Sopir angkot

Fiuh, kutarik nafasku sembari memisahkan kertas di tanganku, kupisahkan kertas berwarna abu-abu dengan gambar Pangeran Antasari dengan Tuanku Imam Bonjol dari Sultan Mahmud Badaruddin II. Tumpukan kertas terbitan Bank Indonesia itu seakan kini sedang mengejekku karena aku tak berhasil mendapatkan Otto Iskandardinata. Sejak pagi hari tadi hanya kertas-kertas ini yang berasil kudapatkan, beserta beberapa keping koin. Sungguh menggelikan. Tanpa sengaja tangan kiriku menyenggol tumpukan koin yang telah kutata sebelumnya. Terdengar bunyi gemerincing logam yang beradu saat koin-koin itu berjatuhan ke lantai mobilku, suaranya seakan-akan turut menertawakan nasib burukku. Kupungut satu persatu koin demi koin itu lalu kuletakkan saja di dashbord mobilku.

“Bang, masih lama nggak jalannya? Gerah nih!” teriak seorang ibu dari bangku belakang. Kulirik orang-orang yang duduk di bangku belakang melalui spion tengah. Sudah ada beberapa orang. Tapi masih ada cukup tempat untuk dua orang lagi. Aku mulai bimbang, apakah aku harus melajukan mobilku sekarang, ataukah aku menunggu dua orang lagi, yang entah kapan akan datang. Kurasakan atmosfer di bangku belakang mulai memanas. Aku yakin orang-orang itu mulai tidak sabar. Barangkali bagi mereka dua orang itu tidak berarti, yang penting mereka bisa segera tiba di tujuan. Aku tahu waktu mereka begitu berharga, demikian juga bagiku. Tapi dua orang itu juga berharga bagiku, setidaknya bisa menambah beberapa ribu rupiah dalam sekali jalan.

“Lama!” seru ibu yang tadi meneriakiku. Kulirik melalui spion tengah, ibu itu berdiri lalu keluar turun. Aku tersenyum getir. Terbayang sudah beberapa ribu melayang. “Jalan saja Bang!” pintu siswa sekolah yang duduk di sebelah kiriku. Akhirnya mau tak mau aku mulai menarik tuas rem, dan menekan pedal gas kuat-kuat sembari mengangkat kopling dan mendorong maju persneleng. Kulajukan mobil kuningku dengn kecepatan yang agak tinggi. “Pelan-pelan saja Bang!” kembali siswa sekolah di sebelah kiriku bersuara. Kutekan sedikit pedal rem.

Jalanan mulai padat. Di Jakarta, kemacetan bukanlah hal yang aneh. Sudah lazim terjadi. Menit demi menit mulai meninggalkanku. Aku tak mau terjebak dalam kemacetan. Waktu itu uang. Aku setuju dengan kalimat itu. Dan aku tak mau kehilangan waktu yang berharga. Kehilangan waktu sama saja dengan kehilangan uang.

Kuambil jalur kiri, kemudian kuterobos trotoar yang agak rendah sehingga roda mobilku masih bisa seimbang. Kudengar beberapa orang di bangku belakang berdecak marah. Aku tahu mereka tidak nyaman, tapi tidak usah munafik. Aku juga tahu mereka tidak suka dengan kemacetan. Meskipun mereka menghina caraku menyetir tapi di sisi lain mereka juga menyukainya, apapun itu asalkan mereka bisa cepat sampai di tujuan.

Sempat kudengar juga pengemudi mobil yang melontarkan cacian saat mereka membuka kaca mobil mereka. Wow, aku merasa tersanjung, setidaknya mereka mau repot-repot membuka kaca mobil dan menyapaku, meskipun dengan kata-kata kasar. Tak apalah. Aku sudah biasa. Sirik tanda tak mampu. Itulah prinsipku. Mungkin mereka menilaiku tak tahu cara mengemudi, juga mempertanyakan bagaimana caraku mendapatkan SIM. Justru aku sangat mengerti bagaimana mengemudi, bagaimana memanfaatkan BBM. Terjebak macet berarti membiarkan mobilku tetap menyala meskipun tidak melaju, itu sama artinya dengan membuatku kehilangan bahan bakar. Apalagi harga BBM telah melambung tinggi. Uang yang kudapatkan tak sanggup lagi menutupinya, apalagi aku masih harus membayar biaya sewa mobil.

Karena itulah aku nekat mengambil jalan pintas. Justru karena aku sangat yakin pada kemahiranku berada di belakang kemudi maka aku melakukan hal ini. Dalam beberapa menit aku melewati puluhan mobil yang berkutat dalam kemacetan. Maafkan aku karena membuat kalian marah dan dongkol, membuat kalian iri padaku. Tapi jujur aku juga butuh makan. Aku harus mengejar setoran. Sesungguhnya ku juga iri pada kalian, tidak perlu melanggar peraturan lalu lintas.

“Kiri Bang!” bapak yang duduk di bangku belakang berteriak sambil mengetuk-ngetuk kaca. Ok, kutepikan mobilku. Bapak itu turun kemudian melemparkan selembar kertas bergambar Pangeran Antasari. Aku tersenyum getir. Beginikah caranya menghargai jasaku? Aku tahu aku hanyalah seorang sopir angkot yang berkutat dengan jalanan setiap hari, tapi aku juga manusia dan aku tahu bagaimana caranya berusaha melayani penumpang, meskipun jutaan orang di luar sana tak sependapat denganku, bahkan cenderung memandang hina aku. Tak apalah. Aku tahu aku hanyalah seorang sopir angkot. 

Obrolan dengan sopir angkot…

Hari itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari kos teman, tentunya aku menggunakan kendaraan umum, lebih tepatnya angkot, coz di Jakarta ini aku sama sekali tidak punya kendaraan pribadi. How poor am I. Aku dan sopir angkot itu sesekali berbincang-bincang, awalnya kami memperbincangkan kemacetan, lalu kecelakaan yang terjadi di depan, lebih tepatnya dua mobil yang saling menyenggol sih, kemudian berlanjut calon presiden, hingga sampai pada masalah BBM. BBM dalam konteks ini adalah bahan bakar minyak, bukan blackberry messanger lho ya.

Awalnya dia bertanya kepadaku, “Mas setuju nggak kalau harga BBM dinaikkan?” Aku pun berpikir sebentar lalu menyatakan persetujuanku, pertimbanganku adalah harga minyak dunia yang memang telah meroket naik, maka sepantasnya harga BBM di Indonesia juga naik. Namun sopir itu memiliki pemikiran berbeda. Sebuah pemikiran yang cukup menarik dilontarkan oleh sopir angkot itu. Begini katanya, “Kalau saya nggak setuju Mas. Kasihan rakyat kecil. Kenapa nggak mobil-mobil yang plat hitam itu dilarang pakai premium. Kalau mobil-mobil nggak pakai premium kan subsidinya nggak besar. Sekarang ini siapa coba yang pakai subsidi, kan orang-orang yang pakai mobil. Kalau kaya saya sopir angkot gini dinaikin ya nggak bisa Mas, nggak bisa duitnya bayar angkot.”

Gambar

Omongan sopir itu membuatku berpikir, kalau dipikir-pikir betul juga, konsumsi pemakaian mobil tentunya jauh lebih boros daripada motor. Ada sebuah artikel pula yang menyebutkan bahwa dengan perbandingan konsumsi BBM, maka sesungguhnya subsidi BBM itu lebih dirasakan oleh orang yang bermobil daripada brmotor, apalagi yang berplat kuning. Dari beberapa pengalamanku saat bertandang ke pom bensin, memang aku melihat rata-rata orang bermobil mewah yang menggunakan premium. Well, harus diakui aku salah satunya, habisnya pakai mobil kantor dan bos bertitah untuk menggunakan premium, ya mau gimana lagi. Sebagai anak buah ikut kata bos. Tapi perlu dicatata TIDAK SEMUA orang bermobil bagus menggunakan premium. Ada juga yang menggunakan pertamax. Sayang aku tidak sempat mengambil gambar mobil dan penghuninya itu.

Sebuah pemikiran bagi kita, apakah dengan melakukan hal tersebut, bisa jadi dengan menggunakan BBM bersubsidi maka kita secara tidak langsung telah merampas hak rakyat kecil. Subsidi itu diberikan kepada orang yang tidak mampu, bukan orang yang mampu. Sebagai orang yang mampu sudah seharusnya kita berbagi dengan mereka yang tidak mampu, bukannya malah menelan hak mereka. Memang tidak mau munafik, aku juga bukan orang suci benar dan menggunakan premium juga untuk motorku dulu. Tidak memang mengubah pola pikir, harus perlahan dan step by step. Tapi dengan adanya kesadaran maka dapat diterapkan dalam perbuatan.

Gambar

Itulah sedikit hal yang kudapatkan dari sopir angkot yang kutemui minggu lalu. Just wanna share. 

Churcing

Kenapa kita selalu ke gereja setiap Minggu, untuk apa dengerin kotbah kalau setelah pulang gereja nggak ingat apa yang dikotbahin tadi? Mending tidur aja di rumah.

Barangkali statement di atas merupakan statement yang biasa, bahkan sangat benar. Banyak orang, bahkan hampir semua orang tidak ingat apa isi kotbah yang barusaja didengarnya di gereja. Ketika ditanya biasanya hanya sebagian kecil saja yang diingat, ada juga yang sama sekali tidak ingat. So, bener dong kalau gitu untuk apa ke gereja, untuk apa dengerin kotbah kalau pada akhirnya lupa lagi?

Ada seorang teman yang pernah berkata padaku, untuk apa makan tiga kali sehari, untuk apa sarapan jika siang hari sudah lapar lagi, untuk apa makan siang jika nanti malam lapar lagi? Bukankah kedua hal tersebut serupa. Apakah jika setelah makan pada akhirnya kita lapar lagi itu berarti kita tidak usah makan saja, tidak demikian bukan? Meskipun kita tahu bahwa setelah sarapan kita akan lapar lagi, kita tetap saja srapan, bahkan tetap makan siang meskipun tahu bahwa nanti malam akan lapar lagi.

Makanan jasmani saat dimakan akan memberikan pertumbuhan, kehidupan bagi kita. Memang setelah makan nanti kita juga lapar lagi, tapi pada saat kita makan, makanan itu membuat kita hidup hari demi hari, memberikan nutrisi bagi tubuh kita dan membuat kita bertumbuh. Demikian halnya dengan makanan rohani, saat makanan itu diberikan kepada jiwa kita, maka kita juga mengalami pertumbuhan rohani. Memang setelah mendengar kotbah ada kalanya orang melupakan isi kotbah itu, tapi pada saat kotbah itu diberikan, jiwa kita mendapatkan makanan yang membuat kita mampu bertumbuh, sedikit demi sedikit. Pertumbuhan satu orang dengan yang lain tidaklah sama, tergantung bagaimana dia mengisi jiwanya dengan makanan rohani, semakin sering maka semakin pesat dia bertumbuh.

Ketika aku merengung barang sejenak, dan ketika aku berhubungan kembali dengan teman-teman sekolah dulu, aku menyadari bahwa kami telah sama-sama dewasa, baik tubuh maupun pikiran. Itu berarti bahwa sebenarnya orang tidak benar-benar 100% melupakan kotbah yang didengarnya di gereja. Secara tidak sadar, pola pikir kita terbentuk sedikit demi sedikit. Memang kita melupakan isi kotbah tapi esensi yang membuat jiwa kita bertumbuh tetap kita dapatkan. Mungkin alam bawah sadar kita merekam semuanya, meskipun alam sadar kita melupakannya. Well, untuk yang satu ini jelas bukan bagianku. Aku hanya berspekulasi. Tapi aku yakin jika kita membandingkan diri kita sekarang dan dulu tentu saja ada perubahan pola pikir, tapi kembali lagi itu terganutng bagaimana kita menyikapi makanan rohani yang diberikan bagi jiwa kita.

So, ke gereja, pulang dan melupakan kotbah tidak berarti kita tidak mendapatkan apa-apa dan melakukan hal yang sia-sia. Jiwa kita tetap bertumbuh, seperti halnya kita selalu makan tiap hari. Tetaplah lakukan itu dan akan lebih baik lagi jika kita tidak melupakannya. Happy Sunday…

“Remind me who i am”

A song by Jason Gray
 
When I lose my way,
And I forget my name,
Remind me who I am.
In the mirror all I see,
Is who I don’t wanna be,
Remind me who I am.
In the loneliest places,
When I can’t remember what grace is.

Tell me once again who I am to You,
Who I am to You.
Tell me lest I forget who I am to You,
That I belong to You.
To You.

When my heart is like a stone,
And I’m running far from home,
Remind me who I am.
When I can’t receive Your love,
Afraid I’ll never be enough,
Remind me who I am.
If I’m Your beloved,
Can You help me believe it.

Tell me once again who I am to You,
Who I am to You, whoa.
Tell me lest I forget who I am to You.
That I belong to You.
To You.

I’m the one you love,
I’m the one you love,
That will be enough,
I’m the one you love.

Tell me once again who I am to You.
Who I am to You.
Tell me lest I forget who I am to You,
That I belong to You, oh.

Tell me once again who I am to You.
Who I am to You.
Tell me lest I forget who I am to You,
That I belong to You.
To You.

 

When you borrow my money

May, apa kabar? Aku masih ada hutang sama kamu lho. Minta nomor rekeningmu donk, nanti aku transfer. Thx y. Kubaca SMS dari Tania, teman SMA ku sambil tersenyum geli. Sudah satu tahun berlalu sejak kejadian itu, ya kejadian itu, di mana Tania menghubungi lewat SMS meminta tolong agar aku bersedia meminjaminya uang. Well, sebenarnya dia menelponku beberapa kali, tapi aku masih berada dalam jam kerja, tak sempat aku menerima panggilannya, aku hanya membalas SMS nya sambil mencuri-curi waktu mengerjakan pekerjaan kantorku.

One year before…

May, apa kabar? Aku mau minta tolong? Kubaca SMS dari Tania. Ada beberapa miscall juga darinya. Dalam hati aku heran, sudah lama aku tidak berhubungan dengannya, semenjak kami lulus SMA, dan aku kuliah di Jakarta, sedangkan Tania sendiri kudengar dia kuliah di Jogja. Kami hanya berhubungan lewat facebook, itu pun hanya sesekali menanyakan kabar, atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Memang sih kemarin lusa Tania meminta nomor ku lewat message FB dan aku memberikannya. Kami pun bertukan nomor. Tak kusangka secepat ini dia menghubungiku dengan tujuan tertentu, tentunya.

Maaf, Tan. Aku lagi kerja nih. Ga bisa angkat teleponmu. Minta tolong apa? Kuketik SMS balasan dan segera kukirimkan kepadanya. Lalu aku pun kembali menjamah kertas-kertas yang sedari tadi menunggu di mejaku. Aku tak tahu sudah berapa lama aku mengurus kertas-kertas itu, hingga kulirik HP ku dan sudah ada SMS masuk, yang kuyakini dari Tania.

Sorry May, aku ganggu kamu ya. Aku mau minta tolong. Aku mau pinjam uang. Kakekku sakit. Aku butuh 1 juta. Apa kamu bisa nolongin aku? Deg! Dadaku terasa sesak. Tania yang sudah lama tidak berhubungan denganku tiba-tiba menghubungi dan ternyata ini alasannya. Dia mau pinjam uang. Seketika itu muncul pikiran negatif di otakku. Aku teringat cerita Vivi, kakak kelasku di kampus, dan meskipun kami sudah lulus tapi kami masih dekat.

Aku masih ingat Vivi pernah bercerita mengenai teman sekolahnya, sebut saja Bunga, yang tak ada hujan tak ada badai tiba-tiba menghubunginya dan meminjam uang, lima ratus ribu, katanya waktu itu. Alasannya sih orangtuanya sakit dan butuh biaya. Waktu itu Vivi meminjamkan uangnya, meskipun sebenarnya dia sedikit curiga. Benar saja setelah kejadian itu, Bunga tak pernah lagi menghubunginya. Kata Vivi, Bunga juga menghubungi teman-teman yang lain dan meminjam uang juga kepada mereka. Vivi mendengar hal itu dari temannya yang lain yang berada di kota asalnya, dan masih sering berjumpa dengan Bunga, menurut temannya itu beberapa hari tak lama setelah kejadian peminjaman uang, dia melihat Bunga dengan mobil barunya. Spekulasi Vivi, Bunga meminjam uang dari teman-teman sekolahnya dulu untuk membeli mobil baru. Itulah mengapa aku juga sedikit curiga terhadap Tania.

Vi, ada temen gue minjem uang nih, satu juta. Kasih ga ya? Tapi gue takutnya nanti kaya temen lo itu, yang waktu itu lo ceritain ke gue. Aku tak membalas SMS Tania tapi aku malah mengirim SMS kepada Vivi, meminta pertimbangan darinya. Kuakui Vivi memang cukup dewasa dan aku sering menceritakan masalahku, meminta saran darinya.

 Paling juga kaya temen gue. Bilang aja lagi ga ada duit.

Gitu ya?

Iya gitu aja. Tapi terserah lo sih kalau mau ngasih. Tapi ikhlasin aja kalau ga balik. Aku membaca SMS terakhir Vivi, dan tak berniat melanjutkan SMS kami. Jujur dalam hati kecilku aku tak percaya Tania seperti itu. Tania yang kukenal adalah anak yang rajin, meskipun keluarganya sederhana tapi dia sama sekali tak pernah bertingkah macam-macam. Itulah Tania yang ada dalam ingatanku, dan aku tak mau menciptakan Tania yang baru, yang lain dari apa yang ada dalam ingatanku.

Gimana May, bisa ga? Tiba-tiba datang SMS dari Tania lagi, sepertinya dia benar-benar membutuhkan uang, entah benar jika kakeknya sakit atau hanya akal-akalannya saja. Jujur aku benar-benar bingung. Ingatanku memutar kembali kata-kata Bu Ani, tetanggaku saat Bu Ani sedang ngobrol dengan Mama. Saat itu Bu Ani bercerita tentang seorang gadis yang melacurkan dirinya seharga dua ratus ribu rupiah karena dia membutuhkan uang itu untuk biaya ujian akhirnya. Menurut cerita Bu Ani, gadis itu sudah berusaha meminjam uang kepada teman-teman maupun dosennya, tapi tak ada yang bersedia meminjaminya. Gadis itu putus asa dan dia menjadi gelap mata sehingga mengambil jalan pintas. Aku tahu Bu Ani tidak sedang bergosip dengan Mama, dia sedang menceritakan keprihatinannya terhadap nasib gadis itu. Kata-kata Bu Ani waktu itu masih terdengar jelas di telingaku, jika saja ada orang yang bersedia membantunya, mungkin nasib gadis itu tidak akan seperti itu, saya tidak tahu harus menyalahkan dia atau orang-orang yang tidak mau membantunya. Deg! Kata-kata Bu Ani membuatku berpikir keras. Aku tidak mau Tania mengalami hal yang sama dengan gadis itu, tapi aku juga tidak mau ditipu, rasanya sakit sekali jika benar-benar ditipu dengan teman sendiri.

Lalu aku juga teringat dengan cerita menganai Almarhum Gus Dur yang pernah kubaca, dalam berita itu, salah satu puteri Gus Dur bercerita pernah suatu hari ada seorang yang datang kepada keluarga mereka dan meminjam uang untuk alasan tertentu, saat itu Gus Dur memberikan sejumlah uang kepada orang itu. Saat puterinya bertanya bagaimana jika orang itu berniat jahat dan menipu mereka, Gus Dur hanya menjawab tak masalah jika orang itu menipu mereka, asalkan tidak ada orang lain lagi yang menjadi korban penipuan. Itu berarti keluarga kita telah menyelamatkan oran lain, kenang puteri Gus Dur. Sungguh suatu pemikiran yang mulia. Tapi apakah aku bisa melakukan hal itu dan rela menjadi korban.

Tiba-tiba kulihat di FB ku Sonny, teman SMA ku muncul, kebetulan sekali dia sedang OL. Son, kamu masih inget sama Tania? Kumulai chat dengannya, berharap dia masih di situ dan segera membalas chat ku. Saat ini otakku tak bisa berfungsi dengan baik, jadi kubiarkan saja kertas-kertas yang masih menunggu dengan setia di mejaku. Biarlah aku korupsi waktu sebentar.

Ada apa sama Tania? Yes, Sonny membalas chatku. Saat SMA kami pernah sekelas dan tentunya Sonny juga mengenal Tania, maka tak salah jika aku bertanya padanya. Berbeda dengan Tania, aku dan Sonny masih sering berhubungan. Saat liburan semester kami biasa berkumpul dengan beberapa teman yang lain, sekedar ngobrol atau hang out.

Son, tadi dia SMS aku. Minta tolong minjem uang satu juta. Katanya kakeknya sakit. Dia ga kontak kamu?

Ga tuh. Terus?

Nah aku ga tahu beneran kakeknya sakit apa ga. Kasih ga ya? Kalau kamu jadi aku gimana? Dalam hati aku sedikit merasa bersalah karena telah berpikiran negatif tentang Tania, tapi toh bukankah uang bisa mengubah segalanya.

Wah, aku juga lagi ga ada duit. Aku juga ga tahu. Kalau menurutku sih, kalau kamu memang ada duit, ya seadanya saja. Ga harus sejumlah itu.

Ok Son. Aku kasih pinjam deh. Tiga ratus ribu. Aku ikhlas kalau ga balik.

Ok May, semangat ya. Biar Tuhan yang balas. Kuakhiri chat ku dengan Sonny dan segera kuraih HP ku dan kuSMS Tania. Tan aku adanya 300. Gimana? Akhirnya aku memutuskan meminjamkan uangku. Aku menganggap ini sebagai bantuan antar teman, atas nama persahabatan kami selama tiga tahun sewaktu SMA. Jika benar Tania menipuku, aku ikhlas jika uangku tidak kembali. Biarlah. Yang penting niatku baik. Soal uang itu digunakan untuk apa, biarlah itu pertanggung jawaban Tania kepada Tuhan.

Gpp May, thanks ya. Tolong transfer ke no rekening aku.

Ok, nanti pulang kerja aku transfer.

Itulah SMS terakhirku dengan Tania. Setelah kutransfer aku sempat mengirimkan SMS pemberitahuan kepada Tania dan menanyakan kabar tentang kakeknya. Tania membalas SMSku, dia berterima kasih atas bantuanku. Kini setelah satu tahun berlalu tiba-tiba saja dia muncul lagi.

Maaf ya lama balikinnya.

Ha5. Ok Tan. Kuketik no rekeningku. Aku tak peduli Tania mengembalikan uangku atau tidak, tak masalah. Aku sudah ikhlas. Dan dengan terbukti bahwa Tania berniat mengembalikan uangku, meskipun membutuhkan waktu satu tahun, itu sudah cukup bagiku, berarti waktu itu aku tidak salah mengambil keputusan. Aku tersenyum lalu meletakkan HP ku. Thanks Tania.

Tuhan yang kesepian…

Siang itu aku berjalan melewati toko buku di sebuah mall. Ada satu buku yang menarik mataku, judul buku itu benar-benar membuat otakku bekerja maksimal, judulnya ‘Tuhan yang kesepian’. Aku tidak berniat membaca resensinya atau membelinya, aku tidak ingin tahu apa isi buku itu, tapi judulnya lah yang membuatku tergelitik. Untuk beberapa menit aku berdiri di depan rak buku itu sembari memikirkan kalimat itu, ‘Tuhan yang kesepian’. Benarkah bahwa Tuhan kesepian? Benarkah bahwa selama ini manusia tidak memiliki waktu lagi untuk Tuhannya? Benarkah aku mencuekin Tuhan? barangkali jawaban dari semuanya itu adalah yes.

Ya jika manusia sekarang sudah tidak lagi memiliki waktu untuk Tuhan, manusia disibukkan dengan pekerjaan, bagaimana mencari hidup yang lebih baik, yang seringkali diasumsikan dengan kebebasan finansial, kebebasan ekonomi, hidup nyaman. Hal itu membuat manusia terjebak dalam tipu muslihat dunia, memang itulah yang diinginkan dunia, menurutku istilah kebebasan finansial itu bullshit, omong kosong, karena bagiku itu hanyalah kata-kata yang lebih baik untuk menyebut harta, kekayaan, salah satu berhala manusia. Orang yang mengejar kebebasan finansial sesungguhnya sedang mengejar harta, salah satu dari tiga berhala, harta, tahta, wanita (mungkin yang terakhir dapat dijelaskan nafsu karena wanita tidak mungkin mencari wanita hahaha).

Ok kembali lagi pada Tuhan yang kesepian, ketika manusia berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dengan usahanya sendiri sesungguhnya dia sedang berusaha untuk melepaskan diri dari Tuhan. Berusaha sendiri berarti mengandalkan kekuatan sendiri dan itu berarti tidak mengandalkan Tuhan, sama halnya meninggalkan Tuhan di belakang sedang kita maju berjalan sendiri. So, tidak salah jika manusia benar-benar membuat Tuhan kesepian, lha Tuhan e ditinggal ok. Barangkali setiap kali kita berdoa meminta ini itu, tapi sesungguhnya bukan itu yang dikehendaki Tuhan, tanpa kita minta pun Tuhan telah, sedang dan pasti akan memberi yang terbaik bagi kita. Yang diinginkan Tuhan adalah sebuah relasi, doa seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan, menjalin relasi yang indah, bukan sekadar mantra-mantra untuk membuat hidup lebih makmur, kaya, sehat dll.

Bukankah tujuan Tuhan menciptakan manusia agar Tuhan dapat berhubungan dengan ciptaannya, setidaknya itu pemikiranku sih, kalau bukan itu apa coba? Sama seperti manusia membeli hewan peliharaan, bukan maksudku untuk menyamakan kita dengan hewan, hanya sebagai perumpamaan saja karena hewan derajatnya lebih rendah dari manusia, sama halnya derajat manusia jauh di bawah Tuhan, agar hewan itu bisa menemani, menghibur dan menyenangkan manusia. Coba pikir jika kita pulang dalam keadaan capek lalu anjing kita hanya bermalas-malasan, atau malah asyik dduk di sofa dan nonton TV sambil makan popcorn, tidak menyambut kita, btw ada ya anjing duduk di sofa nonton TV sambil makan popcorn, bayangin sendiri ah hahaha, tentunya jengkel bukan, apalagi saat si anjing kita panggil dia malah memperbesar volume TV, gimana coba, aku yakin hampir semua dari kita akan menendang anjing itu keluar dari rumah. Coba pikir kalau Tuhan juga bersikap seperti itu, saat Tuhan memanggil kita, kita malah asyik dengan urusan dunia kita. Gimana coba kalau Tuhan emosi lalu memilih untuk memusnahkan manusia, lalu menciptakan makhluk lain, alien mungkin sebagai objek kasihNya. Syukur bahwa Tuhan tidak seperti itu, Tuhan begitu mengasihi manusia dan selalu memberikan kesempatan bagi kita. Tuhan begitu sabar menghadapi kita, tapi sesabar-sabarnya Tuhan, kesabaran itu pasti ada batasnya. So mulailah memikirkan ‘Tuhan yang kesepian’ dan jangan buat Dia benar-benar kesempian dan mencari objek lain sebagai pelampisan lalu membuang kita…