Si Budi

Aku menarik nafas panjang sambil menyandarkan tubuhku ke punggung kursi. Masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Aku harus menyortir file demi file, membaca data-data yang diberikan oleh anak buahku, mengkoreksinya sebelum menyerahkannya kepada bosku. What a bore job. Kulihat meja-meja di barisan depan sudah kosong, ditinggalkan penghuninya. Oh sheet, sudah jam enam lewat. Pantas saja kantorku nampak lengang. Karena sibuk berkencan dengan laptop aku sampai lupa waktu.

Si budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan


Kudengar lagu yang berasal dari meja sebelah kananku. Rupanya masih ada beberapa orang yang bertahan di kantor ini. Adi, pemilik komputer yang bernyanyi itu. Rupanya dia telah memasang speaker pada komputernya, ralat komputer kantor. Memang sih, sudah bukan jam kerja lagi, maka tak ada salahnya memutar lagu. Lagipula hampir seluruh karyawan sudah pulang.

Sebenarnya cukup sering aku mendengar musik mengalun usai jam kerja. Well, karena aku workaholic dan aku cukup sering lembur, meskipun sebenarnya itu bukan kemauanku. Aku terpaksa, oke, sekali lagi aku terpaksa. Pekerjaanku mengharuskan aku berlama-lama menghabiskan waktu bersama laptopku yang kuberi nama Charlene. Barangkali kalian menganggapku gila, but it’s ok. Toh bukan hanya aku yang menamai barang-barangku. Ketika kuliah dulu aku juga memiliki teman-teman yang menamai barang-barangnya. Singkatnya, penyakit itu menular hahaha…

Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Aku berdiri, meraih gelas di mejaku dan membawanya ke dispenser yang berada di sudut ruangan, tepat di depan meja Adi. Kutuangkan air panas ke dalam gelasku, lalu merobek kopi sachet yang tersedia di dekat dispenser itu. Plastik kopi itu kulinting kemudian kugunakan untuk mengaduk kopiku. Aku berdiri menghadap ke luar sambil menghirup kopi ku. Dari balik dinding kaca ini aku melihat butiran-butiran air yang turun menerjang tanah, beberapa dari mereka menerjang dinding kaca, menimbulkan titik-titik air, lalu mengalir ke bawah, meninggalkan garis berliku. Tanpa sadar tangan kiriku memeluk lengan kananku yang masih memegang gelas berisi kopi. Hujan di luar sana sepertinya membuat aku merasa kedinginan, padahal suhu ruangan ini tidak berubah dari tadi.

“Belum pulang Pak?” tanya Adi sambil berdiri dari kursinya sementara senandung Iwan Fals masih terus mengalun.

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si budi murung menghitung laba

“Belum Di. Masih belum kelar tuh kerjaan. Lu sendiri belum pulang? Lembur?”

“Nggak sih Pak. Nungguin hujan,” jawabnya sambil tersenyum. Dia mengisi gelasnya lalu kembali duduk di kursinya. Dalam hati aku iri kepadanya. Adi selalu nampak ceria, seakan-akan tak ada beban, padahal aku tahu pekerjaannya juga tidak mudah. Well, dulu aku berada di posisinya, sebelum aku naik pangkat. Jujur aku malas sekali mengerjakan pekerjaanku itu. Oleh karena itu aku heran saat mendapat promosi dan aku berhasil naik pangkat.

Kini aku menjadi manager, tapi tidak berarti pekerjaanku lebih ringan. Absolutely no! Malah semakin bertambah banyak dan membosankan. Aku harus memeriksa pekerjaan anak buahku, mengoreksi pekerjaan mereka, membuat laporan, mendapat amukan bos jika pekerjaan divisiku tidak menunjukkan perkembangan. What a great responsibility. But for me, it’s a heavy burden.

Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Kembali aku duduk di mejaku. Tak ada niat lagi untuk melanjutkan kencanku yang sempat tersela oleh segelas kopi. Aku malas. Aku frustasi. Aku lelah. Inikah rasanya dunia nyata? Dunia kerja yang berat dan kejam. Setiap hari aku berangkat pagi-pagi benar, bahkan kadangkala sebelum fajar merekah di ufuk timur, dan sering, bahkan hampir selalu, aku pulang saat senja telah naik ke peraduan, saat gelap kembali menampakkan pesonanya. How a wonderful life, kataku sinis.

Alih-alih menyelesaikan pekerjaanku, telingaku malah terpikat oleh suara serak Bang Iwan Fals. Entah mengapa sejak tadi aku mendengarkan lagu ini perasaanku menjadi sedikit kacau. Kuletakkan kedua telapak tangaku di atas kepalaku, lalu bersandar ke kursi, mencoba menggali memory masa lalu. Well, nasibku boleh dibilang tidak seburuk Si Budi, jika memang Si Budi itu benar-benar ada. Tapi aku yakin ada banyak Budi di luar sana yang bernasib malang, bahkan di tengah sore hari, di kala hujan deras seperti ini, tadi aku sempat menangkap sosok anak-anak yang berlalu lalang di perempatan jalan, saat aku memandang keluar melewati dinding kaca kantorku.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Tanpa kusadari air mataku meleleh. Aku beruntung tidak mengalami hal itu. Keluargaku bisa dibilang berkecukupan. Sejak kecil aku hidup nyaman. Apa yang aku minta pasti selalu diusahakan oleh orang tuaku. Aku bahkan tak perlu membanting tulang bekerja untuk menyambung hidup, bahkan sampai kuliah sekalipun. Aku selalu mengatungkan kedua tanganku dan orang tuaku selalu memberikan apa yang aku butuhkan.

Tapi kini segalanya berbeda. I have to work. Aku benci mengakuinya, tapi aku tak bisa selamanya menjadi anak-anak, tak bisa selamanya bergantung pada orang tua. So what? C’mon. Life must go on. Aku mulai tersadar, betapa menyedihkannya aku ini. Aku sama sekali tak pernah bersyukur atas pekerjaanku. Bukankah seharusnya aku bersyukur jika aku bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Bukankah seharusnya aku bersyukur di usiaku yang masih muda aku sudah memiliki posisi yang dianggap cukup bergengsi. But, what have I done?

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

Aku sama sekali tidak bersyukur. Aku bahkan terus mengeluh atas hidupku yang kuanggap membosankan, pekerjaanku yang kuanggap berat, kosku yang sempit, kemacetan Jakarta dan masih banyak lagi. Padahal apa yang kumiliki saat ini tentunya diinginkan oleh orang lain. Aku sadar betul bisik-bisik di antara rekan-rekan kerjaku yang mempertanyakan kapabilitasku dalam perusahaan ini. Aku memang masih cukup muda, tapi seharusnya hal itu tidak menjadi masalah. Kualias pekerjaan orang tidak ditentukan oleh banyaknya usia yang dimilikinya, tapi dari kemampuan orang tersebut. Dan, aku merasa bosku menganggapku sanggup, buktinya beliau mempromosikanku daripada orang lain yang usianya jauh di atasku.

Seharusnya hal itu bisa menambah lagi alasanku untuk bersyukur atas hidupku, bukannya malah mempertanyakan nasib baikku atau malah mengutukinya. How stupid I am. Aku tak bisa melihat apa yang kumiliki. Aku malah iri kepada orang lain. Aku iri kepada  Adi karena aku tak bisa bersikap santai seperti dia. Aku iri kepada rekan-rekan kerjaku yang selalu pulang on time. Aku iri pada bosku yang hanya menampakkan diri di kantor dua atau tiga hari dalam seminggu.

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si budi sibuk siapkan buku

Air mataku mengalir semakin deras. Aku kagum pada Si Budi. Aku tahu di luar sana ada milyaran Si Budi yang bernasib kurang beruntung. Sedangkan aku? Aku hanya orang bodoh yang tak tahu apa arti hidup ini tapi berani menantang hidup, berani melontarkan kata-kata kepada hidup itu sendiri. Aku merasa hidupku lah yang paling berat. Masalahku yang paling banyak. But I know, it’s not true.

Melihat diri sendiri dan meratapi nasib membuatku tak bisa melihat dunia sekitarku. Ada banyak hal-hal yang patut dan pantas disyukuri. Aku memiliki kamar kos yang sempit, itu artinya aku masih memiliki uang untuk membayar kos, sementara ada banyak orang di luar sana yang tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit bertabur bintang. Aku memiliki bos yang dengan rajin mengomeliku, itu artinya aku masih memiliki pekerjaan, sementara ada banyak orang yang kebingungan mencari kerja atau orang yang bernasib sial karena di PHK. Aku masih bisa mengomel karena makanan yang kumakan tak lezat di lidah, itu artinya aku masih bisa makan tiga kali sehari, sementara ada banyak orang yang tidak bisa makan bahkan satu kali sehari.

Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si budi diam di dua sisi

“Pak, masih lama? Saya mau pulang dulu,” kata Adi dari mejanya. Volume suaranya agak keras agar bisa mencapai mejaku.

“Eh Di, sudah mau pulang? Emm, lagunya biarin aja ya. Nanti komputer lu gua matiin. Nggak apa kan?”

“Iya Pak. Hujannya nggak reda-reda. Saya terobos saja. Ok Pak.  Biar nggak bosen ya, dengerin lagu?” Aku hanya tersenyum tipis sambil memandang punggungnya yang menghilang di balik pintu. Semoga Adi tak menyadari bahwa mataku merah dan sedikit berair.

Hidup ini memang berat tapi tidak berarti aku harus menyerah. Justru aku harus berjuang, bersama milyaran Budi yang berjuang menghadapi hidup yang keras, tanpa mengeluarkan kata-kata keluhan yang ditujukan pada Sang Pemberi Hidup.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

Kuseka air mataku dengan punggung tanganku. Berhenti mengasihani diri sendiri. Berhenti mengeluh. Aku tidak sendiri menghadapi hidup ini. Ada Si Budi, teman kecil yang menemaniku. Teman kecil yang lebih kuat dan lebih hebat dari aku. Aku tak mau kalah dari Si Budi. I have already decide it.

Kututup laptopku dan menuju ke meja Adi. Kumatikan komputernya setelah Bang Iwan menyelesaikan lagunya. Di luar sana hujan masih turun dengan derasnya, benar kata Adi. Tapi aku tak mau kalah. Ada satu tempat yang ingin kutuju. Tempat di mana aku pernah menghabiskan masa kecilku. Tempat yang membuatku ingat untuk bersyukur karena aku pernah dan masih memilikinya. Si Budi saja rela berhujan-hujan menjajakan koran. Apakah aku rela membiarkan diriku dikuasai rasa malas dengan dalih hujan.

Kuucapkan salam kepada beberapa orang yang masih bertahan di mejanya. Setidaknya ada rekan-rekan kerjaku yang harus rela pulang lebih malam daripada aku, itu membuktikan pekerjaanku tidak lebih berat daripada mereka. Tak lupa kuucapkan sampai jumpa kepada Si Budi. Dan mulai hari itu Bang Iwan resmi menambah salah satu jajaran penyanyi favoritku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s