Telepon umum

Siang itu Nina berjalan dengan riang, terdengar gemerincing koin beradu dalam kantong celananya. Ya, dia telah menyiapkan banyak uang koin demi memuaskan kebiasaan barunya, berceloteh dia dalam box telepon umum. Kebiasaan baru itu lahir sejak telepon umum di dekat rumahnya dipasang seminggu yang lalu. Kini Nina rajin menyisihkan uang sakunya, seratus perak setiap hari, terkadang dua ratus. Nina rela tidak membeli es lilin seharga seratus perak agar dapat memasukkan uangnya itu ke dalam box telepon umum.

Nina masih ingat saat pertama kali memasukkan uang receh ke dalam box telepon itu. Kemudian dia menekan nomor Lala, teman sebangkunya yang sudah memiliki telepon di rumahnya. Saat itu Nina hnya mengatakan kalau di dekat rumahnya sudah ada telepon umum sehigga dia mencoba untuk menelpon Lala. Kurang kerjaan sekali si Nina. Tapi lama kelamaan ngobrol melalui telepon menjadi kebiasaan barunya. Pernah suatu malam dia menelpon Andi, hanya untuk mengatakan kalau dia menelpon menggunakan telepon umum. Tentu saja Andi mengomel tak berhenti karena Nina menganggu waktu santainya. Iseng sekali Nina, rupanya karena tidak ada hal yang dapat dilakukannya maka telepon umum itu menjadi sarana baginya untuk mengusili teman-temannya.

Tak butuh waktu lama bagi Nina untuk tiba di box telepon itu. Masih sepi, tak ada orang. Nina mulai mengeluarkan keping perak pertamanya dan memasukkannya ke dalam box telepon itu, kemudian dia menekan nomor telepon Lala. Tak berapa lama kemudian terdengarlah suara Lala di seberang sana. Nina dan Lala pun larut dalam pembicaraan yang tak jelas ujung-ujungnya, hanya menggosip, membicarakan teman-teman sekelas mereka.

Entah berapa lama Nina mengobrol dengan Lala, hingga kemudian dia merasa pintu box telepon itu diketuk. Nina menghentikan obrolannya sebentar, lalu menoleh sebentar. Dilihatnya di luar sana seorang wanita muda, sedang mengetuk-ngetuk pintu box telepon umum itu.

“Sebentar ya Mbak!” seru Nina saat membuka pintu box itu. Kemudian dia menutup kembali pintu box dan melanjutkan pembicaraannya lagi. Ternyata yang dimaksud sebentar oleh Nina adalah lima keping perak lagi masuk ke dalam bibir telepon umum itu. Menit demi menit pun berlalu. Nina melanjutkan pembicaraannya dengan menelpon Sisi, temannya yang lain.

Kembali Nina mendengar ketukan di pintu box. Masih wanita yang sama berdiri di depan, dengan wajah tak sabar. “Maaf, dek, saya ada perlu, penting sekali,” kata wanita itu saat Nina membuka pintu box.

“Saya juga lagi perlu Mbak, ini juga penting!” Nina menjawab ketus. Dia merasa tak senang karena keasyikannya ngobrol dengan temannya terganggu. Sungguh hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

“Si, sudah dulu ya. Ada orang brengsek yang gangguin. Nanti aku telpon lagi.” Akhirnya Nina mengakhiri pembicaraannya dengan Sisi dan mempersilahkan wanita itu masuk, sedang dia menunggu di luar.

Tak berapa lama kemudian wanita itu keluar dengan wajah pucat, seperti hendak menangis. Melihat hal itu Nina jadi penasaran, “Mbak, ada apa?” tanya Nina.

“Saya barusan mendapatkan surat panggilan kerja,” jawab wanita muda itu membuat Nina semakin heran, seharusnya mendapatkan panggilan kerja membuat wanita itu senang, bukannya sedih. “Surat itu datang tiga hari yang lalu, saat itu saya masih berada di rumah nenek, di kota lain. Baru siang ini saya pulang. Ternyata saya diharuskan menghubungi kantor itu untuk menyatakan kesediaan saya dan mengatur jadwal wawancara, sebelum jam empat sore. Barusan saya menelpon kantor itu, tapi ternyata saya terlambat beberapa menit, bagian personalianya sudah pulang. Hilang sudah kesempatan saya bekerja di kantor itu. Seandainya saya datang ke sini lebih cepat…” kata wanita itu lemah, entah mengapa dia mencurahkan isi hatinya kepada Nina. Barangkali dia sedang butuh tempat untuk mengeluarkan perasaannya setelah kejadian yang menimpanya itu.

Mendengar kata-kata itu, kepala Nina bagai dihantam palu besar. Bukan kesalahan wanita itu, dia yang salah. Jika saja sewaktu wanita itu mengetuk pintu box, dia segera menghentikan obrolannya tentunya kini wanita itu bisa tertawa gembira karena berhasil menghubungi kantornya. Nina tak bisa berkata apa-apa, dia ingin agar wanita itu memukulnya, atau memarahinya, karena tindakan konyolnya, karena keisengannya telah merugikan orang lain. Tapi wanita itu hanya tersenyum lemah, senyuman yang dipaksakan, lalu berjalan pergi meninggalkan Nina.

Hilang sudah semangat Nina untuk melanjutkan obrolannya dengan Sisi melalui telepon umum. Kini dadanya dipenuhi penyesalan. Digenggamnya erat-erat beberapa keping koin seratus perak yang masih tersisa. Dalam hati dia berjanji untuk menggunakan wantu dan uangnya untuk hal-hal yang lebih bijaksana lagi. Dia tak mau membuat orang lain menderita akibat perbuatan konyolnya.

**

Satu lagi cerpen yang berasal dari masa kanak-kanakku. Settingnya di tahun 90an, dan pada waktu itu telepon rumah masih jarang, apalagi HP, hanya segelintir orang berduit yang memiliki barang mewah itu. Saat itu telepon umum masih menjadi sarana yang penting bagi komunikasi. Buat aku ceritanya bagus, menegur banget. Disadari atau tidak, sebenarnya tindakan kita menimbulkan dampak bagi orang lain, bisa dampak baik dan dampak buruk. Baik-baiklah dalam bertindak agar tidak merugikan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s