Churcing

Kenapa kita selalu ke gereja setiap Minggu, untuk apa dengerin kotbah kalau setelah pulang gereja nggak ingat apa yang dikotbahin tadi? Mending tidur aja di rumah.

Barangkali statement di atas merupakan statement yang biasa, bahkan sangat benar. Banyak orang, bahkan hampir semua orang tidak ingat apa isi kotbah yang barusaja didengarnya di gereja. Ketika ditanya biasanya hanya sebagian kecil saja yang diingat, ada juga yang sama sekali tidak ingat. So, bener dong kalau gitu untuk apa ke gereja, untuk apa dengerin kotbah kalau pada akhirnya lupa lagi?

Ada seorang teman yang pernah berkata padaku, untuk apa makan tiga kali sehari, untuk apa sarapan jika siang hari sudah lapar lagi, untuk apa makan siang jika nanti malam lapar lagi? Bukankah kedua hal tersebut serupa. Apakah jika setelah makan pada akhirnya kita lapar lagi itu berarti kita tidak usah makan saja, tidak demikian bukan? Meskipun kita tahu bahwa setelah sarapan kita akan lapar lagi, kita tetap saja srapan, bahkan tetap makan siang meskipun tahu bahwa nanti malam akan lapar lagi.

Makanan jasmani saat dimakan akan memberikan pertumbuhan, kehidupan bagi kita. Memang setelah makan nanti kita juga lapar lagi, tapi pada saat kita makan, makanan itu membuat kita hidup hari demi hari, memberikan nutrisi bagi tubuh kita dan membuat kita bertumbuh. Demikian halnya dengan makanan rohani, saat makanan itu diberikan kepada jiwa kita, maka kita juga mengalami pertumbuhan rohani. Memang setelah mendengar kotbah ada kalanya orang melupakan isi kotbah itu, tapi pada saat kotbah itu diberikan, jiwa kita mendapatkan makanan yang membuat kita mampu bertumbuh, sedikit demi sedikit. Pertumbuhan satu orang dengan yang lain tidaklah sama, tergantung bagaimana dia mengisi jiwanya dengan makanan rohani, semakin sering maka semakin pesat dia bertumbuh.

Ketika aku merengung barang sejenak, dan ketika aku berhubungan kembali dengan teman-teman sekolah dulu, aku menyadari bahwa kami telah sama-sama dewasa, baik tubuh maupun pikiran. Itu berarti bahwa sebenarnya orang tidak benar-benar 100% melupakan kotbah yang didengarnya di gereja. Secara tidak sadar, pola pikir kita terbentuk sedikit demi sedikit. Memang kita melupakan isi kotbah tapi esensi yang membuat jiwa kita bertumbuh tetap kita dapatkan. Mungkin alam bawah sadar kita merekam semuanya, meskipun alam sadar kita melupakannya. Well, untuk yang satu ini jelas bukan bagianku. Aku hanya berspekulasi. Tapi aku yakin jika kita membandingkan diri kita sekarang dan dulu tentu saja ada perubahan pola pikir, tapi kembali lagi itu terganutng bagaimana kita menyikapi makanan rohani yang diberikan bagi jiwa kita.

So, ke gereja, pulang dan melupakan kotbah tidak berarti kita tidak mendapatkan apa-apa dan melakukan hal yang sia-sia. Jiwa kita tetap bertumbuh, seperti halnya kita selalu makan tiap hari. Tetaplah lakukan itu dan akan lebih baik lagi jika kita tidak melupakannya. Happy Sunday…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s