Sahabat pena

Aku sedang membereskan buku-buku yang tertata rapi di rak bukuku, terlalu rapi malah, sampai berdebu karena tak pernah kusentuh. Saat aku mengambil sebuah buku, tiba-tiba selembar foto ikut terjatuh, mungkin foto itu ikut terselip di antara buku-buku ini. Aku tersenyum saat melihat foto itu. Kembali kuletakkan buku yang tadi kuambil ke tempatnya semula, kembali ke rak buku, bersama deretan buku-buku lainnya, lalu aku memungut foto yang jatuh itu. Selembar foto yang menyimpan sebuah kenangan.

Ingatanku melayang ke belasan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu sedang ngetren yang namanya sahabat pena. Ok, bagi yang belum tahu, barangkali karena kalian terlalu modern, hanya tahu sahabat gadget, sehingga tidak mengenal sahabat pena, sedikit kujelaskan sederhananya sahabat pena adalah teman berkirim surat. Di jaman 90an, HP belum beredar seperti sekarang, telepon rumah pun hanya dimiliki oleh segelintir orang golongan bangsawan. Satu-satunya alat komunikasi adalah dengan via surat kertas, bukan surat elektronik. Di masa itu, jika kita memiliki teman yang tinggal di tempat yang jauh, maka komunikasi hanya dapat dilakukan melalui surat. Oleh karena itu teman kita tersebut disebut sahabat pena.

Aku masih ingat sahabat penaku itu bernama Riko, kami berkenalan lewat majalah Bobo, yang juga menjadi temanku di kala kecil. Awalnya aku iseng saja mengirimi Riko surat karena dia pernah menuliskan di majalah itu kalau dia sedang mencari sahabat pena. Ternyata suratku berbalas. Riko merupakan anak yang asyik, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Melalui ceritanya aku menebak Riko adalah anak dari keluarga yang cukup berada. Dia tinggal di Jakarta, yang dalam bayanganku merupakan kota elit dan berkelas kala itu, dan Riko sering menceritakan liburannya, dia sering diajak orang tuanya berlibur ke luar negeri. Suatu hari Riko mengirimkan surat yang isinya memintaku untuk mengirimkan fotoku, rupanya dia ingin tahu seperti apa sahabat pena yang selama ini rajin membalas sura-suratnya. Dia sendiri menyertakan selembar foto seorang anak laki-laki sebayaku sedang tertawa di depan sebuah rumah. Aku yakin anak itu pasti Riko, penampilannya cukup rapi dan rumahnya sangat bagus. Dia benar-benar seperti dalam bayanganku, Riko yang kaya.

Awalnya aku malas membalas surat Riko. Aku malu dengan keadaanku. Aku bukan anak dari keluarga kaya seperti Riko. Papaku hanya karyawan pabrik. Selama ini aku tidak menceritakan secara mendetail kondisi keluargaku, toh Riko juga tidak menanyakannya. Beberapa hari surat itu berdiam di lemari meja belajarku. Bukan karena aku tak mau membalas suratnya, tapi karena aku tak tahu harus mengirim foto apa kepada Riko. Bagaiman jika Riko tahu aku berbeda dengan dia, bahwa aku tidak kaya seperti dia. Bagaimana jika dia tidak mau lagi bersahabat denganku?

Tiba-tiba aku teringat sebuah foto yang diambil Mama pada waktu kami berlibur beberapa hari yang lalu. Saat itu Mama memotretku sedang berpose di belakang mobil dinas Papa. Segera kucari foto itu dan kuminta Mama mencetaknya sekali lagi. Kemudian foto itu sukses kukirimkan bersama surat balasanku. Di surat itu aku aku menceritakan liburanku beberapa hari yang lalu bersama keluargaku dan fotoku bersama mobil yang kuakui sebagai mobil Papa.

Beberapa hari kemudian tibalah surat balasan dari Riko. Alangkah terkejutnya aku saat membaca surat itu.

Andi, fotomu sudah kuterima. Tapi kok mobilmu ini plat nomornya B, dan nomornya seperti nomor mobil sepupuku yang di Jakarta ya? Setelah aku tanyakan, kata sepupuku itu mobil itu dikirim ke Solo untuk dijadikan mobil dinas. Andi, kamu tidak perlu berbohong kepadaku. Aku bersahabat denganmu bukan karena status sosialmu, tapi karena kamu orang yang menyenangkan dan aku menikmati berkirim surat denganmu. Di sini aku juga banyak memiliki teman yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dan Andi, kamu tidak perlu takut dan malu. Aku tidak akan berhenti membalas suratmu, kita akan terus menjadi sahabat pena. Oh ya, nanti kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu ya…

Riko.

Aku senang sekaligus malu membaca surat Riko. Ternyata selama ini aku salah menilai dia. Riko bukanlah orang yang memilih-milih teman, tapi dia adalah teman yang baik dan dia mengingatkanku untuk membeda-bedakan teman, apalagi hanya karena status sosialnya. Itu adalah sebuah pelajaran dari seorang sahabat yang terus kuingat sampai sekarang.

Aku meletakkan foto itu di meja, lalu kembali melanjutkan pekerjaanku membereskan buku yang sempat tertunda. Aku lupa bagaimana hubunganku dan Riko sebagai sahabat pena berakhir. Ketika kami masuk SMP, kami semakin jarang berkirim surat karena sibuk dengan sekolah, PR dan les. Hingga akhirnya kegiatan menulis surat itu berhenti sama sekali. Pernah beberapa kali aku mengirimi Riko surat, tapi tak ada balasan. Mungkin Riko sudah pindah rumah karena kami lama sekali tak berkirim surat, tapi aku yakin Riko tidak akan lupa bahwa dia pernah memiliki seorang sahabat pena, sama seperti aku tidak akan pernah melupakannya dan pelajaran yang diberikannya.

Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s