Obrolan dengan sopir angkot…

Hari itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari kos teman, tentunya aku menggunakan kendaraan umum, lebih tepatnya angkot, coz di Jakarta ini aku sama sekali tidak punya kendaraan pribadi. How poor am I. Aku dan sopir angkot itu sesekali berbincang-bincang, awalnya kami memperbincangkan kemacetan, lalu kecelakaan yang terjadi di depan, lebih tepatnya dua mobil yang saling menyenggol sih, kemudian berlanjut calon presiden, hingga sampai pada masalah BBM. BBM dalam konteks ini adalah bahan bakar minyak, bukan blackberry messanger lho ya.

Awalnya dia bertanya kepadaku, “Mas setuju nggak kalau harga BBM dinaikkan?” Aku pun berpikir sebentar lalu menyatakan persetujuanku, pertimbanganku adalah harga minyak dunia yang memang telah meroket naik, maka sepantasnya harga BBM di Indonesia juga naik. Namun sopir itu memiliki pemikiran berbeda. Sebuah pemikiran yang cukup menarik dilontarkan oleh sopir angkot itu. Begini katanya, “Kalau saya nggak setuju Mas. Kasihan rakyat kecil. Kenapa nggak mobil-mobil yang plat hitam itu dilarang pakai premium. Kalau mobil-mobil nggak pakai premium kan subsidinya nggak besar. Sekarang ini siapa coba yang pakai subsidi, kan orang-orang yang pakai mobil. Kalau kaya saya sopir angkot gini dinaikin ya nggak bisa Mas, nggak bisa duitnya bayar angkot.”

Gambar

Omongan sopir itu membuatku berpikir, kalau dipikir-pikir betul juga, konsumsi pemakaian mobil tentunya jauh lebih boros daripada motor. Ada sebuah artikel pula yang menyebutkan bahwa dengan perbandingan konsumsi BBM, maka sesungguhnya subsidi BBM itu lebih dirasakan oleh orang yang bermobil daripada brmotor, apalagi yang berplat kuning. Dari beberapa pengalamanku saat bertandang ke pom bensin, memang aku melihat rata-rata orang bermobil mewah yang menggunakan premium. Well, harus diakui aku salah satunya, habisnya pakai mobil kantor dan bos bertitah untuk menggunakan premium, ya mau gimana lagi. Sebagai anak buah ikut kata bos. Tapi perlu dicatata TIDAK SEMUA orang bermobil bagus menggunakan premium. Ada juga yang menggunakan pertamax. Sayang aku tidak sempat mengambil gambar mobil dan penghuninya itu.

Sebuah pemikiran bagi kita, apakah dengan melakukan hal tersebut, bisa jadi dengan menggunakan BBM bersubsidi maka kita secara tidak langsung telah merampas hak rakyat kecil. Subsidi itu diberikan kepada orang yang tidak mampu, bukan orang yang mampu. Sebagai orang yang mampu sudah seharusnya kita berbagi dengan mereka yang tidak mampu, bukannya malah menelan hak mereka. Memang tidak mau munafik, aku juga bukan orang suci benar dan menggunakan premium juga untuk motorku dulu. Tidak memang mengubah pola pikir, harus perlahan dan step by step. Tapi dengan adanya kesadaran maka dapat diterapkan dalam perbuatan.

Gambar

Itulah sedikit hal yang kudapatkan dari sopir angkot yang kutemui minggu lalu. Just wanna share. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s