Pekerja di kandang ayam

Pagi itu Ujang sedang menikmati sarapan paginya, secangkir kopi, saat bosnya memanggilnya. Sebuah tugas sedang menanti, pikir Ujang. Dengan sigap Ujang meninggalkan cangkir kopinya yang masih berisi setengah, dan menjawab panggilan bosnya. Ternyata hari itu dia mendapat tugas untuk membersihkan kandang ayam. Ujang memang bekerja di sbuah peternakan ayam, tentunya kandang ayam yang harus dibersihkannya bukan sepetak kandang kecil berukuran satu kali satu meter, melainkan puluhan meter persegi.

Maka dengan semangat 45 Ujang mulai melaksanakan amanat dari sang bos, apalagi ditambah embel-embel bonus setelah selesai membersihkan kandang ayam itu. Selain luas, kandang itu juga sangat kotor, ya kalian tahulah seperti apa kandang itu, penuh kotoran yaman dan tentunya baunya bukan main. Setelah mengumpulkan ayam-ayam dalam satu ruas kandang, maka mulailah Ujang membersihkan ruas-ruas kandang yang lain. Detik demi detik berlalu, berganti menit, dan menit pun berubah rupa menjadi jam. Tak terasa sudah jam dua belas siang, waktunya Ujang beristirahat. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakoninya, baru seperempat bagian kandang yang selesai dibersihkannya. Dalam hati Ujang mengutuki luasnya kandang ayam yang dimiliki bosnya.

Selesai beristirahat, Ujang kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi kali ini dia tidak sendiri. Entah dari mana tiba-tiba Ucup muncul dan mulai ikut membersihkan kandang ayam itu. Rupanya sang bos yang sedari pagi mengawasi Ujang bekerja menugaskan Ucup untuk turun tangan membersihkan kandang itu. Ujang tidak akan sanggup menyelesaikan pekerjaannya sebelum hari gelap, batin sang bos. Maka tanpa banyak bicara Ujang dan Ucup bekerja membersihkan kandang ayam bersama-sama.

Menjelang sore hari, kira-kira pukul tiga kembali sang bos memanggil kedua anak buahnya itu. Dua cangkir es teh dan beberapa potong pisang goreng telah tersaji di meja. Jam tiga siang adalah saat di mana matahari tepat berada di atas kepala, teriknya tak tertahankan. Ujang pun melahap sajian yang menggugah selera itu, meskipun hanya seadanya, diikuti Ucup yang mengekor jejak kawannya.

Sekarang waktunya kembali bekerja, tapi siapa lagi itu yang datang? Rupanya sang bos kembali menghadirkan orang lain untuk terjun membersihkan kandang ayam. Kali ini Asep turut bergabung dalam tim kecil itu. Ujang, Ucup dan Asep bekerja bersama. Tak butuh waktu banyak bagi mereka untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Menjelang magrib, kandang ayam itu telah bersih, dan ayam-ayam pun telah berada di tempat mereka masing-masing. Saatnya Ujang menagih janji sang bos.

Ujang mendapat giliran paling akhir, setelah Ucup dan Asep menerima amplop yang berisi bonus dari bos. Setelah mengucapkan terima kasih, dibukanya amplop itu. Beberapa lembar kertas warna hijau menampakkan wajahnya. Ujang menghitung jumlah lembar yang ada, tapi kemudian dia mengeluarkan lembar demi lembar, lalu membuka kembali amplopnya lebar-lebar, mengangkatnya tinggi-tinggi lalu membaliknya, menunggu sesuatu yang akan jatuh dari amplop itu. Nihil, tak ada apa-apa. Ternyata jumlah lembar yang diterimanya sama dengan yang diterima Ucup dan Asep. Wajah Ujang mulai mengeras, dia merasa tidak diperlakukan dengan adil. Bukankah dia membersihkan kandang itu lebih awal daripada kedua rekannya itu, berarti seharusnya dia mendapat jumlah yang lebih besar, tapi nyatanya tidak.

“Mengapa wajahmu tidak menunjukkan kepuasan?” tanya sang bos. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di samping anak buahnya itu. Karena Ujang tidak juga membuka mulutnya maka kembali sang bos bertanya, “Apakah kau merasa diperlakukan tidak adil?”

Iya, dalam hati Ujang menjawab, meskipun mulutnya tetap terkunci rapat.

“Pantaskah kau marah terhadapku, padahal aku menugaskan Ucup dan Asep untuk membantumu. Aku tahu kau tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan itu seorang diri. Pikirkanlah lagi, jika kau dapat menyelesaikan pekerjaan itu sebelum hari gelap, maka aku tak perlu menyuruh orang lain untuk membantumu, dan aku tak perlu mengeluarkan uang untuk membayar mereka, cukup kau saja. Dan kini kau marah padaku, karena aku murah hati?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s