Sopir angkot

Fiuh, kutarik nafasku sembari memisahkan kertas di tanganku, kupisahkan kertas berwarna abu-abu dengan gambar Pangeran Antasari dengan Tuanku Imam Bonjol dari Sultan Mahmud Badaruddin II. Tumpukan kertas terbitan Bank Indonesia itu seakan kini sedang mengejekku karena aku tak berhasil mendapatkan Otto Iskandardinata. Sejak pagi hari tadi hanya kertas-kertas ini yang berasil kudapatkan, beserta beberapa keping koin. Sungguh menggelikan. Tanpa sengaja tangan kiriku menyenggol tumpukan koin yang telah kutata sebelumnya. Terdengar bunyi gemerincing logam yang beradu saat koin-koin itu berjatuhan ke lantai mobilku, suaranya seakan-akan turut menertawakan nasib burukku. Kupungut satu persatu koin demi koin itu lalu kuletakkan saja di dashbord mobilku.

“Bang, masih lama nggak jalannya? Gerah nih!” teriak seorang ibu dari bangku belakang. Kulirik orang-orang yang duduk di bangku belakang melalui spion tengah. Sudah ada beberapa orang. Tapi masih ada cukup tempat untuk dua orang lagi. Aku mulai bimbang, apakah aku harus melajukan mobilku sekarang, ataukah aku menunggu dua orang lagi, yang entah kapan akan datang. Kurasakan atmosfer di bangku belakang mulai memanas. Aku yakin orang-orang itu mulai tidak sabar. Barangkali bagi mereka dua orang itu tidak berarti, yang penting mereka bisa segera tiba di tujuan. Aku tahu waktu mereka begitu berharga, demikian juga bagiku. Tapi dua orang itu juga berharga bagiku, setidaknya bisa menambah beberapa ribu rupiah dalam sekali jalan.

“Lama!” seru ibu yang tadi meneriakiku. Kulirik melalui spion tengah, ibu itu berdiri lalu keluar turun. Aku tersenyum getir. Terbayang sudah beberapa ribu melayang. “Jalan saja Bang!” pintu siswa sekolah yang duduk di sebelah kiriku. Akhirnya mau tak mau aku mulai menarik tuas rem, dan menekan pedal gas kuat-kuat sembari mengangkat kopling dan mendorong maju persneleng. Kulajukan mobil kuningku dengn kecepatan yang agak tinggi. “Pelan-pelan saja Bang!” kembali siswa sekolah di sebelah kiriku bersuara. Kutekan sedikit pedal rem.

Jalanan mulai padat. Di Jakarta, kemacetan bukanlah hal yang aneh. Sudah lazim terjadi. Menit demi menit mulai meninggalkanku. Aku tak mau terjebak dalam kemacetan. Waktu itu uang. Aku setuju dengan kalimat itu. Dan aku tak mau kehilangan waktu yang berharga. Kehilangan waktu sama saja dengan kehilangan uang.

Kuambil jalur kiri, kemudian kuterobos trotoar yang agak rendah sehingga roda mobilku masih bisa seimbang. Kudengar beberapa orang di bangku belakang berdecak marah. Aku tahu mereka tidak nyaman, tapi tidak usah munafik. Aku juga tahu mereka tidak suka dengan kemacetan. Meskipun mereka menghina caraku menyetir tapi di sisi lain mereka juga menyukainya, apapun itu asalkan mereka bisa cepat sampai di tujuan.

Sempat kudengar juga pengemudi mobil yang melontarkan cacian saat mereka membuka kaca mobil mereka. Wow, aku merasa tersanjung, setidaknya mereka mau repot-repot membuka kaca mobil dan menyapaku, meskipun dengan kata-kata kasar. Tak apalah. Aku sudah biasa. Sirik tanda tak mampu. Itulah prinsipku. Mungkin mereka menilaiku tak tahu cara mengemudi, juga mempertanyakan bagaimana caraku mendapatkan SIM. Justru aku sangat mengerti bagaimana mengemudi, bagaimana memanfaatkan BBM. Terjebak macet berarti membiarkan mobilku tetap menyala meskipun tidak melaju, itu sama artinya dengan membuatku kehilangan bahan bakar. Apalagi harga BBM telah melambung tinggi. Uang yang kudapatkan tak sanggup lagi menutupinya, apalagi aku masih harus membayar biaya sewa mobil.

Karena itulah aku nekat mengambil jalan pintas. Justru karena aku sangat yakin pada kemahiranku berada di belakang kemudi maka aku melakukan hal ini. Dalam beberapa menit aku melewati puluhan mobil yang berkutat dalam kemacetan. Maafkan aku karena membuat kalian marah dan dongkol, membuat kalian iri padaku. Tapi jujur aku juga butuh makan. Aku harus mengejar setoran. Sesungguhnya ku juga iri pada kalian, tidak perlu melanggar peraturan lalu lintas.

“Kiri Bang!” bapak yang duduk di bangku belakang berteriak sambil mengetuk-ngetuk kaca. Ok, kutepikan mobilku. Bapak itu turun kemudian melemparkan selembar kertas bergambar Pangeran Antasari. Aku tersenyum getir. Beginikah caranya menghargai jasaku? Aku tahu aku hanyalah seorang sopir angkot yang berkutat dengan jalanan setiap hari, tapi aku juga manusia dan aku tahu bagaimana caranya berusaha melayani penumpang, meskipun jutaan orang di luar sana tak sependapat denganku, bahkan cenderung memandang hina aku. Tak apalah. Aku tahu aku hanyalah seorang sopir angkot. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s