Shampo

“Aduh Nin, kok kamu basah kuyup begitu?” tanya Mama ketika melihat Nina masuk ke rumah.

“Iya Ma, Nina lupa bawa payung.” Jawab Nina sambil menggigil kedinginan. Hujan di luar sana masih turun dengan derasnya.

“Ya sudah sana cepat mandi, nanti kamu sakit lagi!” Tanpa disuruh dua kali pun Nina segera menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar teriakan Nina dari kamar mandi, “Bik kok shamponya habis?”

 Tergopoh-gopoh Bik Ijem, pembantu Nina berlari menuju ke kamar mandi. Terdengar perbincangan mereka diiringi nada-nada tinggi yang meluncur dari mulut Nina. “Ya sudah, cepet beliin Shampo. Nina mau mandi!” Dan pembicaraan itu pun diakiri dengan Bik Ijem yang kembali tergopoh-gopoh keluar rumah, membeli shampo di warung sebelah.

“Kenapa sih Nin?” tegur Mama yang mendengar Nina memarahi Bik Ijem.

“Itu Ma, Bik Ijem. Nina mau mandi, eh shamponya habis.” Nina menjawab kesal. Dia masih menggigil kedinginan.

“Lalu Bik Ijem yang salah kalau shampo kamu habis?”

“Iya lah. Kan tugas Bik Ijem untuk mengurus semua keperluan Nina. Termasuk shampo Nina. Kalau shampo Nina habis harusnya Bik Ijem segera beliin dong.”

“Sekarang Mama mau tanya. Yang pakai shampo kamu atau Bik Ijem?”

“Nina…”

“Kalau begitu yang tahu kalau shampo kamu habis seharusnya kamu atau Bik Ijem?”

“Nina, tapi kan…” Nina tak mampu lagi berkata-kata.

“Kalau kamu sendiri yang pakai shampo kamu nggak tahu kalau shampo kamu habis, bagaimana mungkin Bik Ijem bisa tahu kalau shampo kamu habis?” Kata-kata Mama mebuat Nina kembali terdiam.

“Non, ini shamponya…” sela Bik Ijem yang baru saja kembali dari warung.

“Makasih ya Bik. Maafin Nina, tadi marah-marah sama Bibik…”

“Bibik juga salah Non, nggak tahu kalau shampo Non habis…”

“Nggak Bik, Nina yang salah seharusnya Nina yang lebih tahu barang-barang Nina. Nina mandi dulu ya Bik!” ujar Nina sambil menuju ke kamar mandi diiringi senyum Mama.

**

Sebuah cerita yang kubaca waktu aku masih kecil. Seringkali kita menyalahkan orang lain atas hal-hal yang sehrusnya menjadi tanggung jawab kita. Kita menutup mata terhadap ketidaksempurnaan diri sendiri dan menggunakan berbagai alasan untuk membenarkan diri sendiri dan melemparkan kesalahan kepada orang lain. Hal yang kupelajari, jangan asal mengkambinghitamkan orang lain, dan butuh kebesaran hati untuk mengakui kesalahan.    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s