Sekelumit kata tentang kisah Satinah

Beru-baru ini kasus Satinah sedang mendapat sorotan. Satinah, seorang TKW yang terancam hukuman mati karena membunuh majikannya. Sempat aku berpikir, kenapa sih Satinah itu begitu populer, sedangkan banyak juga TKW lain yang mengalami nasib serupa, bukankah juga disebutkan bahwa ada sekitar 39 TKW lain yang menunggu hukuman mati, kalau tidak salah sih sepertinya begitu beritanya, maklum saya bukan penggemar berita. Saya sempat berpikir, Satinah itu membunuh majikannya dalam rangka membela diri, meskipun demikian tindakan menghilangkan nyawa orang lain tetap tidak dapat dibenarkan di mata hukum. Satinah telah terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman mati.  Untuk menyelamatkan Satinah maka dibutuhkan uang sejumlah 21 M. Dalam hati saya bertanya katakanlah kasus Satinah berakhir happy end, dan uang dayat tersebut, saya lebih memilih menyebutnya sebagai uang pendamaian, berhasil menyelamatkan Satinah, lalu bagaimana perasaan Satinah nantinya saat dia dibebaskan dari hukuman mati tersebut? Pasti dia sangat bersyukur kepada semua pihak yang mengupayakan keselamatannya dan saya yakin Satinah akan berpikir tidak hanya dua kali namun bermilyar-milyar kali sebelum melakukan tindakan yang dapat mengancam keselamatan nyawanya kembali.

Saya sempat berpikir bukankah kasus serupa juga mendera kita. Sebagai orang berdosa kita juga sudah pasti mendapatkan vonis maut sebagai hadiah atas dosa kita. Lalu ketika kita sebagai orang percaya telah menerima anugrah keselamatan, bagaimana sikap hidup kita? Setidaknya bercermin dari kasus yang menimpa Satinah, tidak mudah menyelamatkan nyawa seseorang dari hukuman mati, butuh upaya keras, dana yang besar dan tentunya restu Tuhan. Saya tidak dapat membayangkan ketika Yesus mati untuk menebus kita dari maut, entah, tak sanggup saya merangkai kata untuk mengungkapkan perasaan saya tentang hal tersebut. Pasti tidak mudah tentunya dan bukan hal biasa terjadi dalam hidup sehari-hari.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah ketika kita sudah diselamatkan, bagaimana respon dan sikap hidup kita, termasuk juga saya. Secara pribadi saya mengakui hal tersebut tidak mendapat prioritas yang utama dalam hidup saya. Sering saya tanpa berpikir dua kali masih juga melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati Tuhan. Bahkan jujur saya rasa sepertinya sikap hidup saya tidak menunjukkan signifikansi hidup orang yang telah diselamatkan dari hukuman mati =(

Di pertengahan masa Prapaskah, sembari mempersiapkan diri menjelang Paskah, yang euforianya bisa dikatakan tidak segemerlap Natal, setidaknya hal ini bisa menjadi sedikit wacana untuk memeriksa dan mempersiapkan hati kita. 

Advertisements

Tetanggaku, Tante Lina…

“Brakkk!!!” Aku segera berlari keluar saat mendengar bunyi keras itu, bahkan aku belum sempat melepas sebelah kaos kakiku. Di halaman depan kudapati pot-pot bunga Mama yang ditata bertingkat telah berantakan, beberapa buah pot bahkan jatuh pecah dan menumpahkan isinya. Sempat kulihat sekelebat bayangan menghilang di balik tembok perbatasan rumah kami dan tetangga. Memang sih tembok rumah kami tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter saja.

“Ada apa Nin?” tanya Mama yang menyusul di belakangku.

“Lihat tuh Ma, pot-pot bunga kesayangan Mama!” tunjukku ke arah pot-pot bunga itu.

“Ya ampun, kenapa bisa begini?” Mama menghampiri pot-pot bunga itu lalu berjongkok dan mulai membersihkan kekacauan itu.

“Pasti Tante Lina pelakunya,” ujarku sambil membantu Mama memungut pecahan pot yang tercecer.

“Hush! Jangan asal nuduh kamu,” tegur Mama.

“Ini nih Ma buktinya!” Aku menyodorkan sebuah batu yang berukuran besar. “Tadi Nina sempat lihat ada orang menghilang di balik tembok tetangga sebelah. Siapa lagi coba kalau bukan Tante Lina. Lagipula dari rumahnya Tante Lina bisa saja melemparkan batu ini. Terus Mama ingat kemarin lusa halaman rumah kita juga penuh sampah-sampah plastik waktu Nina pulang sekolah. Pasti Tante Lina yang sengaja mengotori halaman rumah kita. Nina dengar dari pembicaraan ibu-ibu kompleks kalau Tante Lina itu orangnya aneh, nggak suka bergaul, suaminya sering nggak pulang, anaknya bermasalah di sekolah, pokoknya keluarga mereka nggak beres deh Ma…”

“Sudah, sudah…” Mama menyela ucapanku. “Kita baru beberapa hari menempati rumah ini, nggak baik menilai Tante Lina seperti itu. Lagipula kalau kamu sempat bergosip dengan ibu-ibu kompleks tentunya kamu juga sempat dong bantuin Mama bikin kue.” Aku yakin Mama pasti menyindirku karena aku selalu beralasan sibuk saat Mama minta dibantu bikin kue pesanan pelanggan.

“Tapi Ma, Nina yakin pasti Tante Lina pelakunya!” Aku mulai ngotot.

“Ya sudah, nanti sore kita ke rumah Tante Lina. Kamu ganti baju dulu, makan, lalu bantuin Mama bikin kue! Tolong ambilin pot-pot baru yang ada di dekat garasi!”

“Kenapa nggak sekarang saja Ma kita ke rumah sebelah. Pasti Tante Lina ada di rumah.” Ujarku sambil membawa beberapa pot yang masih baru.

“Nanti sore saja. Sekrang kita bikin kue dulu!” ujar Mama sambil memindahkan tanah beserta tanaman dari pot yang pecah ke pot yang baru.

“Memang ada pesanan dari siapa Ma? Kelihatannya mendesak banget.”

“Nggak ada pesanan dari siapa-siapa. Kuenya buat Tante Lina.”

“Hah??? Mama nggak salah?”

“Sudah, kamu turutin saja apa kata Mama! Tolong kamu sapu dulu ya sisa-sisa tanah yang masih tercecer!” Perintah Mama sambil beranjak masuk ke rumah setelah menata pot-potnya kembali. Aku hanya mampu angkat bahu lalu mengambil sapu. Tak ada gunanya menentang Mama.

**

“Permisi, selamat sore!” Mama mengucapkan salam sambil mengetuk-ngetukkan gembok ke pintu gerbang.

Tak berapa lama kemudian muncullah sang pemilik rumah, Tante Lina, dengan wajah yang amat sangat tidak ramah. “Ada perlu apa?” tanyanya tak bersahabat.

“Sore Bu Lina, kami mau berkunjung sekalian berkenalan,” jawab Mama dengan ramahnya. Aku heran bisa-bisanya Mama tetap bersikap ramah kepada orang itu. Dengan enggan Tante Lina membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk.

“Silakan duduk! Sebentar saya ambilkan minum,” ujar Tante Lina saat kami berada di ruang tamu rumahnya, masih saja dia menampakkan wajah tak bersahabatnya.

“Nggak usah repot-repot Bu. Kami cuma sebentar. Hanya mau berkenalan saja. Saya Santi dan ini Nina, anak saya. Maaf ya Bu sudah hampir seminggu hari kami tinggal di rumah sebelah, baru kali ini kami mampir ke rumah Ibu. Ini ada sedikit kue, mohon diterima.” Mama menyodorkan kresek berisi kue yang kami buat tadi siang.

“Terima kasih…” jawab Tante Lina singkat.

“Oh ya Bu, tadi siang ada yang melempari pot-pot bunga kami dengan batu. Kata Nina dia sempat melihat sosok orang dari rumah Ibu. Apakah barangkali sempat Ibu melihat pelakunya?” tanya Mama lembut. Tak ada nada menuduh sedikit pun.

Tante Lina diam beberapa saat lalu kemudian dia terisak. Perempuan paruh baya itu mengakui bahwa dialah yang melempari pot-pot bunga Mama. Juga dia yang mengotori rumah kami kemarin lusa. Semua itu dilakukannya karena dia iri kepada keluarga kami yang nampak harmonis. Tante Lina meminta maaf atas semua perbuatannya itu, kemudian dia bercerita tentang kondisi keluarganya, tentang suaminya yang jarang pulang dan mereka sering bertengkar, bahkan kini suaminya menuntut untuk bercerai, lalu tentang anak pertama mereka yang hamil di luar nikah, dan anak bungsu mereka yang sering membuat masalah di sekolah. Mama hanya mendengarkan dan sedikit memberikan nasehat untuk menguatkan Tante Lina. Tak terasa hampir dua jam kedua ibu itu saling bercerita, hingga akhirnya Mama mohon diri karena sebentar lagi Papa pulang kerja.

“Sekarang kamu tahu kan mengapa Mama membawa kue untuk Tante Lina? Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tante Lina itu membutuhkan teman dan sahabat. Tidak ada orang yang tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan sekali lagi, tidak baik menjudge orang tanpa mendengarkan mengapa mereka melakukan hal itu…” kata Mama saat kami sampai di rumah.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. “Tapi Ma, apa itu artinya Mama juga sempat mencurigai Tante Lina?”

“Mama tidak hanya mencurigai Tante Lina. Pelakunya bisa siapa saja. Tetapi sekarang Tante Lina sudah mengaku dan meminta maaf. Ya sudah. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan…” Mama mengakhiri pembicaraan kami sambil berjalan menuju dapur. Dalam hati aku mengagumi kebaikan hati Mama dan kecerdasannya dalam bertindak. Aku akan selalu mengingat pesan Mama.

Kemarahan Musa dan hukuman Tuhan

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan siaran radio, sekilas saja sih karena sinyalnya jelek sehingga suara yang saya dengar kurang jelas dan putus-putus. Satu hal yang menarik, menurut saya sih, waktu mereka membahas tentang kemarahan Musa dan hukuman yang Tuhan jatuhkan kepadanya.

Jika dipikirkan, setidaknya menurut saya, kesalahan Musa pada waktu itu adalah marah kepada bangsa Israel sewaktu mereka meminta air di padang gurun. Dalam kemarahannya itulah Musa tidak menuruti perintah Tuhan, yang mana Dia memerintahkan Musa untuk menyentuh batu, tapi Musa malah memukul batu itu. Memang sih hasilnya sama saja, tetap keluar air dari batu itu dan bangsa Israel dipuaskan dahaganya. Namun akibat ketidaktaatan Musa itu, Tuhan tidak memberikannya kesempatan untuk masuk ke tanah perjanjian.

Menurut saya, kesalahan itu tidaklah terlalu fatal. Musa pernah membunuh pada masa mudanya, dan Tuhan tidak memperhitungkan hal itu, maksud saya Tuhan tidak mengungkit-ungkit masalah tersebut dan bisa jadi Tuhan mengampuninya. Musa juga tidak menyembah berhala seperti mayoritas bangsa yang dipimpinnya. Bisa dibilang hidup Musa dapat dikategorikan cukup saleh. Tapi mengapa kesalahan yang menurut saya dapat dikategorikan dosa kecil, dibandingkan dosa yang dilakukan Musa pada masa mudanya, mengakibatkan hukuman yang sangat fatal? Jika Tuhan bisa mengampuni orang lain yang dosanya jauh lebih besar dan lebih jahat daripada Musa, mengapa Tuhan malah menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat bagi Musa? Tidakkah Tuhan sanggup mengampuni Musa, dengan memperhitungkan segala yang telah dilakukannya selama ini?

Argumen-argumen itulah yang menjadi dasar bagi saya untuk mempertanyakan perbuatan dan putusan Tuhan. Saya yakin tidak sedikit orang yang sepaham dengan saya. Namun perlu diingat bahwa dosa itu sama saja, tidak ada dosa kecil atau dosa besar, dosa suci maupun dosa kotor, dosa hitam maupun putih. Yang namanya dosa ya dosa. Dan itu sudah harga mati. Semua tindakan, perilaku, apa pun itu yang melawan Tuhan adalah dosa. Tindakan Musa yang tidak mentaati Tuhan dalam kemarahannya adalah dosa dan sudah jelas bahwa dosa itu hukumannya maut. Saya tidak terlalu paham mengenai karakter Musa, dan saya tidak mau menelaah lebih jauh mengapa dia berbuat begitu. Saya yakin pasti semua orang memiliki alibi yang kuat sebgai dasar pertimbangan dalam perbuatannya. Tapi hukuman Tuhan atas dosa tidak mentolerir alibi-alibi tersebut. Sekali lagi, dosa itu sudah harga mati.

Kembali pada hukuman Tuhan. Lalu, apakah Tuhan menjadi Tuhan yang kejam dan tidak berbelas kasih karena menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat kepada Musa? Jika ditelaah lebih jauh, sesungguhnya Tuhan itu sudah sedemikian mengasihi Musa. Tuhan memilih Musa, memanggil dia secara khusus melalui semak duri yang menyala, ketika Musa meminta untuk melihat kemuliaan Tuhan, Tuhan mengabulkan permintaannya, bahkan di akhir hidupnya, Musa dikatakan tidak ditemukan makamnya, bisa jadi dia telah diangkat oleh Tuhan. Coba, kurang baik apa Tuhan itu?

Sebenarnya pola pikir manusialah yang selalu berusaha untuk mencari apa yang menguntungkan dirinya dan melakukan pembelaan diri. Jika kita melihat cara pandang Tuhan, bahwa Dia telah memberikan segala yang baik kepada kita, maka tidak sepantasnya kita menjadi jaksa yang menuntut Tuhan. Semua yang telah diberikan Tuhan kepada manusia rupanya membuat manusia lupa diri dan tidak lagi mengingat kebaikan-kebaikan Tuhan. Saya sadar hal itulah yang terjadi pada diri saya ketika saya mempertanyakan hukuman yang diberikan Tuhan kepada Musa.

Seringkali dalam banyak hal saya mempertanyakan keputusan Tuhan. Sering saya berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. Namun tidak sepantasnya saya mempertanyakan Tuhan, alih-alih mempertanyakan Tuhan seharusnya saya mengubah pola pikir saya dari menuntut Tuhan menjadi mensyukuri kebaikanNya atas hidup saya. Belajar untuk melihat hidup ini lebih objektif, bukan hanya berpusat pada saya dan keutamaan saya. GB.

Kecantikan…

Suatu pagi seorang anak gadis berkata pada Ibunya: “Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, beritahulah aku caranya.” 

Dengan tatapan lembut & senyum haru, sang Ibu menjawab:
“Untuk Bibir yg menarik, ucapkanlah perkataan yg baik”… 
“Untuk pipi yg lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapa pun”
“Untuk mata yg indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain”… 
“Untuk tubuh yg langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin”
“Untuk jemari tangan yg lentik menawan, hitunglah kebajikan yg telah diperbuat orang lain kepadamu.
“Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin

Anakku, janganlah sombong akan kecantikan fisik karena itu akan pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian.

~Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.
~Kesabaran dengan org lain adalaah HORMAT.
~Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN.
~Kesabaran dengan TUHAN adalah IMAN.
~Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.
~Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.
~Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN!
~Carilah hati yg indah bukan wajah yg cantik.
~Hal-hal yg indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yg baik akan selalu indah…

Sumber: unknown

Sahabat pena

Aku sedang membereskan buku-buku yang tertata rapi di rak bukuku, terlalu rapi malah, sampai berdebu karena tak pernah kusentuh. Saat aku mengambil sebuah buku, tiba-tiba selembar foto ikut terjatuh, mungkin foto itu ikut terselip di antara buku-buku ini. Aku tersenyum saat melihat foto itu. Kembali kuletakkan buku yang tadi kuambil ke tempatnya semula, kembali ke rak buku, bersama deretan buku-buku lainnya, lalu aku memungut foto yang jatuh itu. Selembar foto yang menyimpan sebuah kenangan.

Ingatanku melayang ke belasan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu sedang ngetren yang namanya sahabat pena. Ok, bagi yang belum tahu, barangkali karena kalian terlalu modern, hanya tahu sahabat gadget, sehingga tidak mengenal sahabat pena, sedikit kujelaskan sederhananya sahabat pena adalah teman berkirim surat. Di jaman 90an, HP belum beredar seperti sekarang, telepon rumah pun hanya dimiliki oleh segelintir orang golongan bangsawan. Satu-satunya alat komunikasi adalah dengan via surat kertas, bukan surat elektronik. Di masa itu, jika kita memiliki teman yang tinggal di tempat yang jauh, maka komunikasi hanya dapat dilakukan melalui surat. Oleh karena itu teman kita tersebut disebut sahabat pena.

Aku masih ingat sahabat penaku itu bernama Riko, kami berkenalan lewat majalah Bobo, yang juga menjadi temanku di kala kecil. Awalnya aku iseng saja mengirimi Riko surat karena dia pernah menuliskan di majalah itu kalau dia sedang mencari sahabat pena. Ternyata suratku berbalas. Riko merupakan anak yang asyik, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Melalui ceritanya aku menebak Riko adalah anak dari keluarga yang cukup berada. Dia tinggal di Jakarta, yang dalam bayanganku merupakan kota elit dan berkelas kala itu, dan Riko sering menceritakan liburannya, dia sering diajak orang tuanya berlibur ke luar negeri. Suatu hari Riko mengirimkan surat yang isinya memintaku untuk mengirimkan fotoku, rupanya dia ingin tahu seperti apa sahabat pena yang selama ini rajin membalas sura-suratnya. Dia sendiri menyertakan selembar foto seorang anak laki-laki sebayaku sedang tertawa di depan sebuah rumah. Aku yakin anak itu pasti Riko, penampilannya cukup rapi dan rumahnya sangat bagus. Dia benar-benar seperti dalam bayanganku, Riko yang kaya.

Awalnya aku malas membalas surat Riko. Aku malu dengan keadaanku. Aku bukan anak dari keluarga kaya seperti Riko. Papaku hanya karyawan pabrik. Selama ini aku tidak menceritakan secara mendetail kondisi keluargaku, toh Riko juga tidak menanyakannya. Beberapa hari surat itu berdiam di lemari meja belajarku. Bukan karena aku tak mau membalas suratnya, tapi karena aku tak tahu harus mengirim foto apa kepada Riko. Bagaiman jika Riko tahu aku berbeda dengan dia, bahwa aku tidak kaya seperti dia. Bagaimana jika dia tidak mau lagi bersahabat denganku?

Tiba-tiba aku teringat sebuah foto yang diambil Mama pada waktu kami berlibur beberapa hari yang lalu. Saat itu Mama memotretku sedang berpose di belakang mobil dinas Papa. Segera kucari foto itu dan kuminta Mama mencetaknya sekali lagi. Kemudian foto itu sukses kukirimkan bersama surat balasanku. Di surat itu aku aku menceritakan liburanku beberapa hari yang lalu bersama keluargaku dan fotoku bersama mobil yang kuakui sebagai mobil Papa.

Beberapa hari kemudian tibalah surat balasan dari Riko. Alangkah terkejutnya aku saat membaca surat itu.

Andi, fotomu sudah kuterima. Tapi kok mobilmu ini plat nomornya B, dan nomornya seperti nomor mobil sepupuku yang di Jakarta ya? Setelah aku tanyakan, kata sepupuku itu mobil itu dikirim ke Solo untuk dijadikan mobil dinas. Andi, kamu tidak perlu berbohong kepadaku. Aku bersahabat denganmu bukan karena status sosialmu, tapi karena kamu orang yang menyenangkan dan aku menikmati berkirim surat denganmu. Di sini aku juga banyak memiliki teman yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dan Andi, kamu tidak perlu takut dan malu. Aku tidak akan berhenti membalas suratmu, kita akan terus menjadi sahabat pena. Oh ya, nanti kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu ya…

Riko.

Aku senang sekaligus malu membaca surat Riko. Ternyata selama ini aku salah menilai dia. Riko bukanlah orang yang memilih-milih teman, tapi dia adalah teman yang baik dan dia mengingatkanku untuk membeda-bedakan teman, apalagi hanya karena status sosialnya. Itu adalah sebuah pelajaran dari seorang sahabat yang terus kuingat sampai sekarang.

Aku meletakkan foto itu di meja, lalu kembali melanjutkan pekerjaanku membereskan buku yang sempat tertunda. Aku lupa bagaimana hubunganku dan Riko sebagai sahabat pena berakhir. Ketika kami masuk SMP, kami semakin jarang berkirim surat karena sibuk dengan sekolah, PR dan les. Hingga akhirnya kegiatan menulis surat itu berhenti sama sekali. Pernah beberapa kali aku mengirimi Riko surat, tapi tak ada balasan. Mungkin Riko sudah pindah rumah karena kami lama sekali tak berkirim surat, tapi aku yakin Riko tidak akan lupa bahwa dia pernah memiliki seorang sahabat pena, sama seperti aku tidak akan pernah melupakannya dan pelajaran yang diberikannya.

Gambar