Aku masih mencintainya… (her version)

Dona memasuki area parkir motor dengan tak sabar. Dia menoleh ke kanan-kiri, mencari tempat yang kosong di antara puluhan motor yang memenuhi tempat itu. Dilihatnya di sudut sebelah kiri terdapat tempat yang cukup untuk dua buah motor. Tak menunggu lebih lama lagi, Dona segera mengarahkan motornya ke tempat itu, mengikuti pengendara motor di depannya yang sepertinya memiliki pikiran yang sama dengannya. Tak apalah, pikir Dona. Masih cukup untuk dua buah motor. Dona menunggu saat pengendara motor di depannya memarkirkan motornya. Wanita yang duduk di boncengan, karena Dona melihat rambutnya yang panjang dan rok yang dikenakannya, turun terlebih dulu, memberikan kesempatan kepada orang yang mengendarai motor, dilihat dari pakain yang dikenakannya pastilah dia seorang laki-laki, untuk memarkirkan motornya.

Dona menunggu tak sabar. Diperhatikannya saat wanita itu membuka helmnya, ternyata seorang wanita paruh baya. Wanita itu tersenyum kepada Dona, dan mau tak mau Dona membalas senyumnya, setidaknya Dona masih tahu adat istiadat sebagi orang timur. Dona mengalihkan pandangannya kembali kepada laki-laki yang mengendari motor tadi. Kini dia telah memarkirkan motornya dengan tepat, dan masih ada cukup tempat untuk motor Dona masuk ke samping motor pasangan itu, Dona menebak mereka adalah sepasang suami-istri paruh baya. Dona tersenyum singkat saat sang laki-laki memberikan senyumnya.

Tak perlu waktu lama bagi Dona untuk memarkirkan motornya. Setelah memastikan dia mengambil kunci kontak motornya, Dona berjalan menuju pintu masuk toko buku itu. Pasangan paruh baya itu tepat berjalan di depannya. Dona memperhatikan tingkah pasangan itu. Sang laki-laki nampak membimbing sang wanita, yang merangkulkan tangannya pada lengan sang laki-laki. Mereka berjalan perlahan, sangat pelan. Sebenarnya Dona bisa saja berjalan mendahului mereka, tapi melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya, entah dari mana timbul kesabaran yang sangat kuat dalam diri Dona. Dia terus berjalan di belakang pasangan itu sambil memperhatikan mereka. Saat menaiki tangga, sang laki-laki kembali membimbing sang wanita, dan mereka tak henti-hentinya saling tersenyum. Sungguh romantis, pikir Dona. Sayangnya Dona harus berpisah dengan pasangan itu saat mereka tiba di pintu masuk toko buku. Pasangan itu berjalan arah yang berlawanan dengan arah yang dikehendaki Dona.

Dona berjalan menuju ke meja display yang menyediakan tumpukan buku-buku best seller. Hari ini Dona berencana membeli beberapa novel untuk mengisi waktu liburannya. Diperhatikannya judul buku yang terhampar di sana. Dona mengambil beberapa buku, membaca resumenya, lalu meletakkannya kembali. Dia tidak tahu buku apa yang ingin dibelinya. Sepertinya minatnya membeli buku menguap begitu saja. Pikirannya kembali kepada pasangan paruh baya yang tadi dijumpainya. Mereka sungguh romantis, bahkan di usia senja mereka masih saling memperhatikan. Dona mengambil sebuah novel. Dibacanya judul novel itu, “Waterfall.” Pada cover novel itu terdapat gambar sesosok laki-laki dan perempuan yang berdiri membelakanginya, memandang air terjun yang mengalir dengan indahnya. Tiba-tiba saja wajah orang itu melintas dalam benak Dona. Dona memandang cover novel itu lekat-lekat seakan berusaha menelusurinya, mencoba menemukan wajah yang baru saja melintas dalam benaknya.

Dona mengeluarkan HP nya dari kantong celanya, melihat barangkali ada SMS atau panggilan tak terjawab. Tidak ada. Layar HP nya masih bersih dari notifikasi apa pun. Kenapa tak ada SMS darinya, tanya Dona kepada dirinya sendiri. Dia membuka kontaknya, menelusuri satu demi satu hingga berhenti pada nama Doni. Ya, dialah pemilik wajah yang baru saja melitas di benak Dona. Apakah aku harus mulai dahulu?

Dona meletakkan novel itu ke tampat asalnya. Kini dia berjalan menuju kafe yang berada di seberang counter, di sisi lain toko buku itu. Dona memesan juice jeruk dan sepotong kue black forest. Sepi rasanya. Tak biasanya Dona bepergian sendiri. Biasanya dia selalu meminta Doni menemaninya. Dona memandang keluar melewati curtain wall kaca, memandang langit biru. Dia memang sengaja memilih duduk di dekat curtain wall itu sehingga bisa menikmati pemandangan di luar.

Dona memutar ingatannya mundur beberapa hari yang lalu, saat dia bertengakr dengan Doni. Saat itu Doni terlambat menjemputnya ke pesta ulang tahun Maya. Sudah hampir satu jam Dona menunggu, hingga akhirnya Doni muncul di teras dengan motor gedenya. Dona bertambah kesal saat melihat kostum yang dikenakan Doni, kaus oblong dipadu dengan celana jeans dekil dan jaket kulit lengkap dengan sepatu kets. Kontras sekali dengan Dona yang mengenakan gaun dan higheels. Karena tak memiliki waktu lagi untuk berdebat maka Dona segera menyambar helm yang diserahkan Doni. Alhasil hari itu mereka datang terlambat, bahkan pesta sudah hampir selesai saat mereka tiba di sana. Betapa malunya Dona. Bukan hanya datang terlambat, bahkan pasangannya muncul dengan pakaian seadanya.  Apalagi Maya adalah sahabat dekat mereka. Maya sebenarnya tidak mempermasalahkan sikap Doni, karena dia sudah mengenal watak sahabatnya itu. Lagipula kondisi jalanan kota Jakarta yang rawan dengan kemacetan memang tak dapat diprediksi. Namun tidak demikian halnya dengan Dona yang tak bisa memaklumi ulah Doni. Malam itu Dona marah besar, bahkan dia tak berbicara sepatah kata pun saat Doni mengantarkannya pulang.

“Maaf Don, aku lupa. Tadi aku jalan dengan Yuda, waktu kamu telpon. Begitu kamu telpon aku segera meluncur kemari,” jelas Doni. Tapi pintu maaf Dona sudah terkunci rapat. Semua permintaan maaf Doni tak mampu mengetuk pintu hati Dona. Bahkan Dona membanting pintu rumahnya begitu dia tiba di rumah, tak memberikan kesempatan kepada Doni untuk masuk ataupun mengucapkan selamat malam.

Kurasa sikapku keterlaluan, pikir Dona sambil menghisap juice jeruknya. Sepertinya Doni benar-benar marah. Tapi memang sudah sewajarnya aku marah. Bukan sekali dua kali Doni melupakan janjinya dengan Dona. Doni memang pelupa dan sangat tidak tepat waktu. Sering Dona harus menunggu Doni saat mereka jalan bersama. Selain itu sikapnya yang cuek dan terkesan seadanya sering membuat Dona malu saat mereka jalan bersama. Doni kurang memperhatikan style pakaiannya. Buat apa beli baju baru kalau yang lama masih bisa dipakai, alasan Doni saat Dona mendesaknya untuk membeli beberapa potong baju sewaktu mereka jalan di mall. Baju itu yang penting nyaman dipakai, soal merk itu nomor dua, bantah Doni kala itu. Dona tak mampu mengubah pendirian Doni. Meskipun terkesan santai, tapi Doni memiliki watak yang keras, apalagi menyangkut prinsip hidup.

Dona menyendok kue black forest yang terhampar di hadapannya, kemudian memasukkan potongan kue itu ke mulutnya. Kini setelah tiga hari tak bertemu Doni, atau pun mendengar kabar darinya, Dona marasa ada sesuatu yang kurang. Tadi pagi dia sempat meminta Ana, Riko, Evan, Sinta, bahkan Dika untuk menemaninya keluar hari itu, tapi mereka telah siap dengan alibinya masing-masing untuk menolak permintaan Dona. Sempat terpikir oleh Dona untuk mengajak Maya, tapi Dona tak mau menjadi sasaran interogasi Maya. Maya itu seperti memiliki kemampuan membaca pikiran orang, dan jika dia tahu peta ulang tahunnya menjadi biang kerok persengketaan Dona dan Doni pasti Maya merasa tak enak.

Selama tiga hari ini Dona sama sekali tak berkomunikasi dengan Doni. Karena sedang liburan semester, mereka pun juga tidak bertemu di kampus. Apakah ini berarti kami putus, kembali Dona bertanya. Tidak, bahkan mereka tidak pernah mengikrarkan diri untuk menjadi sepasang kekasih. Dona tak ingat bagaimana awalnya mereka mulai dekat. Memang kedekatan mereka layaknya sepasang kekasih, tapi tak pernah sekalipun Doni meminta Dona untuk menjadi kekasihnya. Dona kembali menyendok potongan kue black forestnya. Kembali dia memutar ingatannya mundur jauh ke belakang. Selama ini memang mereka tidak pernah mengucapkan kata ‘jadian’. Kedekatan mereka berjalan dengan sendirinya. Awalnya Dona sering berkumpul dan jalan dengan teman-teman kampusnya, termasuk Doni. Hingga satu per satu teman-temannya mulai menarik diri karena lebih memilih menghabiskan waktu dengan pacar mereka, menyisakan Dona dan Doni, sepasang jomblowan dan jomblowati.

Dona memasukkan potongan kue yang berada di sendok itu ke dalam mulutnya. Doni tak pernah menolak saat aku memintanya menemaninya membeli barang, mengantarnya ke tempat-tempat yang ingin didatanginya, seperti pesta ulang tahun Maya misalnya, atau sekedar keluar makan bersama, pikir Dona. Memang beberapa kali Doni sempat lupa, tapi dia selalu meminta maaf. Dan memang sudah menjadi kebiasaan Dona untuk selalu mengingatkan Doni, jika hari itu mereka memiliki acara. Hanya saja hari itu Dona lupa mengingatkan Doni untuk menghadiri ulang tahun Maya.

Acara melamun Dona terhenti saat sepasang muda-mudi menempati meja di seberangnya. Dona memperhatikan mereka. Sang pemuda berdandan ala boy band korea. Dona sungguh tak menyukai laki-laki yang bergaya lebai seperti itu. Untung saja Doni tidak seperti itu, dia cenderung berpenampilan wajar, terlalu wajar malah, hingga tak nampak keren. Dona memperhatikan makanan yang dipesan pasangan itu. Mereka memesan beberapa macam kue, nasi goreng, juice dan kopi. Jika aku memesan makanan seperti itu di tempat seperti ini, pasti Doni tak akan berhenti mengomel. Pemborosan, untuk apa membeli makanan seperti itu di kafe semahal ini, Dona bisa membayangkan ucapan Doni. Doni suka mengajaknya makan di warung-warung di pinggir jalan. Tak perlu mahal, yang penting bersih, kata Doni. Meskipun mereka makan di warung pinggir jalan, tapi Doni termasuk selektif memilih tempat makan yang bersih. Seperti itulah Doni. Dia tidak memandang orang dari status sosialnya. Sikap Doni yang cenderung santai, sederhana dan seadanya itulah yang membuat Dona betah menghabiskan waktunya bersama pemuda itu.

Tapi sudah tiga hari ini sama sekali tak ada kabar dari Doni. Biasanya jika mereka bertengkar Doni akan segera meminta maaf, mengiriminya berpuluh-puluh SMS, mencoba menelponnya berkali-kali. Perhatian Doni itulah yang membuat Dona merasa spesial. Meskipun tidak seluruhnya Doni bersalah dalam setiap pertengkaran mereka, tapi Doni lah yang berinisiatif meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka.

Apakah Doni benar-benar tak ingin berteman dekat lagi denganku, pikir Dona. Memang sewajarnya status mereka adalah teman dekat karena Doni sama sekali tak pernah mengajak Dona jadian. Dona mulai meraih HP nya yang tergeletak di meja, mencoba menghubungi HP Doni. Tapi Doni tidak menjawab panggilannya, nomor itu sedang tidak bisa dihubungi. Apakah Doni benar-benar marah? Dona pun mengetik SMS permintaan maaf untuk Doni sembari menanyakan kabar pemuda itu. Tak ada balasan. Biasanya Doni cepat membalas SMS Dona. Memang kadang jika sedang sibuk Doni agak lama membalas SMSnya. Tapi hari ini mereka masih libur, maka sewajarnya Doni tidak memiliki kegiatan yang menyita waktunya. Sudah hampir setengah jam Doni tak membalas SMS Dona. Dona memandang HP yang tergeletak di samping piring kue yang telah kosong itu. Kembali Dona mencoba menghubungi Doni, namun hasilnya sama saja. Doni tidak menjawab panggilannya. Sepertinya Doni benar-benar marah.

Dona berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Hari sudah beranjak senja. Berkali-kali Dona mengirim SMS permintaan maaf, dan mencoba menghubungi Doni, tapi tak ada tanggapan. Dona juga sudah mencoba menelpon rumah Doni, tapi hasilnya sama saja. Tak ada yang mengangkat telepon.  Sepertinya Doni benar-benar tak menghiraukannya. Dona merasa kesal tapi dia juga khawatir. Seperti inikah perasaan Doni tiap kali dia menunggu Dona memaafkannya saat mereka tengah bertengkar? Rasanya sungguh tak nyaman. Dona merasa bersalah karena sering membuat Doni merasakan perasaan seperti ini. Dalam hati Dona mengakui kesabaran Doni menghadapi tingkahnya yang keras dan childish.

Apakah hubungan mereka benar-benar telah berakhir? Dona duduk lemas di sofa. Dia tidak ingin hubungannya dan Doni berakhir tragis seperti ini. Dona kembali mengingat pasangan paruh baya yang dijumpainya siang tadi. Menilik usia mereka, tentunya dalam perjalanan hidup mereka pasti banyak permasalahan yang dihadapi, tapi sepertinya semuanya itu tidak membuat mereka menyerah. Terbukti dalam usia senja mereka masih nampak seperti pasangan yang dimabuk asmara.

Tidak, Dona tak boleh menyerah, dia tak ingin kehilangan Doni. Dia tak rela jika harus kehilangan pemuda sebaik Doni. Kini Dona mulai bisa melihat sisi lain Doni, sisi positif Doni, Doni yang sabar menghadapi tingkah manjanya, Doni yang bersedia menjadi ojek pribadi Dona, sebab setahunya Doni tak pernah mengantar jemput gadis lain, meskipun Doni juga sering berkumpul dan jalan dengan teman-teman laki-lakinya, Doni yang selalu berusaha mempertahankan hubungan mereka, meskipun Dona tak yakin apakah Doni benar-benar menghendaki mereka menjadi sepasang kekasih karena Doni tidak pernah memintanya secara jelas untuk menjadi kekasih pemuda itu, tapi dari bahasa tubuh Doni, Dona yakin bahwa pemuda itu mencintainya. Dan jika melihat sikap Doni yang cuek, Dona yakin bahwa Doni merasa tidak perlu mengatakan hal itu kepada Dona. Apakah aku harus mengatakannya, pasti itulah yang akan dikatakan Doni jika Dona menanyakan bagaimana perasaan Doni kepadanya.

Namun kini Doni sepertinya benar-benar akan hilang dari hidupnya. Dona sungguh bodoh jika sampai dia melepaskan seorang Doni. Dona mulai menyadari bahwa Doni memiliki peranan yang sangat penting baginya, dan dia tidak siap jika harus kehilangan Doni. Dia tidak ingin kehilangan Doni. Kembali Dona mencoba menghubungi Doni, baik nomor HP nya maupun nomor rumahnya. Sama saja, tak ada yang mengangkat. Dona mulai berpikiran negatif, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Doni.

“Kamu kenapa Kak, kusut banget mukanya?” tegur Romi, adik Dona yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelahnya.

“Mau tahu aja urusan orang,” jawab Dona ketus. Dia memandang adik semata wayangnya itu. Rapi sekali penampilan Romi. “Mau ke mana kamu?”

“Mau ke rumah Lala, mau ajak dia jalan. Cinta itu harus diperjuangkan. Motornya aku pakai ya Kak,” kata Romi penuh percaya diri. Romi memang tengah melakukan pendekatan kepada Lala. Dona mengakui kalau Lala adalah gadis yang cantik luar dalam. Dia mendukung jika adiknya berhubungan dengan gadis itu. Tiba-tiba Dona seakan tersadar. Benar kata Romi. Dona juga harus memperjuangkan cintanya kepada Doni.

“Rom, kakak minta tolong ya. Please. Anterin kakak ke rumah Doni  sekarang. Nanti kakak kasih tahu jalannya,”

“Yeee, kenapa nggak pergi sendiri?”

“Kan motornya kamu bawa. Kakak harus ke sana sekarang Rom!” pinta Dona dengan wajah memelas. Melihat tingkah kakaknya Romi hanya mengangkat bahu, “Cepetan ganti baju sana!”

“Thanks ya Rom, kamu memang adikku yang baik!” teriak Dona sambil berlari menuju ke kamarnya. Romi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kakaknya itu. Dia tahu pasti kakaknya sedang bermasalah dengan Doni. Tapi baru kali ini dia melihat kakaknya begitu bersemangat, bahkan sampai berniat ke rumah Doni segala. Biasanya kakaknya hanya uring-uringan saja, dan kembali cerah saat Doni menelpon meminta maaf, atau saat Doni muncul di depan pintu rumah mereka. Sepertinya Kakak mulai sadar, gumam Romi sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan Dona bingung memikirkan kata-kata yang akan dikeluarkannya nanti saat menghadapi Doni. Tapi apakah kebingungannya itu tepat dan benar. Tidakkah dia harus lebih bingung memikirkan jika Doni tidak menerima kedatangannya. Bagaimana jika Doni membanting pintu rumahnya, seperti perlakuan Dona hari itu? Kembali Dona mengecek HP nya. Tak ada tanda-tanda Doni membalas SMSnya, padahal sebelum berangkat Dona telah mengirimkan SMS pemberitahuan kepada Doni bahwa dia tengah melaju ke rumah pemuda itu dan meminta Doni menunggu kedatangannya. Tapi sama seperti SMS-SMS sebelumnya tak ada jawaban dari Doni. Apakah itu berarti Doni menyetujui kedatangannya? Ataukah terjadi sesuatu dengan Doni, seperti pikiran negatifnya. Tidak, Dona tidak ingin terjadi sesuatu dengan Doni. Dalam hati dia berdoa agar Doni baik-baik saja dan Doni bersedia menerima kedatangannya.

Kini mereka semakin mendekati rumah Doni. Dona bisa melihat rumah putih bergaya modern itu. Lampu di teras rumah itu menyala.

“Thanks Rom,” kata Dona saat Romi menurunkannya di depan pintu pagar rumah Doni. Romi mengangguk lalu memutar motornya, menuju ke mana seharusnya dia pergi. Sebenarnya Dona ingin meminta Romi menemaninya sebentar lagi. Bagaimana jika Doni benar-benar tidak ingin bertemu dengannya? Tapi Dona tak boleh egois. Romi memiliki acaranya sendiri.

Dona menarik nafas panjang. Dia masih bingung apa yang harus dikatakannya kepada Doni. Dona mulai berusaha menyusun kata-kata permintaan maaf. Dia tak peduli jika Doni tidak memaafkannya Dona akan terus berusaha supaya Doni bersedia memaafkannya. Dilihatnya motor gede Doni berdiri di samping teras. Kembali Dona menarik nafas. Tepat saat dia ingin memencet bel, dilihatnya pintu depan rumah itu terbuka. Seketika itu kata-kata yang tadi disiapkannya menguap begitu saja saat melihat sosok yang sangat dirindukannya itu. Hanya satu kalimat yang muncul di benak Dona, “Aku masih sangat mencintainya…”

mbah migren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s