Belajar bersabar…

Hari ini aku belajar tentang kesabaran. Tidak mudah menjaga kesabaran dan menahan emosi. Aku belajar sabar saat menghadapi anak penjaga mess ku yang masih kelas 4 SD, ketika dia minta diajari mengerjakan PR matematika. Rasanya susah sekali membuat anak itu mengerti, dan jujur saja aku bingung bagaimana menerangkan cara untuk mengerjakan soal-soal pembagian tersebut. Well, step by step, pelan-pelan aku mengajarinya untuk mencoba satu per satu, mencari jawaban dengan mengalikan berbagai angka supaya dia bis menemukan jawabannya sendiri. Tentunya jauh lebih mudah jika aku langsung saja membimbingnya, segera mengatakan jawabannya, tidak perlu menyuruhnya berputar-putar dulu untuk mencari jawabannya sendiri, dan tentunya hal itu lebih memakan sdikit waktu dan tidak menguras emosi, seperti yang sudah kukatakan aku harus menahan diri, menahan kesabaranku. That’s the first point.

The second point is rasanya susah sekali mengajarkan anak kecil dengan pemikirannya yang terbatas menggunakan cara kita, soal-soal itu terasa sangat mudah dan dalam hitungan detik tentunya aku dapat menemukan jawabannya. Tapi aku harus menurunkan cara berpikirku dan mengikuti cara berpikirnya. It’s so hard. Aku harus memutar otak agar dia dapat mengerti apa yang kumaksudkan, dengan kemampuan berpikirnya yang masih kecil. Well, aku tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi anak kecil, aku amat sangat tidak bisa bersabar. It’ true. Dan rasanya hari ini aku belajar ekstra keras untuk sabar. Fiuhhh… membuang nafas panjang….

When I think bout it, the first one gets well with this one. Melihat dari sudut pandang Tuhan, aku mengagumi bagaimana Tuhan bisa sabar menghadapi anak-anak manusia yang kerdil baik dalam iman maupun cara hidupnya. Well, setiap hari selalu ada hal yang kukeluhkan, aku protes ini dan itu dan terlebih lagi hidupku yang masih bergelimang dosa ha5… Kurasa Tuhan pasti memiliki kesabaran yang sangat panjang dan tak ada habis-habisnya, setidaknya belum, untuk menghadapi manusia macam aku ini. I can’t imagine how He can make it, and not get tired by me. Bersabar itu tidak mudah, apalagi jika tidak dianggap. Jika orang itu masih menganggapi dan mengikuti apa yang kita katakan dan menghargai tindakan kita, tentunya kita masih merasa dihargai dan kurasa kita masih bisa bersabar sedikit lebih lama lagi. Tapi bagaimana jika orang itu tidak menganggap kita sama sekali dan semua apa yang kita lakukan bagi dia sama sekali tidak dianggapnya. Rasanya buat apa bersabar menghadapi orang semacam itu. Wellm kurasa orang semacam itu sanga identik dengan diriku, atau kita, yang masih merasa diri sebagai manusia berdosa, yang masih terus melakukan dosa tanpa kenal lelah, meskipun tahu bahwa hal itu mendukakan hati Tuhan, tapi dengan semangat 45 tetap saja kita masih hidup bersama dosa-dosa kita dan semakin lama semakin nyama dan semakin mencintainya. Well, itu kutujukan pada diriku, mohon maaf jika ada yang tersinggung.

Poin berikutnya adalah kurasa Tuhan harus berpikir ekstra keras untuk membuat manusia mengerti apa maksudNya. Manusia dengan pemikirannya yang terbatas tentunya tak bisa menangkap maksud Tuhan dan tak akan pernah bisa memahami Dia yang tak terbatas. Oleh karena Tuhan pasti bekerja keras agar Dia dapat mengatakan maksudNya melalui cara yang kita dapat pahami. Well, meksipun demikian aku masih merasa Tuhan gagal, karena masih banyak manusia yang tetap saja tidak bisa mengerti maksud Tuhan, salah satunya aku ha5. Seperti caraku untuk membuat anak penjaga mess itu mengerti dan dapat belajar sendiri maka aku mengajarkan dia untuk mencoba sendiri, memang dia harus menemukan cara yang tepat by herself, so she can learn to learn by herself. Jika aku langsung mengatakan jawabannya maka dia tidak akan belajar sesuatu dan bukannya menjadi pintar tapi makin menjadi bodoh.

Demikian halnya dengan belajar tentang kehidupan. Tuhan tentunya ingin agar kita menjadi semakin dewasa dan dapat bertahan hidup menghadapi segala masalah, oleh karena itu Tuhan memberikan banyak persoalan hidup untuk kita pecahkan. Tentunya Tuhan tidak bermaksud agar kita bisa berdiri sendiri, dalam artian mengandalkan diri sendiri, terpisah dari Tuhan. Absolutely not. Melalui persoalan demi persoalan hidup, kita belajar semakin dewasa dan justru semakin bergantung padaNya, karena tidak semua persoalan hidup dapat kita selesaikan sendiri. Tuhan lah yang memberikan soal maka Tuhan juga yang memegang kunci jawabannya. Tapi tentuNya Dia tidak ingin memberikannya begitu saja kepada kita. Kalau Dia langsung memberikan kunci jawabanNya, lalu untuk apa Dia memberikan soal-soal itu. Bukankah kita malah merasa dipermainkan.

Oleh karena itu Tuhan mengajarkan kita untuk belajar dan memecahkan persoalan demi persoalan sehingga kita semakin dewasa dan makin bijak. Dan juga semakin mengerti maksud dan pimpinan Tuhan dalam hidup ini. Kadang kita harus mencoba berputar-putar sebelum menemukan jawaban yang tepat, well bagiku itu tidak masalah. Itulah yang namanya proses belajar. Untuk menemukan apa yang benar kita harus tahu dulu mana yang salah. Tapi tentunya jika sudah tahu itu salah maka jangan gunakan kesalahan itu untuk menjawab, gunakanlah jawaban yang benar.

Lalu bagaiman jika sudah diajari tapi tidak mengerti-mengerti? Maka Tuhan akan memberikan banyak soal-soal dan melatih kita agar kita bisa mengerti. Barangkali seperti itulah orang yang mengahadapi banyak masalah dalam hidupnya. Ada orang yang tidak mau dipimpin kepada kebenaran sehingga terus berjalan menuju arah yang salah. Tentunya Tuhan tidak ingin membiarakan hal itu dan Dia memberikan banyak masalah agar orang itu dapat mengerti jawaban dan arah yang benar. Well, kurasa di sinilah sekali lagai kesabaran Tuhan yang tak habis-habisnya itu berperan. Tapi aku juga memiliki pola pikir lain, jika Tuhan memberikan banyak masalah itu berarti Tuhan masih ingin kita belajar lebih banyak karena kita dianggap kurang pandai dan Tuhan masih ingin melatih kita agar kita semakin pandai, karena Dia tahu sampai di mana batas kita untuk bertahan. Tidak selalu jika kita menghadapi kesulitan itu berarti kita berlawanan arah dengan Nya, bisa jadi memang kita sudah berjalan pada jalannya, hanya saja kita berjalan amat sangat lambat dan Dia ingin kita berlari jauh lebih cepat, oleh karena itu Dia sengaja menaruh anjing galak di belakang kita untuk membuat kita takut, anjing itu menggonggong dan mengejar kita sehingga kita berlari dan tiba di tujuan lebih cepat.

Well, itulah sedikit pemikiranku, belajar untuk bersabar hari ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s