Sekelumit kata tentang kegagalan =)

“Aku takut kalau ternyata aku gagal…” kataku.

“Apa sih yang kamu maksud dengan kegagalan itu?” balas temanku.

“Kalau ternyata apa yang terjadi tidak seperti yang aku bayangkan, atau tidak terjadi seperti yang kumau…”

Pembicaraanku dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu tiba-tiba saja kembali berputar dalam otakku. Kembali aku membuka file-file memoriku, mencoba mencari apa sih definisi gagal itu sebenarnya.

Kalau menurut KBBI, gagal didefinisikan sebagai 1) tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya): keinginannya untuk menjadi juara –; 2) tidak jadi: tahun ini panen –; Kembali pada jawabanku kala itu, memang kegagalan yang kumaksudkan adalah saat aku tidak berhasil mencapai standar keberhasilan yang telah kutetapkan, atau barangkali lebih tepatnya mengikuti standar keberhasilan dunia ini, yaitu hidup berlimpah materi, menduduki posisi atau jabatan tertentu, ya seperti gambaran ideal orang yang sukses pada umumnya lah.

Tapi saat kembali aku membongkar file demi file memoriku, kutemukan sebuah file yang berjudul ‘sekelumit kata tentang kesuksesan’, yang pernah kutuliskan juga sih di sini https://kacamataaris.wordpress.com/2014/02/14/sekelumit-kata-tentang-kesuksesan/ Lalu, benarkah definisiku tentang kegagalan itu?

Aku takut gagal, aku takut tidak mampu mengikuti standar keberhasilan yang telah kutetapkan. Sejak kecil aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Di sekolah aku termasuk siswa berprestasi, bahkan aku lulus kuliah dengan IP yang cukup tinggi. Kini di dalam pekerjaanku, atasanku menubuatkan bahwa di masa depan aku akan jadi orang yang sukses. Sekarang, ketika aku memilih untuk keluar dari jalan hidupku sekarang dan mengambil jalan yang dipandang sebelah mata oleh orang lain, aku diselimuti bayang-bayang akan kegagalan di masa mendatang. Berat rasanya. Namun aku tidak boleh takut, segala hal-hal baik yang terjadi di masa lalu seharusnya menjadi pegangan dan jaminan bahwa penyertaan Tuhan itu senantiasa ada dan selama ini Dia telah menyertaiku, tak mungkin di masa depan nanti Dia akan meninggalkanku, selama aku berjalan di jalanNya.

Mungkin bisa jadi aku gagal dalam mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh dunia ini dan menjadi pegangan hidup mayoritas penghuni bumi ini, tapi setidaknya semoga aku tidak gagal dalam rencana Tuhan. Kembali kutuliskan bahwa bisa jadi standar keberhasilan dan kegagalan Tuhan tidak sama dengan standar dunia ini. Apa yang dipandang sebagai kesuksesan oleh dunia bisa jadi merupakan kegagalan dalam rencana Tuhan.

Bukankah hidup manusia itu dapat diibaratkan sebuah buku cerita, ada jalinan cerita yang naik turun dan dapat berkahir dengan bahagia atau menyedihkan, istilahnya happy end dan sad end. Seperti itu jugalah hidup ini, memang ada orang yang mungkin diberi karunia kelimpahan berkat material, tapi ada juga yang diberi karunia hidup seadanya, dan baik mereka yang berkelimpahan maupun mereka yang pas-pas an tidak merasa berkekurangan; coz ada juga yang orang yang meskipun hartanya sudah bergunung-gunung bayaknya tapi tetap saja merasa kurang sehingga dia semakin lama semakin menimbun harta dan tidak pernah puas, karena itu bersyukurlah jika kita dikaruniai hati yang mampu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang ada pada kita sekarang. Nah kembali soal ending tadi, bukan karakter dalam cerita tersebut yang menentukan bagaimana kisahnya akan berakhir, tapi sang penulislah. Demikianlah hidup manusia, Tuhanlah, Sang Penulis Agung yang akan menuliskan ke mana hidup ini akan bermuara.

Kembali soal ketakutanku akan kegagalan, mengapa aku menetapkan bahwa hidup ini akan berakhir dengan kesuksesan sesuai bayanganku atau kegagalan karena aku tidak berhasil menggapai apa yang telah aku gantung. Tidak! Justru dengan melakukan dan berpikiran seperti itu sama halnya aku membatasi kuasa Tuhan. Bukankah Tuhan masih bisa menuliskan jalinan cerita dan mengembangkan cerita hidupku, menuntunku ke bagian cerita lain yang mungkin saat ini tidak pernah terbayangkan olehku. Mungkin bisa jadi ceritaku belum berakhir, hanya bersambung. Tak perlu aku merasa bahwa aku harus mengambil peran sebagai sang penulis. Bukan aku yang menentukan bagaimana cerita ini akan bergulir, tapi Dia. Aku hanya menjalankan peranku sebagaimana layaknya seorang tokoh menjalankan perannya sesuai skenario yang telah dituliskan. Bagaimana cerita yang kujalani dan bagaimana aku memainkan peranku, aku tidak selalu bisa memilih jalan cerita yang akan kujalani, tapi aku memiliki pilihan untuk menikmatinya atau terus merasa tidak puas dan kehilangan momen demi momen. Dan mengenai bagaimana endingnya nanti, aku percaya baik happy ending maupun sad ending, apa pun yang telah dituliskan olehNya itu semua adalah yang terbaik buatku dan orang lain.

Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s