Keep try

“Huh… apakah aku akan berhasil melewati tes TOEFL ini?” Aku menghempaskan tubuhku pada sofa yang tersedia di kafe itu. Kepalaku benar-benar terasa berat karena setengah isi buku TOEFL setebal 10 cm sudah berpindah tempat, tentunya kupindahkan ke dalam kepalaku.
“Makanya belajar!” sahut orang yang duduk di sebelah kiriku. Dua kata yang diucapkannya benar-benar terasa menampar pipiku. Aku mengelus pipi kiriku. Tidak sakit. “Kalau kamu nggak belajar ya kamu sudah pasti nggak lulus.” Ingin aku memasukkan gumpalan tanganku ke mulutnya, jika saja aku belum kehilangan kewarasanku.
“Kamu nggak tahu sih, susah tahu…”
“Makanya belajar!” Kembali dia mengulangi kalimat itu. “Tunggu sebentar ya!” Dia bangkit berdiri, menuju ke counter. Aku menyandarkan punggungku ke bantalan sofa sembari mencoba memutar kembali deretan kata-kata yang kuhafalkan tadi, tentunya dalam Bahasa Inggris.
“Nih, punyamu!” Dia menyodorkan cup berisi coffe milk tea pesananku sembari mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Kenapa kamu nggak duduk di depanku saja?” tanyaku sambil memainkan topping buble pada minumanku itu.
“Kursinya keras. Enakan di sofa. Empuk.”
“Dasar!”
“Shall we practise?” Dia sengaja memancingku dengan berkata-kata dalam Bahasa Inggris.
“Ohhh… can’t we just have vacation today? It’s Saturday night…”
“Practise makes you better!”
“Whatever. I’m not sure about my English skill. Can I pass the TOEFL test, I mean can I get highest score?” Aku mulai menghisap minumanku. Beberapa topping buble berdesakan saat mereka melewati sedotan menuju ke mulutku.
“I don’t know.” Dia menghisap minumannya. Dalam hati aku bertanya apakah milk latte pesanannya enak. Setidaknya warna putihnya memberiku first impression yang buruk. Aku tidak suka warna putih. Terlalu pucat. “You never know until you try.”
“But, how if I fail?” Aku memperhatikan sepasang remaja yang duduk tak jauh dari kami. Menurutku mereka pasangan yang aneh. Mereka nampak sedang berkencan, maksudku berkencan dengan gadget mereka masing-masing.
“The one thing I know is you will certainly fail if you never try.” Katanya sambil memutar cup minumannya dan mendorong cup itu beberapa centi ke arahku. “You’ve got message from Mr. Calais. Read it!”
Mau tak mau mataku pun bergerak menuju ke cup itu. Seulas senyum mengembang di bibirku saat membaca tulisan yang terpampang di situ. “Ok, you win.”
Liekeas

Bagaimana ini? Aku stress. Rasanya nggak mungkin aku bisa lolos tes TOEFL dengan skor setinggi itu. Kukirimkan BBM singkat kepadanya sambil berbaring di atas kasur. Buku TOEFL setebal 10 cm itu tergeletak di lantai, masih terbuka.
I think you’ve got enough spirit for study. Dia membalas BBM ku dalam Bahasa Inggris. Oh, not again. Kurasa otakku sudah cukup kenyang setelah hampir dua jam melahap buku TOEFL.
I think it’s imposible. I know my skill. I can’t do it. I think I’ll give up.
I think we spoke about it yesterday.
But it’s really hard. I’m not smart enough.
Kutunggu beberapa menit sambil terus melirik blackberry hitam yang tergelat di samping kepalaku. Tak ada jawaban. Aku pun bangkit dari tempat kasurku dan mulai merapikan buku TOEFL yang kutelantarkan di atas lantai saat kudengar suara dari blackberry ku dan kulihat lampunya berkelap-kelip. Dia membalas BBM ku.
What’s this? Dia mengirimkan sebuah gambar yang membuat mulutku terkunci.
Krismint Liem林玉敏qas
Keep study. You’ll find a way. The fact that you’re afraid is add more reason for you study hard. Dia menambahkan kalimat itu tak lama kemudian.
You win… again. Balasku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s