I vs me…

Sungguh suatu gambaran yang baik di mana kata ‘I’ yang digunakan untuk menunjuk diri sendiri sebagai subjek dalam bahasa Inggris selalu ditulis menggunakan huruf besar, tak peduli di mana pun letaknya dalam susunan kalimat. Hal itu dapat dipandang untuk menunjukkan manusia yang selalu berpusat pada dirinya, mengutamakan dirinya, menjadikan dirinya sebagai yang utama. Suatu paradigma yang wajar dan umum di dalam dunia yang cemar ini. Sedangkan kata ‘me’ yang menunjukkan manusia sebagi objek barangkali dipandang sebagai suatu kebodohan, kelemahan, ketidakmampuan di mata dunia. Padahal hal yang benar adalah ‘me’ bukan ‘I’ karena kebenarannya manusia bukanlah subjek tapi objek, Tuhanlah yang menjadi subjeknya.

Sebenarnya musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Nafsu, keserakahan, keinginan pribadi lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang jahat, brutal, bahkan tak berprikemanusiaan. Seringkali manusia menyalahkan setan atas apa yang dilakukannya, padahal jika mau jujur sebenarnya manusia sendirilah yang dengan penuh kesadaran mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, dengan atau tanpa bujukan setan. Natur manusia yang berdosa membuat diri manusia tak lagi sempurna, melainkan dipenuhi oleh kebusukan. Hal yang palit sulit adalah mengalahkan diri sendiri, menyangkal diri. Bagaimana cara mengalahkan diri sendiri, hal itu mustahil karena jika diandaikan pertandingan, dua orang yang memiliki skill sama jika bertarung tak ada yang menang. Hanya dengan bantuan orang lain maka kita dapat menang, dalam hal ini dengan bantuan Tuhan.

Dengan menyadari posisi dan status manusia di hadapan Tuhan, juga di dalam dunia ini maka seharusnya dapat membantu kita untuk menempatkan diri, bertindak dan berprilaku. Sebagai objek maka manusia adalah sasaran yang dikenai predikat, bukan pelaku predikat itu. Dalam hal ini Tuhanlah yang bekerja, melakukan pekerjaan, dan manusia adalah sasaran karya Tuhan. Maka sudah sepantasnyalah kita menempatkan diri sesuai posisi dan kapasitas sebagai objek.

Yang selalu terjadi adalah sebaliknya, manusia ingin menempatkan diri sebagai subjek, menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu, dan menyingkirkan Tuhan. Manusia menjadikan Tuhan sebagai objek pemenuhan kebutuhannya. Manusia memperhamba Tuhan, dengan menurunkan posisi Tuhan hanya sebagai pemberi berkat, pengabul permintaan, lalu apa bedanya Tuhan dengan pesuruh yang selalu kita suruh ini dan itu. Sebuah koreksi bagi kita semua. Di manakah kita memposisikan diri saat ini. Apakah sebagai ‘I” atau ‘me’? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s