=)

People are often unreasonable and self-centered. Forgive them away.

If you are kind, people may accuse you of ulterior motives. Be kind away.

If you are honest, people may cheat you. Be honest away.

If you find happiness, people may be jealous. Be happy away.

The good you do today may be forgotten tomorrow. Do good anyway.

Give the world the best you haveand it may never be enough. Give your best anyway.

For you see, in the end, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

– Mother Teresa – 

Advertisements

Where am I…

Where was I when The Lord was arrested?

Was I fleeing and hiding, because I was afraid…

Or actually, it was me wjho handed Him to the guards in exchange for money?

Where was I when The Lord was on trial?

Was I watching from a distant and denied if I knew Him, for treasuring my life…

Or I closed my eyes and washed my hands, followed the crowd asking for Him to be crucified…

Where was I when The Lord was hung on the cross?

Was I mocking Him like the others did it…

Or I was regreting my sin, since I was the sinner, but feel sorry for Him, the reighteous?

Where was I when He died on the cross?

Was I leaving His corpse behind…

Or I was willing to take a huge risk for asking for His body and burying Him?

Where am I standing right now?

Terakhir Yang Religius

Menjelang Kematiannya
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus
kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan
itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai
musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai
petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk
melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok
dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan
seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita
menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan
kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai
keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku
hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja”….

W.S. Rendra

 

A lesson from jumping plat louse

Days ago, I listened the radio and the speaker said about the jumping plant louse. He said there was an experiment used the jumping plant laouse. The louse was placed in a jar and the jar was closed. The louse jumped for many times but it couldn’t get out from the jar because the jar was closed. Finally after the louse tried for many times, it gave up and stop jumping. Then some minutes after it, the cover of jar was opened, but the interesting one was the louse still keep jumped with the same heigh. The louse wasn’t realize that the jar was opened. That’s why it didn’t jumped higher.

Learned from the jumping plant louse, our life was totally resemble it. Each of us have so many potential indeed, but may be because of the situation and condition, there was a time when we thought it was our maximal potential and we stop trying harder for maximize our potential. Because we has put the border in our mind and we decide that was our limit, in the end most of us didn’t get success.

The way we thought about our self reflected how would we become. It’s same with the louse. When the louse believed that it couldn’t jump higher because the jar was closed, it didn’t keep higher even when the jar’s cover removed. Maybe we had faced so may failure int hte past and they made we believed that we couldn’t do more, but there is God who always be with us and in God there is hope.

Remember, Thomas Alfa Edison made 99 failures before he finally created lamp. I try to look that he didn’t make 99 failure but he needed 99 failure for the best one. No matter how big your problem, there is nothing impossible for God. But the question is will you believe in Him and keep your best for trying?  Our job is trying and it’s His job to decide will He let us pass or not, according to His plan.

Gambar

Kelebihan dan kembalian…

Di mana ada kelebihan maka di situ ada kembalian…

Berikut adalah update status seorang teman. Sempat saya tertawa dalam hati saat membaca status tersebut. Rasanya aneh saja. Kalimat yang sering terdengar adalah ‘di mana ada kelebihan di situ ada kekurangan’. Meskipun apa yang dikemukakan teman saya itu itu tidak salah. Benar bukan, ketika kita membeli sebuah barang dan membayarnya dengan uang yang lebih maka kita akan mendapatkan kembalian. Kalaupun tidak diberi maka kita akan menuntut kembalian tersebut.

Kemudian saya berpikir, bukankah hal yang demikianlah yang juga dikehendaki Tuhan. Selama ini Tuhan menciptakan anda dan saya dengan segala kelebihan kita masing-masing. Lalu, untuk apa kita mempergunakan segala kelebihan yang disertakan Tuhan dalam hidup kita? Tentunya, Tuhan memberi kita segala kelebihan sehingga kita bisa menggunakan kelebihan itu untuk dikembalikan kepada Tuhan. Namun, sudahkah hal itu yang terjadi saat ini? Ataukah malah sebaliknya. Kita menganut paham yang wajar dipegang oleh mayoritas orang, seperti yang telah saya sebutkan di awal, di mana ada kelebihan di situ ada kekurangan, karena adanya keserakahan dan merasa tidak puas terhadap pemberian Tuhan sehingga alih-alih memanfaatkan kelebihan-kelebihan tersebut, yang kita lakukan justru iri hati terhadap kelebihan orang lain dan tidak mau menerima kelebihan diri sendiri. 

Hal ini mengingatkan saya tentang perumpamaan tentang talenta. Ketika Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita maka sudah seharusnya kita memanfaatkan kepercayaanNya tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan sama seperti kita yang menuntut kembalian, tentunya Tuhan juga akan menuntut kembalian atas kelebihan-kelebihan yang dipercayakan kepada kita.