Korupsi lagi, korupsi lagi…

Korupsi, korupsi dan korupsi… Ini topik lagi hot. Ditambah lagi tertangkapnya tokoh penting dalam kancah pemerintahan Indonesia. Teringat kembali tentang maraknya kasus korupsi, aku ingat pembicaraan singkat dengan rekan kerja yang menceritakan kisah teman dekatnya yang nyalon jadi pejabat di kampungnya. Menurut rekan kerjaku, temannya itu menceritakan bahwa dalam upaya meloloskan dirinya sebagai pejabat publik, modal yang dikeluarkannya amat sangat banyak. Yah, tahu sendirilah bagaimana orang itu harus berkampanye, bahkan sampai membeli suara.

“Kalau sudah jadi pejabat, ya harus diusahakan supaya balik modal dong…” kata rekanku itu menirukan ucapan temannya. Lalu bagaimana caranya? Ya korupsi adalah satu-satunya jalan yang menggiurkan agar cepat balik modal. Suatu pemikiran yang logis dan amat sangat tepat. Untuk mendapatkan suatu kedudukan tentunya dibutuhkan modal yang besar, lalu wajar saja jika orang mengharapkan kedudukan yang berhasil diraihnya itu memberikannya kesempatan untuk balik modal, bahkan harusnya bisa mendapatkan uang lebih besar daripada modal yang dikeluarkan. Benar-benar strategi bisnis yang mak nyus. Masalahnya, apakah benar bahwa politik dan pelayanan terhadap masyarakat telah diturunkan derajatnya sebagai sebuah bisnis belaka? Di manakah tanggung jawab dan etika wakil rakyat, yang notabene mengemban amanat rakyat? Cihh, rasanya nggak aktual lagi ngomongin soal kaya begituan. Udah dibuang jauh-jauh itu yang namanya moral, etika, dan lain-lain.

Hal ini membuatku teringat kepada topik lain tentang pembangunan, terkait bidang pekerjaan yang kugeluti sekarang. Sudah bukan rahasia lagi jika pemerintah seharusnya sudah memiliki tata perencanaan kota, di mana ada daerah-daerah tertentu yang difungsikan sebagai perumahan, perindustrian, ruang terbuka bahkan daerah konservasi. Well, kembali lagi kepada power of money, jaman sekarang uang itu rasanya bisa membeli apa pun, bahkan tempat-tempat yang seharusnya tidak boleh dijadikan bangunan sekarang bisa disulap jadi bangungan. Ada sebuah proyek yang kutangani di mana bagunan itu dibangun di atas tanah yang notabene daerah konservasi. Seharusnya derah konservasi tidak boleh dijadikan bangunan karena merupakan derah yang dilindungi dan dilestarikan. Lalu bagaimana caranya? Jawabannya dengan merubah undang-undang. Gila bukan?

Karena hukum tidak melegalkan upaya itu, maka satu-satunya cara untuk mejadikan hal itu legal adalah dengan merubah hukum. Lalu apa yang harus dilakukan untuk merubah hukum? Melobi orang-orang yang mampu menyentuh hukum. Dengan cara memberikan sedikit buah tangan kepada orang-orang yang mentalnya bobrok itu, tidak mustahil orang dapat membeli hukum. Persetan dengan istilah kekuatan hukum. Wong nyatanya hukum dengan mudahnya dapat dikalahkan dengan uang. Memang sih hukumnya tidak bisa dikalahkan, orang-orangnya yang bisa dikalahkan sehingga hukum dibuat, dirubah dan dimanipulasi sedemikian rupa mengikuti kehendak mereka. Kasihan hukum, dia tidak bisa membela dirinya dan tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman uang.

Kembali lagi soal wakil rakyat. Rekan kerjaku mencetuskan sebuah ide, “Bagaimana kalau orang-orang yang mencalonkan dirinya sebagai wakil rakyat itu dilarang berkampanye, dilarang mengiklankan dirinya. Kampanye yang boleh dilakukan hanya melalui siaran TV yang sudah diatur oleh pemerintah.” Well, I think it’s a good idea. Masalahnya apakah akan ditaati? Sekarang aja banyak tuh iklan-iklan yang menjual orang-orang yang mencalonkan diri sebagai presiden. Siapa yang nyalonin coba? Belum-belum sudah PD abis nyalon jadi presiden.

Ide untuk melarang penggunaan uang untuk kampanye memang masuk akal. Logikanya kalau tidak keluar uang maka tidak perlu ada upaya balik modal. Lihat saja itu spanduk-spanduk yang bertebaran di jalan. Berapa banyak uang yang digunakan untuk membuat spanduk-spanduk seperti itu. Dan hal yang paling lucu menurutku adalah aku sama sekali nggak kenal itu oranf-orang yang fotonya dipasang di situ. Siapa itu coba? Kenal aja nggak. Emangnya mereka pikir dengan pasang spanduk orang bakal milih mereka . Bodoh sekali pemikiran seperti itu. kalau mau dipilih ya perkenalkan diri dengan baik dan benar dong. Kalau mau jadi wakil rakyat ya deketin rakyatnya. Kurasa pasang spanduk-spanduk seperti itu pemborosan tingkat tinggi. Tapi mental orang Indonesia sudah sedemikian rupa bobroknya. Heran deh sama orang-orang pinter yang sebenarnya nggak pinter.

Well, itu hanya sedikit pemikiran, sekelumit ucapan dan penukaran pikiran antara aku dan rekan-rekan kerjaku yang kutuangkan di sini. Barangkali ada orang yang tergugah hatinya lalu bisa memiliki pemikiran untuk membawa suatu pemikiran yang lebih mendalam daripada celotehan-celotehan orang-orang awam ini. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s