Kisah pohon bambu

Di sebuah hutan hiduplah sebuah pohon bambu yang sangat indah. Banyak orang yang mengambil batang bambu itu selalu berkata, “Pohon bambu yang sangat indah, izinkanlah aku mengambil batangmu untuk digunakan membuat barang-barang.” Dan pohon bambu itu dengan seang hati memberikan batangnya. Setiap ada batang bambu yang dipotong, tunas baru yang indah akan muncul menggantikan batang tersebut. Demikianlah pohon bambu itu merasa gembira dan bahagia. 

Suatu hari datanglah seekor burung kecil dan burung itu meminta izin pada pohon bambu untuk tinggal pada salah satu batangnya. Dengan senang hati pohon bambu mengizinkan burung itu untuk tinggal dan mereka menjadi sahabat. 

Ketika datang seorang anak yang ingin mengambil batang bambu untuk membuat seruling, si burung menasihati pohon bambu untuk tidak memberikan batangnya. “Nanti batangmu akan dilubangi dan tidak lagi menjadi indah.” kata si burung. Pohon bambu itupun menuruti nasihat sahabatnya dan dia mengeraskan batangnya sehingga si anak tidak dapat mengambil batang bambu itu. Dengan sedih si anak itu pun kemudian pergi.

Pada hari lain datanglah seorang petani yang ingin mengambil batang bambu untuk membuat kandang ternak. Kembali si burung menasihati pohon bambu untuk tidak memberikan batangnya. “Nanti batangmu akan kotor oleh kotoran ternak dan tidak lagi menjadi indah.” kata si burung. Pohon bambu itu pun kembali mengeraskan batangnya sehingga petani itu tidak dapat mengambil batangnya. Demikianlah setiap kali ada orang yang hendak mengambil batang bambu, si burung selalu menasihati pohon bambu untuk tidak memberikan batangnya. 

Beberapa waktu kemudian lewatlah bebarapa orang di dekat pohon bambu itu sambil mengamati si pohon bambu. “Bukankah pohon bambu ini dulu begitu indah, mengapa sekarang dia menjadi tidak indah lagi?” tanya yang seorang. “Iya benar, dulu pohon bambu ini begitu indah, tapi sekarang dia sangat jelek. Tidak ada yang mau mengambil batangnya untuk digunakan.” ujar orang yang lain lagi. Mendengar hal itu si burung pun berkata kepada pohon bambu, “Ternyata kamu adalah pohon bambu yang jelek. Aku tidak mau lagi tinggal di sini.” ujarnya sambil berlalu. Pohon bambu itu pun menjadi sangat sedih.

“Pohon bambu, mengapa kau sedih? Biarkan saja burung itu pergi. Dia bukan sahabat yang baik.” ujar rumput yang ada di sekitar pohon bambu. 

“Aku sedih bukan karena burung itu. Aku sedih karena aku tidak lagi indah dan orang tidak lagi mengambil batangku.” jawab pohon bambu.

“O jadi karena itu. Dulu kau begitu indah karena kau selalu memberikan batangmu kepada orang yang membtuhkan dan kau menjadi berguna, tetapi sejak burung itu tinggal bersamamu, kau selalu menuruti nasehatnya dan tidak lagi mau memberikan batangmu kepada orang yang membutuhkan. Oleh karena itu kau tidak lagi berguna dan orang tidak lagi memandangmu sebagai pohon bambu yang indah. Lihatlah aku. Aku selalu memberikan daun-daunku untuk digunakan sebagai makanan ternak, dan aku merasa gembira dan bahagia karena aku berguna bagi orang lain.”

Sejak saat itu pohon bambu selalu memberikan batangnya kepada orang yang mebutuhkan, tidak peduli digunakan untuk dibuat lampu yang indah ataupun kandang ternak yang kotor. Dan diapun merasa bahagia karena dapat berguna dan membantu orang lain. Pohon bambu itu pun kembali menjadi pohon bambu yang indah dengan tunas-tunas yang bermunculan menggantikan batang yang telah diambil.

**
Sebuah cerita yang pernah kubaca saat masih kecil dulu yang entah kenapa kembali muncul di pikiranku. Hal yang membuat orang merasa bahagia adalah ketika dia melakukan apa yang menjadi kewajibannya, apa yang seharusnya dilakukannya sesuai dengan tujuan hidupnya. Jika orang tidak melakukan tugas-tugasnya maka dia dapat kehilangan orientasi akan tujuan hidup dan kehilangan identitasnya.

Hendaknya apa yang sedang dikerjakan saat ini tidak dipandang sebagai suatu beban tetapi sebagai suatu hal yang memang menujukkan siapa diri kita. Dengan demikian pekerjaan atau apapun yang dihadapi akan menjadi menyenangkan untuk dikerjakan. Lakukan apa yang memang seharusnya dilakukan sesuai dengan tujuan kita diciptakan.

Mai,10, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s