Seandainya Cinderela tak meninggalkan sepatu kacanya

Pernahkan terlintas dalam pikiran kita bagaimana seandainya Cinderela kembali memungut sepatu kacanya yang tertinggal saat dia tergesa-gesa meninggalkan pesta dansa?

Anastasia Santiww

Marilah kita menengok sebentar bagaimana perasaan Cinderela saat dia kehilangan setengah pasang sepatunya. Mungkin sepanjang perjalanan pulang Cinderela menyesali dirinya karena tak mendengarkan nasehat Ibu Peri. Jika dia meninggalkan pesta sebelum jam berdentang dua belas kali maka dia tak perlu berjalan kaki pulang, apalagi membawa berbagai jenis hewan, mulai dari anjing sampai tikus, karena kereta kudanya kembali berubah menjadi labu. Untung saja dia berhasil meninggalkan istana sebelum efek sihir Ibu Peri memudar, bayangkan jika di tengah pesta dia berubah dari puteri yang rupawan menjadi gadis pelayan yang dekil. Pasti Pangeran akan mengalami serangan jantung, Cinderela tersenyum getir. Kini puteri canti itu telah benar-benar menghilang, dia kembali menjadi Cinderela, gadis pelayan dekil, korban KDRT oleh ibu dan saudara tirinya. Tak ada yang tersisa selain setengah pasang sepatu kaca yang terpasang di kakinya. Tak terasa air matanya menetes. Sungguh indah hari ini, serasa mimpi yang menjadi nyata, benar-benar menjadi nyata. Sebelumnya dia hanya bisa bermimpi bisa berdansa dengan Pangeran, sampai dengan malam ini.

Cinderela meremas setengah pasang sepatu kaca itu. Jika saja dia tidak meninggalkan setengah pasangnya, jika saja sepasang sepatu kaca itu ada bersamanya, masih ada kemungkinan Pangeran percaya bahwa dia adalah puteri yang berdansa bersamanya, meskipun kemungkinan itu sangat kecil. Tapi kini, di tangannya hanya ada setengah pasang sepatu kaca. Cinderela tak tahu di mana setengah pasang sepatu kacanya, mungkin ada puteri lain yang menemukannya. Jika saja puteri itu menemukan setengah pasang sepatu kacanya, tak diragukan lagi kesempatan Cinderela membuktikan bahwa dia adalah puteri cantik yang berdansa semalaman bersama Pangeran musnah sudah. Semua orang akan menertawakannya, seorang pelayan dekil yang memegang setengah pasang sepatu kaca, mengaku-ngaku bahwa dia adalah seorang puteri. Jika dia tidak dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, pasti dia sangat beruntung.

Akhirnya sampai juga Cinderela di rumah. Besok saja dia memikirkan akan diapakan setengah pasang sepatu kaca di tangannya. Untuk saat ini, Cinderela menyimpan setengah pasang sepatu itu dan pergi tidur. Hari ini sangat panjang dan melelahkan, terlebih lagi kakinya terasa sakit kerena harus berjalan kaki cukup jauh.

Beberapa hari telah berlalu, namun Cinderela tak tahu harus diapakan setengah pasang sepatu kaca itu. Lupakan soal Pangeran, Cinderela ta berharap dapat bertemu dengannya lagi. Dia sudah cukup sengan bisa berdansa dengan Pangeran, salah satu mimpinya menjadi nyata, benar-benar nyata. Cinderela kembali tersenyum getir. Setelah ayahnya meninggal dan ibu tirinya bertindak bagai ratu yang kejam dalam kisah fairytale, tak mungkin ada lagi mimpinya yang menjadi nyata, sihir Ibu Peri pun tak dapat mewujudkan semua mimpinya, sihir itu memiliki aturan tertentu dan tidak bertahan selamanya. Cinderela telah banyak mengalami keaphitan dalam hidupnya, kini dia lebih realistis dalam memandang hidup. Jika saja dia masih memegang sepasang sepatu kaca, barangkali ada yang mau membeli sepasang sepatu kaca dengan harga mahal. Dengan uang hasil penjualan sepatu kaca itu, Cinderela bisa keluar dari rumah, mencoba membuka warung kecil untuk menghidupi dirinya. Ya, barangkali ada kemungkinan usahanya dapat berkembang dan setidaknya dia dapat hidup lebih baik. Tapi sekali lagi, semuanya itu hanya seandainya, karena setengah pasang sepatu kaca mungkin tak laku dijual, atau harganya mungkin cukup rendah. Mungkin besok aku akan menjulanya ke pasar, kata Cinderela dalam hatinya, tak ada gunanya aku terus menyimpannya, aku juga tak bisa menggunakannya lagi tanpa sebelah sepatu yang lain.

Hari menjelang siang, Cinderela tengah menyapu lantai dua rumahnya saat dia melihat rombongan prajurit istana menuju ke rumahnya. Ada apa gerangan, apakah Pangeran akan mengadakan pesta dansa lagi? Dari lantai atas dia mendengarkan saat seorang kurir menyampaikan maksud kedatangan mereka. Ternyata mereka mencari gadis yang semalam berdansa dengan Pangeran. Cinderela menahan nafas saat kurir itu mengeluarkan setengah pasang sepatu kacanya. Apakah Pangeran memungut sepatunya yang tertinggal?

Cinderela memperhatikan saat kedua saudara tirinya berusaha memasukkan kaki mereka ke dalam sepatu kaca itu. Dia berusaha menahan tawa saat salah seorang saudaranya berusaha memasukkan kakinya yang terlalu panjang dalam sepatu itu, atau saat saudaranya yang lain tak bisa menarik kakinya keluar dari sepatu itu, hampir saja sepatu itu pecah. Cinderela bahkan harus menutup mulutnya agar suaranya tak meloncat keluar saat dia melihat wajah pucat kurir istana tersebut ketika ibu tirinya menawarkan diri untuk mencoba memasukkan kakinya ke dalam sepatu itu.

“Boleh aku mencobanya?” sela Cinderela sambil menuruni tangga dengan anggun.

“Silakan saja kau coba, jika aku jadi kau, aku takkan mempermalukan diriku, seorang pelayang yang kumal tentu saja tak pantas…” kata-kata ibu tiri Cinderela terhenti saat dia melihat kaki puteri tirinya bersarang di sepatu kaca itu. Sungguh cocok, seakan-akan sepatu itu memang milik Cinderela.

“Tak mungkin!” Ibu tiri Cinderela berusaha merebut sepatu kaca itu dari kaki Cinderela, namun sayang saat wanita tua itu menarik sepatu itu, sepatu itu terlepas dari tangannya dan jatuh pecah.

“Oh, apa yang telah kaulakukan?” tanya kurir istana itu putus asa, “Kini aku takkan pernah menyelesaikan tugasku, dan Pangeran takkan menemukan gadis yang dicintainya.” Cinderela bisa merasakan kekecewaan dan ketakutan pada wajah kurir itu. Pasti Pangeran akan sangat marah karena dia tak berhasil melaksanakan tugasnya, menemukan gadis yang telah menawan hati Pangeran, gadis pemilik sepatu kaca itu. Terlebih lagi sepatu kaca, satu-satunya petunjuk untuk menemukan gadis itu kini telah hancur.

Cinderela segera berlari ke kamarnya dan keluar bersama setengah pasang sepatu kaca di tangannya. “Kurasa kau telah berhasil menyelesaikan tugasmu,” katanya sambil menunjukkan sepatu kaca di tangannya, yang disambut senyuman lega di wajah kurir istana dan teriakan histeris ibu dan kedua saudara tirinya.

Well, carita selanjutnya kalian pasti sudah tahu. Hmmm… aku hanya berimajinasi, membayangkan mungkin akan lain ceritanya jika Cinderela tak meinggalkan setengah pasang sepatu kacanya. Pangeran tak akan memiliki petunjuk untuk menemukan gadis pujaannya. Mungkin saat itu Cinderela merasakan penyesalan karena keadaan tak berjalan seperti yang dikehendakinya, dia kehilangan setengah pasang sepatu kacanya. Tapi aku berani bertaruh saat Cinderela tengah merenungi kebodohannya, saat itulah Sang Penulis Cerita melanjutkan cerita tanpa diketahui oleh Cinderela bahwa Pangeran menggunakan setengah pasang sepatu kaca yang ditinggalkannya untuk menemukan sang pemilik sepatu kaca itu, gadis yang telah mencuri hatinya.

Hahaha… seringkali keadaan tak berjalan sesuai yang kita ingini, ataupun rasanya kita tak sanggup mengontrol situasi di sekitar kita. Tapi saat itu tetaplah ingat bahwa Sang Penulis Cerita masih bekerja dan sedang bekerja melanjutkan cerita yang indah untuk kita lakoni. Aku percaya bahwa Dia telah menyiapkan sebuah ending yang manis bagi masing-masing kita, namun masih ada banyak adegan yang harus kita jalani sebelum menuju ending tersebut… Keep play and live…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s