Spesial person

Suamiku adalah orang yang paling menakjubkan. Ada beberapa hal yang membuatku kagum dan tak henti-hentinya terpesona. Pertama, dia selalumengerti aku dan bisa membuatku merasa nyaman dalam keadaan apa pun. Pernah suatu ketika aku mengalami hari yang buruk. Presentasi proyek baruku mendapatkan lebih banyak respon negatif daripada respon positif. Bosku pun memintaku untuk mempertimbangkan ulang poin-poin yang menjadi bahan kritikan.

“Oh, kau sudah pulang!” sambut suamiku. Aku hanya tersenyum masam. Aku tidak ingin membicarakan pekerjaanku hari ini. Suasana hatiku sedang buruk.

“Kau tahu, tadi editorku menelpon. Katanya naskahku masih mentah, perlu banyak revisi. Well, kami sempat bersilat lidah berjam-jam di telepon. Hampir saja aku datang ke kantornya dan menghadiahkan tumpukan kertas ini di wajahnya,” katanya sambil mengangkat setumpuk naskah yang tergeletak di atas meja kerjanya. “Tapi kemudian aku berubah pikiran. Dia editorku, kami telah bekerja sama dalam beberapa tahun terakhir, dan tentunya dia mengingkan yang terbaik bagiku.” Dia tersenyum simpul saat kembali meletakkan tumpukan naskah itu di tempatnya semula, lalu beranjak ke dapur dan muncul beberapa saat kemudian dengan dua gelas air di tangannya, “Mau minum?” tanyanya ringan.

Alih-alih menanyakan bagaimana presentasiku, dia malah menceritakan pekerjaannya. Aku tak tahu apakah dia mengatakan hal yang sebenarnya atau hanya untuk menghiburku, tapi kuakui kata-katanya itu menyejukkan hatiku. Semalam aku memberitahunya bahwa hari ini aku akan mempresentasikan sebuah proyek baru. Tentu saja aku ingin tampil sebaik mungkin. Bahkan kemarin dia sempat memeriksa slide presentasiku dan membenarkan beberapa kata yang kurang enak dibaca, itulah salah satu keuntunganku memiliki seorang suami yang bekerja sebagai penulis dan tentunya dia memiliki hubungan yang baik dengan huruf dan kata.

Aku mengambil gelas itu dari tangannya. “Kurasa editormu memang kejam, padahal kau sudah bersusah payah. Tapi seperti katamu, dia menginginkan yang terbaik. Dan itu berarti kau harus berusaha lebih keras lagi.” Kata-kata itu lebih kutujukan pada diriku sendiri. Aku tersenyum lalu meneguk air dalam gelas itu. Kurasa dia sengaja menghiburku dengan caranya. Tak perlu ada kata-kata yang tersurat. Aku sudah mengerti maksudnya.

Hal yang kedua, suamiku selalu berusaha membuatku tampak sempurna. Pernah suatu ketika Ria, anak kami bertanya, “Mama, kenapa Mama tidak pernah memasak?” Memang aku tidak pernah memasak. Aku memiliki kesibukan sendiri sebagai wanita karier, dan untuk urusan memasak, suamiku yang mengerjakannya. Pekerjaannya sebagai penulis freelance memberikannya celah untuk mengatur jam kerjanya secara fleksibel. Dan dia tidak pernah komplain dengan hal itu. Tapi tidak berarti aku tidak melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali. Absolutely not. Aku mengerti tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang wanita dan ibu.

“Mama hanya boleh memasak untuk Papa,” sahut suamiku yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. “Dan Papa akan memasak untuk Mama dan Ria. Sekarang  Ria bantu Papa masak yuk!” Suamiku menggandeng anak kami ke dapur sambil bercanda. Aku teringat pertama kali aku memasak untuknya. Saat itu kami sedang berlibur di villa seorang teman kuliah. Para pria sedang menyiapkan peralatan untuk acara api unggun malam nanti dan para wanita, termasuk aku, bertugas menyiapkan makanan. Saat acara api unggun kami makan bersama. Kulihat beberapa teman yang memakan ayam goreng masakanku mengernyitkan dahi. Beberapa di antara mereka bahkan tidak lagi menyentuh masakanku itu. Kurasa aku tahu apa penyebabnya. Aku memang tidak pandai memasak.

“Hmmm, aku suka sekali ayam goreng. Boleh kuhabiskan semua?” tanya pacarku, saat itu dia belum menjadi suamiku. Teman-teman memandanginya dengan tatapan lega bercampur iba. Tapi pacarku itu tetap saja memakan ayam goreng masakanku dengan lahap dan dia benar-benar menghabiskannya. Itulah yang membuatku semakin menyukai pacarku itu, dan bersedia menaikkan levelnya menjadi suamiku.

Yang ketiga, suamiku selalu bisa membuatku merasa spesial. Suatu hari Ria menemukan sebuah kotak saat kami sedang membersihkan gudang. “Mama, siapa anak laki-laki dalam foto ini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah foto yang sudah nampak memudar.

“Di mana kau menemukannya?” tanyaku.

“Di dalam kotak ini. Di dalamnya juga ada beberapa barang dan kurasa itu semua milik Mama.” Dia menunjukkan sebuah kotak tua yang memang pernah menjadi tempatku menyimpan barang-barang berharga.

“Oh, anak itu dalah cinta pertama Mama. Saat bermain di taman, Mama menemukan foto itu.” Tanpa berpikir panjang aku mengatakan apa adanya.

“Wah, ternyata kau yang menemukannya.” Sahut suamiku yang sudah berdiri di samping Ria sambil melirik foto di tangannya. “Aku kehilangan foto itu saat usiaku sembilan tahun.” Dia tersenyum renyah lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Itulah beberapa hal yang kukagumi dari suamiku. Dia selalu membuatku merasa spesial, karena dia adalah orang yang spesial. 

Gambar

Sepanjang jalan

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, dan aku masih berjuang berlari menuju ke kampus. Sial benar hari ini. Tadi pagi aku baru menyadari kalau ban motorku bocor dan sudah kempes total. Karena bingung dan tak tahu harus bagaimana akhirnya aku memutuskan naik kendaraan umum menuju ke kampus dan kutinggalkan motorku untuk beristirahat hari ini. Untuk menuju ke kampus aku harus berganti angkot sekali. Angkot yang lewat di depan kos ku berhenti di ujung gang sehingga aku harus berganti menaiki angkot yang membawaku dari ujung gang menuju ke gedung kampusku. Sudah lima belas menit aku menunggu, tapi angkot yang kutunggu tak juga datang. Kulirik beberapa tukang ojek yang mangkal di bawah pohon. Aku mulai berpikir untuk menggunakan jasa mereka, tapi di lain pihak aku malu kalau naik ojek ke kampus. Apa kata teman-temanku nanti? Kalau naik angkot aku masih bisa berhenti di warung yang berjarak beberapa meter dari kampus, kemudian berjalan kaki sampai ke kampus.  

Akhirnya kuputuskan untuk tak menunggu angkot lagi. Aku mulai berjalan, toh jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilo. Semakin lama aku berjalan semakin cepat. Hingga kulirik jam tanganku dan kulihat jarum panjangnya yang mulai beranjak dari angka 10. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Percuma sudah, dengan kecepatanku berjalan kaki aku takkan sampai di kelas tepat waktu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga dosenku masih memperbolehkan aku masuk kelas. Memang dosen yang satu ini terkenal tidak mentolerir keterlambatan.

Aku mulai memperlambat langkah kakiku dan mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal. Seandainya saja aku tidak mengutamakan gengsiku dan memutuskan naik ojek tadi pasti sekarang aku sudah duduk manis di kelas yang berAC. Kuseka dahiku yang berpeluh. Bajuku juga mulai basah oleh keringat. Kini aku merasa konyol dan bodoh. Hanya untuk menjaga gengsi aku merugikan diriku sendiri. Padahal belum tentu juga teman-temanku peduli aku naik motor atau aku naik ojek atau aku jalan kaki. Betapa bodohnya aku.

**

Seringkali dalam hidup ini Tuhan telah menyediakan sarana transportasi yang memang telah disiapkanNya untuk mengantar kita sampai ke tujuan. Tapi yang namanya manusia sepertinya tidak pernah puas kalau tidak berusaha sendiri dan memilih mengerjakan jalannya sendiri, tidak mau memberdayagunakan sarana yang telah Tuhan siapkan. Manusia memilih jalannya sendiri dengan berbagai alasan yang melatar belakangi pilihannya itu, tidak berpasrah diri dan mengikuti apa yang Tuhan mau.

Akibatnya? Pilihan-pilihan manusia yang tidak tepat seringkali berdampak merugikan dirinya sendiri. Ada jalan yang lebih cepat dan nyaman, tapi nama ego manusia memilih jalan yang sulit dan sukar. Menurutku itu bukanlah pilihan yang bijak dan tidak membuktikan bahwa manusia itu kuat dan mampu berjuang sendiri, justru manusia itu bodoh karena memilih untuk merepotkan dirinya sendiri. Well, memang poin utama yang harus dikalahkan adalah ego dan ke-aku-an, barulah kita bisa menaklukan diri di bawah kaki Tuhan. 

Surat cinta dari ibu

Dear my son,

Anakku, apa kabarmu? Sekarang usiamu 13 tahun bukan? Hari ini Ibu ingin membawa kue tar dan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’. Ibu benar-benar merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Dalam ingatan Ibu, kau adalah bayi kecil mungil yang selalu menangis dalam dekapan Ibu. Ibu sangat penasaran bagaimana dirimu sekarang? Apakah wajahmu seperti wajah ayahmu, atau seperti wajah Ibu? Apakah kau memiliki mata seindah mata ayahmu? Apakah kau memiliki mulut lebar seperti Ibu? Ibu sangat ingin melihat wajahmu…

Anakku, apakah kau marah kepada Ibu? Tolong maafkan Ibu karena Ibu tidak bisa menemani hari-harimu. Kau tahu, Ibu ingin membimbingmu belajar berjalan saat kau, mendengar kau mengucapkan kata pertamamu, Ibu ingin kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘ibu’, dan ibu sangat ingin mendengarnya, meskipun kini Ibu yakin kata pertamamu adalah ‘ayah’. Tak apa, meskipun Ibu tak akan pernah mendengarmu memanggilku ‘ibu’ tapi Ibu sudah cekup senang bisa membawamu ke dunia ini. Ibu ingin menemanimu pada hari pertamamu masuk sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, datang ke sekolah saat perayaan Hari Ibu bersama ibu-ibu lainnya dan mendukung anaknya saat pentas seni.

Ibu ingin menemanimu tidur di malam hari. Maafkan Ibu karena tidak ada di sampingmu saat kau terbangun karena mimpi buruk. Maafkan Ibu karena Ibu tak datang menenangkanmu saat kau menangis ketakutan di malam hari yang gelap. Maafkan karena setiap malam Ibu tidak pernah menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam ketika kau sedang terlelap dan Ibu tidak bisa mengecup keningmu, membetulkan letak selimutmu dan mematikan lampu kamarmu jika kau lupa mematikannya.

Maafkan Ibu karena tidak bisa membangunkanmu tiap pagi, memandikanmu, menyiapkanmu sarapan dan bekal untuk kau bawa ke sekolah. Maafkan Ibu karena tidak menunggumu saat kau pulang sekolah, menemanimu makan siang, dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur Ibu sangat ingin melakukan itu semua. Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang hari-harimu di sekolah, tentang teman-temanmu, tentang gurumu. Ibu ingin memarahimu saat kau mendapatkan nilai jelak di sekolah, dan ibu juga ingin memujimu saat kau mendapatkan nilai bagus. Ibu ingin membanggakanmu saat bercerita bersama teman-teman Ibu, bahwa anak laki-laki Ibu luar biasa.

Maafkan Ibu karena tak merawatmu saat kau sakit, mengingatkanmu agar selalu minum obat, menemanimu ke dokter dan menenangkanmu saat kau menangis karena takut terhadap jarum suntik. Apakah kau takut terhadap jarum suntuk? Semoga tidak. Ibu tidak ingin anak laki-laki ibu menjadi seorang penakut.

Anakku, Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang gadis yang menarik perhatianmu. Percayalah Ibu sangat ingin kau mengenalkan gadis yang berhasil menaklukkan hatimu kepada Ibu saat kau dewasa nanti. Ibu ingin melihatmu berjalan bersama gadis itu menuju ke pelaminan. Ibu ingin melihatmu membawa anakmu, mengenalkannya sebagai cucu Ibu. Ibu ingin bisa menggendong anakmu seperti saat Ibu pernah membuaimu dalam gendongan Ibu. Ibu ingin bermain bersama cucu-cucu Ibu. Ah anakku seandainya semua itu bisa terwujud, tentunya Ibu akan merasa sangat bahagia. Tidak, sekarang pun Ibu sudah cukup merasa bahagia, memandangi wajah kecilmu yang terlelap.

Anakku, bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Semoga kalian tidak sering bertengkar. Ibu tahu ayahmu adalah orang yang keras, dan Ibu menebak pasti kalian sering bertengkar. Anakku, tolong dengarkan nasehat Ibu, turutilah kata-kata ayahmu. Meskipun ayahmu bersikap keras, tapi sangat mencintaimu. Ibu ingin berbagi sedikit rahasia tentang ayahmu. Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan Ibu, setiap malam ayahmu mengelus perut Ibu dan menyanyikan lagu untukmu. Ini rahasia kita, Ok.

Anakku, tolong Ibu untuk menjaga dan merawat ayahmu. Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tolong bantu Ibu untuk selalu mengingatkannya makan. Ayahmu sering melupakan jam makannya.  Ibu khawatir bagaimana keadaan ayahmu tanpa ada Ibu di sisinya. Tapi Ibu bisa merasa tenang karena ada kau di sisinya.

Anakku, masih banyak hal yang Ibu ingin katakan kepadamu, tapi Ibu tak tahu lagi bagaimana menuliskannya. Satu hal yang perlu kau tahu, Ibu mencintaimu. Ibu menyayangimu dan ayahmu. Maafkan Ibu sekali lagi karena tak bisa menemani kalian. Percayalah jika Ibu memiliki banyak waktu, Ibu ingin menghabiskannya bersama kalian. Anakku terima kasih karena telah memberikan Ibu anugerah yang terindah bagi setiap wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Ibu menyayangimu. Jaga dirimu dan ayahmu. Dan ibu akan selalu menjagamu dari tempat Ibu berada…

Firasat

Pagi ini aku tengah menyiapkan makanan di meja makan saat radio kesayanganku mulai menyanyikan lagu kesukaanku. Kuhentikan kegiataanku sesaat untuk menghampiri radio yang terletak di atas lemari, kutinggikan volumenya sehingga suara lembut Raisa terdengar membanjiri telingaku.

 

Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu

Desau angin meniupkan namamu

Tubuhku terpaku

 

Kulanjutkan pekerjaanku pagi itu.Tak perlu waktu lama hingga meja makanku penuh dengan makanan. Kulirik jam dinding bebentuk bulat yang tergantung rapi bersama jajaran foto-foto keluargaku. Masih jam lima? Kuperhatikan legi dengan seksama, ternyata jarum jamnya sama sekali tidak bergerak. Rasanya baru beberapa hari yang lalu suamiku mengganti baterainya. Nanti setelah suamiku pulang aku akan memintanya mengganti baterai jam itu.

Kuhampiri HP ku yang tergeletak di atas lemari, di sebelah radio yang masih melantunkan suara Raisa. Ternyata sudah hampir jam tujuh. Kucoba menelpon nomor suamiku, beberapa detik kutunggu tapi tak ada jawaban. Apakah dia masih sibuk dengan pekerjaannya, sampai mengangkat teleponku saja tak sempat, atau setidaknya dia bisa saja mengirimkan SMS. Fiuhh, kuhembuskan napasku. Memang begitulah sifat suamiku, jika dia sudah asyik dengan sesuatu maka tak ada hal yang dapat mengganggunya. Kukirimkan SMS menanyakan bagaimana pekerjaannya semalam.

 

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu

Tabur bintang serupa kilau auramu

Aku pun sadari, ku segera berlari

 

Aku melirik jam tanganku. Jam delapan kurang lima belas menit, dan aku masih terjebak di lampu merah bersama puluhan pengguna jalan lainnya. Aku tidak mau terlambat pada hari pertamaku bekerja. Kulihat kendaraan yang melintas dari arah seberang mulai menipis dan tanpa membuang-buang waktu lebih lama lagi aku segera memutar lenganku dan motorku pun meluncur membelah lalu lintas tanpa diikuti kendaraan lain. Belum sempat aku mengambil nafas, tiba-tiba kulihat di depanku seseorang berpakaian coklat menghadang jalanku. Aku merasa tubuhku lemas dan tulang-tulangku berguguran.

“Maaf, Mbak. Mbak tahu apa salah Mbak?” tanya polisi berkacamata hitam itu.

“Iya Pak. Saya melanggar lampu merah. Tapi Pak, saya sudah hampir terlambat ini Pak. Saya tidak boleh terlambat pada hari pertama saya bekerja.” Aku mulai memohon.

“Saya mengerti Mbak, tapi peraturan harus dipatuhi. Tolong keluarkan SIM dan STNK nya.”

“Pak, saya minta tolong…” Kini kupasang wajahku sememelas mungkin.

“Semakin Mbak kooperatif, semakin cepat selesai Mbak.” Polisi itu berkata tegas. Aku bisa merasakan tatapan matanya di balik kacamata hitamnya. Aku tak punya pilihan lain. Kuambil dompetku dari tas dan kukeluarkan SIM dan STNK ku. Segera polisi itu merebut SIM dan STNK ku. Aku hendak mengeluarkan selembar uang berwarna biru, namun… “Tidak perlu Mbak, nanti saja uangnya dikasih di pengadilan.” Dia tersenyum sambil menghadiahiku sebuah surat tilang. “SIM nya saya tahan dulu, pastikan Mbak menghadiri persidangannya.”

“Hati-hati Mbak, jangan sampai melanggar peraturan lagi. Semoga hari pertama Mbak bekerja berjalan lancar, dan terima kasih sudah membuat hari pertama saya bekerja berjalan lancar.” Dia tersenyum, melambaikan tangannya sambil membuka kacamata hitamnya, menunjukkan mata hitamnya yang indah.

 

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang

Cepat kembali, jangan pergi lagi

 

Siang itu aku tengah menuju ke restoran yang terletak di depan kantorku. Sialnya nasibku karena OB yang biasanya bertugas tidak masuk, maka aku sebagai karyawan junior harus menjadi OB sementara, membelikan makanan bagi senior-seniorku. Memang sih mereka tidak seperti senior kejam di sinetron yang suka membully juniornya, tapi tetap saja aku merasa sebal. Tiba-tiba seorang pria menabrakku dan tanpa kusadari tasku sudah berpindah tangan. Segera aku berteriak sambil menunjuk-nujuk pria itu yang nampaknya juga terkejut mendengar teriakanku, lalu segera dia berlari. Tapi malang benar nasibnya, seorang pria berpakaian rapi tiba-tiba menghadang langkahnya dan dalam hitungan detik kedua tangan pria yang mencopet tasku itu sudah dihiasi oleh sebuah borgol.

“Saya polisi. Tolong jangan main hakim sendiri. Kami akan proses sesuai prosedur yang berlaku.” Pria yang menangkap pencopet itu berusaha menenangkan orang-orang yang hendak memukuli pencopet itu.

“Ini Mbak, tasnya. Lain kali hati-hati ya…” katanya sambil tersenyum saat menyerahkan tasku. Itu dia, polisi yang dulu menilangku. Meskipun tanpa seragam coklatnya aku masih bisa mengenali mata indahnya dan senyumnya yang menawan. Kuterima tasku kembali lalu kusebutkan namaku dan dia pun balas menyebutkan namanya.

 

Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera

Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara

Semoga ada waktu (sayangku) sayangku

 

“Apakah kau tak ingin berhenti dari pekerjaanmu itu?” Aku bertanya sambil mengaduk jus alpukatku, sengaja aku menghindari menatap matanya yang indah. Sengaja kupilih kafe kesukaannya ini untuk menanyakan pertanyaan yang cukup menggangguku itu.

“Mengapa?”

“Bukankah pekerjaan itu berbahaya?” Aku masih terus menghindari tatapan matanya.

“Hahaha…” tawanya yang renyah membuatku mengangkat wajahku dan memandang wajah tampan yang telah berhasil menawan hatiku.”Hanya karena polisi berhadapan dengan penjahat tidak berarti pekerjaan ini berbahaya. Semua pekerjaan memiliki resikonya masing-masing. Tidak berarti seorang polisi itu selalu berhadapan dengan bahaya. Dan tidak berarti orang yang bukan polisi bebas dari bahaya. Seorang pekerja konstruksi bangunan juga menghadapi bahaya, jatuh dari ketinggian,atau terkena barang-barang yang jatuh dari ketinggian. Seorang pengendara kendaraan juga menghadapi baya setiap harinya di jalan. Lihat saja banyaknya kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini, karena orang-orang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas.” Aku yakin bahwa kalimatnya yang terakhir sengaja ditujukan untuk menyindirku, mengingat pertemuan pertama kami terjadi di jalan raya.

 

Ku percaya alam pun berbahasa

Ada makna di balik semua pertanda

Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya

Aku tak peduli, ku terus berlari

 

“Kurasa aku tak sanggup meneruskan hubungan ini.” Kataku lirih sambil menundukkan wajahku.

“Apakah karena aku seorang polisi?” tanyanya ringan, tak ada nada emosi dalam suaranya. Kurasakan genggaman tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Dia terus membawaku berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Aku kagum pada ketenangannya.

“Aku tidak tahu…” Aku berbohong. Memang benar salah satu alasan aku tak mau meneruskan hubungan ini karena dia seorang polisi. Dan aku takut. Aku takut akan kehilangan dirinya suatu hari nanti.

“Oh… kupikir karena aku seorang polisi dan kau tak mau berhubungan dengan polisi.” Kudengar nada suranya yang ringan agak mulai terasa berat. “Apa yang membuat kau menyukaiku?” tiba-tiba dia melontarkan sebuah pertanyaan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku terdiam sementara kami terus saja berjalan menyusuri jalanan kota sore itu. Matahari mulai terbenam dan langkahnya terhenti. Dia menatap langit yang mulai memerah. Kuikuti jejaknya, menikmati senja yang indah.

“Tunggu sebentar!” Dia melepaskan genggaman tanganku lalu menghampiri seorang nenek yang berdiri di pinggir jalan, tampaknya nenek itu kesulitan menyeberang. Kubiarkan pandangan mataku menyelimuti pria pujaan hatiku yang akan segera menjadi matanku saat dia membimbing nenek itu, membantunya menyeberang, kemudian tersenyum sambil melambaikan tangan kepadanya ketika dia kembali menyeberang dan menghampiriku. Ingatangku kembali melayang pada pertemuan pertama dan kedua kami. Saat itulah aku sadar mengapa aku menyukainya.

“Aku menyukaimu karena kau ringan tangan dan rela menolong orang lain, dan mungkin juga karena kau… seorang polisi…”

 

Cepat pulang (cepat pulang)

Cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat pulang)

 

“Mama, mama… aku lapar…” Kurasakan ujung dasterku ditarik. Aku menoleh dan kulihat anakku yang berusia tiga tahun berdiri di sampingku. Aku pasti terlalu menikmati alunan lagu Raisa sehingga melupakan puteraku. Kududukkan dia di kursi lalu kusambil sebuah piring, kuisi nasi dan lauk lalu aku mulai menyuapi puteraku sambil mengajarkannya untuk makan sendiri.

Beberapa manit aku membujuknya hingga akhirnya dia mau makan sendiri. Kuperhatikan cara malaikat kecilku itu makan. Mulutnya belepotan, nasai betebaran di meja makan. Aku tertawa. Setidaknya melihat tingkah laku anakku bisa membuatku melupakan suamiku barang sejenak. Dia belum juga pulang, meskipun dia mendapat shift malam, dia selalu ada bersama kami untuk sarapan. Aku kembali menghembuskan nafasku, dia masih juga belum menelponku atau membalas SMSku.

 

Cepat kembali, jangan pergi lagi

Dan lihatlah sayang (lihatlah)

Hujan terus membasahi seolah luber air mata

(cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi)

 

Aku membelai kepala anakku yang tengah tertidur pulas. Baru beberapa menit aku menyanyikan lagu untuknya, dia sudah terlelap. Aku keluar dari kamar, menghampiri suamiku yang sudah rapi. “Apakah kau akan pergi malam ini?”

“Aku mendapat tugas malam ini.” Dia membelai lembut jemariku.

“Tidak bisakah kau tinggal malam ini?” tanyaku pelan. Berita tentang penyerangan polisi oleh oknum tak bertanggung jawab yang kutonton sore tadi membuatku ngeri.

“Kau pernah bertanya mengapa aku memilih menjadi polisi. Aku akan menjawabnya. Karena aku tak ingin ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena perbuatan orang jahat. Kau ingin aku pulang dengan selamat bukan. Tentunya demikian juga dengan istri-istri lain, yang menunggu suaminya pulang, atau ibu-ibu yang menunggu kepulangan anaknya.”

“Tapi mengapa harus kau dan bukan orang lain saja?”

“Karena aku tak ingin istriku dan anakku kehilanganku. Oleh karena itu aku akan menjaga orang-orang yang berada di luar sana sehingga mereka bisa kembali kepada keluarganya. Karena aku ingin ada orang yang menjagaku saat aku berada di luar sana, sehingga aku juga menjaga mereka. Tidakkah egois bila kita ingin orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin lakukan?” Ucapannya membuatku terdiam.

“Aku pulang besok…” katanya sambil mengecup keningku.

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat kembali, jangan pergi lagi)

Ku hanya ingin kau kembali (firasatku ingin kau tuk cepat pulang) pulang

(cepat kembali, jangan pergi lagi)

 

“Mama sudah habis…” kata anakku sambil menunjukkan piringnya yang bersih. Aku hanya tersenyum sambil melihat nasi yang berceceran di sekelilingnya. Tiba-tiba HP ku berbunyi, dan entah kenapa, perasaanku menjadi tidak nyaman. Aku meraih HP itu dan melihat nama rekan kerja suamiku tertera di layar HP itu, perasaaanku semakin tidak nyaman. “Halo…”

“Halo Bu, kami ingin memberitahu bahwa suami ibu…” Kudengar sebuah suara berat di ujung seberang sana. Aku tak dapat lagi mendengar apa yang dia katakan. Pandanganku terasa gelap dan kepalaku terasa berat. Sayup-sayup kudengar suara anakku memanggilku, “Mama…Mama!!!”

 

Aku pun sadari

Kau takkan kembali lagi

Pakis dan bambu

Ada seorang pria yang putus asa dan mau meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan dan berhenti hidup. Lalu dia datang ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan, “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan, “Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu?”

“Ya,” jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu. AKU merawat keduanya secara sangat baik. AKU memberi keduanya cahaya, memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apapun, tapi AKU tidak menyerah.

Pada tahun kedua pakis tumbuh makin subur dan banyak tetapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi AKU tidak menyerah.

Di tahun ketiga benih bambu belum juga memunculkan sesuatu, tapi AKU tidak menyerah.

Di tahun keempat, masih juga belum ada apapun dari benih bambu. AKU tidak menyerah.” Kata Tuhan.

“Di tahun kelima muncul sebuah tunas kecil. Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna. Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 1000 kaki. untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup. AKU takka memberi cobaan yang tak sanggup diatasi ciptaan-ciptaanKu.” Kata Tuhan kepada pria itu.

“Tahukah kamu anakKu, di saat menghadapi segala kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”

“AKU tidak meninggalkan bambu itu. AKU juga takkan meninggalkanmu.”

“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.  “Bambu mempunyai tujuan yang beberda dengan pakis, tapi keduanya membuat hutan menjadi indah.”

“Waktumu akan datang, kamu akan menanjak dan menjulang tinggi. Bersabarlah dan banyaklah tuk belajar lagi, waktumu pasti akan tiba.”

**

Short story from my friend…