Hidup itu bukan matematika

“Hidup itu bukan matematika,” kata rekan kerjaku setiap kali aku mengeluh atau menelurkan statement yang menurutnya terlalu idealis ha5…

Pernah dalam suatu perjalanan untuk meeting pernah kami terjebak macet berjam-jam, yah namanya juga Jakarta, so paste macet itu makanan sehari-hari. Ketika aku mengeluhkan kemacetan itu dan betapa kami sudah merencanakan berangkat berjam-jam sebelumnya dan sekarang kenyataan yang ada di depan mata adalah kami sudah pasti terlambat. Rasanya konyol, sudah berangkat dua jam lebih awal tapi sampai di sana satu jam lewat dari jadwal yang dijanjikan. Pada lain kesempatan, pernah kami berangkat dengan estimasi waktu yang sama, ternyata sampai di sana malah hampir satu jam sebelum jadwal. “Hidup itu bukan matematika Pak,” kata rekan kerjaku saat aku mengeluhkan hal itu.

Sama halnya dengan pekerjaan. Banyak masalah-masalah yang terjadi, mulai dari gambar yang tidak dapat diterapkan di lapangan karena satu dan lain hal, perubahan desain yang terjadi karena permintaan owner, sampai gambar-gambar yang tidak cocok satu sama lain, kalau yang ini memang human eror sih ha5… Well, padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan menghindari adanya kesalahan. Tapi yah itulah hidup. Tak ada yang sempurna dan tak bercacat cela. Saat aku pusing dan mengacak-acak rambutku, kembali lagi rekanku itu mengucapkan kalimat yang sama, “Hidup itu bukan matematika Pak.”

Lalu pada waktu kami makan seusai meeting, rekanku itu bertanya “Kapan mau merit, sudah punya pacar belum?” Memang sih dia sudah merit. -Just for info, for me itu pertanyaan paling menjengkelkan- Kujawab saja, “Nantilah Pak, masih lama, masih banyak yang mau direncanakan dan dikerjakan. Investasinya kelamaan nanti ha5… =p” Lagi-lagi dia melontarkan kalimat yang sama, “Hidup itu bukan matematika Pak.”

Rasanya perlahan kalimat itu mulai meracuni otakku. Sewaktu temanku, ini teman yang lain, teman kuliah dulu, menceritakan rencananya untuk mencoba melamar kerja di luar negeri, lalu menceritakan tentang penghasilan, berapa lembar dolar yang akan masuk ke kantungnya, lalu berapa rupiah yang akan didapatnya setelah melalui proses money exchange, aku hanya tersenyum dan melontarkan kalimat itu, “Hidup itu bukan matematika.”

Menurutku, kalimat itu memang benar, sudah dilumpuhkan oleh racunnya soalnya jadi sudah terpolusi dan terkontaminasi, maksudnya I think dalam hidup ini tidak ada hal yang pasti, selain kematian yang menunggu di penghujung jalan kehidupan ha5… Kalau matematikan itu kan ilmu pasti, my dad selalu ngomong gitu sih. Tapi dalam hidup, tidak ada jaminan bahwa 1 + 1 = 2. Bisa saja 1 + 1 = 0 atau 1 + 1 = 11. Sebaik-baiknya orang merencanakan dan berusaha memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencananya, there is always an invisible hand that interfered our plans. That’s way aku memaknai hidup ini sebagai sebuah intervensi Tuhan.

Kupikir itulah hidup, setidaknya hidupku penuh intervensi Nya. Banyak hal-hal yang kurencanakan, aku merencanakan A, tapi pada kenyataannya terjadi sesuatu, atau rencanaku itu tidak berjalan lancar sehingga yang terjadi adalah B. Nggak semua sih tapi sebagian hidupku penuh dengan kejadian seperti itu. I think it’s same with you. Karena itulah aku sependapat dengan statement rekanku tersebut. Hidup ini bukan matematika, coz there is no guarantee that 1 + 1 = 2, but there is always His hand that lead me to walk in His way, and I think His way is far beautiful enough better than the way I choosed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s