today’s learning

Tergelitik untuk melemaskan jari-jari di atas keyboard, setelah seharian meeting & terjebak macet – kapan ya Jakarta bebas macet =(

Well, anyway, hari ini sehabis meeting sempat cerita-cerita dengan klien yang berasal dari Padang. Kata beliau, di Padang itu sudah biasa gempa bumi, katanya gempa Jogja tahun 2006, kalau nggak salah soale waktu itu aku abis ujian akhir SMA, nggak ada apa-apanya dibanding gempa yang terjadi di Padang. Memang sih sempat denger gempa di Nias, Mentawai dll. Beliau bercerita kalau gempa itu orang naik motor pasti jatuh, terus pak naik mobil kaya dibanting-banting gitu, badan sampe kebentur kiri-kanan. Terus katanya lagi di sana itu orang meninggal sudah biasa, si A meninggal karena gempa, si B hari ini masih ketemu terus besok nggak ada karena gempa itu sudah biasa. Ngeri y to dengere.

Terus satu hal lagi katanya sehabis gempa orang-orang yang notabene korban gempa itu dioperasi tanpa dibius lha wong RS e ya kena gempa, katae obat-obat bisu itu juga berantakan. Yang paling buat aku ngeri pas beliau bercerita ada seorang petugas PLN yang sampe menggergaji kakinya sendiri saat tertimpa reruntuhan tiang saat lagi bertugas coz takut kena tsunami. Ga bisa bayangin gimana gergaji kaki sendiri, ngeri abis. Kaya film saw gitu, wis pokoke ngono lah. Bayangin ae aku males. Sekarang itu yang ditakuti tsunami, bukan gempa lagi Pak, katanya, karena gempa sudah biasa, seperti makanan sehari-hari.

Kata beliau orang-orang di Mentawai terancam tersapu oleh tsunami. Tsunami yang pernah terjadi di Padang diperkirakan lebih dahsyat daripada yang terjadi di Aceh. Tambah ngeri bayangine. Katanya setiap 200 tahun akan ada tsunami besar dan jika tsunami itu terjadi, yang diperkirakan terjadi tahun 2033 maka kepulauan Mentawai akan hilang. Terus kenapa orang-orang di situ nggak mencari tempat yang lebih aman? Kata beliau orang-orang itu nggak punya pilihan. Mau ke mana coba, secara mata pencaharian dan kehidupan mereka di situ.

Hal yang terpikir olehku saat mendengar cerita itu adalah betapa bersyukurnya aku, kita yang hidup dalam kondisi yang lebih aman dibanding mereka yangh hidupnya setiap hari berhadapan dengan bencana. Masih banyak orang lain yang hidup di tempat yang berbahaya dan setiap hari harus berhadapan dengan bahaya. Kita yang hidupnya lebih enak, nyaman, aman malah sering merasa kurang ini itum, dan nggak bersyukur. Nggak usahlah pakai demo menuntut kenaikan upah demi mencicil motor kawasaki, secara pakai motor bebek juga bisa. Syukuri apa yang ada karena hidup ini anugerah. Mengutip kata-kata yang kudengar saat nonton film, Pena sama pensil itu sama bagusnya, sama-sama bisa dipakai buat nulis.

Nulise asal. Soale wis kesel abis bergelut di Jakarta seharian. Hoamm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s