Aku masih mencintainya (his version)

Doni membuka pintu kulkas, mengambil botol air dingin lalu menuangkannya ke gelas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9.00. Diteguknya gelas itu, terasa segar saat air dingin membasahi kerongkongan Doni. Hari ini Doni malas melakukan apa-apa, ingin rasanya dia kembali naik ke atas kasur. Tapi bermalas-malasan bukanlah gaya Doni, meskipun saat ini dia sedang menjalani liburan semester.

Hari ini Doni kembali sendirian di rumah. Orang tuanya sudah pergi bekerja. Bik Ijah, pembantu Doni sedang pulang kampung. Diliriknya HP nya yang tergeletak di sofa. Ada beberapa SMS. Doni membuka satu persatu SMS itu, ada tiga SMS dari Yuda. Namun tak ada SMS dari Dona, pacar Doni. Atau mungkin lebih tepat jika disebut mantan pacar. Hmmm, apakah aku dan Dona bisa dibilang pacaran, pikir Doni. Seingatnya dia maupun Dona tak pernah mengikrarkan janji untuk berpacaran, tapi toh hubungan mereka memang dekat. Rasanya mereka sama-sama sudah tahu perasaan masing-masing, maka rasanya tak perlu ada acara penembakan ala ABG, pikir Doni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa, di samping Si Manis, kucing anggora berbulu putih peliharaan Mamanya.

“Meow…” Si Manis mengeong saat Doni mengelus-elus bagian bawah leher kucing itu. Dengan sebelah tangannya, Doni  membuka satu persatu SMS dari Yuda. Sohibnya itu menanyakan keadaannya. Memang kemarin Doni merasa kurang sehat sehingga membatalkan janjinya dengan Yuda. Doni segera membalas SMS Yuda, mengatakan kalau pagi ini dia sudah merasa sehat. Tak ada balasan. Diletakkannya benda hitam itu di meja, saat dia berlalu ke kamar mandi. Tentu saja, pasti Yuda tengah sibuk bekerja, saat liburan Yuda membantu orang tuanya menjaga counter HP mereka.

Doni meraih kunci kontak motornya. Dia memutuskan untuk mengunjungi Indah, kakaknya yang telah tinggal dengan suaminya. Doni telah siap berdiri di hadapan motornya, saat dia hendak mengambil helm berwarna hitam yang tergantung di stang motor, dilihatnya helm berwarna biru langit masih tergantung di sisi lain stang motor itu, helm Dona. Doni memandang helm itu sejenak lalu mengambilnya dan meletakkannya ke rak helm. Kini helm itu tak lagi bertuan, kata Doni dalam hatinya.

“Hei Don, apa kabar kamu? Kok nggak bilang kalau mau datang,” sambut Indah saat Doni mengetuk pintu rumah kakaknya.

“Baik Kak. Iya nih nggak ada kerjaan, jadi main aja ke sini.” Doni tersenyum nakal sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hai Tito, apa kabar jagoan kecil Om?” Doni segera menyambar keponakannya yang baru berumur lima tahun itu saat Tito menjulurkan wajahnya dari belakang tubuh ibunya. Tidak seperti biasanya, Tito tidak tersenyum lebar menyambut kedatangan Doni, melainkan segera berlalu kembali duduk di sofa.

“Tito kenapa Kak?”

“Oh, Tito habis Kakak marahin,” kata Kak Indah sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. “Nih minum dulu, pasti kamu haus kan.”

“Thanks Kak.” Doni meraih gelas tersebut lalu meneguk isinya dalam sekali tegukan. “Memangnya Tito nakal Kak, kok dimarahin?” Doni melirik Tito yang duduk di sofa sambil memasang tampang cemberut, membuat Doni merasa geli dan ingin mencubit pipi keponakannya itu.

“Biasa, berkelahi dengan anak tetangga…” jawab Indah sambil berlalu ke dapur.

“Namanya juga anak-anak Kak…” Ujar Doni sambil meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja. Dirogohnya saku celananya, mencari HP nya. Tak ada. Doni merogoh saku celananya yang sebelah lagi. Masih tetap tak ada. Di mana aku taruh HP itu ya, tanya Doni dalam hati. Dia nampak berpikir sejenak. Terakhir kali dia memegang benda hitam itu adalah saat membalas SMS Yuda. Setelah itu Doni meletakkan HP nya di meja dan dia bergegas mandi. Doni menepuk jidatnya, dia benar-benar pelupa, bahkan sampai HP nya saja tertinggal di rumah. Biarlah, batin Doni. Lagipula saat ini libur semesteran, siapa orang kurang kerjaan yang hendak mencarinya?

“Tito kenapa, Tito nakal lagi ya?” tanya Doni yang mengambil tempat duduk di sebelah Tito.

“Nggak Tito nggak nakal. Rio yang nakal.” jawab Tito sambil tetap memasang wajah masam. Doni tersenyum geli melihat tingkah keponakannya itu.

“Kok Tito bilang gitu? Memangnya Rio kenapa?”

“Rio rusakin mobil-mobilan Tito.”

“Tapi nggak berarti kamu boleh pukul Rio…” sela Indah yang datang dari arah dapur sambil membawa piring berisi kue yang telah dipotong-potong. “Makan Don!”

“Iya Kak,” kata Doni sambil mengambil sepotong kue.

“Mama belain Rio, nggak belain Tito!” seru Tito dengan nada jengkel, mulutnya masih saja cemberut.

“Tito, Mama nggak pernah ajarin Tito buat mukul orang…” kata Indah tegas Indah sambil mengambil sepotong kue lalu menyodorkannya kepada anaknya. Tito membuka mulutnya lalu menrima suapan dari ibunya. “Sudah nggak ngambek lagi?” goda Indah. Sedikit banyak Doni mulai mengerti permasalahan yang menimpa keponakan kecilnya itu.

“Tito pengen main sama Rio kan? Sekarang Tito ke rumah Rio terus minta maaf sama Rio,” suruh Indah sambil membelai kepala puteranya itu.

“Nggak!” teriak Tito tegas.

“Tito, minta maaf itu nggak berarti Tito salah dan Rio benar…” belum selesai Indah mengucapkan kalimatnya, terdengar suara bel berbunyi. “Mama buka pintu dulu ya,” pamit Kak Indah.

“Gimana kalo Tito main sama Om Doni saja?” goda Doni kepada keponakannya yang masih cemberut itu.

“Tito, ada tamu untuk kamu!” teriak Indah. Rupanya Rio yang datang. “Tito, maapin aku ya.”

Tito membuang muka, tapi Indah segera menyuruh puteranya itu berbaikan dengan Rio. Doni hanya tertawa geli melihat tingkah keponakannya saat kakaknya menyuruh kedua anak itu berjabat tangan. Diambilnya sepotong kue lagi, lalu dimasukkannya ke mulutnya. Doni beranjak ke dapur, mengambil segelas air. Tak berapa lama kemudian terdengar celoteh canda mereka dari ters depan. Kini kedua anak itu kembali bermain bersama. Doni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak itu. Andai aku dan Dona bisa seperti itu, gumam Doni. Tidak, Doni segera menggeleng-gelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh bayangan Dona.

 “Makan dulu Don, sudah siang. Kamu belum makan siang kan?” Indah mengajak Doni ke meja makan.

“Anak-anak, tadi bertengker sekarang sudah akur lagi,” kata Kak Indah yang memperhatikan kedua anak itu bermain. “Kamu gimana kabarnya? Sebenarnya Kakak agak heran sih kamu tiba-tiba saja datang kemari. Biasanya kamu selalu jalan sama siapa teman cewek kamu, Dona ya?” tanya Indah sambil mengambil piring, dan menyodorkannya ke Doni. “Ambil sendiri ya, udah gede!”

Doni menarik nafas panjang sembari mengambil nasi dan ayam, kakaknya memasak ayam goreng kesukannya, entah itu disengaja atau tidak. Kembali bayangan Dona menari-nari dalam kepalanya. “Dona lagi marah sama Doni Kak. Sepertinya kali ini kami benar-benar selesai. Doni juga capek sama Dona. Apa yang Doni lakuin selalu salah di mata Dona. Tiap kali kami marahan, selalu Doni yang minta maaf duluan. Padahal nggak seutuhnya itu salah Doni. Kalau memang Dona nggak mau pertahanin hubungan kami ya sudah. Buat apa Doni capek-capek usaha.”

“Memangnya kali ini kenapa?” tanya Kak Indah sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.

“Kemarin Doni telat jemput Dona ke ultahnya Maya. Doni lupa sih. Tapi Dona nya juga nggak ingetin Doni, biasanya Dona selalu ingetin Doni satu hari sebelumnya jika kami ada acara,” Doni berusaha membela diri. Dia mengambil segelas air, lalu meneguknya. “Maya nya nggak apa-apa. Tapi Dona nya yang marah. Terus katanya Doni nggak ngejaga muka dia, masa dateng ke pesta pakai kaos sama celana jeans. Bukan salah Doni dong. Doni kan habis dari tempatnya Yuda, nggak sempat pulang, ganti baju. Itu saja Doni sudah ngebut. Dona itu yang nggak ngertiin Doni.”

“Sebenarnya nggak kali itu saja Dona bersikap seperti itu. Dona sering komplain karena Doni telatan, sering lupa janjian sama dia. Terus dia juga sering komplain soal sikap Doni yang menurut dia cuek. Yah ini Doni apa adanya, Doni sih berusaha sabar saja, tapi kesabaran orang tu ada batasnya kan Kak. Kalau dia nggak suka sama Doni ya sudah. Lagian kalau dipikir-pikir kami belum resmi jadian. Doni belum pernah nembak Dona. Jadi nggak masalah kalau memang Dona maunya seperti itu Silakan saja dia cari cowok lain. Doni juga bukan siapa-siapanya Dona.” Doni terengah-engah, mulutnya hampir saja berbusa karena mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Kedua tangannya telah memegang sendok dan garpu, namun makanan di atas piringnya sama sekali belum terjamah.

Indah tertawa melihat tingkah adiknya yang berbicara panjang lebar tanpa henti itu. “Don… Don… gaya bicara kamu itu menunjukkan kalau kamu itu sebenarnya care banget sama Dona. Kalau menurut Kakak, kamu juga salah. Kamu itu sering memandang enteng segala sesuatunya, nyepelein lah istilahnya. Seharusnya kalau memang kamu ada janji dengan Dona, ya kamu yang inget-inget sendiri dong, jangan jadikan Dona kambing hitamnya. Terus kamu itu juga nggak peduli sama orang-orang di sekitar kamu, Kakak setuju sama Dona, menurut Kakak kamu terlalu cuek, bahkan sama diri kamu sendiri. Contohnya lihat tuh baju yang kamu pakai. Pakai baju yang bagus dikit kenapa? Jangan gayanya kayak berandalan gitu.”

“Kakak ini nggak belain Doni malah belain Dona.”

“Dengerin dulu kenapa!” sergah Indah sambil meletakkan sendok dan garpunya, gaya lembutnya yang tadi seakan-akan menguap begitu saja. Dia kembali lagi menjadi Indah yang dulu, Indah kakak Doni yang tomboi dan tegas.

“Kakak nggak belain Dona, hanya Kakak berusaha membuka mata kamu tentang diri kamu sendiri. Don, ada kalanya kita harus berubah semakin dewasa.” Indah menurunkan nada bicaranya sambil menatap mata Doni tajam.

Doni balas memandang balik kakaknya. Kak Indah nampak sangat berubah. Dulu dia tomboi, keras kepala, sering berkelahi dengan Doni. Dan seingat Doni, setiap kali mereka berkelahi Indah yang selalu menang, mungkin karena dia lebih besar, meskipun dia juga perempuan. Tapi setelah menikah dan punya anak, Doni tak menyangka kakaknya akan mengeluarkan kata-kata teguran seperti itu.

“Kamu sayang kan sama dia?”

“Iya Kak, tapi kalau Dona nya nggak bisa menerima Doni ya sudah. Doni males minta maaf seperti yang sudah-sudah. Biarin saja.”

“Ya ampun Don, nggak kamu nggak Tito sama saja. Nggak ada salahnya kan minta maaf duluan. Meskipun bukan kita yang salah. Orang minta maaf itu nggak berarti dia salah, dan orang lain yang benar, hanya saja dia memandang hubungan itu lebih penting dari ego pribadi.” Indah kembali mengulangi kalimat yang tadi hendak disampaikannya kepada Tito, tapi kali ini dia berhasil menyelesaikannya, tanpa ada interupsi.

Doni terdiam, tak mampu membalas kata-kata kakaknya, diakuinya kakaknya memang benar. “Dimakan Don, jangan dilihatin saja!” kembali Indah bersuara, membuyarkan lamunan Doni.

Jam dinding menunjukkan pukul 5.30 saat Doni tiba di rumahnya. Tidak ada orang, sepertinya orang tua Doni kembali pulang malam hari ini. Hal itu tidak aneh bagi Doni, kehidupan di kota besar memang menuntut para pekerja bekerja hingga larut malam. Doni telah selesai mandi saat didengarnya telepon rumahnya berdering. Hampir saja Doni mengangkat telepon itu, tapi sudah dimatikan. Biarlah, batin Doni sambil menyeka rambutnya yang masih basah. Kalau memang penting nanti pasti dia telepon lagi.

Tiba-tiba Doni teringat HP nya yang tertinggal di meja ruang tengah. Dilihatnya benda hitam itu berkelap-kelip. Ada yang mencoba menghubungiku, siapa ya, tanya Doni dalam hati. Diraihnya HP itu, ada berpulu-puluh missed call dari Dona. Doni berniat menelpon balik Dona saat Si Manis mengagetkannya. Kucing itu menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki Doni. Alhasil Doni melepaskan genggaman tangannya hingga HP itu terjatuh dan benda hitam itu memuntahkan isinya, casing HP itu dan baterainya terlepas. Giliran Si Manis yang terkejut, kucing itu segera berlari ke balik sofa.

Doni melemparkan pandangan tajam ke arah Si Manis yang menghilang di balik sofa, kemudian dia berjongkok membetulkan HP nya, tapi kali ini benda hitam itu tak mau menyala. Doni menarik nafas. HP mu itu sudah jadul, sudah sudah waktunya dikandangkan, terngiang suara Dona saat Doni mengetik SMS ketika mereka jalan minggu lalu. Kala itu Doni hanya tersenyum. Sekarang Doni kembali tersenyum, kamu benar Don, memang sudah waktunya HP ini dikandangkan. Doni mengakui sebenarnya Dona sangat memperhatikannya, terlepas dari komplain-komplain cewek itu. Kini Doni tak tahu bagaimana caranya menghubungi Dona. Dia tidak ingat nomor HP maupun nomor telepon rumah Dona. Semuanya ada di kontak HP nya. Doni mengutuki dirinya, seharusnya dia mendengarkan dan menuruti saran Dona untuk menuliskan kontak-kontak penting di buku tersendiri, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada HP nya, tapi Doni terlalu malas untuk melakukannya. Kini Doni benar-benar kehilangan kontak Dona dan tak tahu bagaimana caranya menghubungi gadis itu.

Kira-kira untuk apa Dona menghubungiku, bahkan sampai berpuluh-puluh kali, tanya Doni pada dirinya sendiri. Jika saja tadi dia sempat membuka SMS, sepertinya tadi ada juga beberapa SMS. Doni kembali mencoba menyalakan HP nya tapi sepertinya benda hitam itu tidak mau diganggu dari tidur lelap abadinya. Apakah Dona ingin mengatakan bahwa antara mereka tidak ada apa-apa lagi? Tapi apakah harus dengan menelpon berpuluh-puluh kali? Doni mengacak-acak rambutnya. Tiba-tiba sebuah ide terbit dalam otaknya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Doni segera berlari ke kamarnya, hampir saja dia menginjak Si Manis, untung saja kucing berbulu putih itu sempat menghindar, barangkali benar kata orang bahwa kucing memiliki sembilan nyawa.

Di kamarnya Doni membuka lemari pakaian, dia nampak mengambil sebuah kaos yang terletak pada tumpukan paling atas, tapi kata-kata kakaknya kembali terngiang, kamu itu terlalu cuek… Doni melemparkan kaos itu ke atas kasur, dia nampak mengacak-acak lemari pakaiannya hingga pandangan matanya terpaku pada sebuah kemeja berwarna biru, kemeja pemberian Dona. Doni masih ingat kala Dona membelikan kemeja itu saat mereka jalan beberapa bulan lalu.

“Bagus sih, tapi mahal sekali Don…” kata Doni saat keluar dari kamar pas sambil memakai kemeja berwarna biru yang dipilihkan Dona saat mereka melihat-lihat kemeja.

“Bagus kok Don, cocok kamu pakai. Kamu tambah keren…” puji Dona.

“Mahal tapi…”

“Aku yang traktir. Sekali-kali. Biasanya kamu yang traktir kalau kita makan bareng.”

“Tapi Don…”

“Nggak ada tapi-tapian. Sudah ambil bajunya!”

Kini Doni mematut dirinya di depan cermin sambil memakai kemeja biru itu. Benar kata Dona, dia nampak keren. Ini pertama kalinya dia mengenakan baju itu. Selama ini dia merasa sayang mengenakan baju itu, selain harganya mahal Doni merasa tidak ada momen yang tepat untuk mengenakannya. Tapi kali ini berbeda. Kali ini Doni akan mengenakan baju itu di hadapan orang yang memberikannya. Doni meraih celana jeans berwarna biru gelap yang juga masih baru, celana ini dia sendiri yang membelinya lalu menyambar jaketnya yang tergantung di bahu kursi.

Doni mengeluarkan motor gedenya, saat dia ingat ada sesuatu yang kurang. Diparkirnya motor itu di samping teras, lalu Doni kembali masuk. Tak berapa lama kemudian dia keluar bersama helm berwana biru langit di tangannya. Bagaimana mungkin dia tidak membawa helm untuk Dona padahal dia tengah berencana mengajak gadis itu pergi, mungkin sebuah kencan. Doni tak tahu apakah Dona akan menerima kedatangannya atau malah justru membanting pintu rumahnya seperti terkahir kalinya mereka berpisah. Doni menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak mau memikirkan hal itu. Siap atau tidak, Doni harus berani menghadapi kenyataan, jika Dona berniat memutuskan hubungan persahabatan mereka. Doni menarik nafas panjang, aku sudah siap untuk menghadapinya. Namun tiba-tiba saja semua pikirannya tentang Dona berlari meninggalkan otaknya kala matanya melihat sesosok orang berdiri di balik pintu pagar rumahnya. Tanpa sadar, Doni bergumam, “Aku masih sangat mencintainya…”

mell!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s