Malam Tahun Baru

Hari terakhir di tahun ini dihiasi dengan langit yang bermuram durja. Sejak pagi tadi langit menampakkan wajah mendungnya. Sepertinya matahari enggan menampakkan wajahnya, bahkan untuk sekedar mengucapkan perpisahan dengan tahun ini. Gerimis yang mulai turun sejak siang tadi kini mulai berganti wajah menjadi hujan deras saat aku berlari menuju mobil yang kuparkir di halaman kantor. Setengah mengeluh aku menyesali nasibku yang harus menghabiskan hari terakhir tahun ini dengan setumpuk pekerjaan, sementara hampir setengah penghuni kantorku tidak menempati mejanya.

Saat berhenti di perempatan terakhir sebelum dekat rumahku, aku melihat seorang anak perempuan yang berprofesi sebagai joki payung. Anak itu tampak berusaha membujuk seorang bapak untuk menggunakan jasanya. Sepertinya bapak itu menunggu hujan reda, tebakku saat melihat dia menegadahkan tangannya, mencoba merasakan tetesan air dengan telapak tangannya. Kalau aku tidak salah, anak itu bernama Nina, atau Ana, atau Tina? Kurasa dia seumuran dengan anak sulungku. Entahlah aku lupa. Aku pernah mendengar teman-temanku membicarakan anak itu saat kami makan di restoran yang berada di seberang jalan ini. Kudengar klakson mobil di belakangku dan segera kulirik traffic light yang ternyata sudah menampakkan lampu hijau. Segera kuinjak pedal kopling dan kumasukkan tuas gigi mobil sebelum kutekan pedal gas mobilku yang membawaku melaju menuju rumah.

Kedatanganku di rumah disambut dengan rengekan anakku yang mengajakku makan di restoran. Memang kami biasa merayakan hari istimewa dengan makan di luar, dan tentunya hari ini adalah hari yang istimewa. Malam ini adalah Malam Tahun Baru. Kulirik suamiku yang duduk di sofa tengah menonton TV. Dia menganggukkan kepalanya pelan.

Kini kami sudah duduk di restoran dekat rumah kami. Supanya tidak kena macet, alasan suamiku saat anak kami mengajak kami untuk pergi lebih jauh lagi. Aku setuju dengan suamiku, beberapa jam lagi pastilah jalanan akan dipenuhi oleh orang-orang yang merayakan malam pergantian tahun dengan konvoi motor, meskipun aku ragu mereka akan tetap melakukan ritual tahunan itu di tengah hujan yang semakin menggelora. Aku memandang keluar jendela. Cuaca benar-benar tak bersahabat.

Tiba-tiba mataku tertuju kepada anak perempuan joki payung yang entah tadi namanya Nina atau Ana. Sudah hampir jam setengah delapan malam dan dia masih berdiri di perempatan jalan. Apakah dia tidak berniat pulang? Entah sudah berapa jam dia berdiri di situ, di bawah hujan deras yang mengguyurnya. Kuperhatikan pakaiannya nampak basah, dan tidak mengenakan jaket, hanya kaos dan celana selutut.

“Mama, makanannya sudah datang!” celoteh anak bungsuku. Aku memandang lauk pauk yang terhidang di meja makan. Ada ayam goreng, sayur kangkung, ikan bakar dan entah apa lagi namanya. Kurasa anak-anakku memesan berngai jenis makanan yang aneh-aneh. Kami pun mulai menikmati makan yang terhidang. Kuperhatikan anak-anakku makan dengan lahap. Sesekali mataku bergerak menuju ke seberang jalan, mencari-cari sosok anak perempuan itu. Nampak dia sedang berbicara dengan beberapa anak laki-laki yang lebih besar darinya. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi sepertinya mereka sedang bertengkar.

“Kau nggak suka? Apa makanannya kurang enak?” tanya suamiku. Sepertinya dia menemukan aku kurang menikmati acara makan kami. Aku memalingkan wajahku meatapnya. “Enak kok,” jawabku sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutku.

“Oh, ikannya enak,” katanya sambil menyendok secuil daging ikan bakar dan meletakkannya ke atas piringku. Aku tersenyum menghargai perhatiannya.

“Papa, aku juga mau ikannya!” Kembali anak bungsuku membuka mulutnya. Aku melirik sekilas ke sebarang jalan, ke tampat di mana anak itu tadi berada, tapi dia telah lenyap. Barangkali dia sudah pulang. Aku melanjutkan makanku dengan setengah nafsu. Pikiranku masih melayang bersama anak tadi. Apakah dia sudah makan malam?

“Entah ini keberuntungan atau tidak, tapi Papa berterima kasih kepada hujan karena dia menghancurkan tradisi konvoi motor yang menimbulkan polusi suara,” kata suamiku saat kami berhenti di perempatan jalan. Aku menyapukan mataku, mencari-cari barangkali aku akan berhasil menemukan anak perempuan itu. Ya, itu dia. Dia tengah duduk memeluk lututnya di emper toko. Di mana payungnya? Belum sempat aku memperhatikannya lebih detail, suamiku telah melajukan mobil kami.

“Ada apa? Apa kamu sakit? Sepertinya hari ini kamu nggak bersemangat?” tanya suamiku saat kami tiba di rumah. Anak-anak telah mendahului kami ke ruang tengah dan menyalakan TV.

“Nggak apa-apa kok. Mungkin karena cuaca aja.” Aku menggeleng lemah sambil tersenyum.

“Kalau kau capek istirahatlah,” kata suamiku sebelum dia bergabung dengan anak-anak. Aku menuju ke kamar, mengganti bajuku dan merebahkan diri di atas kasur. Pikiranku masih melayang bersama anak perempuan itu. Entah kenapa aku tak bisa membawa pulang pikiranku. Hari sudah malam, apakah dia belum pulang? Apa yang dilakukannya sekarang? Samar-samar kudengar tawa anak-anakku dari ruang tengah. Hari ini malam tahun baru, tidakkah dia melewatkan malam ini bersama keluarganya? Perlahan aku meutup mata dan terlelap dalam kelelahanku sebelum aku sempat mengucapkan selamat tinggal kepada tahun ini.

Hari masih pagi, hari pertama di tahun yang baru. Tahun baru telah tiba, meskipun aku merasa biasa saja, hanya angka di kalender yang bertambah satu. Aku membuka pintu rumahku dan merasakan udara pagi yang dingin karena hujan semalam. Kulihat banyak lalu lalalan di depan rumahku. Ada apa, rasanya bukan hal yang wajar sudah banyak orang beraktivitas sepagi ini. Aku membuka pintu pagar dan bertanya kepada seorang perempuan paruh baya yang kebetulan melintas di depan rumahku, “Ada apa ya Bu? Kok sepertinya ramai sekali pagi ini?”

“Iya Bu, itu orang-orang pada ke sana.” Ibu itu mengarahkan telunjuknya ke perempatan jalan, di mana banyak orang berkerumun.  “Katanya ada anak perempuan yang meninggal di situ.” Deg, hatiku seakan berhenti berdetak. “Kasihan lho Bu, katanya dia mati kedinginan. Semalam hujannya deras sekali, nggak berhenti-berhenti lagi…” Aku tak lagi mendengarkan kata-kata ibu itu. pikiranku benar-benar melayang bersama sosok anak perempuan joki payung yang kurasa bernama Nina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s