On the way…

Jakarta, 4 Juni 13

Sore ini aku kembali harus berdesak-desakan dengan ratusan mobil dan motor pengguna jalan. Pulang meeting pada jam-jam macet memang melelahkan, harus berjuang bersama orang-orang lain yang senasib. Setelah berjuang hampir satu jam akhirnya rekanku memutuskan mengambil jalan pintas, lewat jalur busway. Menurut peraturan, mobil maupun motor dilarang menggunakan jalur busway. Memang sih lewat jalur busway lebih enak, lebih cepat, tidak perlu mengantri bersama kendaraan-kendaraan lain. Saat melintas di jalur busway bersama mobil-mobil lain itulah ingatanku melayang jauh ke belakang. Pada saat itu aku sedang dalam perjalanan berangkat meeting bersama rekan kantor, orang yang berbeda dengan rekanku sore ini.

“Pak, kok nggak ikut mobil itu aja? Bukannya lebih cepat?” tanyaku pada rekanku yang mengendarai mobil sdangkan aku duduk manis di sampingnya. Saat itu kami sedang berada di tol, dan tepat di sebelahku ada iring-iringan mobil, dengan mobil polisi sebagai pembuka jalan. Mobil di depanku berbelok lalu mengikuti iring-iringan itu.

“Kalau kita ikut-ikutan, kan sama saja dengan memberi contoh kepada orang lain untuk ikut-ikutan juga Pak,” kata rekanku itu. Clep! Kata-katanya sukses menamparku. Benar juga. Jika kita memberi contoh yang buruk kepada orang lain maka orang lain juga akan mengikuti keburukan kita. Sama saja menjerusmuskan orang lain dalam keburukan. Aku hanya terdiam mengakui kebenaran yang terkandung dalam kata-katanya.

Ingatanku melayang pada pembicaraan singkatku dengan seorang rekan kala itu. Benar kata-katanya, dan kini kulihat beberapa mobil membelok memasuki jalur busway, mengikuti mobil-mobil yang telah terlebih dulu melintasinya, mengikutiku! Banyak juga yang lain kok, alasan rekanku yang menyetir. Pikiranku berkecamuk. Apakah karena melakukan pelanggaran massal dapat dibenarkan, apakah peraturan dapat berubah dan hukuman dapat dikalahkan oleh banyaknya orang yang melanggarnya. Tidak, setahuku hukum itu absolut dan kesalahan itu mutlak. Tak peduli seberapa orang yang melakukan pelanggaran seharusnya hukum tetap menindaknya. Tetapi nyatanya? Aku tak mau berkomentar tentang hukum yang dapat dibeli sehingga membuat orang tak takut lagi pada hukum. Mudah saja toh, melanggar hukum, suap saja penindaknya, maka kesalahan akan diputihkan. Hukum telah dibutakan matanya oleh orang yang seharusnya menjadi penegak hukum.

Hal itu jugalah yang kurenungkan kemudian. Ternyata rekanku masih memiliki rasa takut juga terhadap hukum. Saat melihat polisi yang lewat, dia kaget juga. Takut karena melakukan suatu kesalahan. Itu berarti hati nurani orang itu masih ada. Orang yang tak memiliki hati nurani tak akan peduli pada apa pun. Tapi ada hal lain yang membuatku berpikir, jika saja polisi itu menindak kami, maka dapat dipastikan rekanku itu akan mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan perdamaian pun terjadi. Damai itu memang indah, tapi tak berarti dapat menutupi kesalahan. Hal itulah yang menuntunku pada sebuah pemikiran bahwa kesalah yang satu akan menimbulkan kesalahan lainnya. Dengan melanggar peraturan lalu lintas, seperti memasuki jalur busway, akan mengarahkan orang pada pelanggaran lainnya, yaitu menyuap polisi yang sedang bertugas. Polisi yang menerima uang itu bisa jadi akan melakukan hal itu lagi demi mendapat uang.  Rentetan lingkaran setan pun terjadi. Tak perlu menyalahkan orang lain atas bobroknya moral negeri ini, salahkan diri sendiri dan berkacalah, apakah ada tindakan kita, sekecil apapun itu turut memberikan dampak buruk bagi orang lain.

Well, itulah sedikit perenunganku di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta. Memang tak ada orang yang sempurna dan tak luput dari kesalahan, tetapi setidaknya orang bisa belajar dari kesalahan. Semoga sedikit kata-kata yang keluar dari otakku ini dapat menjadi koreksi bagi kita semua untuk jadi pribadi yang lebih baik dan memberikan dampak baik bagi sesama. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s