Spesial person

Suamiku adalah orang yang paling menakjubkan. Ada beberapa hal yang membuatku kagum dan tak henti-hentinya terpesona. Pertama, dia selalumengerti aku dan bisa membuatku merasa nyaman dalam keadaan apa pun. Pernah suatu ketika aku mengalami hari yang buruk. Presentasi proyek baruku mendapatkan lebih banyak respon negatif daripada respon positif. Bosku pun memintaku untuk mempertimbangkan ulang poin-poin yang menjadi bahan kritikan.

“Oh, kau sudah pulang!” sambut suamiku. Aku hanya tersenyum masam. Aku tidak ingin membicarakan pekerjaanku hari ini. Suasana hatiku sedang buruk.

“Kau tahu, tadi editorku menelpon. Katanya naskahku masih mentah, perlu banyak revisi. Well, kami sempat bersilat lidah berjam-jam di telepon. Hampir saja aku datang ke kantornya dan menghadiahkan tumpukan kertas ini di wajahnya,” katanya sambil mengangkat setumpuk naskah yang tergeletak di atas meja kerjanya. “Tapi kemudian aku berubah pikiran. Dia editorku, kami telah bekerja sama dalam beberapa tahun terakhir, dan tentunya dia mengingkan yang terbaik bagiku.” Dia tersenyum simpul saat kembali meletakkan tumpukan naskah itu di tempatnya semula, lalu beranjak ke dapur dan muncul beberapa saat kemudian dengan dua gelas air di tangannya, “Mau minum?” tanyanya ringan.

Alih-alih menanyakan bagaimana presentasiku, dia malah menceritakan pekerjaannya. Aku tak tahu apakah dia mengatakan hal yang sebenarnya atau hanya untuk menghiburku, tapi kuakui kata-katanya itu menyejukkan hatiku. Semalam aku memberitahunya bahwa hari ini aku akan mempresentasikan sebuah proyek baru. Tentu saja aku ingin tampil sebaik mungkin. Bahkan kemarin dia sempat memeriksa slide presentasiku dan membenarkan beberapa kata yang kurang enak dibaca, itulah salah satu keuntunganku memiliki seorang suami yang bekerja sebagai penulis dan tentunya dia memiliki hubungan yang baik dengan huruf dan kata.

Aku mengambil gelas itu dari tangannya. “Kurasa editormu memang kejam, padahal kau sudah bersusah payah. Tapi seperti katamu, dia menginginkan yang terbaik. Dan itu berarti kau harus berusaha lebih keras lagi.” Kata-kata itu lebih kutujukan pada diriku sendiri. Aku tersenyum lalu meneguk air dalam gelas itu. Kurasa dia sengaja menghiburku dengan caranya. Tak perlu ada kata-kata yang tersurat. Aku sudah mengerti maksudnya.

Hal yang kedua, suamiku selalu berusaha membuatku tampak sempurna. Pernah suatu ketika Ria, anak kami bertanya, “Mama, kenapa Mama tidak pernah memasak?” Memang aku tidak pernah memasak. Aku memiliki kesibukan sendiri sebagai wanita karier, dan untuk urusan memasak, suamiku yang mengerjakannya. Pekerjaannya sebagai penulis freelance memberikannya celah untuk mengatur jam kerjanya secara fleksibel. Dan dia tidak pernah komplain dengan hal itu. Tapi tidak berarti aku tidak melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali. Absolutely not. Aku mengerti tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang wanita dan ibu.

“Mama hanya boleh memasak untuk Papa,” sahut suamiku yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. “Dan Papa akan memasak untuk Mama dan Ria. Sekarang  Ria bantu Papa masak yuk!” Suamiku menggandeng anak kami ke dapur sambil bercanda. Aku teringat pertama kali aku memasak untuknya. Saat itu kami sedang berlibur di villa seorang teman kuliah. Para pria sedang menyiapkan peralatan untuk acara api unggun malam nanti dan para wanita, termasuk aku, bertugas menyiapkan makanan. Saat acara api unggun kami makan bersama. Kulihat beberapa teman yang memakan ayam goreng masakanku mengernyitkan dahi. Beberapa di antara mereka bahkan tidak lagi menyentuh masakanku itu. Kurasa aku tahu apa penyebabnya. Aku memang tidak pandai memasak.

“Hmmm, aku suka sekali ayam goreng. Boleh kuhabiskan semua?” tanya pacarku, saat itu dia belum menjadi suamiku. Teman-teman memandanginya dengan tatapan lega bercampur iba. Tapi pacarku itu tetap saja memakan ayam goreng masakanku dengan lahap dan dia benar-benar menghabiskannya. Itulah yang membuatku semakin menyukai pacarku itu, dan bersedia menaikkan levelnya menjadi suamiku.

Yang ketiga, suamiku selalu bisa membuatku merasa spesial. Suatu hari Ria menemukan sebuah kotak saat kami sedang membersihkan gudang. “Mama, siapa anak laki-laki dalam foto ini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah foto yang sudah nampak memudar.

“Di mana kau menemukannya?” tanyaku.

“Di dalam kotak ini. Di dalamnya juga ada beberapa barang dan kurasa itu semua milik Mama.” Dia menunjukkan sebuah kotak tua yang memang pernah menjadi tempatku menyimpan barang-barang berharga.

“Oh, anak itu dalah cinta pertama Mama. Saat bermain di taman, Mama menemukan foto itu.” Tanpa berpikir panjang aku mengatakan apa adanya.

“Wah, ternyata kau yang menemukannya.” Sahut suamiku yang sudah berdiri di samping Ria sambil melirik foto di tangannya. “Aku kehilangan foto itu saat usiaku sembilan tahun.” Dia tersenyum renyah lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Itulah beberapa hal yang kukagumi dari suamiku. Dia selalu membuatku merasa spesial, karena dia adalah orang yang spesial. 

Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s