Tukang semir sepatu

Hari ini aku bertemu tukang semir sepatu di stasiun. Melihat orang itu, kasihan rasanya. Bapak itu meminta supaya sepatuku disemir olehnya. Memang sih sepatuku kotor banget. Awalnya sih aku menolak, toh kupikir nanti bakal kotor lagi, wong kerja di proyek debu tok isine. Tapi bapak itu tak kenal menyerah, dia terus mengikutiku dan meminta supaya sepatuku bisa disemir olehnya.

 “Pak, semir pak sepatunya, kotor itu. Saya butuh uang buat makan,” katanya.

Karena kasihan awalnya aku mau kasih aja uang langsung, tapi kupikir lagi, bapak ini bukan mengemis. Dia tidak ingin mengemis. Dia mau bekerja, meski cuma menyemir sepatu. Dengan membiarkan dia menyemir sepatuku berarti aku memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Kalo cuma memberi uang, bapak itu tidak dapat melakukan sesuatu bagi orang lain.

Akhirnya kubiarkan dia menyemir sepatuku. Dia kelihatan sangat senang, dia memberikan sandalnya untuk kupakai lalu dia duduk di lantai dan menyemir sepatuku. Dia menyemir dengan sangat bersemangat dan terlihat gembira. Sedih rasanya melihat bapak itu bekerja, mungkin dia memang hanya bekerja menyemir sepatu, namun dia melakukannya dengan senang hati. Sedih sekali melihat masih ada orang yang hidupnya di bawah standar kemiskinan. Mereka harus hidup dengan penghasilan yang tidak jelas. Bagaimana mereka harus hidup?

Ya Tuhan, mengapa ada orang-orang yang harus bekerja keras dan tetap hidup dalam kemiskinan, sedangkan ada orang-orang yang hidup dalam kekayaan yang melimpah sampai tidak menghargai orang lain. Mengapa Kaubiarkan hal itu terjadi ya Tuhan?

Banyak orang yang lalu lalang di stasiun itu dan bapak itu terus menawarkan untuk menyemir sepatu mereka. Banyak yang melihat dengan pandangan aneh. Biarin, pikirku. Memang aku memberi sepatuku untuk disemir.

Bapak itu menyemir dengan sangat lama dan bersungguh-sungguh, sampai aku bosan menunggu. Tetapi melihat semangatnya aku menjadi kagum, sedih dan kasihan. Bapak itu tidak terlihat susah, tetapi dia terlihat gembira. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup yang harus dijalaninya. Hidup kekurangan, untuk makan saja mungkin tidak bisa, tetapi menjalani hidup dengan sukacita. Sangat berbeda dengan aku yang hidup berkecukupan tetapi kurang bersyukur dan selalu mengeluh.

Tuhan, apa yang isa kulakukan untuk mereka yang membutuhkan? Ajarku supaya selalu bersyukur dan kaya dalam memberi. Akhirnya bapak itu selesai juga dan saat kutanya berapa dia minta dibayar, dia hanya minta 5000, tapi kukasih 10000. Dia lebih membutuhkan uang itu daripada aku.

Satu penyesalanku adalah aku tidak bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadinya. Seandainya aku bertanya mungkin aka nada kesempatan untuk membagikan kasih Kristus lebih jauh lagi. Ya Tuhan, aku bukan orang yang baik ternyata. Aku tidak cukup baik untuk membagikan kasih-Mu. Aku hanya sebatas memberi uang, padahal ada hal-hal lain yang tidak dapat diukur dengan uang. 

15_12_2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s