Anak kecil dan sepedanya

Hari ini aku melihat seorang anak kecil menaiki sebuah sepeda besar, maksudku sepeda yang seharusnya dinaiki oleh orang dewasa. Aku melihat anak itu mengayuh dengan sekuat tenaga, dan ketika dia berhenti saat jalan macet, dia turun dari sadel sepeda, berdiri dengan berjinjit karena kakinya tidak sampai. Sepeda yang dinaikinya terlalu tinggi untuknya. Sayang aku tidak sempat mengabadikan momen itu dengan kameraku =(
Kejadian yang kulihat itu mengingatkanku pada cerita papiku. Papi sering bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana papiku berjualan makanan dengan menaiki sepeda kebo, istilah orang untuk menyebut sepeda kuno yang warnanya hitam dan tentunya ditujukan untuk dikendarai oleh orang dewasa. Papi sering bercerita bahwa kakinya tidak sampai untuk menaiki sepeda itu, dan bagaimana papiku harus menabrakkan sepedanya agar oleng sehingga dapat turun dari sepeda.
Aku tersenyum, membayangkan bagaimana kehidupan saat itu begitu sulit. Dan somehow aku bersyukur untuk hidupku saat ini. Aku bersyukur ketika aku kecil aku memiliki sepeda seukuranku, dan seingatku aku berganti sepeda tiga kali. Well, ketika kecil aku suka bersepeda. Sekarang pun masih, kadang kalau pulang kampung aku bersepeda ke kampung. Finally momen singkat itu membuatku mengucap syukur atas hidupku, meskipun tidak bergelimang harta, tapi setidaknya aku hidup berkecukupan. That’s enough. Thanks God and Dad for provide a good life for me…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s