Bagaikan kuda dan keledai…

Hari sudah gelap, tapi A Yong masih berdiri di depan kolam ikan dengan wajah murung. dipandanginya ikan-ikan koi yang berenang dalam ketenangan malam. Malam ini adalah malam terakhirnya sebagai koki istana. Dia telah mengantungi ijin untuk meninggalkan istana selama dua hari, meskipun dia berniat meninggalkan istana selamanya. Tekadnya sudah bulat untuk keluar dari istana, kembali ke desanya. A Yong sudah memutuskan untuk mengubur cita-citanya menjadi salah satu koki istana, yang menghidangkan makanan di meja Kaisar. Barangkali menjadi koki istana merupakan angan-angan yang tak bisa dicapainya.

A Yong masih mengingat kejadian sore tadi. Ini sudah kesekian kalinya Koki Kepala memarahinya. Sejak masuk menjadi salah seorang koki istana, tiada satu hari pun telinga A Yong absen mendengarkan kata-kata Koki Kepala yang membuat wajahnya merah. Koki Kepala selalu saja mencari-cari kesalahannya. Hari ini A Yong dicerca karena menghidangkan sup yang menurut Koki Kepala kurang mak nyus, padahal menurutnya rasanya sudah pas, barangkali indera perasa Koki Kepala sudah mulai menurun, seiring usianya yang tak lagi muda. Kemarin dia mengalami masalah dengan daging bebek, menurut Koki Kepala daging bebek yang diirisnya kurang tipis, terlalu tebal, padahal dia sudah memotongnya dengan ketebalan satu senti, sayang saat itu belum ditemukan penggaris sehingga dia tidak dapat membuktikan ukuran ketebalan daging yang itu. Lalu beberapa hari sebelumnya kaldu yang dibuatnya mendapatkan nilai minus. Hambar, rasanya kaldunya tidak terasa sama sekali, tegas Koki Kepala saat itu, untuk kaldu itu barangkali memang Koki Kepala ada benarnya juga karena dia kurang memperhatikan waktu saat merebus daging.

Selain mendapatkan teguran dan kata-kata yang membuat telinga panas, A Yong juga merasa meras diberi pekerjaan lebih berat Shin dan Lee, teman-teman seangkatannya, sesama koki pemula. Pernah Koki Kepala menyuruhnya mengiris daun bawang tipis-tipis, dan jumlahnya dua kali lipat yang dikerjakan oleh kedua temannya. Pernah juga Koki Kepala menyuruhnya membersihkan peralatan dapur sedangkan Shin dan Lee mendapatkan tugas lain yang lebih ringan. Ditambah lagi Shin dan Lee sering meremehkannya karena Koki Kepala selalu memarahinya. Padahal A Yong merasa keahlian memasaknya lebih baik daripada kedua temannya itu, tapi memang dia saja yang bernasib sial karena menjadi karung tinju Koki Kepala, sedangkan kedua temannya hanya tersenyum singkat melihatnya dimarahi. Lengkap sudah penderitannya, Koki Kepala memang pilih kasih.

“Ibu, aku pulang!” A Yong berkata dengan suara keras setengah berteriak saat berada di depan rumahnya. Pintu rumah tampak tertutup rapat, apakah ibunya sedang tidak di rumah.

“Lho Nak, kenapa kok tiba-tiba kamu pulang? Apa kamu dikeluarkan dari istana?” tanya sang ibu yang tergopoh-gopoh membukakan pintu begitu mendengar suara anak yang dikasihinya itu. Menilik celemek yang menutupi bagian depan bajunya, sepertinya Ibu A Yong tengah memasak.

“Aku mau berhenti Bu. Rasanya istana bukan tempatku. Barangkali aku tidak ditakdirkan menjadi koki istana,” kata A Yong saat mereka duduk di atas meja makan, menikmati makan siang mereka. Kemudain A Yong menceritakan perlakuan yang dialaminya, tentang Koki Kepala yang selalu mempersulitnya, memarahinya, memberikan beban pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan teman-temannya. “Koki Kepala itu memang pilih kasih. Shin dan Lee hampir tidak pernah dimarahi, bahkan saat mereka berbuat salah, sedangkan aku, salah sedikit saja sudah disembur. Lebih baik aku tidak usah kembali ke tempat itu lagi.” A Yong mengakhiri ceritanya, bertepatan dengan kosongnya mangkuk di hadapannya.

“Nak, kata-katamu memang benar. Koki Kepala memang pilih kasih, tapi dia mengasihimu. Sekarang jawab ibu, jika kau memiliki kuda dan keledai, mana yang akan kau cambuk supaya larinya lebih kencang?” Ibu A Yong yang dari tadi hanya diam mendengarkan cerita puteranya kini membuka mulutnya.

“Tentu saja kuda. Untuk apa aku mencambuk keledai, keledai tidak bisa berlari secepat kuda.”

“Jika begitu, bukankah sama dengan apa yang kau alami, Koki Kepala memarahimu saat kau berbuat salah agar kau tahu apa kesalahanmu dan dapat membuatmu menjadi lebih baik. Tugas-tugas yang diberikannya kepadamu lebih banyak daripada teman-temanmu karena dia tahu kemampuanmu, dan dia tahu kamu dapat mengerjakannya lebih baik daripada mereka. Karena kau lebih baik daripada teman-temanmu maka Koki Kepala mencambukmu, agar kau dapat berlari lebih cepat dan semakin cepat. Seperti yang kau katakan, tak ada gunanya mencambuk keledai.”

Keesokan harinya A Yong menampakkan diri di istana. Kali ini dia siap menghadapi teguran dan kata-kata kasar Koki Kepala. Teman-temannya heran melihat perubahan A Yong. Kini dia selalu menghadapi teguran Koki Kepala dengan senyuman, tak nampak lagi wajah murung yang biasa ditunjukkannya

 “Ada apa denganmu? Biasanya kau selalu memasang wajah murung setelah mendengarkan omelanku, tapi akhir-akhir ini kau malah tersenyum?” tanya Koki Kepala suatu hari. A Yong pun menceritakan kata-kata ibunya kepada koki tua itu.

“Ibumu benar sekali. Aku melihat kau memiliki bakat melebihi teman-temanmu, karena itulah aku berniat mengajarimu menjadi koki yang handal. Aku tahu kau pasti melakukan lebih baik lagi dari apa yang kau lakukan saat ini.”

Kata-kata Koki Kepala menjadi kenyataan. A Yong berhasil menjadi koki yang handal, bahkan Kaisar menyukai masakannya, lebih daripada koki istana lainnya. Akhirnya A Yong berhasil mewujudkan mimpinya menjadi koki istana, bahkan menggantikan Koki Kepala yang telah pensiun, mejadi seorang Koki Kepala yang menghidangkan makanan untuk Kaisar.

**

Salah satu cerpen yang pernah kubaca saat aku kecil dulu. Lupa-lupa ingat jalan ceritanya, tapi perumpamaan yg digunakan masih terpatri jelas. Mengingatkanku untuk terus bertahan saat menghadapi kesulitan dan masalah, bahkan saat kupikir masalahku lebih besar daripada teman-temanku (actually it’s not true, jangan menganggap masalah, atau kesulitan yang kau hadapi lebih besar daripada orang lain, totally wrong, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing).

Back to the story, aku belajar dalam setiap kesulitan dan tantangan, ada campur tangan Tuhan yang sedang menempaku, membentukku untuk menjadi lebih baik dan semakin baik. Karena Tuhan mengasihiku maka dia mencambukku agar aku dapat berlari lebih cepat, karena Dia tahu aku bisa melakukannya. Yes, He knows I can do it, even I don’t so He pushes me so I can do it…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s