I think I’m in love with him…

Pagi itu wajah Santi nampak tak secerah biasanya, barangkali wajahnya turut mengikuti cuaca pagi itu yang memang mendung. Dia memandang lurus ke depan, memasang wajah datar tanpa ekspresi, meskipun suasana hatinya tidak sedatar wajahnya. Ada sesuatu dalam hatinya yang bergejolak, dan hal itulah yang membuat wajahnya tampak mendung. Bukan karena ulangan fisika yang akan dihadapinya hari ini, semalam dia telah belajar dan berlatih mengerjakan soal demi soal, persiapannya lebih dari cukup untuk menghadapi ulangan itu, tapi karena soal lain, suatu soal yang tak dapat dikerjakannya, bahkan Santi tak tahu bagaimana harus menjawab soal itu. Soal itu adalah ‘apakah aku menyukai Rama?’

Santi tak dapat menemukan jawaban soal itu, meskipun dia telah membolak-balik lembar demi lembar buku pelajarannya. Tak ada yang dapat memberinya contekan untuk menjawab soal itu, karena tak ada yang tahu jawabannya, dan jika ada satu-satunya orang yang tahu, maka Santilah orang itu. Tapi kini Santi belum berhasil mengetahui jawabannya, meskipun dia telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai bertanya kepada Mbah Google. Tetap saja jawabannya nihil. Dan nihil bukanlah jawaban yang benar untuk menjawab soal itu.

“Kenapa San, dari tadi Mbak perhatikan kamu murung terus?” tanya Mbak Laras, kakak perempuan Santi yang tengah menyetir mobil. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Mbak Laras selalu mengantar Santi ke sekolah sebelum dia menuju ke kampusnya, meskipun tujuan mereka tidak searah, tapi toh jam masuk kuliah lebih siang daripada jam masuk sekolah. Dan gadis cantik berkacamata itu tak keberatan mengantar adiknya setiap hari.

“Ah enggak Mbak, nggak ada apa-apa kok,” tukas Santi cepat sambil menoleh ke arah kakaknya.

“Sudah, ngomong saja. Mbak tahu pasti ada apa-apa, Mbak ini sudah enam belas tahun jadi kakakmu, sudah tahu kamu itu seperti apa. Atau biar Mbak tebak deh… pasti masalah cowok!” Tebakan Mbak Laras sepertinya benar, terbukti dari mata Santi yang membulat saat memandang kakaknya itu, sayang yang dipandang tengah sibuk berkonsentrasi terhadap jalanan di depannya sehingga dia tak sempat melihat wajah adiknya itu. “Mbak benar kan?” tanya gadis berkacamata itu lagi, masih sibuk dengan jalan di depannya, kali ini dia tengah berusaha mendahului mobil di depannya dan dalam beberapa menit kemudian dia sukses meninggalkan mobil itu. Meskipun perempuan, tapi kehalian mengemudi Mbak Laras dapat disetarakan dengan laki-laki.

“Dari mana Mbak tahu?” tanya Santi dengan polosnya. Apakah kakaknya itu dapat membaca pikirannya?

“Santi, Santi, ya tentu saja Mbak tahu, Mbak kan pernah jadi ABG juga…” jawab gadis itu sambil terkekeh.

“Santi bingung Mbak. Santi nggak tahu gimana ngomongnya… Ada cowok yang akhir-akhir ini mendekati Santi. Hampir setiap hari dia selalu SMS, nanyain ada PR apa, besok ulangan apa, ya gitu-gitu deh Mbak. Terus kalau di kelas dia sering curi-curi pandang ke Santi.” Akhirnya Santi tak tahan untuk mengeluarkan isi hatinya.

“Hmmm, Mbak pikir wajar sih kalau nanyain PR, besok ulangan apa. Terus kok kamu tahu kalau dia sering curi-curi pandang ke kamu, jangan-jangan kamu juga sering curi-curi pandang ke dia ya…” tebak Mbak Laras lagi, sepertinya dia benar-benar senang menggoda adiknya itu. Jika saja dia tak sedang tak mengendarai mobil, pasti dia senang sekali melihat wajah Santi yang merona kemerah-merahan.

“Ah, Mbak bisa saja…” tukas Santi cepat.

“Terus kamunya gimana? Kamu juga suka sama cowok itu?”

“Aku nggak tahu Mbak. Aku nggak yakin. Aku bingung…”

“San, Mbak pernah cerita kan waktu Mbak pacaran sama Mas Dion waktu kelas satu SMA, terus waktu Mbak pacaran sama Mas Indra waktu kelas tiga SMA, lalu sama Mas Bagas waktu semester satu kemarin…” Mbak Laras nampak mengabsen nama-nama mantan pacarnya. Santi mengakui kecantikan kakaknya itu membuat banyak pemuda yang jatuh hati, dan kakaknya pun nampaknya memiliki catatan percintaan yang panjang. Sebenarnya Santi tahu beberapa nama lain yang tak berstatus pacar kakaknya namun memiliki kedekatan khusus dengan gadis itu. Tapi saat ini kakaknya sedang jomblo, sudah lima bulan dia putus dengan Mas Hendra, pacar terakhirnya yang dipacari selama setengah tahun. Yang membuat Santi heran, Mbak Laras belum mendapatkan pengganti Mas Hendra. Biasanya tak butuh waktu lama bagi kakaknya itu untuk mendapatkan pacar baru. “Sebenarnya Mbak sedikit menyesal berhubungan dengan mereka. Jika waktu dapat diputar kembali, Mbak nggak akan memilih untuk pacaran dulu. Itulah sebabnya setelah Mbak putus dari Mas Indra Mbak memilih menjomblo.”

“Kok gitu Mbak?” tanya Santi heran, padahal sebenarnya dia kagum pada kakaknya yang populer di mata cowok-cowok.

“Waktu itu Mbak pacaran hanya untuk senang-senang saja, ya biar ada yang nemenin jalan, ada yang ngajak nonton, ada yang nraktir makan. Dari Mas Indra lah Mbak belajar tentang pacaran yang serius dan Mbak sadar bahwa Mbak belum siap untuk menjalani hubungan yang serius. Itulah kenapa Mbak putus dengan Mas Indra dan memilih tetap jomblo sampai sekarang,” jelas Mbak Laras tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, kini dia sedang berusaha mengenyahkan seorang pengendara motor yang menyetir seenaknya sendiri. Dilihat dari celana abu-abu yang dikenakannya sepertinya dia masih pelajar SMA.

“Barangkali ini terdengar klise, tapi Mbak mau bilang kalau boleh Mbak kasih saran sebaiknya kamu temenan saja dulu sama anak itu. Kalian masih muda, terlalu muda bahkan untuk terlibat dalam cinta-cintaan. Masih labil dan belum dapat mengendalikan diri, seperti anak di depan, bawanya motor ugal-ugalan, belum bisa tenang dan dewasa dalam menyikapi keadaan. Sama-sama ngotot, nggak ada yang mau ngalah. Nanti kalau kamu pacaran, yang terjadi seperti itu, bawaannya ribut terus, ujung-ujungnya menganggu konsentrasi belajar.” Entah Mbak Laras sedang menasehati Santi atau sedang mengatai pengendara motor di depannya yang memang sedang berusaha untuk mendahului mobil di depannya, tapi sepertinya mobil itu tak mau memberikan celah.

Mendengar kata-kata kakaknya Santi turut melengokkan kepalanya, memperhatikan motor di depan mereka, sepertinya Santi kenal motor itu, dan dia juga kenal pemiliknya. Tapi saat ini Santi tak mau berkomentar apa pun tentang motor itu. Dia sedang menimang-nimang perkataan kakaknya. Diakuinya kata-kata kakaknya benar juga. Pernah dia melihat kakaknya menangis semalam karena bertengkar dengan Mas Dion, saat itu menjelang ujian kenaikan  kelas. Hampir saja Mbak Laras nggak naik kelas karena nilainya jeblok, padahal kakaknya itu berotak encer. Santi tak mau mengalami kejadian yang sama dengan kakaknya. Ditambah lagi melihat tingkah pengendara sepeda motor di depannya itu. Memang diakuinya dia masih belum cukup dewasa itu mengenal apa itu cinta.

“Lagipula kami juga bisa mengisi waktumu dengan hal-hal yang lebih berguna, seperti belajar keterampilan-keterampilan lain yang dapat membekali dirimu di masa mendatang. Salah satu penyesalan Mbak adalah Mbak terlalu sibuk ngurusin pacar-pacar Mbak sehingga Mbak nggak punya waktu untuk melakukan hal-hal lain. Mbak iri dengan Siska, temen Mbak yang kuliah dengan biaya sendiri. Sejak masih SMA dia belajar membuat kue dan sekarang sedikit banyak dia bisa menggunakan keterampilannya itu untuk membiayai kuliahnya, sedangkan Mbak hanya minta uang dari Bunda. Bukannya Mbak melarang kamu untuk pacaran, tapi Mbak hanya ngasih saran aja dan berbagi pengalaman. Mbak nggak mau kamu salah pilih dan akhirnya nyesel, seperti Mbak yang sedikit nyesel hahaha…” Mbak Laras tertawa untuk membuat suasana yang nampak tegang sedikit ceria.

“Lalu Mbak, kapan aku boleh, maksudku bisa pacaran? Lalu gimana kalau cowok ini adalah jodohku?”

“Mbak percaya akan tiba waktunya kamu mengalami hal itu, saat kamu sudah siap. Dan saat itu kamu takkan ragu lagi untuk menjawab ‘ya’. Jika memang kamu berjodoh dengan cowok ini, di kemudian hari kalian pasti akan jadian kok. Santai saja. Waktumu masih panjang. Nikmati saja dulu masa-masa SMA mu. ” Kali ini Mbak Laras berkata sambil memandang Santi. Mereka telah tiba di sekolah Santi. Sebenarnya Santi masih mau bercakap-cakap dengan kakak satu-satunya itu, tapi waktu jualah yang membatasi kesempatan mereka. “Sudah sampai.”

Saatnya Santi turun. “Mbak, terima kasih ya…” kata Santi sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan!” kata Santi saat hendak menutup pintu mobil.

“Sama-sama. Eh, kalau ketemu sama anak yang tadi bawa motor, bilangin yang sabar di jalan, jangan ngebut. Tadi Mbak lihat dia msuk ke sekolahmu, sepertinya dia anak sini,” pesan Mbak Laras. Santi hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya. Wajahnya tak lagi mendung, karena langit di atas sana mulai cerah, sang fajar telah menampakkan dirinya dari balik awan. Kini dia sudah tahu jawaban soal yang menganggunya itu, dan dia telah siap menjawabnya.

I think I’m in love with him, but not now…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s