Kue puteri salju yang sombong

Sore itu Dini tengah asyik menata toples kue di toko kecil miliknya, setelah seharian membuat beberapa kue kering untuk dijual menjelang Hari Raya Idul Fitri. Untuk lebaran tahun ini, Dini menyiapkan empat macam kue, kue nastar, jari-jari, semprit, dan puteri salju. Keempat kue itu diletakkan dalam toples plastik. Dini juga sengaja menyisakan beberapa toples untuk tester.

“Wah cantiknya kue-kue ini,” kata Dini kepada dirinya sendiri. Dini memberi label harga Rp 5000,- pada toples kue semprit dan kue jari, Rp 6000,- pada kue nastar, dan Rp 10.000,- pada kue puteri salju. “Sekarang kue-kue ini telah siap dijual besok.”

Pagi harinya Dini telah siap membuka tokonya dan keempat toples kue itu telah terpampang di lemari kaca, lengkap dengan tabel harganya msing-masing.

“Wah cantik-cantik ya kue nya Mbak Dini,” sapa Bu Hesti, salah satu pelanggan Dini.

“Iya Bu Hesti. Terima kasih. Tahun ini saya juga menyiapkan kue puteri salju. Silakan dicicipi dulu Bu. Ini saya sediakan testernya.”

“Wah cantik sekali kue puteri salju itu. Sepertinya rasanya juga enak. Sayang saya sedang puasa, tidak bisa mencicipi testernya. Saya pesan masing-masing dua belas toples ya Mbak.”

“Banyak sekali Bu.”

“Iya, mau saya bagikan ke saudara dan rekan bisnis.”

“Wah terima kasih ya Bu. Saya catat dulu pesanannya.”

Mendengar pujian dari Bu Hesti, kue puteri salju merasa bangga. Dia merasa dirinya cantik dan rasanya enak, bahkan Dini menawarkannya pada posisi pertama. “Kalian dengar kan, ibu itu memuji penampilanku yang cantik. Dia bahkan memesanku sebanyak dua belas toples,” kue puteri salju mulai menyombongkan dirinya.

“Tidak hanya kau yang dipesan Bu Hesti, tapi Bu Hesti memesan masing-masing dari kita dua belas toples,” sela kue jari-jari.

Menjelang siang banyak orang-orang yang berdatangan ke toko kue Dini. Setiap kali melihat kue puteri salju, mereka memuji penampilannya yang cantik.

“Wah cantiknya kue ini?” puji Bu Ida saat melihat toples kue puteri salju.

“Rasanya enak sekali, manis sekali,” puji Teh Rosa saat mencicipi tester yang telah disediakan. “Berapa ya harganya Din?”

“Sepuluh ribu Teh, satu toples.”

“Wah harganya mahal juga ya, tapi memang rasanya enak sih.”

Mendengar pujian-pujian dari pengunjung toko itu kue puteri salju semakin lama semakin sombong. Dia merasa dirinya paling cantik, rasanya juga paling enak, apalagi harganya paling mahal dibandingkan dengan kue-kue lainnya. Tapi kue puteri salju tidak tahu bahwa mereka hanya memujinya, tapi tidak membelinya krena harganya sangat mahal.

Hari ini adalah hari terkahir Dini membuka toko kuenya, karena besok lusa sudah Lebaran. Besok semua kue yang dipesan akan diantar atau diambil oleh pembelinya. Malam itu di toko kue, terjadi perbincangan antara kue-kue buatan Dini.

“Tahun ini siapa ya yang paling banyak dipesan?” kue semprit mengawali pembicaraan.

“Pasti aku,” jawab kue puteri salju percaya diri. “Lihat saja diriku. Aku paling cantik, tubuhku berisi cokelat manis dan ditaburi gula bubuk. Hargaku juga paling mahal dibandingkan kalian. Kalian dengar juga kon orang-orang memujiku. Mereka menyukaiku. Pasti aku lah yang menjadi best seller.”

“Jangan sombong kamu, puteri salju,” timpal kue jari-jari. “Masih ada kami, kue jari-jari, semprit dan nastar, yang tahun lalu laku keras.”

“Kita doakan saja kita semua laku dijual dan Mbak Dini mendapat untung besar,” kue nastar menengahi.

Keesokan harinya, keempat kue tak sabar menunggu siapa di antara mereka yang paling banyak dipesan. Pagi itu Dini membawa banyak dus berisi kue-kue, siap mencocokkan dengan catatannya sebelum dibagikan kepada pembelinya masing-masing.

Dini membuka dus pertama, isinya dua belas toples kue jari-jari. “Wah banyak juga ya yang memesanmu, jari-jari,” kata kue semprit.

“Yang memesanmu juga tidak kalah banyak, semprit,” ujar kue jari-jari saat Dini membuka dua dus berikutnya, dus pertama berisi dua belas toples kue semprit, dan dus kedua berisi enam toples kue semprit dan enam toples kue jari-jari.

“Wah, jumlah pesanan kalian sama banyaknya,” timpal kue nastar.

Kini hampir semua dus telah selesai dibuka, Dini telah selesai mencocokkan jumlah toples dengan catatannya. Kue jari-jari dua puluh toples, kue semprit lima belas toples, dan kue nastar dua puluh lima toples. Tapi tak satu pun nampak toples berisi kue puteri salju.

“Pasti toplesku diletakkan di dalam empat dus itu,” kata kue puteri salju sambil menunjuk empat dus yang tersisa.

Semua kue menahan nafas saat Dini membuka empat dus yang tersisa, masing-masing berisi tiga toples nastar, semprit, jari-jari dan puteri salju.

 “Wah banyak juga ya Din, kue-kue pesanannya,” sapa Mang Ujang, tetangga Dini yang membantu mengirim kue-kue itu ke pembelinya.

“Iya Mang. Tapi sayang, saya salah perhitungan. Kue yang saya jagokan malah tidak laku. Rasanya harganya terlalu mahal. Hanya Bu Hesti yang memesannya, itu pun karena beliau adalah pelanggan tetap saya. Tahun depan saya tidak akan membuat kue puteri salju lagi.”

Mendengar ucapan Dini, air mata kue puteri salju menetes, membasahi serbuk gula di wajahnya. Kue puteri salju telah mendapatkan pelajaran dari kesombongannya. Ketiga kue lainnya merasa iba kepada kue puteri salju. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s