Nelayan dan profesor…

Pagi itu seorang nelayan tengah pulang setelah melaut semalaman. Hari masih gelap dan sang fajar belum menampakkan wajahnya. Nelayan muda itu menarik perahunya ke pantai, lalu menurunkan jalanya yang penuh dengan berbagai ikan kecil. Sambil bersiul-siul dia mengeluarkan satu demi satu ikan-ikan hasil tangkapannya.

“Selamat pagi Pak,” sapa seorang profesor yang sedang berjalan-jalan di pantai sambil menikmati udara pagi. Sudah beberapa hari profesor itu mengamati tingkah laku nelayan muda itu, tapi baru hari ini dia secara langsung berinteraksi dengannya.

“Pak saya melihat anda nampak ceria membersihkan ikan-ikan itu. Kalau boleh saya tahu apa yang membuat anda sangat bersemangat?”

“Oh, saya sedang membayangkan siang nanti saya akan menjual ikan-ikan ini di pasar, lalu uang hasil penjulannya akan saya gunakan untuk membeli bahan makanan untuk dimasak istri saya. Lalu setelah itu saya dan anak-anak saya akan menikmati makan siang bersama,” jawab nelayan itu di sela-sela dendang rianya.

Merasa penasaran dengan hidup nelayan itu, kembali sang profesor bertanya, “Lalu apa yang anda lakukan setelahnya?”

“Setelah itu saya akan beristirahat, lalu saya bermain dengan anak-anak saya, dan sore harinya saya berkumpul bersama teman-teman saya minum sgelas bir, sebelum saya kembali melaut pada malam hari dan pulang keesokan harinya.”

Profesor itu merasa iba mendengar penuturan nelayan itu dan berniat memberikan sedikit masukan. “Jika saya menyarankan Pak, bagaimana kalau anda sedikit melaut lebih lama. Jika anda pulang saat siang hari tentunya anda akan mendapat lebih banyak ikan. Dengan ikan yang lebih banyak anda akan mendapat lebih banyak uang.”

“Lalu setelah saya mendapat lebih banyak uang, untuk apa uang itu?” tanya si nelayan.

“Anda bisa menabung dan membeli perahu motor. Dengan perahu motor tentunya anda akan lebih mudah mendapat ikan dan mendapat lebih banyak uang lagi. Lalu anda dapat membeli beberapa buah perahu lagi dan mempekerjakan beberapa nelayan.”

“Lalu jika saya sudah memiliki banyak uang, banyak perahu dan mempekerjakan nelayan lain, apa yang harus saya lakukan?”

“Anda dapat hidup bahagia. Anda dapat membeli perahu kecil dan menghabiskan waktu anda dengan pergi memancing di pagi hari, bermain bersama anak-anak anda dan minum bir bersama teman anda di sore hari,” jawab sang profesor dengan mantap.

Nelayan itu nampak berpikir sejenak lalu dia berkata lagi, “Untuk apa saya harus bersusah payah dan melakukan semua yang anda katakan itu jika saat ini saya sudah bahagia. Bukankah saat ini saya bisa pergi melaut di pagi hari, bermain bersama anak-anak saya di siang hari dan minum bir bersama teman-teman saya di pagi hari?”

**

Nelayan dan profesor itu memiliki cara pandang yang berbeda dalam memandang kebahagiaan. Banyak orang-orang yang memandang bahwa kebahagiaan itu harus diperjuangkan dan didapat dengan kerja keras hingga memiliki kekayaan materi yang berlimpah. Tidak salah memang. Tapi sampai kapan dan sebesar apa materi yang dimiliki hingga seseorang dapat merasa bahagia.

Menilik cara pandang nelayang, bisa menikmati kebahagiaan dalam kecukupan merupakan sebuah karunia yang tak dapat dimiliki oleh setiap orang. Jika saya boleh menyarankan kepada anda, ambillah sedikit waktu untuk bersyukur atas apa yang anda miliki hari ini dan nikmatilah apa yang anda miliki saat ini. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s