Ann dan setengah pasang sepatu

Ann sedang dalam perjalanan pulang saat dia menemukan sebuah sepatu di tergeletak di tengah jalan. Sepatu itu terbuat dari kulit dan berwarna cokelat tua. Sepatu yang cantik, gumam Ann. Ann meletakkan ikatan ranting yang dibawanya di bawah pohon lalu mencoba mencari di mana sepatu yang satunya lagi. Beberapa lama lamanya Ann mencari, tapi tak ditemukannya pasangan sepatu itu. Ann menarik napas panjang. Jika saja dia berhasil menemukan sepatu yang satunya, dia bisa saja menjual sepatu itu di pasar dan membeli susu untuk adiknya, Timmy. Timmy masih balita, dia membutuhkan susu agar dapat tumbuh sehat, sayang keluarga mereka memang sangat miskin, ibu Ann yang hanya bekerja sebagai buruh cuci tentu tidak sanggup membeli susu yang sangat mahal itu, apalagi ayah mereka telah meninggal. Karena itulah Ann berusaha membantu dengan mengumpulkan ranting untuk dijual sebagai kayu bakar.

Setengah pasang sepatu takkan berguna. Ann kembali meletakkan sepatu itu di tempatnya semula kemudian dia kembali mengambil ikatan ranting yang ditaruhnya di bawah pohon. Samar-samar dia mendengar suara lonceng dan sapi melenguh, ternyata seorang petani sedang melewati jalan itu bersama sapinya. Ann mengawasi mereka dari balik pohon tempatnya meletakkan ikatan rantingnya. Petani itu berhenti sesaat saat menemukan sepatu yang tadi ditemukan Ann, di nampak mengagumi sepatu itu. Beberapa menit lamanya petani itu nampak melemparkan pandangannya kesana kemari, mencari sebelah sepatu yang lain. Tapi dia tak menemukannya. “Sepatu yang bagus, sayang hanya sebelah,” kata petani itu sambil meletakkan sepatu itu lalu melanjutkan perjalannya bersama sapinya.

Melihat hal itu, tiba-tiba timbullah sebuah ide dalam kepala Ann. Sepeninggalan petani itu, segera Ann keluar dari balik pohon, memungut sepatu cokelat itu, lalu berlari mengambil jalan pintas menerobon semak-semak sehingga dia bisa tiba lebih dulu di ujung jalan itu. Ann meletakkan sepatu itu di tengah jalan, lalu dia bersembunyi di balik pohon, menunggu petani bersama sapinya itu lewat. Beberapa lama kemudian lewatlah petani itu bersama sapinya. Ketika petani itu melihat sepatu yang tergeletak di tengah jalan segera dia memungutnya. “Sepatu yang bagus, pasti sepatu ini pasangan sepatu yang tadi. Aku harus cepat-cepat mengambil sepatu yang tadi sebelum ada orang lain yang menemukannya.” Petani itu mengikatkan sapinya ke sebuah pohon, lalu segera berlari menuju ke tempat di mana dia menemukan sepatu yang pertama. Setelah petani itu menghilang, Ann keluar dari tempatnya bersembunyi, lalu melepas ikatan sapi itu dan membawanya pulang ke rumahnya.

Si petani yang tak menemukan sepatu pertama segera kembali ke tempat di mana dia meninggalkan sapinya, tapi alangkah terkejutnya dia saat tak menemukan sapinya. Samar-samar didengarnya suara lonceng sapinya di kejauhan. Menjelang sore akhirnya petani itu berhasil menemukan sapinya yang berada di rumah Ann, dengan mengikuti suara lonceng itu. Melihat si petani yang mucul di depan rumahnya nampak marah, Ann segera minta maaf dan menjelaskan maksudnya meminjam sebentar sapi itu untuk mengambil susunya karena Timmy membutuhkan susu. Mendengar penjelasan Ann, amarah petani itu reda. Petani itu memuji kecerdikan Ann. Cerita selanjutnya petani itu menikahi ibu Ann dan Timmy selalu mendapatkan susu sampai dia tumbuh dewasa. Para tetangga sekitar selalu berkata, “Timmy kecil tumbuh besar karena setengah pasang sepatu.”

**

Cerita yang kubaca saat kecil dulu. Mengingatnya kembali membuatku berpikir bahwa setengah pasang sepatu yang barangkali dianggap tak berguna, karena tak dapat dipakai tentunya, dalam cerita itu dapat membuat seorang anak kecil tumbuh sehat. Barangkali ada dari kita yang berpikir diri kita tidak berguna, tidak memiliki kecakapan seperti orang lain. Tidak sepandai orang lain, tidak secapak orang lain, bahkan mungkin ada yang memiliki kekurangan fisik. Jangan pernah memandang dirimu rendah. Setiap orang memiliki tujuan keberadannya di dunia ini. Teruslah mencari tujuan hidup dan biarkan Dia Sang Pemberi Kehidupan menggunakan masing-masing dari kita untuk menggenapkan rencana Nya bagi semesta ini.    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s