When you borrow my money

May, apa kabar? Aku masih ada hutang sama kamu lho. Minta nomor rekeningmu donk, nanti aku transfer. Thx y. Kubaca SMS dari Tania, teman SMA ku sambil tersenyum geli. Sudah satu tahun berlalu sejak kejadian itu, ya kejadian itu, di mana Tania menghubungi lewat SMS meminta tolong agar aku bersedia meminjaminya uang. Well, sebenarnya dia menelponku beberapa kali, tapi aku masih berada dalam jam kerja, tak sempat aku menerima panggilannya, aku hanya membalas SMS nya sambil mencuri-curi waktu mengerjakan pekerjaan kantorku.

One year before…

May, apa kabar? Aku mau minta tolong? Kubaca SMS dari Tania. Ada beberapa miscall juga darinya. Dalam hati aku heran, sudah lama aku tidak berhubungan dengannya, semenjak kami lulus SMA, dan aku kuliah di Jakarta, sedangkan Tania sendiri kudengar dia kuliah di Jogja. Kami hanya berhubungan lewat facebook, itu pun hanya sesekali menanyakan kabar, atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Memang sih kemarin lusa Tania meminta nomor ku lewat message FB dan aku memberikannya. Kami pun bertukan nomor. Tak kusangka secepat ini dia menghubungiku dengan tujuan tertentu, tentunya.

Maaf, Tan. Aku lagi kerja nih. Ga bisa angkat teleponmu. Minta tolong apa? Kuketik SMS balasan dan segera kukirimkan kepadanya. Lalu aku pun kembali menjamah kertas-kertas yang sedari tadi menunggu di mejaku. Aku tak tahu sudah berapa lama aku mengurus kertas-kertas itu, hingga kulirik HP ku dan sudah ada SMS masuk, yang kuyakini dari Tania.

Sorry May, aku ganggu kamu ya. Aku mau minta tolong. Aku mau pinjam uang. Kakekku sakit. Aku butuh 1 juta. Apa kamu bisa nolongin aku? Deg! Dadaku terasa sesak. Tania yang sudah lama tidak berhubungan denganku tiba-tiba menghubungi dan ternyata ini alasannya. Dia mau pinjam uang. Seketika itu muncul pikiran negatif di otakku. Aku teringat cerita Vivi, kakak kelasku di kampus, dan meskipun kami sudah lulus tapi kami masih dekat.

Aku masih ingat Vivi pernah bercerita mengenai teman sekolahnya, sebut saja Bunga, yang tak ada hujan tak ada badai tiba-tiba menghubunginya dan meminjam uang, lima ratus ribu, katanya waktu itu. Alasannya sih orangtuanya sakit dan butuh biaya. Waktu itu Vivi meminjamkan uangnya, meskipun sebenarnya dia sedikit curiga. Benar saja setelah kejadian itu, Bunga tak pernah lagi menghubunginya. Kata Vivi, Bunga juga menghubungi teman-teman yang lain dan meminjam uang juga kepada mereka. Vivi mendengar hal itu dari temannya yang lain yang berada di kota asalnya, dan masih sering berjumpa dengan Bunga, menurut temannya itu beberapa hari tak lama setelah kejadian peminjaman uang, dia melihat Bunga dengan mobil barunya. Spekulasi Vivi, Bunga meminjam uang dari teman-teman sekolahnya dulu untuk membeli mobil baru. Itulah mengapa aku juga sedikit curiga terhadap Tania.

Vi, ada temen gue minjem uang nih, satu juta. Kasih ga ya? Tapi gue takutnya nanti kaya temen lo itu, yang waktu itu lo ceritain ke gue. Aku tak membalas SMS Tania tapi aku malah mengirim SMS kepada Vivi, meminta pertimbangan darinya. Kuakui Vivi memang cukup dewasa dan aku sering menceritakan masalahku, meminta saran darinya.

 Paling juga kaya temen gue. Bilang aja lagi ga ada duit.

Gitu ya?

Iya gitu aja. Tapi terserah lo sih kalau mau ngasih. Tapi ikhlasin aja kalau ga balik. Aku membaca SMS terakhir Vivi, dan tak berniat melanjutkan SMS kami. Jujur dalam hati kecilku aku tak percaya Tania seperti itu. Tania yang kukenal adalah anak yang rajin, meskipun keluarganya sederhana tapi dia sama sekali tak pernah bertingkah macam-macam. Itulah Tania yang ada dalam ingatanku, dan aku tak mau menciptakan Tania yang baru, yang lain dari apa yang ada dalam ingatanku.

Gimana May, bisa ga? Tiba-tiba datang SMS dari Tania lagi, sepertinya dia benar-benar membutuhkan uang, entah benar jika kakeknya sakit atau hanya akal-akalannya saja. Jujur aku benar-benar bingung. Ingatanku memutar kembali kata-kata Bu Ani, tetanggaku saat Bu Ani sedang ngobrol dengan Mama. Saat itu Bu Ani bercerita tentang seorang gadis yang melacurkan dirinya seharga dua ratus ribu rupiah karena dia membutuhkan uang itu untuk biaya ujian akhirnya. Menurut cerita Bu Ani, gadis itu sudah berusaha meminjam uang kepada teman-teman maupun dosennya, tapi tak ada yang bersedia meminjaminya. Gadis itu putus asa dan dia menjadi gelap mata sehingga mengambil jalan pintas. Aku tahu Bu Ani tidak sedang bergosip dengan Mama, dia sedang menceritakan keprihatinannya terhadap nasib gadis itu. Kata-kata Bu Ani waktu itu masih terdengar jelas di telingaku, jika saja ada orang yang bersedia membantunya, mungkin nasib gadis itu tidak akan seperti itu, saya tidak tahu harus menyalahkan dia atau orang-orang yang tidak mau membantunya. Deg! Kata-kata Bu Ani membuatku berpikir keras. Aku tidak mau Tania mengalami hal yang sama dengan gadis itu, tapi aku juga tidak mau ditipu, rasanya sakit sekali jika benar-benar ditipu dengan teman sendiri.

Lalu aku juga teringat dengan cerita menganai Almarhum Gus Dur yang pernah kubaca, dalam berita itu, salah satu puteri Gus Dur bercerita pernah suatu hari ada seorang yang datang kepada keluarga mereka dan meminjam uang untuk alasan tertentu, saat itu Gus Dur memberikan sejumlah uang kepada orang itu. Saat puterinya bertanya bagaimana jika orang itu berniat jahat dan menipu mereka, Gus Dur hanya menjawab tak masalah jika orang itu menipu mereka, asalkan tidak ada orang lain lagi yang menjadi korban penipuan. Itu berarti keluarga kita telah menyelamatkan oran lain, kenang puteri Gus Dur. Sungguh suatu pemikiran yang mulia. Tapi apakah aku bisa melakukan hal itu dan rela menjadi korban.

Tiba-tiba kulihat di FB ku Sonny, teman SMA ku muncul, kebetulan sekali dia sedang OL. Son, kamu masih inget sama Tania? Kumulai chat dengannya, berharap dia masih di situ dan segera membalas chat ku. Saat ini otakku tak bisa berfungsi dengan baik, jadi kubiarkan saja kertas-kertas yang masih menunggu dengan setia di mejaku. Biarlah aku korupsi waktu sebentar.

Ada apa sama Tania? Yes, Sonny membalas chatku. Saat SMA kami pernah sekelas dan tentunya Sonny juga mengenal Tania, maka tak salah jika aku bertanya padanya. Berbeda dengan Tania, aku dan Sonny masih sering berhubungan. Saat liburan semester kami biasa berkumpul dengan beberapa teman yang lain, sekedar ngobrol atau hang out.

Son, tadi dia SMS aku. Minta tolong minjem uang satu juta. Katanya kakeknya sakit. Dia ga kontak kamu?

Ga tuh. Terus?

Nah aku ga tahu beneran kakeknya sakit apa ga. Kasih ga ya? Kalau kamu jadi aku gimana? Dalam hati aku sedikit merasa bersalah karena telah berpikiran negatif tentang Tania, tapi toh bukankah uang bisa mengubah segalanya.

Wah, aku juga lagi ga ada duit. Aku juga ga tahu. Kalau menurutku sih, kalau kamu memang ada duit, ya seadanya saja. Ga harus sejumlah itu.

Ok Son. Aku kasih pinjam deh. Tiga ratus ribu. Aku ikhlas kalau ga balik.

Ok May, semangat ya. Biar Tuhan yang balas. Kuakhiri chat ku dengan Sonny dan segera kuraih HP ku dan kuSMS Tania. Tan aku adanya 300. Gimana? Akhirnya aku memutuskan meminjamkan uangku. Aku menganggap ini sebagai bantuan antar teman, atas nama persahabatan kami selama tiga tahun sewaktu SMA. Jika benar Tania menipuku, aku ikhlas jika uangku tidak kembali. Biarlah. Yang penting niatku baik. Soal uang itu digunakan untuk apa, biarlah itu pertanggung jawaban Tania kepada Tuhan.

Gpp May, thanks ya. Tolong transfer ke no rekening aku.

Ok, nanti pulang kerja aku transfer.

Itulah SMS terakhirku dengan Tania. Setelah kutransfer aku sempat mengirimkan SMS pemberitahuan kepada Tania dan menanyakan kabar tentang kakeknya. Tania membalas SMSku, dia berterima kasih atas bantuanku. Kini setelah satu tahun berlalu tiba-tiba saja dia muncul lagi.

Maaf ya lama balikinnya.

Ha5. Ok Tan. Kuketik no rekeningku. Aku tak peduli Tania mengembalikan uangku atau tidak, tak masalah. Aku sudah ikhlas. Dan dengan terbukti bahwa Tania berniat mengembalikan uangku, meskipun membutuhkan waktu satu tahun, itu sudah cukup bagiku, berarti waktu itu aku tidak salah mengambil keputusan. Aku tersenyum lalu meletakkan HP ku. Thanks Tania.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s