Batu di tengah jalan

Pada suatu hari Sang Raja ingin menguji rakyatnya. Pagi-pagi benar dia menyamar menjadi rakyat jelata tanpa diiringi para pengawal dan pergi ke daerah di pinggir kota. Sesampainya di sebuah jalan setapak, raja itu meletakkan sebuah batu yang cukup besar di tengah jalan sambil menunggu bagaimana reaksi rakyatnya yang melewati jalan tersebut. 

Setelah menunggu beberapa lama, lewatlah seorang tuan tanah. Ketika tuan tanah itu melihat di tengah jalan, dia bergumam, “Siapa yang meletakkan batu ini? Batu ini bisa memuat orang lain celaka.” Lalu dia berjalan memutari batu itu dan segera berlalu. Melihat reaksi tuan tanah tersebut, raja hanya mengelus dada. 

Kembali lagi raja menunggu, ketika hari hamper gelap, lewatlah seorang pedagang. Karena terlalu sibuk menghitung uang hasil dagangannya, maka pedagang itu tidak melihat batu di tengah jalan, dan dia terantuk dan terjatuh. “Siapa yang meletakkan batu ini di tengah jalan? Mebuat orang jatuh saja!” ujar pedangan itu sambil mengusap-usap lututnya yang terluka, dan dia pun berlalu sambil marah-marah dan menyalahkan batu itu. Kembali raja hanya mampu menghela nafas panjang. 

Saat raja sudah mulai putus asa dan berniat kembali ke istana, lewatlah seorang petani yang baru pulang dari ladang. Karena saat itu hari sudah gelap, maka petani itu juga terantuk dan jatuh. “Siapa yang meletakkan batu ini di tengah jalan? Batu ini dapat membuat orang lain celaka.” ujar petani itu. Kemudian dia meletakkan cangkulnya dan mengangkat batu yang cukup besar itu dan memindahkannya ke tepi jalan. Ternyata di bawah batu itu si petani menemukan sekantung uang emas. Petani itu pun merasa kebingungan menemukan uang itu.

Raja yang merasa iba menampakkan dirinya dari tempat persembunyiannya. “Tuan, apakah ini milik tuan?” tanya petani kepada raja. Raja pun menjelaskan apa yang telah terjadi, dan setelah didesak petani itu akhirnya mau menerima uang tersebut.

Sebenarnya hal yang menarik dari cerita ini adalah respon ketiga orang yang lewat di jalan itu. Banyak orang hanya menyatakan simpati dengan kata-kata ketika diperhadapkan suatu masalah yang juga bersangkutan dengan orang lain, bahkan ada juga yang marah terhadap keadaan dan tidak peduli. Mungkin dengan turut merasa simpati, orang merasa sudah cukup, namun perasaan simpati itu sama halnya dengan menyalahkan situasi. Kedua respon itu tidak menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Hendaknya perasaan simpati itu juga diteruskan dengan perbuatan nyata yang benar-benar dapat dirasakan oleh orang lain, tidak hanya berhenti di perkataan atau perasaan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s