I think I should say I’m in love

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Rama kepada seorang gadis yang sedang duduk sendiri di bangku belakang halaman sekolah. Gadis itu pun menangguk.

“Belum pulang? Gimana ulangan fisika tadi? Rama mencoba berbasa-basi, sekedar membuka percakapan.

“Aku masih nunggu jemputan,” jawab remaja itu. “Dan soal ulangannya, cukup sulit sih, semoga nilaiku bagus,” harapnya sambil tersenyum kepada Rama. “Kamu sendiri, kok belum pulang?”

“Emm, lagi belum pengin pulang aja,” jawab Rama sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Jelas dia berbohong. Sebenarnya Rama berniat pulang tapi dia mengurungkan niatnya saat dilihatnya sesosok makhluk rupawan sedang duduk sendiri di taman belakang sekolah.

“Ada yang mau kamu bicarakan?” tanya remaja putri itu sambil menatap tajam mata Rama. Deg, jantung Rama seakan berhenti berdetak. Pertanyaan to the point yang dilontarkan lawan bicaranya itu benar-benar tepat sasaran.

“Emm, sebenarnya ada yang mau bicarakan, San,” kata Rama lirih, matanya menatap ke arah kucing berbulu putih yang kebetulan lewat di depan mereka.

“Maka bicaralah.”

“Begini San, ee, aa, ee, aa..” Entah mengapa tiba-tiba lidah Rama kelu.

“Sebenarnya apa yang mau kau katakan Ram, jangan ee, aa, ee, aa. Apakah kucing yang baru saja lewat tadi mencuri lidahmu?” tanya remaja itu tak sabar. Kini matanya mengikuti kucing putih yang menghilang di balik semak-semak.

“Aku, aku suka sama kamu, Santi.” Akhirnya meluncur juga kata-kata yang sejak tadi membuat dada Rama dag dig dug tidak karuan. Rama menunduk, tak berani menatap Santi, saat ini dia yakin wajahnya pasti lebih merah daripada tomat di kebun belakang sekolah.

“Ohh…” Hanya kata itu yang meluncur dari mulut Santi, meskipun sebenarnya dari tadi dadanya bergema tak kalah kencang, jika saja Rama dapat mendengar deru dada Santi.

“Ha? Kok cuma ohh?” tanya Rama sambil mengangkat kepalanya, untuk beberapa detik mata mereka bertemu.

“Apa aku harus bilang Wow gitu terus guling-guling?” tanya Santi sambil tertawa renyah. Dalam hati dia heran mengapa dirinya bisa sesantai itu menghadapi seorang Rama, cowok yang entah sejak kapan mulai mencuri perhatiannya itu.

“Ya enggak sih,” jawab Rama singkat.

“Lalu?” tanya Santi lagi.

“Lalu apa?”

“Kok ditanya malah balik nanya.” Santi mulai gemas melihat sikap Rama. Kamu tuh cowok Rama, teriak Santi dalam hati.

Rama kembali menggaruk kepalanya yang masih juga tak gatal. “Aku cuma mau bilang itu saja ke kamu.”

“Kamu nggak lagi nembak aku kan? Kalau kamu lagi nembak aku, ini acara nembak paling geje yang pernah aku alami.” Santi merasa ada yang salah dalam ucapannya karena dia belum pernah sekali pun ditembak cowok, jadi sebenarnya ini pertama kalinya dia ditembak dan dia merasa cara Rama itu sama sekali tidak jelas. Sepertinya Santi harus mengarahkan alur pembicaraan mereka ke jalur yang benar. “Apa kamu mau minta aku jadi pacarmu?” tanya tanpa malu-malu, meskipun dalam hati dia berteriak memaki-maki dirinya yang tak tahu malu, seharusnya Rama yang mengatakannya, memintanya menjadi pacar cowok itu.

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?” Kali ini Santi merasa pembicaraan mereka benar-benar tidak jelas arahnya. Dia sudah berusaha mengarahkan ke jalur yang menurutnya tepat tapi Rama kembali lagi membanting stir keluar dari jalur. Apa sih maunya Rama ini, batin Santi.

“Aku nggak bermaksud membuatmu bingung. Maaf kalau aku tiba-tiba membuatmu bingung. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku suka kamu. Itu saja. Aku nggak berniat pacaran dulu, belum.”

“Oke, aku mengerti,” tukas Santi. Dalam hati dia lega karena Rama tidak memintanya menjadi pacar cowok itu. Santi juga bingung harus menjawab apa seandainya Rama benar-benar menembaknya. Percakapan dengan kakaknya telah memantapkan Santi untuk tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis untuk saat ini.

“Sungguh, kamu orang yang istimewa, kamu yang terbaik, hanya saja aku belum berniat pacaran. Aku bingung, tapi kupikir aku harus mengatakannya. Aku hanya ingin mengatakan isi hatiku. Semoga kamu tidak tersinggung.”

“Sama sekali tidak. Kan sudah kubilang aku mengerti. Jujur aku juga suka kamu,” kata Santi dengan wajah merona. Kini dia benar-benar akan memaki-maki dirinya, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu. “Tapi aku sudah memutuskan untuk nggak pacaran dulu. Tadi pagi aku membahas hal ini dengan kakakku dan aku merasa kita, aku, belum siap,” lanjut Santi cepat.

“Kemarin aku juga ngobrol dengan papaku,” Rama menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit biru yang cerah.  “Aku juga merasa kita masih terlalu muda. Masih ada banyak hal yang ingin kukerjakan. Aku ingin menjadi dokter. Kupikir saat ini aku harus lebih memikirkan masalah itu.”

“Aku ingin jadi presiden,” kata Santi mengikuti jejak Rama, memandang langit biru.

“Ha?” Rama menoleh ke arah Santi.

“Kenapa? Bukankah Ibu Mega pernah menjadi presiden. Kurasa wanita juga bisa menjadi presiden.” Ujar Santi Sambil terus memperhatikan setitik awan putih di tengah langit yang biru.

“Hanya saja, aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau kau menjadi presiden. Dan bagaimana aku menjadi suami seorang presiden?” Upps, Rama merasa kalimatnya konyol sekali. Dia cepat-cepat membuang pandangannya kembali ke langit biru.

“Hahaha… tak usah dipikirkan. Kakakku benar, kita masih belum cukup dewasa untuk menjalani hubungan yang serius. Membayangkannya saja aku juga tidak tahu. Kita jalani saja apa yang ada sekarang. Kita masih SMA, banyak hal yang ingin dicapai bukan? Aku senang bisa ngobrol denganmu.”

“Aku juga,” ujar Rama.

“Rama dan Santi, kurasa sedikit kurang cocok. Seharusnya Rama dan Sinta. Tapi kita bisa menjadi teman baik.”

“Iya, teman baik.” Rama tersenyum saat mengatakannya. “Sekarang kita menjadi teman baik.”

“Bukankah memang dari dulu kita berteman?”

“Iya sih. Dulu dan sekarang, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Semoga kita terus menjadi teman baik, dan semakin baik.” Kata-kata Rama membuat wajah Santi merona.

Tiba-tiba HP Santi berdering. Ada panggilan dari kakaknya, sepertinya sudah waktunya Santi meninggalkan tempat itu dan mengakhiri pembicaraan mereka.

“Ram, aku pulang dulu ya. Jemputan sudah datang,” pamit Santi sambil bangkit berdiri. “Oh ya, kakakku berpesan hati-hati kalau naik motor, kalau sampai kau kenapa-kenapa besok kita tak lagi menjadi teman baik, dan tak akan pernah bisa semakin baik,” ujar Santi, meniru ucapan Rama. Rama menggaruk-garuk kepalanya yang masih juga tak gatal sambil tersenyum malu.

Santi mulai melangkahkan kakinya dan mendekatkan HP nya ke telinganya. Sebelum dia menempelkan barang itu di telinganya, dia masih sempat mendengar ucapan Rama, “Hati-hati San, sampai ketemu besok. Dan aku rasa Rama nggak harus sama Sinta. Kalau adanya Santi gimana? Rama dan Santi boleh juga kok…” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s