Tetanggaku, Tante Lina…

“Brakkk!!!” Aku segera berlari keluar saat mendengar bunyi keras itu, bahkan aku belum sempat melepas sebelah kaos kakiku. Di halaman depan kudapati pot-pot bunga Mama yang ditata bertingkat telah berantakan, beberapa buah pot bahkan jatuh pecah dan menumpahkan isinya. Sempat kulihat sekelebat bayangan menghilang di balik tembok perbatasan rumah kami dan tetangga. Memang sih tembok rumah kami tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter saja.

“Ada apa Nin?” tanya Mama yang menyusul di belakangku.

“Lihat tuh Ma, pot-pot bunga kesayangan Mama!” tunjukku ke arah pot-pot bunga itu.

“Ya ampun, kenapa bisa begini?” Mama menghampiri pot-pot bunga itu lalu berjongkok dan mulai membersihkan kekacauan itu.

“Pasti Tante Lina pelakunya,” ujarku sambil membantu Mama memungut pecahan pot yang tercecer.

“Hush! Jangan asal nuduh kamu,” tegur Mama.

“Ini nih Ma buktinya!” Aku menyodorkan sebuah batu yang berukuran besar. “Tadi Nina sempat lihat ada orang menghilang di balik tembok tetangga sebelah. Siapa lagi coba kalau bukan Tante Lina. Lagipula dari rumahnya Tante Lina bisa saja melemparkan batu ini. Terus Mama ingat kemarin lusa halaman rumah kita juga penuh sampah-sampah plastik waktu Nina pulang sekolah. Pasti Tante Lina yang sengaja mengotori halaman rumah kita. Nina dengar dari pembicaraan ibu-ibu kompleks kalau Tante Lina itu orangnya aneh, nggak suka bergaul, suaminya sering nggak pulang, anaknya bermasalah di sekolah, pokoknya keluarga mereka nggak beres deh Ma…”

“Sudah, sudah…” Mama menyela ucapanku. “Kita baru beberapa hari menempati rumah ini, nggak baik menilai Tante Lina seperti itu. Lagipula kalau kamu sempat bergosip dengan ibu-ibu kompleks tentunya kamu juga sempat dong bantuin Mama bikin kue.” Aku yakin Mama pasti menyindirku karena aku selalu beralasan sibuk saat Mama minta dibantu bikin kue pesanan pelanggan.

“Tapi Ma, Nina yakin pasti Tante Lina pelakunya!” Aku mulai ngotot.

“Ya sudah, nanti sore kita ke rumah Tante Lina. Kamu ganti baju dulu, makan, lalu bantuin Mama bikin kue! Tolong ambilin pot-pot baru yang ada di dekat garasi!”

“Kenapa nggak sekarang saja Ma kita ke rumah sebelah. Pasti Tante Lina ada di rumah.” Ujarku sambil membawa beberapa pot yang masih baru.

“Nanti sore saja. Sekrang kita bikin kue dulu!” ujar Mama sambil memindahkan tanah beserta tanaman dari pot yang pecah ke pot yang baru.

“Memang ada pesanan dari siapa Ma? Kelihatannya mendesak banget.”

“Nggak ada pesanan dari siapa-siapa. Kuenya buat Tante Lina.”

“Hah??? Mama nggak salah?”

“Sudah, kamu turutin saja apa kata Mama! Tolong kamu sapu dulu ya sisa-sisa tanah yang masih tercecer!” Perintah Mama sambil beranjak masuk ke rumah setelah menata pot-potnya kembali. Aku hanya mampu angkat bahu lalu mengambil sapu. Tak ada gunanya menentang Mama.

**

“Permisi, selamat sore!” Mama mengucapkan salam sambil mengetuk-ngetukkan gembok ke pintu gerbang.

Tak berapa lama kemudian muncullah sang pemilik rumah, Tante Lina, dengan wajah yang amat sangat tidak ramah. “Ada perlu apa?” tanyanya tak bersahabat.

“Sore Bu Lina, kami mau berkunjung sekalian berkenalan,” jawab Mama dengan ramahnya. Aku heran bisa-bisanya Mama tetap bersikap ramah kepada orang itu. Dengan enggan Tante Lina membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk.

“Silakan duduk! Sebentar saya ambilkan minum,” ujar Tante Lina saat kami berada di ruang tamu rumahnya, masih saja dia menampakkan wajah tak bersahabatnya.

“Nggak usah repot-repot Bu. Kami cuma sebentar. Hanya mau berkenalan saja. Saya Santi dan ini Nina, anak saya. Maaf ya Bu sudah hampir seminggu hari kami tinggal di rumah sebelah, baru kali ini kami mampir ke rumah Ibu. Ini ada sedikit kue, mohon diterima.” Mama menyodorkan kresek berisi kue yang kami buat tadi siang.

“Terima kasih…” jawab Tante Lina singkat.

“Oh ya Bu, tadi siang ada yang melempari pot-pot bunga kami dengan batu. Kata Nina dia sempat melihat sosok orang dari rumah Ibu. Apakah barangkali sempat Ibu melihat pelakunya?” tanya Mama lembut. Tak ada nada menuduh sedikit pun.

Tante Lina diam beberapa saat lalu kemudian dia terisak. Perempuan paruh baya itu mengakui bahwa dialah yang melempari pot-pot bunga Mama. Juga dia yang mengotori rumah kami kemarin lusa. Semua itu dilakukannya karena dia iri kepada keluarga kami yang nampak harmonis. Tante Lina meminta maaf atas semua perbuatannya itu, kemudian dia bercerita tentang kondisi keluarganya, tentang suaminya yang jarang pulang dan mereka sering bertengkar, bahkan kini suaminya menuntut untuk bercerai, lalu tentang anak pertama mereka yang hamil di luar nikah, dan anak bungsu mereka yang sering membuat masalah di sekolah. Mama hanya mendengarkan dan sedikit memberikan nasehat untuk menguatkan Tante Lina. Tak terasa hampir dua jam kedua ibu itu saling bercerita, hingga akhirnya Mama mohon diri karena sebentar lagi Papa pulang kerja.

“Sekarang kamu tahu kan mengapa Mama membawa kue untuk Tante Lina? Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tante Lina itu membutuhkan teman dan sahabat. Tidak ada orang yang tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan sekali lagi, tidak baik menjudge orang tanpa mendengarkan mengapa mereka melakukan hal itu…” kata Mama saat kami sampai di rumah.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. “Tapi Ma, apa itu artinya Mama juga sempat mencurigai Tante Lina?”

“Mama tidak hanya mencurigai Tante Lina. Pelakunya bisa siapa saja. Tetapi sekarang Tante Lina sudah mengaku dan meminta maaf. Ya sudah. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan…” Mama mengakhiri pembicaraan kami sambil berjalan menuju dapur. Dalam hati aku mengagumi kebaikan hati Mama dan kecerdasannya dalam bertindak. Aku akan selalu mengingat pesan Mama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s