The story of a bread…

Kalian tentu pernah makan roti, rasanya enak bukan, jika roti itu benar-benar dibuat dengan tepung terigu berkualitas dan dengan cara yang benar. Aku adalah sebuah roti, dan aku akan menceritakan bagaimana aku bermetamorfosis dari tepung terigu. Inilah kisahku. Semua itu berawal saat aku masih menjadi tepung terigu…

Siang itu aku sedang menikmati saat-saat bercengkarama dengan kawan-kawanku dalam plastik kemasan yang nyaman. Aku tidak tahu bahwa hidupku akan berubah drastis beberapa jam kemudian. Aku masih ingat saat sebuah tangan merobek kemasan tempat aku tinggal, kemudian mengeluarkan, mencampakkanku ke dalam sebuah baskom yang besar. Aku dipisahkan oleh kawan-kawanku. Aku sendirian.

Tak lama kemudian tangan itu melemparkan beberapa butir telur kepadaku dan menyiramku dengan susu, meskipun susu itu rasanya manis tapi membuat tubuhku lengket.  Kemudian tangan itu mengaduk-adukku, membuatku pusing dan mual, semakin lama dukannya semakin bertenaga dan semakin cepat pula aku berputar. Aku berusaha menggeliat karena aku tidak menyukainya. Tubuhku mulai berubah, dari butiran tepung terigu menjadi sebuah adonan yang lengkat. Aku tidak menyukai perubahan ini.

Beberapa menit lamanya aku diaduk-aduk. Kepalaku pusing bukan main. Syukurlah akhirnya tangan itu berhenti. Aku bernapas lega. Tapi kelegaanku tak bertahan lama, tiba-tiba tangan kuat itu meremasku dengan keras, menekanku ke baskom yang keras. Tak hanya itu saja, bahkan kini kedua tangan itu mengangkatku, menarikku ke dua arah yang berlawanan seperti merobek kertas hingga tubuhku terpisah dua, sungguh sakit rasanya. Kemudian tangan itu kembali meremasku, memukul-mukulkan aku ke dasar baskom. Siksaan itu datang berkali-kali. Aku mulai berteriak, aku ingin menangis, tapi adonan tak bisa bersuara dan tak bisa mengeluarkan air mata bukan? Tubuhku sakit sekali, aku mulai mati rasa. Aku hanya bisa menerima siksaan yang datang bertubi-tubi itu dalam diam. Aku tak punya pilihan. Aku tak bisa melawan. Aku hanyalah sebuah adona. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima perlakuan tak manusiawi itu. Aku yakin pasti kalian tidak dapat memahami rasa sakit yang kurasakan. Rasa sakit karena menerima siksaan fisik, dan rasa sakit karena tak sanggup melawan, tak punya pilihan selain menerima nasib.

Setelah hampir satu jam kedua tangan itu meremas-remasku, menekan-nekanku, bahkan memukuliku, akhirnya mereka melepaskanku. Kali ini aku benar-benar dapat bernafas lega. Kedua tangan itu menutupku dengan kain basah. Kurasa penderitaanku berakhir sudah. Aku mulai merasakan ketenangan dan kenyaman. Tubuhku mulai terasa nyaman. Otot-otoku mulai mengendur. Ditambah lagi udara yang lembab dan sejuk membuat mataku ingin terpejam. Semoga saja keadaan ini berlangsung untuk waktu yang tak terhingga.

Barangkali aku terlalu larut dalam suasana hingga aku tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku, aku merasa tubuhku semakin membesar, padahal aku belum makan apa-apa. Semakin lama tubuhku membesar sedikit demi sedikit. Aku mulai panik. Apakah aku benar-benar tidak mendapatkan wakut untuk tenang barang sejenak? Tiba-tiba aku teringat apa yang pernah kudengar dari orang-orang i luar sana, bahwa adonan yang benar harus mengembang. Apakah ini yang mereka maksud? Jika jawabannya ya maka aku mulai mengembang. Aku tak tahu dan tak bisa menjelaskannya. Kini aku tahu apa itu mengembang dan aku rasa aku benar-benar mulai mengembang. Biarlah, toh aku menikmatinya. Aku hanya berdiam diri dan membiarkan tubuhku bertambah besar.

Mataku hampir terpejam saat tiba-tiba tangan itu mengenyahkan kain basah yang menutpi baskom tempat aku berada. Kali ini apa lagi? Perasaanku mulai tidak enak. Benar saja, tangan itu mulai mencabik-cabik tubuhku, memisahkan tubuhku menjadi adonan-adonan yang lebih kecil. Rasanya seperti dimutilasi. Bayangkan saat tubuhmu dipotong-potong. Mengerikan bukan? Inilah yang aku alami. Aku menjerit-jerit rasanya sakit. “Hentikan! Ampuni akau! Apa salahku hingga aku layak mendapatkan perlakuan seperti ini?” Meskipun aku sudah berteriak memohon ampun tapi tangan itu tak mempedulikanku. Cabikan demi cabikan terus menerus kurasakan hingga akhirnya tubuhku yang besar benar-benar terbagi dalam puluhan adonan kecil.

Kukira aku telah melewati bagian yang paling mengerikan, tapi aku salah. Justru kini aku akan mengalami bagian yang paling mengerikan itu. Tangan itu mengambilku dan meletakkanku dalam oven yang panas. Aku dipanggang! Rasanya sakit sekali. Panasnya bukan main. Aku mulai sesak nafas, aku kehabisan oksigen, aku bisa mati, tapi adonan bukanlah makhluk hidup, jadi jika aku mati tak ada yang akan peduli padaku, atau datang menghadiri acara pemakamanku. Aku menderita dalam oven. “Tolong aku! Keluarkan aku dari sini! Aku terbakar!” Aku berteriak-teriak seperti orang gila, tapi tak ada yang bisa mendengar teriakanku, bukankah sudah kubilang sebelumnya adonan tak bisa bersuara. Aku hanya bisa menangis, menjerit dalam diam.

Aku tak tahu berapa lama aku berada dalam oven itu. Panasnya oven membuatku tak sadarkan diri. Yang aku ingat adalah rasa sakit yang tak tertahankan, kemudian aku menyadari bahwa tubuhku mulai berubah, lagi. Aku mulai bisa merasakan bahwa tekstur tubuhku berubah.Kali ini aku berubah dari adonan yang lunak menjadi lebih keras, tapi juga lembut. Aku juga bisa mencium bau harum yang terasa menggelitik hidungku. Aku tak tahu dari mana asal bau itu, apakah itu berasal dari tubuhku. Bukankah seharusnya bau hangus yang tercium, bukan bau harum yang membangkitkan nafsu makan.

Beberapa detik kemudian pintu oven terbuka, dan tangan dalam sarung tangan tebal itu mengeluarkanku. Oh, aku melihat pantulan diriku dalam cermin. Apakah itu aku? Aku sungguh cantik, warnaku kecoklatan. Tubuhku mengeras di bagian luar tetapi bagian dalamnya lembut. Dan bauku harumnya bukan main. Aku telah bermetamorfosis menjadi sebuah roti.

“Roti yang cantik, rasanya pun lezat…” puji orang-orang yang memakanku. Aku sungguh senang karena mendapatkan pujian itu.

Kini kalian tahu bukan bagaimana perjalananku dan apa yang kualami hingga aku menjadi roti. Tidak ada yang instan. Aku tidak seketika berubah dari tepung terigu menjadi roti yang enak dimakan. Semua itu melalui sebuah proses, proses yang menyakitkan, barangkali terlalu menyakitkan hingga kau ingin menghentikannya. Rasanya kau tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Bahkan seringkali kau bertanya ‘mengapa aku mengalami hal ini’. Jawabannya karena Tuhan mengasihimu sehingga Dia bersedia memprosesmu, sedikit demi sedikit mengubahmu menjadi lebih baik dan semakin indah. Barangkali proses yang kau jalani tidak menyenangkan, tidak seperti yang kau harapakan, bahkan kadang terlalu menyakitkan. Tapi percayalah bahwa semua itu untuk kebaikanmu.

No temptation has seized you except what is common to man. And God is faithful; he will not let you be tempted beyond waht you can bear. But when you are tempted, he willa lso provide a way out so that you can stand up under it. – 1 Corinthians 10:11 NIV 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s