, apakah dia harus menceritakan rumus aneh yang kini menunggu di depan pintu otaknya. Barangkali Papanya memiliki penyelesaian bagaimana cara menggunakan rumus itu, karena tak ada soal manapun dalam pelajaran fisika yang dapat dijawab menggunakan rumus itu. “Ram, ada kalanya dua orang laki-laki melakukan pembicaraan antara dua orang laki-laki.” Papa Rama sepertinya tahu ada masalah yang menganggu puteranya, sepertinya puteranya itu masih enggan untuk menceritakan masalah apa itu, “Atau antara ayah dan anak…”

“Emmm, oke lah kalau begitu. Tapi janji ya Pa, antara dua orang laki-laki, atau antara ayah dan anak, sama sajalah…” Ucapan Rama membuat Papanya terkekeh pelan.

“Pa, sepertinya aku naksir cewek…” Pelan sekali kata-kata itu meluncur dari mulutnya, hampir saja Papanya tak bisa mendengar suara puteranya itu.

“Lalu…”

“Lalu aku nggak yakin sama perasaanku, tapi setiap kali aku melihatnya, aku merasa berdebar…”

“Terus…”

“Terus aku merasa nyaman dekat dia, aku ingin terus ada di dekatnya. Aku bingung, nggak tahu harus gimana…”

“Ooo…”

Mendengar Papanya yang hanya berkomentar ‘lalu’, ‘terus’ dan menutup nya dengan ‘o’ panjang Rama semakin cemberut. Dia menekuk wajahnya kesal. Papa Rama kembali tersenyum melihat tingkah puteranya.

“Rama, Papa sudah menduga akan tiba saatnya kamu menghadapi hal itu. Papa senang dapat menjalankan tugas sebagai seorang ayah, mendampingi puteranya saat menghadapi masa-masa, meminjam istilah anak muda jaman sekarang, galau,” Papa Rama menghela nafas sejenak sambil duduk di sebelah puteranya. Rama menggeser pantatnya, memberika ruang bagi Papanya, toh kasur itu masih luas untuk diduduki dua orang.

“Dulu Papa juga pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Jika boleh Papa memberi saran, sebaiknya untuk saat ini kamu fokus dengan sekolahmu dulu. Jalanmu masih panjang. Usiamu masih terlalu belia untuk mengenal apa itu cinta. Percayalah kepada Papa, di kemudian hari akan tiba waktunya cinta itu datang, ketika kamu sudah lebih dewasa dan lebih mengenal dunia. Untuk saat ini, bertemanlah dengan siapa saja, baik dengan laki-laki maupun perempuan.” Papa Rama memandang dalam-dalam mata puteranya yang nampak mendengarkan kata-katanya dengan seksama.

“Dengan menutuskan menjalin hubungan dengan seorang gadis, akan membuatmu membatasi pergaulan dengan gadis-gadis lainnya. Padahal masa SMA adalah masa remaja yang menyenangkan, di mana kamu bisa berteman dengan siapa saja, menikmati masa remajamu, bukannya merasa galau. Jika kamu mengisi masa SMA mu dengan kegalauan, kamu akan kehilangan masa-masa yang menyenangkan itu. Dan masa-masa itu tak akan dapat diulang kembali,” Papa Rama mengalihkan pandangannya ke foto-foto Rama bersama teman-temannya yang berderet rapi di atas meja belajar.

“Lalu bagaimana dengan cewek yang aku taksir?”

“Jika memang kalian berjodoh, di kemudian hari kalian akan bertemu kembali, jika kalian sudah benar-benar siap untuk menjalin sebuah hubungan.” Papa Rama menjawab bijak. Rama mengangguk-anggukan kepalanya, berusaha mencerna nasehat Papanya. “Boleh aku tanya sama Papa?” kali ini Rama mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah Papa juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaanmu? Silakan saja kamu tanya apa saja, Papa akan menjawabnya meskipun tanpa ijin darimu.”

“Apa sebelum bertemu Mama, Papa pernah mencintai perempuan lain?”

“Tentu saja. Mamamu bukanlah perempuan pertama dalam hidup Papa.” Mendengar jawaban Papanya Rama semakin tertarik. “Sebelum Mamamu ada seorang perempuan yang sangat Papa sayangi, dia adalah Mamaku, nenekmu.” Papa Rama tersenyum saat mengatakan itu, apalagi saat dia memandang puteranya yang nampak tak puas mendengar kata-katanya.

“Saat itu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Jaman dulu orangtua suka menjodohkan anak-anak mereka. Papa adalah salah satu korbannya. Papa dijodohkan dengan Mamamu. Tapi Papa tak menyesal menerima perjodohan itu, karena Mamamu adalah wanita yang hebat. Semakin Papa mengenalnya semakin Papa menyadari bahwa Papa mencintainya.” Rama mendengarkan kata-kata Papanya dengan takjub. “Cinta seperti itulah yang mampu bertahan. Bukan cinta monyet yang menimbulkan kegalauan sesaat.” Papa Rama mengakhiri kata-katanya.

“Lalu Rama harus gimana?” Rama masih belum bisa mengerti maksud perkataan Papanya.

“Jalani saja dulu hari-harimu. Jangan membuat keputusan hanya karena terbawa perasaan. Berteman dulu dengannya. Barangkali seiring dengan berjalannya waktu kamu akan bertemu gadis lain yang lebih menarik perhatianmu.”

“Oke Pa, Rama akan menuruti kata-kata Papa.” Rama tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Sekaran boleh Papa tanya?”

“Apakah Rama juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaan Papa? Silakan saja Papa tanya apa saja, Rama akan menjawabnya meskipun tanpa ijin dari Papa.” Rama meniru ucapak Papanya, membuat laki-laki itu menatap puteranya gemas.

“Siapa nama gadis itu?”

“Itu rahasia. Yang jelas bukan Mama…” Rama menjawab sambil mencibir, nampak rona merah pada wajahnya.

“Tadi katanya kamu mau jawab semua pertanyaan Papa.” Papa Rama menggoda puteranya itu.

“Kan sudah aku jawab. Jawabannya rahasia. Sekarang Papa keluar dulu, Rama mau belajar.” Rama mendorong Papanya agar berdiri dan meninggalkan kamarnya. Laki-laki itu menuruti kemauan puteranya. Dia berjalan keluar kamar. “Jangan lupa tutup pintunya.” Rama berkata sambil meringis.

“Baik Tuan Muda.” Papa Rama menjawab lalu menutup pintu pelan, tak ingin menggangu puteranya yang melanjutkan acara belajarnya. Sekilas matanya menangkap stiker yang bertuliskan “Masuk=Mati”.

Di dalam kamar, Rama sudah memegang kembali buku catatannya. Rumus aneh yang tadi menunggu di depan pintu otaknya pergi entah ke mana, barangkali dia tidak sabar karena menunggu terlalu lama. Sudahlah, yang penting kini rumus demi rumus fisika berjalan memasuki otak Rama satu per satu.

I think I’m in love with her… maybe yes maybe no… gumam Rama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s