Pola pada kain

Seorang anak sedang sibuk mengamati ibunya bekerja. Sang ibu adalah seorang penjahit, dia memotong kain dalam pola-pola tertentu lalu menjahitnya sehingga menjadi pakaian yang indah. Melihat kesibukan ibunya, anak itu ingin menolong namun dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya mengamati bagaimana ibunya membuat gambar pola-pola pakaian pada kain dan diam-diam mempelajari bagaimana ibunya menggambarkan pola-pola tersebut.

 

Pada suatu hari ketika sang ibu sedang pergi, si anak yang merasa bosan bermain sendiri melihat tumpukan kain yang belum selesai digambar oleh ibunya. Karena merasa bosan dan ingin membantu ibunya maka ank itu menhampiri kain itu dan dengan cermat melanjutkan menggambarkan pola-pola seperti yang telah dipelajarinya selama ini. Setelah beberapa jam menggambar akhirnya seluruh kain telah selesai digambar dan anak itu tersenyum puas.

 

Namun ketika sang ibu pulang dan mendapati kain yang telah tergambar pola-pola pakaian dia merasa terkejut. Ternyata anak itu menggambar pada sisi kain yang salah sehingga kain menjadi rusak dan tidak bisa lagi dibentuk menjadi pakaian yang bagus sesuai harapan sang ibu. Si anak yang mendengar ibunya mengomel merasa ketakutan. Dalam pikirannya sempat timbul niat untuk diam saja dan tidak mengaku, namun akhirnya dia mengakui apa yang telah dilakukannya kepada ibunya dengan penuh ketakutan.

 

Sang ibu yang mendengarkan pengakuan anaknya hanya tersenyum sambil berkata, “Tidak apa-apa…. Sudah bagus kamu berniat membantu ibu….. nanti malam ibu akan memeriksa semuanya dan memperbaikinya. Pergilah bermain saja dan tidak usah kamu pikirkan lagi.”

 

Si anak yang terkejut merasa senang karena tidak dimarahi dan dia pun semakin berusaha untuk taat kepada ibunya dan mengikuti apa yang ibunya perintahkan dengan senang hati.

 

Pada awalnya tentu saja aku berharap ibunya akan memaafkan kesalahan anaknya karena anaknya berniat membantu, namun tetap saja ada kesalahan yang telah diperbuat oleh si anak. Dan tentu saja ibunya memaafkan tetapi hal itu tidak membuat kesalahan yang dilakukan oleh si anak hilang begitu saja. Kesalahannya tetap diperhitungkan dan pola-pola kain yang tergamabar salah tidak bisa dianggap benar begitu saja hanya karena si anak berniat membantu ibunya.

Namun hal yang cukup menarik adalah sang ibu sendiri yang memperbaiki kesalahan anaknya. Kesalahan itu tetap ada meskipun ibu sudah meaafkan dan konsekuensinya dari kesalahan itu tetap ada, namun di sini yang menanggung dan harus memperbaiki adalah sang ibu, bukan si anak.

Sama halnya dengan sang ibu yang memperbaiki pola-pola kain yang telah digambar anaknya, Yesus mati di kayu salib menanggung dosa manusia sehingga kita tidak lagi harus menanggung upah dosa. Tentu saja dosa itu tidak bisa dianggap hilang begitu saja meskipun manusia sudah bertobat. Dan sama seperti si anak yang tidak harus menanggung kesalahannya, kita juga tidak lagi harus menerima maut karena Yesus telah menanggungnya bagi kita. Sudahkah kita bersyukur dan menghargai karyanya dalam hidup kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s