Saat Kau tak me…

Saat Kau tak memberi sebatang emas sperti pintaku, aku percaya karena Kau tengah sibuk menyiapkan sebongkah berlian bagiku…

Advertisements

Untuk mengetahui arti…

Untuk mengetahui arti 1 tahun, bertanyalah kepada siswa yang gagal SPMB/ujian masuk perguruan tinggi.
Untuk mengetahui arti 1 bulan, bertanyalah kepada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk mengetahui arti 1 minggu, bertanyalah kepada editor majalah mingguan.
Untuk mengetahui arti 1 hari, bertanyalah kepada buruh harian yang punya enam orang anak untuk diberi makan.
Untuk mengetahui arti 1 jam, bertanyalah kepada orang yang sedang mengerjakan soal ujian.
Untuk mengetahui arti 1 menit, bertanyalah kepada orang yang ketinggalan kereta.
Untuk mengetahui arti 1 detik, bertanyalah kepada orang yang selamat dari kecelakaan.
Untuk mengetahui arti 1 milidetik, bertanyalah kepada orang yang memenangkan olimpiade.

[Sean Covey – The 7 Habits of Highly Effective Teens]

Doing little things that give big impact…

Doing little things that give big impact… Aku yakin kita semua setuju dengan statement tersebut. Kurang lebih statement itu dapat diartikan sebagai berikut : Tidak perlu melakukan hal-hal besar untuk memberikan bisa berdampak, cukup dengan melakukan hal-hal kecil, apa yang bisa kita lakukan saat ini.   

Namun, bagaimana jika prinsip tersebut diterapkan tidak hanya untuk hal-hal yang positif melainkan juga dapat diterapkan pada untuk melakukan hal-hal yang negatif. Contohnya hal yang sederhana saja, membuang sampah sembarangan. Misalnya membuang tissue di jalan. Barangkali pikiran kita mengatakan cuma sesekali dan hanya selembar tissue saja. Tapi bagaimana jika ribuan orang lain juga berpikiran sama dengan kita. Alhasil yang ada adalah tumpukan tissue yang membuat got mampet dan buntu. Ujung-ujungnya banjir deh, seperti yang terjadi di Jakarta.

Salah siapakah itu? Menurutku salah kita semua. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap kita pasti pernah membuang sampah sembarangan. Dan jika mau ditimbang-timbang, mana yang lebih banyak, melemparkan sambah sembarangan atau memungut sampah yang kita temui di jalan dan memasukkannya ke tong sampah?

Hmmm, itulah sedikit pemikiranku sewaktu memikirkan tentang banjir dan sampah di Jakarta…

Ketika angin kencang menerpa

Jika akhir-akhir ini banyak angin menerpa hidupmu – angin perubahan, angin kemalangan, atau mungkin angin kebutuhan dan tuntutan yang terus menerus menghantam yang membuatmu merasa … tumbang – tetaplah yakin dan berbesar hati.

Seperti yang dikatakan ibu saya, “Akar menancap lebih dalam ketika angin kencang menerpa.”

-Charles R. Swindoll

Malam Tahun Baru

Hari terakhir di tahun ini dihiasi dengan langit yang bermuram durja. Sejak pagi tadi langit menampakkan wajah mendungnya. Sepertinya matahari enggan menampakkan wajahnya, bahkan untuk sekedar mengucapkan perpisahan dengan tahun ini. Gerimis yang mulai turun sejak siang tadi kini mulai berganti wajah menjadi hujan deras saat aku berlari menuju mobil yang kuparkir di halaman kantor. Setengah mengeluh aku menyesali nasibku yang harus menghabiskan hari terakhir tahun ini dengan setumpuk pekerjaan, sementara hampir setengah penghuni kantorku tidak menempati mejanya.

Saat berhenti di perempatan terakhir sebelum dekat rumahku, aku melihat seorang anak perempuan yang berprofesi sebagai joki payung. Anak itu tampak berusaha membujuk seorang bapak untuk menggunakan jasanya. Sepertinya bapak itu menunggu hujan reda, tebakku saat melihat dia menegadahkan tangannya, mencoba merasakan tetesan air dengan telapak tangannya. Kalau aku tidak salah, anak itu bernama Nina, atau Ana, atau Tina? Kurasa dia seumuran dengan anak sulungku. Entahlah aku lupa. Aku pernah mendengar teman-temanku membicarakan anak itu saat kami makan di restoran yang berada di seberang jalan ini. Kudengar klakson mobil di belakangku dan segera kulirik traffic light yang ternyata sudah menampakkan lampu hijau. Segera kuinjak pedal kopling dan kumasukkan tuas gigi mobil sebelum kutekan pedal gas mobilku yang membawaku melaju menuju rumah.

Kedatanganku di rumah disambut dengan rengekan anakku yang mengajakku makan di restoran. Memang kami biasa merayakan hari istimewa dengan makan di luar, dan tentunya hari ini adalah hari yang istimewa. Malam ini adalah Malam Tahun Baru. Kulirik suamiku yang duduk di sofa tengah menonton TV. Dia menganggukkan kepalanya pelan.

Kini kami sudah duduk di restoran dekat rumah kami. Supanya tidak kena macet, alasan suamiku saat anak kami mengajak kami untuk pergi lebih jauh lagi. Aku setuju dengan suamiku, beberapa jam lagi pastilah jalanan akan dipenuhi oleh orang-orang yang merayakan malam pergantian tahun dengan konvoi motor, meskipun aku ragu mereka akan tetap melakukan ritual tahunan itu di tengah hujan yang semakin menggelora. Aku memandang keluar jendela. Cuaca benar-benar tak bersahabat.

Tiba-tiba mataku tertuju kepada anak perempuan joki payung yang entah tadi namanya Nina atau Ana. Sudah hampir jam setengah delapan malam dan dia masih berdiri di perempatan jalan. Apakah dia tidak berniat pulang? Entah sudah berapa jam dia berdiri di situ, di bawah hujan deras yang mengguyurnya. Kuperhatikan pakaiannya nampak basah, dan tidak mengenakan jaket, hanya kaos dan celana selutut.

“Mama, makanannya sudah datang!” celoteh anak bungsuku. Aku memandang lauk pauk yang terhidang di meja makan. Ada ayam goreng, sayur kangkung, ikan bakar dan entah apa lagi namanya. Kurasa anak-anakku memesan berngai jenis makanan yang aneh-aneh. Kami pun mulai menikmati makan yang terhidang. Kuperhatikan anak-anakku makan dengan lahap. Sesekali mataku bergerak menuju ke seberang jalan, mencari-cari sosok anak perempuan itu. Nampak dia sedang berbicara dengan beberapa anak laki-laki yang lebih besar darinya. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi sepertinya mereka sedang bertengkar.

“Kau nggak suka? Apa makanannya kurang enak?” tanya suamiku. Sepertinya dia menemukan aku kurang menikmati acara makan kami. Aku memalingkan wajahku meatapnya. “Enak kok,” jawabku sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutku.

“Oh, ikannya enak,” katanya sambil menyendok secuil daging ikan bakar dan meletakkannya ke atas piringku. Aku tersenyum menghargai perhatiannya.

“Papa, aku juga mau ikannya!” Kembali anak bungsuku membuka mulutnya. Aku melirik sekilas ke sebarang jalan, ke tampat di mana anak itu tadi berada, tapi dia telah lenyap. Barangkali dia sudah pulang. Aku melanjutkan makanku dengan setengah nafsu. Pikiranku masih melayang bersama anak tadi. Apakah dia sudah makan malam?

“Entah ini keberuntungan atau tidak, tapi Papa berterima kasih kepada hujan karena dia menghancurkan tradisi konvoi motor yang menimbulkan polusi suara,” kata suamiku saat kami berhenti di perempatan jalan. Aku menyapukan mataku, mencari-cari barangkali aku akan berhasil menemukan anak perempuan itu. Ya, itu dia. Dia tengah duduk memeluk lututnya di emper toko. Di mana payungnya? Belum sempat aku memperhatikannya lebih detail, suamiku telah melajukan mobil kami.

“Ada apa? Apa kamu sakit? Sepertinya hari ini kamu nggak bersemangat?” tanya suamiku saat kami tiba di rumah. Anak-anak telah mendahului kami ke ruang tengah dan menyalakan TV.

“Nggak apa-apa kok. Mungkin karena cuaca aja.” Aku menggeleng lemah sambil tersenyum.

“Kalau kau capek istirahatlah,” kata suamiku sebelum dia bergabung dengan anak-anak. Aku menuju ke kamar, mengganti bajuku dan merebahkan diri di atas kasur. Pikiranku masih melayang bersama anak perempuan itu. Entah kenapa aku tak bisa membawa pulang pikiranku. Hari sudah malam, apakah dia belum pulang? Apa yang dilakukannya sekarang? Samar-samar kudengar tawa anak-anakku dari ruang tengah. Hari ini malam tahun baru, tidakkah dia melewatkan malam ini bersama keluarganya? Perlahan aku meutup mata dan terlelap dalam kelelahanku sebelum aku sempat mengucapkan selamat tinggal kepada tahun ini.

Hari masih pagi, hari pertama di tahun yang baru. Tahun baru telah tiba, meskipun aku merasa biasa saja, hanya angka di kalender yang bertambah satu. Aku membuka pintu rumahku dan merasakan udara pagi yang dingin karena hujan semalam. Kulihat banyak lalu lalalan di depan rumahku. Ada apa, rasanya bukan hal yang wajar sudah banyak orang beraktivitas sepagi ini. Aku membuka pintu pagar dan bertanya kepada seorang perempuan paruh baya yang kebetulan melintas di depan rumahku, “Ada apa ya Bu? Kok sepertinya ramai sekali pagi ini?”

“Iya Bu, itu orang-orang pada ke sana.” Ibu itu mengarahkan telunjuknya ke perempatan jalan, di mana banyak orang berkerumun.  “Katanya ada anak perempuan yang meninggal di situ.” Deg, hatiku seakan berhenti berdetak. “Kasihan lho Bu, katanya dia mati kedinginan. Semalam hujannya deras sekali, nggak berhenti-berhenti lagi…” Aku tak lagi mendengarkan kata-kata ibu itu. pikiranku benar-benar melayang bersama sosok anak perempuan joki payung yang kurasa bernama Nina.

Welcome, probem…

In this life, all of us have our own problems. There was a time I think, I wanna run from my problem. Today I got a fight with my brother, not a too-big one I guess, compare with the other that we had before. You know, when I faced my problem, I hoped that it wouldn’t be happened. I hoped it would vanish and I would see it anymore. It’s a stupid thought right. I did realize it when I was watching the movie. When watching movie, I wanted to skip the I don’t wanna see scenes, I mean, the scenes that I don’t like to see because it’s too pain or too hard for me to see them. I just wanted to skip those scenes and hoped that the story gonna be allright.

But when I thought bout it, I thought it would be like the ‘Next’ movie. You know, it’s a movie that the main character has a remote to skip the things that he doesn’t want to do. What’s happened? He loses his life. Everything just flow away and he missed them because he doesn’t want to face them. I think the same things will happen to me when I just run from my life, my problem. While I’m fleeing, my problem is staying there and it’s not vanish. So i just spent my time for fleeing but in the end, I still have to face my problem. You see, fleeing is useless.

So what do i have to? I have no option but to face it and solve it appropriately. It’s my duty, it’s my problem and it’s my life. I belive God will not send me a present of problem if He doesn’t belive in me, if He doesn’t trust my that I can stand for it, and if He doesn’t stay before me, holding my hands and walk with me.  

So i think i will say, “Welcome, problem…”