Kavling rumah masa depan

“Sis, ayo nanti keretanya keburu penuh!” seru Anya sambil menarik tangan Siska yang masih asyik berdiri di peron Stasiun Tanah Abang. Sedangkan yang diajak bicara hanya memandangi kereta commuter berwarna oranye, biasanya orang-orang juga menyebutnya KRL, yang tengah berjalan perlahan memasuki stasiun tersebut.

“Sis, ayo dong, aku nggak mau sampai berdiri,” pinta Anya dengan tatapan memohon. Siska hanya tersenyum tipis sambil menggerakkan kedua kakinya mengikuti langkah Anya. Sebenarnya Siska malas berdesak-desakan dengan puluhan orang lain yang juga berniat memasuki kereta itu. Baginya masuk sekarang atau nanti sama saja. Toh biasanya dia juga tidak mendapatkan tempat duduk karena bangku-bangku yang disediakan sudah terisi oleh penumpang yang naik di stasiun-stasiun sebelumnya. Namun melihat Anya yang antusias, Siska hanya mampu tersenyum. Ini pertama kalinya Anya naik kereta. Biasanya dia selalu pergi diantar sopirnya, tentunya dengan mobil pribadi keluarganya. Siska tak tahu ada angin apa yang membuat Anya tiba-tiba berniat mencicipi kendaraan umum.

“Sekali-sekali nggak apa-apa kan Sis, kalau nggak ada Pak Aji gimana donk?” jawab Anya saat Siska menyatakan keheranannya terhadap sikap Anya yang menghendaki bepergian dengan menggunakan transportasi umum hari itu.

“Yah, kita nggak dapat tempat duduk. Penuh semua,” keluh Anya. Kini mereka tengah berdiri berhimpitan bersama beberapa orang lain yang senasib dengan mereka. Sama-sama berdiri di dalam kereta.

“Nyesel nih?” goda Siska.

“Nggak kok. Malah asyik.” Jawaban Anya dijawab kembali oleh gelengan kepala Siska. Sepanjang perjalanan menuju ke Stasiun Serpong Anya nampak menikmati pengalaman pertamanya naik KRL.

“Sis, Sis, lihat itu deh, bagus ya?” tunjuk Anya saat mereka melewati tanah kosong yang menghijau.

“Sis, Sis, lihat itu. Kasihan ya orang-orang itu,” tunjuk Anya saat mereka melewati rumah-rumah rapuh di sepanjang jalur kereta. Siska hanya tersenyum, mungkin bagi Anya ini adalah pengalaman pertamanya melihat kebun-kebun kosong di sisi kanan kiri jalur kereta maupun rumah-rumah reyot di sepanjang jalur kereta, tapi bagi Siska itu sudah biasa.

“Sis, Sis, lihat itu. Keren ya?” tunjuk Anya saat mereka melewati sebuah tempat yang sebenarnya menurut Siska sangat jauh dari kata keren.

“Lu baik-baik saja kan An?”

“Emang gua sakit? Lihat tuh keren kan,  kayak kavling saja.” Mata Siska kembali menelusuri pemandangan di sisi kanannya. Benar juga kata Anya, memang gundukan tanah beserta batu nisan itu ditata rapi, seperti kavling rumah saja.

“Rumah masa depan kita Sis.”

“Lu ngomong apa sih An?” tanya Siska sambil terus mengawasi kavling nisan yang mulai nampak menjauh, kabur tertutup oleh pohon-pohon. Kereta yang mereka naiki telah meninggalkan pemakan itu.

“Tapi bener kan kata gue, kayak kavling rumah tuh susunannya, berpetak-petak, terus berdempet-dempet lagi.”

“Ngaco lu,” timpal Siska asal. Kemudian Siska menghabiskan sisa perjalan mereka dalam diam. Tak dipedulikannya Anya yang terus mengomentari pemandangan di sisi kiri kanan mereka.

“Sis, sudah sampai. Nggak turun?” tanya Anya, membuat Siska kembali dari lamunannya. “Kamu mikir apa sih Sis? Omonganku yang tadi ya?” Siska hanya diam. Anya memang luar biasa, Siska sering bertanya apakah jangan-jangan Anya memiliki kemampuan membaca pikiran, seperti Edward Cullen dalam Twilight Saga.

“Omonganmu bener sih An. Rumah masa depan kita.”

“Hahaha Sis, Sis. Nggak usah dipikirin. Memang benar, semua orang pasti meninggal. Jika ada satu hal yang pasti dalam hidup ini maka itu adalah kematian. So what? Ngapain dipikirin. Yang penting bagaimana kita mengisi hari-hari kita supaya nanti kita siap menyambut hari H tersebut,” cerocos Anya. “Perlu diingat itu Sis bahwa hidup kita akan berakhir di kavling itu. Maka dari itu, lu harus jalani hidup lu sebaik mungkin, jangan sampai ada penyesalan nantinya karena lu udah habisin waktu lu buat hal-hal yang nggak penting.”

Siska hanya mampu mendengarkan Anya yang terus berbicara dengan panjang lebar. “Iya Bu Guru. Sudah belum ceramahnya.” Kemudian tawa mereka berderai. “Rasanya gue harus sering-sering lu bawa keliling Jakarta naik kendaraan umum deh, biar lu tambah bijak,” ujar Siska di sela-sela tawanya.

 Ya, Siska akan mengingat kavling rumah masa depannya. Jalani hidup hari ini untuk hari esok, dan Siska akan mempersiapkan dirinya untuk menyambuk hari itu. Hari yang tak dia ketahui kapan datangnya. Dalam hati dia memastikan bahwa jika hari itu tiba, tak ada penyesalan lagi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s