Firasat

Pagi ini aku tengah menyiapkan makanan di meja makan saat radio kesayanganku mulai menyanyikan lagu kesukaanku. Kuhentikan kegiataanku sesaat untuk menghampiri radio yang terletak di atas lemari, kutinggikan volumenya sehingga suara lembut Raisa terdengar membanjiri telingaku.

 

Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu

Desau angin meniupkan namamu

Tubuhku terpaku

 

Kulanjutkan pekerjaanku pagi itu.Tak perlu waktu lama hingga meja makanku penuh dengan makanan. Kulirik jam dinding bebentuk bulat yang tergantung rapi bersama jajaran foto-foto keluargaku. Masih jam lima? Kuperhatikan legi dengan seksama, ternyata jarum jamnya sama sekali tidak bergerak. Rasanya baru beberapa hari yang lalu suamiku mengganti baterainya. Nanti setelah suamiku pulang aku akan memintanya mengganti baterai jam itu.

Kuhampiri HP ku yang tergeletak di atas lemari, di sebelah radio yang masih melantunkan suara Raisa. Ternyata sudah hampir jam tujuh. Kucoba menelpon nomor suamiku, beberapa detik kutunggu tapi tak ada jawaban. Apakah dia masih sibuk dengan pekerjaannya, sampai mengangkat teleponku saja tak sempat, atau setidaknya dia bisa saja mengirimkan SMS. Fiuhh, kuhembuskan napasku. Memang begitulah sifat suamiku, jika dia sudah asyik dengan sesuatu maka tak ada hal yang dapat mengganggunya. Kukirimkan SMS menanyakan bagaimana pekerjaannya semalam.

 

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu

Tabur bintang serupa kilau auramu

Aku pun sadari, ku segera berlari

 

Aku melirik jam tanganku. Jam delapan kurang lima belas menit, dan aku masih terjebak di lampu merah bersama puluhan pengguna jalan lainnya. Aku tidak mau terlambat pada hari pertamaku bekerja. Kulihat kendaraan yang melintas dari arah seberang mulai menipis dan tanpa membuang-buang waktu lebih lama lagi aku segera memutar lenganku dan motorku pun meluncur membelah lalu lintas tanpa diikuti kendaraan lain. Belum sempat aku mengambil nafas, tiba-tiba kulihat di depanku seseorang berpakaian coklat menghadang jalanku. Aku merasa tubuhku lemas dan tulang-tulangku berguguran.

“Maaf, Mbak. Mbak tahu apa salah Mbak?” tanya polisi berkacamata hitam itu.

“Iya Pak. Saya melanggar lampu merah. Tapi Pak, saya sudah hampir terlambat ini Pak. Saya tidak boleh terlambat pada hari pertama saya bekerja.” Aku mulai memohon.

“Saya mengerti Mbak, tapi peraturan harus dipatuhi. Tolong keluarkan SIM dan STNK nya.”

“Pak, saya minta tolong…” Kini kupasang wajahku sememelas mungkin.

“Semakin Mbak kooperatif, semakin cepat selesai Mbak.” Polisi itu berkata tegas. Aku bisa merasakan tatapan matanya di balik kacamata hitamnya. Aku tak punya pilihan lain. Kuambil dompetku dari tas dan kukeluarkan SIM dan STNK ku. Segera polisi itu merebut SIM dan STNK ku. Aku hendak mengeluarkan selembar uang berwarna biru, namun… “Tidak perlu Mbak, nanti saja uangnya dikasih di pengadilan.” Dia tersenyum sambil menghadiahiku sebuah surat tilang. “SIM nya saya tahan dulu, pastikan Mbak menghadiri persidangannya.”

“Hati-hati Mbak, jangan sampai melanggar peraturan lagi. Semoga hari pertama Mbak bekerja berjalan lancar, dan terima kasih sudah membuat hari pertama saya bekerja berjalan lancar.” Dia tersenyum, melambaikan tangannya sambil membuka kacamata hitamnya, menunjukkan mata hitamnya yang indah.

 

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang

Cepat kembali, jangan pergi lagi

 

Siang itu aku tengah menuju ke restoran yang terletak di depan kantorku. Sialnya nasibku karena OB yang biasanya bertugas tidak masuk, maka aku sebagai karyawan junior harus menjadi OB sementara, membelikan makanan bagi senior-seniorku. Memang sih mereka tidak seperti senior kejam di sinetron yang suka membully juniornya, tapi tetap saja aku merasa sebal. Tiba-tiba seorang pria menabrakku dan tanpa kusadari tasku sudah berpindah tangan. Segera aku berteriak sambil menunjuk-nujuk pria itu yang nampaknya juga terkejut mendengar teriakanku, lalu segera dia berlari. Tapi malang benar nasibnya, seorang pria berpakaian rapi tiba-tiba menghadang langkahnya dan dalam hitungan detik kedua tangan pria yang mencopet tasku itu sudah dihiasi oleh sebuah borgol.

“Saya polisi. Tolong jangan main hakim sendiri. Kami akan proses sesuai prosedur yang berlaku.” Pria yang menangkap pencopet itu berusaha menenangkan orang-orang yang hendak memukuli pencopet itu.

“Ini Mbak, tasnya. Lain kali hati-hati ya…” katanya sambil tersenyum saat menyerahkan tasku. Itu dia, polisi yang dulu menilangku. Meskipun tanpa seragam coklatnya aku masih bisa mengenali mata indahnya dan senyumnya yang menawan. Kuterima tasku kembali lalu kusebutkan namaku dan dia pun balas menyebutkan namanya.

 

Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera

Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara

Semoga ada waktu (sayangku) sayangku

 

“Apakah kau tak ingin berhenti dari pekerjaanmu itu?” Aku bertanya sambil mengaduk jus alpukatku, sengaja aku menghindari menatap matanya yang indah. Sengaja kupilih kafe kesukaannya ini untuk menanyakan pertanyaan yang cukup menggangguku itu.

“Mengapa?”

“Bukankah pekerjaan itu berbahaya?” Aku masih terus menghindari tatapan matanya.

“Hahaha…” tawanya yang renyah membuatku mengangkat wajahku dan memandang wajah tampan yang telah berhasil menawan hatiku.”Hanya karena polisi berhadapan dengan penjahat tidak berarti pekerjaan ini berbahaya. Semua pekerjaan memiliki resikonya masing-masing. Tidak berarti seorang polisi itu selalu berhadapan dengan bahaya. Dan tidak berarti orang yang bukan polisi bebas dari bahaya. Seorang pekerja konstruksi bangunan juga menghadapi bahaya, jatuh dari ketinggian,atau terkena barang-barang yang jatuh dari ketinggian. Seorang pengendara kendaraan juga menghadapi baya setiap harinya di jalan. Lihat saja banyaknya kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini, karena orang-orang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas.” Aku yakin bahwa kalimatnya yang terakhir sengaja ditujukan untuk menyindirku, mengingat pertemuan pertama kami terjadi di jalan raya.

 

Ku percaya alam pun berbahasa

Ada makna di balik semua pertanda

Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya

Aku tak peduli, ku terus berlari

 

“Kurasa aku tak sanggup meneruskan hubungan ini.” Kataku lirih sambil menundukkan wajahku.

“Apakah karena aku seorang polisi?” tanyanya ringan, tak ada nada emosi dalam suaranya. Kurasakan genggaman tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Dia terus membawaku berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Aku kagum pada ketenangannya.

“Aku tidak tahu…” Aku berbohong. Memang benar salah satu alasan aku tak mau meneruskan hubungan ini karena dia seorang polisi. Dan aku takut. Aku takut akan kehilangan dirinya suatu hari nanti.

“Oh… kupikir karena aku seorang polisi dan kau tak mau berhubungan dengan polisi.” Kudengar nada suranya yang ringan agak mulai terasa berat. “Apa yang membuat kau menyukaiku?” tiba-tiba dia melontarkan sebuah pertanyaan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku terdiam sementara kami terus saja berjalan menyusuri jalanan kota sore itu. Matahari mulai terbenam dan langkahnya terhenti. Dia menatap langit yang mulai memerah. Kuikuti jejaknya, menikmati senja yang indah.

“Tunggu sebentar!” Dia melepaskan genggaman tanganku lalu menghampiri seorang nenek yang berdiri di pinggir jalan, tampaknya nenek itu kesulitan menyeberang. Kubiarkan pandangan mataku menyelimuti pria pujaan hatiku yang akan segera menjadi matanku saat dia membimbing nenek itu, membantunya menyeberang, kemudian tersenyum sambil melambaikan tangan kepadanya ketika dia kembali menyeberang dan menghampiriku. Ingatangku kembali melayang pada pertemuan pertama dan kedua kami. Saat itulah aku sadar mengapa aku menyukainya.

“Aku menyukaimu karena kau ringan tangan dan rela menolong orang lain, dan mungkin juga karena kau… seorang polisi…”

 

Cepat pulang (cepat pulang)

Cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat pulang)

 

“Mama, mama… aku lapar…” Kurasakan ujung dasterku ditarik. Aku menoleh dan kulihat anakku yang berusia tiga tahun berdiri di sampingku. Aku pasti terlalu menikmati alunan lagu Raisa sehingga melupakan puteraku. Kududukkan dia di kursi lalu kusambil sebuah piring, kuisi nasi dan lauk lalu aku mulai menyuapi puteraku sambil mengajarkannya untuk makan sendiri.

Beberapa manit aku membujuknya hingga akhirnya dia mau makan sendiri. Kuperhatikan cara malaikat kecilku itu makan. Mulutnya belepotan, nasai betebaran di meja makan. Aku tertawa. Setidaknya melihat tingkah laku anakku bisa membuatku melupakan suamiku barang sejenak. Dia belum juga pulang, meskipun dia mendapat shift malam, dia selalu ada bersama kami untuk sarapan. Aku kembali menghembuskan nafasku, dia masih juga belum menelponku atau membalas SMSku.

 

Cepat kembali, jangan pergi lagi

Dan lihatlah sayang (lihatlah)

Hujan terus membasahi seolah luber air mata

(cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi)

 

Aku membelai kepala anakku yang tengah tertidur pulas. Baru beberapa menit aku menyanyikan lagu untuknya, dia sudah terlelap. Aku keluar dari kamar, menghampiri suamiku yang sudah rapi. “Apakah kau akan pergi malam ini?”

“Aku mendapat tugas malam ini.” Dia membelai lembut jemariku.

“Tidak bisakah kau tinggal malam ini?” tanyaku pelan. Berita tentang penyerangan polisi oleh oknum tak bertanggung jawab yang kutonton sore tadi membuatku ngeri.

“Kau pernah bertanya mengapa aku memilih menjadi polisi. Aku akan menjawabnya. Karena aku tak ingin ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena perbuatan orang jahat. Kau ingin aku pulang dengan selamat bukan. Tentunya demikian juga dengan istri-istri lain, yang menunggu suaminya pulang, atau ibu-ibu yang menunggu kepulangan anaknya.”

“Tapi mengapa harus kau dan bukan orang lain saja?”

“Karena aku tak ingin istriku dan anakku kehilanganku. Oleh karena itu aku akan menjaga orang-orang yang berada di luar sana sehingga mereka bisa kembali kepada keluarganya. Karena aku ingin ada orang yang menjagaku saat aku berada di luar sana, sehingga aku juga menjaga mereka. Tidakkah egois bila kita ingin orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin lakukan?” Ucapannya membuatku terdiam.

“Aku pulang besok…” katanya sambil mengecup keningku.

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat kembali, jangan pergi lagi)

Ku hanya ingin kau kembali (firasatku ingin kau tuk cepat pulang) pulang

(cepat kembali, jangan pergi lagi)

 

“Mama sudah habis…” kata anakku sambil menunjukkan piringnya yang bersih. Aku hanya tersenyum sambil melihat nasi yang berceceran di sekelilingnya. Tiba-tiba HP ku berbunyi, dan entah kenapa, perasaanku menjadi tidak nyaman. Aku meraih HP itu dan melihat nama rekan kerja suamiku tertera di layar HP itu, perasaaanku semakin tidak nyaman. “Halo…”

“Halo Bu, kami ingin memberitahu bahwa suami ibu…” Kudengar sebuah suara berat di ujung seberang sana. Aku tak dapat lagi mendengar apa yang dia katakan. Pandanganku terasa gelap dan kepalaku terasa berat. Sayup-sayup kudengar suara anakku memanggilku, “Mama…Mama!!!”

 

Aku pun sadari

Kau takkan kembali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s